IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Anin terbangun dari tidur nyenyaknya, ia menghirup nafas dalam-dalam, lantas membuangya perlahan-lahan.
"Nyaman, Naufal benar, aku memang butuh jeda. Bukan berarti berhenti. Tapi untuk beristirahat."
Alunan suara adzan subuh berlanggam khurdi berkumandang. Merdu sekali, rasanya memangil lembut di telinga Anin. Membuatnya tertegun, diam, menikmati setiap lantunan muadzin. Rasanya, belum pernah Anin mendengar adzan semerdu itu. Baru kali ini, apa karna keadaan hati Anin yang sedang mencari tenang, hingga merasa panggilan sholat itu terasa menyejukkan?
Anin bangkit dari kasurnya, berjalan menuju toilet. Ia berwudhu, ingin segera menunaikan sholat.
Selesai dengan itu, Anin meraih ponsel nya. Dan terkejut, melihat panggilan telpon berkali-kali dari nomor kontak yang ia beri nama "My Iron Man ♥️"
Berikut dengan notifikasi pesan darinya.
< Sayang, kamu nggak ada perhatian-perhatiannya sama aku!">
Notif berikutnya,
< Tega kamu sayang, nggak ngucapin selamat malam>
< Mimpi yang indah kek!>
Lantas di ikuti dengan empat panggilan tak terjawab.
Enam panggilan tak terjawab.
Sepuluh panggilan tak terjawab.
<%€¥¥%%%%¥¢££>
Lantas berakhir dengan ia mengirim sticker emot nangis.
Anin tersenyum lebar melihat itu. Betapa kekasihnya ini begitu manja padanya. Seingatnya sejak kenal Naufal dan kontak nomornya ada padanya, ia memang selalu mengirimkan ucapan selamat tidur, selamat pagi, selamat siang dengan konsisten. Berbeda sekali dengan Anin yang apa-apa nggak pernah mau ribet. Baginya hal seperti itu hanyalah basa basi yang tidak penting. Tapi siapa sangka, kalau bagi Naufal justru itu sangat penting.
Cepat-cepat Anin menghubunginya dengan panggilan video. Tidak butuh waktu lama telepon tersambung, menampilkan wajah Naufal yang baru saja terjaga dari tidur.
"Selamat pagi, sayangnya aku." Anin mencoba mengikuti sikap manja Naufal, ia berfikir dengan begitu, akan membuat senang kekasihnya, "Ututuuu... yang semalam ngambek karna aku lupa ngucapin selamat malam."
Naufal melengos, lantas berdecak kesal. "Tega!"
Anin menahan tawa, melihat Naufal dengan wajah cemberutnya sangatlah menggelikan. Perbedaan yang begitu jauh, saat ia menerima telpon dari staff rumah sakit semalam.
"Aku ketiduran sayang, maafin ya... yang pentingkan sekarang udah aku ganti dengan..." Anin mengubah suaranya dengan nada gemas anak balita, "celamaaat pagiii cayangnya akuuu."
"Celimiiit pigiiii....!" cibir Naufal. "Orang ya, di mana-mana tuh, sebelum tidur ritual dulu. Ritual mikirin orang yang di cinta. Biar bangun langsung keinget sama yang di cinta. Kamu kelihatan banget deh nggak cinta sama aku. Buktinya kamu nggak ada tuh, kepikiran-kepikirannya sama aku sebelum tidur."
"Ya ... Gimana ya sayang ya, setahu aku tuh orang di suruh banyak-banyak mengingat Tuhan. Biar tidurnya di jagain malaikat. Terus bangunnya inget ada Tuhan, jadi malu kalo nggak ..."
"Sholat!" sahut Naufal.
"Nah itu tahu, kenapa nggak di kerjain?"
"Iya, iya...baru mau."
"Ehm ... Sayangnya aku baru mau sholat. Yo dah gih, sholat. Do'a yang banyak ya..." Anin senyum semanis mungkin.
"Ya udah deh, aku sholat dulu. Tapi nanti ke KYN nya aku jemput ya, awas kalo naik ojol!"
Anin mengangguk, senang. "Iya... Aku bakal nunggu jemputan kamu. Ya udah, kamu sholat. Aku mau lanjut siap-siap. Nanti kita sarapan bareng dulu kan?"
Naufal tersenyum, hilang sudah wajah cemberutnya. "Iya, kita sarapan bareng dulu."
"Oke deh, aku matiin ya telpon nya..."
Naufal mengangguk, senang. Dan panggilan video itu berakhir.
Anin menghela nafas, lantas menaruh ponselnya di nakas. Membuka mukenahnya, lalu melipat kembali dengan rapi dan ia letakkan di atas sajadah yang tadi sudah lebih dulu ia lipat.
