NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 : KONTRAK, JANJI, DAN RESTU IBU PANTI

SATU MINGGU SEBELUM PERNIKAHAN DI KEDIAMAN HARSONO

Satu minggu sudah berlalu sejak Pak Harsono pulang dari Rumah Sakit Cipto. Rumah besar Harsono kini lebih tenang. Tidak ada lagi suara monitor jantung. Tidak ada lagi bau obat yang menyengat. Pak Harsono benar-benar menjalani istirahat total sesuai perintah dokter. Tidak ada rapat. Tidak ada dokumen. Tidak ada tekanan.

Tapi di kamar Arga, ada satu map coklat yang tidak bisa dia abaikan sejak malam itu.

Map kontrak pernikahan dari Kirana.

Arga duduk di pinggir kasur dengan map itu di pangkuannya. Dia sudah membacanya ratusan kali sejak Kirana menyodorkannya di taman belakang. Setiap kata di dalamnya seperti jarum kecil yang menusuk dadanya pelan-pelan tapi pasti.

"Selama pernikahan berlangsung kita harus pura-pura bahagia di depan Papa."

"Pernikahan hanya berlangsung selama satu tahun. Setelah satu tahun kita harus berpisah."

"Satu sama lain dilarang mencampuri urusan masing-masing."

"Tidak ada kontak fisik selama hanya berdua, diperbolehkan saat ada di depan Papa."

Arga menutup mata. "..Aku gak punya pilihan selain menerima syarat yang diberikan Non Kirana...." Tanpa sepengetahuan Pak Harsono, Arga harus terlibat dengan kontrak ini. Arga harus berdiri di antara janji dengan Pak Harsono dan kontrak pernikahan dengan Kirana.

Di satu sisi, ada janji sepuluh tahun lalu dari Pak Harsono. "Arga, jaga Kirana ya. Jaga dia seperti kamu jaga dirimu sendiri."Janji itu sudah dia pegang erat sejak Pak Harsono mengangkatnya dari jalanan dan memberinya pekerjaan sebagai supir.

Di sisi lain, ada kontrak dari Kirana yang melarangnya mencintai Kirana lebih dari sekadar suami di atas kertas. Satu tahun. Lalu berpisah. Seolah semua ini hanya sandiwara untuk membuat Pak Harsono tenang.

Arga menghela napas panjang. "..Apa dia pantas? Dia hanya supir. Anak panti yang tidak punya siapa-siapa. Anak yang dulu makan dari belas kasihan orang lain.."

Tiba-tiba ada kerinduan yang mengganjal di hatinya. Kerinduan pada satu orang yang selalu bisa membuat hatinya tenang. Satu orang yang selalu menerima dia tanpa bertanya latar belakangnya. Ibu Panti.

"Besok," bisik Arga pelan sambil menatap langit-langit kamar. "Besok aku harus pergi ke panti."

SATU MINGGU SEBELUM PERNIKAHAN DI PANTI ASUHAN HARAPAN KASIH

Pagi itu matahari belum terlalu tinggi. Cahayanya hangat tapi tidak menyilaukan. Panti Asuhan Harapan Bangsa tampak sama seperti sepuluh tahun lalu. Cat temboknya sudah sedikit pudar karena dimakan waktu. Pagar besinya masih berderit kalau dibuka. Taman kecil di depan panti masih dipenuhi bunga melati yang baunya khas.

Pintu besi panti terbuka dengan suara berderit. Arga turun dari mobil Alphard hitam yang diparkir di pinggir jalan. Dia tidak memakai jas hitam seperti biasanya. Hari ini dia hanya pakai kemeja putih sederhana dan celana kain hitam. Sepatu pantofelnya pun diganti dengan sandal kulit.

Di kedua tangannya ada lima kantong plastik besar. Kantong itu penuh dengan makanan, baju baru, mainan, dan buku tulis untuk anak-anak panti. Ada juga susu kotak dan vitamin.

"Ibu ... Arga datang, Bu," bisik Arga pelan sambil menatap gerbang panti. Dadanya terasa hangat. Seperti pulang.

Belum sempat Arga mengetuk pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam. Ibu Hana muncul dengan rambut putih yang diikat rapi dan senyum hangat di wajahnya. Wajahnya tetap sama. Hanya kerutan di sudut matanya yang bertambah.Dia adalah Ibu Panti tempat Arga dulu di besarkan.

"Arga...?" Mata Ibu Hana langsung berkaca-kaca. "Anakku... kamu datang."

"iya bu, maaf Arga baru sempet dateng lagi bu..Berapa bulan ini Arga sibuk banget " ucap Arga sambil memeluk wanita tua itu..

"Ibu kawatir kamu kenapa napa... " lirih ibu Hana.

Arga langsung meletakkan kantong di tanah lalu berjongkok di depan Ibu Hana. Dia mencium tangan Ibu Panti dengan hormat. "Ibu... saya kangen Ibu."

Ibu Panti langsung memeluk kepala Arga. "Kamu kurusan, Ga. Kamu capek ya?"

Arga mengangguk pelan. "Iya Bu. Tapi saya bahagia."

Belum selesai mereka berbincang, tiba-tiba sekelompok anak-anak berlari keluar dari dalam panti. Suara mereka riuh seperti burung yang lepas dari sangkar.

"Kak Arga datang!! Kak Arga bawa mainan!!"

"Kak Arga... aku mau boneka pink!! Aku mau pensil warna!!"

Arga tertawa melihat antusias anak-anak itu. Dia mengangkat satu per satu kantong lalu membagikan isinya. Ada baju, ada mainan, ada buku, ada susu kotak. Anak-anak itu berebut tapi tetap tertib.

Dia memangku anak kecil usia lima tahun yang rambutnya acak-acakan dan bajunya sedikit kotor. "Nak, namamu siapa?"

"Riko, Kak," jawab anak itu sambil memeluk boneka beruang yang baru dia dapat.

Arga mengelus kepala Riko. "Riko rajin belajar ya. Nanti kalau besar jadi orang baik. Jadi orang yang berguna."

Ibu Panti berdiri di samping Arga sambil tersenyum bangga. "Terima kasih ya, Ga. Anak-anak senang sekali kalau kamu datang. Mereka selalu tanya kapan Kak Arga datang lagi."

Arga hanya mengangguk. Di sini dia merasa seperti dirinya sendiri. Bukan supir Pak Harsono. Bukan calon suami Kirana. Tapi hanya Arga, anak panti yang dulu pernah diasuh Ibu Hana. Anak yang pernah menangis kelaparan di sudut panti 15 tahun lalu.

SIANG HARI DI RUANG TAMU PANTI ASUHAN HARAPAN BANGSA

Setelah anak-anak selesai makan siang dan bermain, Arga diajak Ibu Hana masuk ke ruang tamu panti. Ruang tamu itu sederhana. Hanya ada meja kayu tua yang permukaannya sudah sedikit tergores. Ada beberapa kursi plastik. Dan di dinding ada foto-foto anak-anak panti yang berganti setiap tahun.

Di atas meja sudah ada teh hangat dan pisang goreng yang masih mengepul.

"Duduklah, Ga," kata Ibu Hana sambil menuang teh ke cangkir. "Kamu nggak datang cuma buat bawa makanan kan? Mata kamu bilang kamu lagi ada beban berat."

Arga duduk di seberang Ibu Hana. Dia memutar-mutar cangkir tehnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Uap teh itu menghangatkan wajahnya tapi tidak menghangatkan hatinya.

"Ibu... saya ada yang mau saya ceritakan," kata Arga pelan.

Ibu Hana menatap Arga dalam-dalam. Mata tua itu seperti bisa membaca isi hati Arga. "Kamu ada masalah ya, Ga? Ceritakan ke Ibu. Ibu dengar."

Arga menunduk. Dia menatap lantai yang sudah sedikit kusam. "Ibu... satu minggu lagi saya akan menikah."

Cangkir teh di tangan Ibu Hana terhenti sejenak. "Alhamdulillah... sama siapa, Ga? Pasti anak baik ya? Ibu senang dengarnya."

Arga menunduk lebih dalam. Suaranya hampir tidak terdengar. "Sama Nona Kirana, Bu. Anak Pak Harsono."

RUANGAN MENJADI HENING.

Hanya terdengar suara anak-anak yang tertawa di luar halaman dan suara kipas angin yang berputar pelan.

Ibu Hana meletakkan cangkir tehnya pelan di atas meja. "Kirana Harsono?"

Arga mengangguk pelan. "Iya, Bu."

Ibu Hana tidak langsung menjawab. Dia menatap Arga lama. Seperti ingin memastikan apa yang dia dengar. "Arga... kamu tahu kan siapa kamu?"

Arga mengangguk. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Saya tahu, Bu. Saya anak panti. Saya tidak punya siapa-siapa. Saya hanya supir Pak Harsono. Saya tidak pantas untuk Nona Kirana, Bu. Saya tidak pantas untuk keluarga besar seperti mereka." kalimat yg jujur keluar dari mulut Arga ada getaran di setiap kata katanya.

Ibu Hana menggenggam tangan Arga dengan erat. Telapak tangan Ibu Hana sudah keriput tapi hangat. "Tapi kamu juga anak yang baik, Ga. Kamu anak yang tulus. Kamu anak yang pantas bahagia. Status itu bukan ukuran kebahagiaan, Ga."