Anin melirik jam dinding, sudah hampir setengah enam pagi. Ia pun bergegas mengganti pakaiannya, bersiap untuk dandan sederhana, cukup untuk sekedar membuat tampilannya tidak terlalu pucat saat bekerja.
***
"Assalamualaikum Ma, ada apa?"
Anin menerima panggilan telepon Regina, saat hendak keluar dari apartemen.
"Sayang, nanti makan siang di Star ya. Mama akan kenalin kamu sama temen-temen Mama semua."
Anin tertegun, tapi tidak menyurutkan langkahnya. Ia tetap berjalan menuju basement, di mana Naufal sudah menunggunya di sana.
"Tapi nanti Anin, minta izin sama Ibu Paulina dulu ya Ma."
"Nggak perlu," sahut Regina, "Kamu langsung pergi sama Paulina aja. Karna Paulina juga akan ke star."
"Ehm... oke deh, Ma!"
"Ya udah ya sayang, Mama tutup teleponnya. Sampai jumpa nanti di star." Setelah mengucapkan itu, Regina memutuskan teleponnya.
Anin menaruh kembali ponselnya di tas, segera ia percepat langkahnya. Berniat tidak membuat kekasihnya itu terlalu lama menunggu.
Naufal melambaikan tangan, saat tatapannya bertemu dengan tatapan Anin.
"Morning, sayang." Sambut Naufal. "Seger banget kelihatannya, tidur nya nyenyak ya, semalam?"
"He em, nyenyak banget. Kamu bener, aku butuh jeda ternyata. Sekarang aku sudah bersemangat lagi. Ayok kita cari sarapan." Anin langsung membuka pintu mobil, bahkan sekarang ia tidak lagi menunggu Naufal mempersilahkan. Naufal senang, ia suka dengan sikap Anin yang bersemangat begitu.
Mereka sudah duduk berdua di mobil itu dengan senyum mengembang. Entah kenapa, keduanya merasakan kebahagiaan yang sama. Seolah energi semangat keduanya terkoneksi secara otomatis. Naufal menghidupkan mesin mobil, dan melaju ke jalan raya.
"Sayang, tadi Mama telepon."
Naufal menautkan alisnya, "Telepon kenapa? Mama bilang apa?"
"Mama bilang, nanti makan siang di Star. Sama temen-temen Mama."
Naufal melirik Anin sekilas, lantas fokus lagi pada jalan. Namun tatapannya tertuju pada resto siap saji di ujung jalan. "Sayang, kita sarapan di sana ya, lagi pengen burger. Kamu mau?"
Anin melongokkan kepalanya, "Boleh, aku pengen makan dimsum nya aja."
"Dimsum? Emang enak di resto sana?"
"Enak tahu, cobain deh nanti. Ada yang varian smoked beef sama mentai. Aku paling suka dua itu. Aku sering ke sana sama Qistina kalo pas dapat bonus lembur."
Anin terkenang dengan sahabatnya itu.
"Oh ya? Aku mau ikut cobain ah. Kayanya enak." Naufal mengangguk-angguk. " Eh iya, tadi apa kata Mama, ngapain makan siang sama temen-temennya segala?"
Anin menaikkan bahunya, "Nggak tahu, mana aku perginya bareng Bu Paulina. Sama kamu aja kenapa sih yank, ya..." Anin merengek, "Aku canggung."
"Eh... Tapi hari ini ada dua OP besar yank. Pasien kangker semalam jadwal pagi, nah siangnya jadwal OP Cito. Kayanya aku nggak bisa deh siang ini. Kalo off shift malam ya bisa."
Anin melipat tangannya di dada. "Ya udah deh, nggak apa-apa. Paling aku bakal diem aja, karna nggak tahu harus ngobrolin apa."
"Tenang aja Yank, Temen-temen Mama itu pada asik-asik. Apa lagi Om Jeremy, kamu belum tahu aja aslinya kaya gimana. OM Fredrick juga. Kamu jangan khawatir..."
"Iya lah, semoga aja. Aku akan fun di sana." ujar Anin pasrah.
Mobil Naufal berhenti, tepat di parkiran resto yang mereka tunjuk tadi.
Keduanya turun dan bersiap untuk masuk. Resto bernuansa rustic itu masih belum terlalu banyak pengunjung. Hanya beberapa saja. Alhasil mereka tidak harus menunggu lama untuk menyantap pesanannya.
"Selamat menikmati..."
Seorang pelayan laki-laki membawakan makanan mereka, namun membuat Naufal membulatkan matanya. Terkejut dengan wajah tampan yang sengaja ia sembunyikan dengan pet topi nya.
"Gerald?!"
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