Arga tidak bisa menahan tangisnya lagi. Air mata itu jatuh ke cangkir teh di depannya dan membuat lingkaran kecil di permukaan teh. "Bu... saya takut. Saya takut saya mengecewakan Tuan Harsono. Saya takut saya menyakiti Nona Kirana. Saya takut....takut, saya tidak bisa jadi suami yang baik untuk Nona Kirana."

Ibu Hana mengusap air mata Arga dengan lembut menggunakan ujung kerudungnya. "Arga, dengar Ibu baik-baik."

Arga menatap Ibu Hana dengan mata sembab.

"dua belas tahun lalu Pak Harsono datang ke panti ini," kata Ibu Hana pelan. Suaranya sedikit bergetar karena mengingat kenangan itu. " kamu pernah menyelamatkan beliau waktu hampir tertabrak di sebrang jalan sana, apa kamu ingat Nak...kamu ingat waktu beliau meminta izin ke ibu buat bawa kamu tinggal bersamanya..?"

Arga mengangguk. Dia ingat saat itu dia hanya butuh pekerjaan. Hanya butuh makan untuk nya dan untuk adik adiknya di panti.

Ibu Panti tersenyum. "Karena beliau melihat ketulusan di matamu. karena ada kejujuran di hatimu nak...itu yang membuat beliau kagum sama kamu. "

Arga terdiam. Dia tidak ingat pernah mengucapkan kalimat itu. Tapi rasanya familiar. Seperti sesuatu yang memang ada di hatinya sejak dulu.

"Pak Harsono bilang ke Ibu waktu itu," lanjut Ibu Hana. "'Bu, anak ini tulus. Anak ini pantas saya percaya.' Dan sekarang Pak Harsono percaya kamu untuk menjaga anaknya, Ga. Itu bukan hal kecil, Arga."

Arga menangis lebih kencang. "Bu... tapi pernikahan ini didasari oleh kontrak Bu... "

Ibu Hana terdiam sesaat seperti sedang memahami apa yg sedang di hadapi anak asuhnya.

" kontraknya satu tahun, Bu. Setelah satu tahun saya harus pergi dari Nona Kirana. Saya harus berpisah."

" Saya juga harus pura-pura bahagia di depan Tuan Harsono...."

Ibu Hana terdiam sejenak. Dia menatap Arga dengan penuh kasih. "Arga... kontrak itu hanya kertas, Ga. Tapi yang di sini," Ibu Panti menepuk dada Arga pelan, "itu yang sebenarnya."

Arga menatap dadanya sendiri.

"Kalau hatimu sudah milik Nona Kirana," kata Ibu Panti, "satu tahun atau sepuluh tahun tidak akan ada bedanya, Ga. Tapi kamu juga harus jaga hatimu juga, Nak. Jangan sampai kamu terluka. Jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri."

Arga mengangguk. "Ibu... saya juga harus jaga janji ke Tuan Harsono. Saya harus jaga Nona Kirana. Saya harus jaga perusahaan Tuan. Saya bingung, Bu. Saya harus pilih yang mana? Saya harus berdiri di mana?"

Ibu Hana tersenyum bijak. "Arga... kamu tidak perlu pilih salah satu, Nak. Kamu bisa jaga semuanya dengan caramu sendiri. Jaga Pak Harsono dengan kesetiaanmu. Jaga Kirana dengan ketulusanmu. Jaga perusahaan dengan tanggung jawabmu. Tiga hal itu bisa jalan bersama, Ga. Asal niatmu baik."

Kata-kata Ibu Hana itu seperti air dingin yang menyiram api kegelisahan di hati Arga. Untuk pertama kalinya dalam seminggu ini, dadanya terasa sedikit lega.

 

SORE HARI DI HALAMAN PANTI ASUHAN HARAPAN KASIH

Sore itu Arga duduk di bangku kayu di halaman panti. Dia mengawasi anak-anak yang sedang bermain bola di lapangan tanah. Angin sore menerbangkan rambutnya yang sedikit berantakan. Suara anak-anak tertawa itu seperti musik yang menenangkan.

Ibu Hana duduk di sebelahnya. "Arga, kamu sudah curhat ke Ibu. Sekarang Ibu mau kamu curhat ke Tuhan."

Arga menatap Ibu Hana. "Maksud Ibu?"

"Berdoa, Ga," jawab Ibu Hana lembut sambil menatap langit yang mulai jingga. "Minta restu Tuhan. Minta kekuatan. Karena pernikahan ini tidak akan mudah, Nak. Apalagi pernikahan yang dimulai dari kontrak."

Arga menunduk. "Ibu... restuin saya ya, Bu? Restuin saya dan Nona Kirana?"

Ibu Hana menggenggam tangan Arga dengan erat. "Ibu restuin kamu, Ga. Ibu restuin kamu dan Nona Kirana dengan sepenuh hati." Ibu Panti berhenti sejenak lalu tersenyum. "Semoga satu tahun itu... menjadi seumur hidup, Ga. Semoga hati kalian berdua pelan-pelan saling menemukan."

Arga tidak bisa menahan tangisnya lagi. Dia langsung memeluk Ibu Hana erat. "Makasih, Bu... makasih sudah jadi Ibu buat saya... makasih sudah nggak pernah ninggalin saya..."

Ibu Hana membalas pelukan itu. "Kamu anakku juga, Ga. Selamanya. Kamu anakku, sama seperti anak-anak panti yang lain. Darah boleh beda. Tapi hati kita sama."

Arga memejamkan mata. Di pelukan Ibu Hana itu bukan dosa. Cinta itu anugerah. Tapi kamu juga harus siap kalau suatu hari kamu harus melepaskan. Karena kadang cinta itu bukan tentang memiliki, Ga. Tapi tentang menjaga."

Arga mengangguk pelan. "..Siap? Bagaimana caranya siap melepaskan orang yang sudah mengisi hatimu? Bagaimana caranya melepaskan orang yang sudah jadi alasan kamu bertahan?.."

 

MALAM HARI DI KAMAR ARGA KEDIAMAN HARSONO

Malam itu Arga kembali ke kediaman Harsono. Mobil Alphard hitam melaju pelan melewati gerbang besar. Rumah besar itu sunyi. Hanya lampu taman yang menyala temaram.

Arga masuk ke kamar dengan hati yang jauh lebih tenang dari sebelumnya. Beban di dadanya sudah berkurang setengahnya setelah dia curhat ke Ibu Panti.

Di atas meja ada map kontrak pernikahan. Arga mengambil map itu lalu membukanya sekali lagi. Kertas itu sudah sedikit kusut karena sering dia buka tutup.

Dia menatap tanda tangannya sendiri di bawah nama Kirana. "Argantara ." Tulisan itu rapi tapi sedikit gemetar.

Arga menutup mata lalu meletakkan tangannya di dada. "..Dia teringat wajah Ibu Panti yang tersenyum. Kontrak itu hanya kertas, Ga. Tapi yang di sini itu yang sebenarnya.."

Arga menarik napas dalam. "..Nona Kirana, saya tidak tahu satu tahun ke depan akan seperti apa. Tapi saya janji, saya akan jaga Nona. Saya akan jaga Tuan. Saya akan jaga semuanya dengan sepenuh hati saya. Saya akan jaga janji saya.."

Arga membuka laci mejanya lalu mengambil foto lama yang sudah sedikit menguning. Foto Pak Harsono yang sedang tersenyum bersama anak-anak panti 10 tahun lalu. Di foto itu Arga masih berusia 15 tahun dengan senyum lebar dan mata yang penuh harapan. Pak Harsono berdiri di tengah dikelilingi anak-anak panti.

Arga menatap foto itu lama. "Tuan... saya tidak akan mengecewakan Tuan. Saya akan jaga janji saya sampai kapanpun."

Dia juga membuka foto Kirana di ponselnya. Foto Kirana saat tertidur di kursi pendamping pasien di RS tiga hari lalu. Wajah Kirana pucat tanpa riasan. Rambutnya berantakan. Tapi di situlah Kirana terlihat paling manusiawi. Paling rapuh. Paling butuh dijaga.

"Nona... saya tidak akan menyakiti Nona. Saya akan jaga Nona seperti saya menjaga diri saya sendiri," bisik Arga pelan.

Dari jendela kamar, Arga melihat lampu kamar Kirana masih menyala. Itu berarti Kirana juga belum tidur. Mungkin Kirana juga sedang memikirkan hal yang sama.

Arga berdiri lalu berjalan ke jendela. Dia menatap ke arah kamar Kirana dari kejauhan. Jaraknya hanya beberapa meter tapi rasanya seperti ada tembok tebal di antara mereka. Tembok bernama kontrak.

"..Nona... selamat tidur. Satu minggu lagi kita akan menjadi suami istri di atas kertas. Tapi saya janji... saya akan menjaga Nona seperti saya menjaga diri saya sendiri. Saya akan menjaga Nona seperti saya menjaga adik saya sendiri.."

Arga menutup jendela lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Dia memeluk bantal erat. Rasanya seperti memeluk seseorang yang tidak bisa dia peluk di dunia nyata.

"..Selamat tidur, Nona. Besok... kita selangkah lebih dekat dengan satu tahun itu. Selangkah lebih dekat dengan perpisahan yang sudah ditulis di atas kertas.."

Arga memejamkan mata. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, dia bisa tidur tanpa mimpi buruk.

[BERSAMBUNG... ]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!