Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Mobil sedan mewah yang membawa Anggara Widjaja membelah jalanan aspal menuju kawasan industri di pinggiran kota. Di kursi depan, Langit duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan, namun tangannya masih menggenggam ponsel yang baru saja ia masukkan ke saku seragamnya. Debaran jantungnya setelah mendengar suara manja Aurora di telepon tadi masih tersisa, menciptakan kontras yang aneh dengan suasana dingin di dalam mobil.
Anggara yang duduk di kursi belakang perlahan menurunkan tablet bisnisnya. Ia menatap punggung tegap menantunya itu melalui spion tengah. Matanya menyipit, penuh selidik.
"Sudah selesai pamer kemesraannya, Langit?" suara Anggara terdengar berat dan datar, tanpa ada nada ramah sedikit pun.
Langit sedikit tersentak, namun ia segera menguasai diri. Ia memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih kaku lagi. "Mohon maaf, Bapak. Tadi Aurora menelepon untuk memastikan jadwal pemotretannya."
"Saya tidak butuh alasan," potong Anggara tajam. "Saya membawa kamu ke sini sebagai ajudan pribadi, bukan sebagai suami yang harus meladeni rengekan anak saya setiap lima menit. Fokus pada tugasmu. Di depan sana, kita akan bertemu dengan investor yang tidak suka melihat orang yang tidak disiplin."
"Siap, Pak. Saya mengerti," jawab Langit dengan nada baku yang sangat formal.
Setibanya di lokasi proyek, matahari sudah berada tepat di atas kepala, menyengat kulit. Anggara turun dari mobil diikuti oleh Langit yang dengan sigap memayungi sang mertua dan membukakan jalan. Di sana, sudah menunggu beberapa direktur proyek.
"Jelaskan progres pembangunan gudang logistik ini," perintah Anggara tanpa basa-basi kepada pimpinan proyek.
Saat peninjauan berlangsung, Anggara sengaja berjalan dengan langkah cepat melintasi tumpukan material dan genangan air sisa hujan semalam. Ia ingin melihat sejauh mana Langit bisa menjaga profesionalismenya.
"Langit, ambilkan berkas amdal di mobil. Sekarang!" perintah Anggara saat mereka berada di tengah area konstruksi yang berdebu.
"Siap, Pak." Langit berlari kecil menuju mobil, mengambil berkas yang diminta, dan kembali dalam waktu kurang dari dua menit tanpa napas yang tersengal.
Anggara menerima berkas itu tanpa ucapan terima kasih. Ia justru menatap sepatu Langit yang kini kotor terkena lumpur. "Sepatumu kotor. Ajudan keluarga Widjaja tidak boleh terlihat kumal di depan klien. Bersihkan nanti setelah ini, jangan memalukan saya."
Langit menunduk singkat. "Mohon maaf, Pak. Akan segera saya bersihkan."
Setelah urusan proyek selesai, mereka berhenti di sebuah restoran privat untuk makan siang. Hanya ada Anggara dan Langit di meja tersebut. Suasana terasa begitu kaku, hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.
Anggara meletakkan serbetnya di atas meja, lalu menatap Langit dengan tatapan mengintimidasi. "Kamu tahu, Langit? Sampai detik ini, saya masih tidak mengerti apa yang dilihat Aurora darimu. Kamu kaku, miskin, dan hanya seorang ajudan."
Langit menghentikan makannya. Ia menelan makanannya perlahan sebelum menjawab. "Saya sadar diri, Pak. Saya tidak memiliki harta seperti keluarga Widjaja. Yang bisa saya berikan kepada Aurora hanyalah kesetiaan dan perlindungan saya seumur hidup."
Anggara mendengus sinis. "Kesetiaan tidak bisa membeli rumah di Menteng. Kamu pikir dengan gaji ajudanmu, kamu bisa membelikan Aurora tas mewah atau biaya perawatannya yang mahal itu? Kamu hanya akan membuatnya menderita karena gaya hidupnya yang tinggi."
"Saya sedang menabung, Pak," jawab Langit dengan suara rendah namun tegas. "Saya bekerja keras agar suatu saat nanti saya bisa memberikan rumah yang layak untuk Aurora, meskipun mungkin tidak semegah mansion Bapak."
"Menabung?" Anggara tertawa kering. "Sampai kapan? Sampai Aurora tua dan kecantikannya pudar? Dengar, Langit. Saya membiarkan kalian menikah bukan karena saya menyukaimu. Saya hanya tidak mau anak saya melakukan hal bodoh seperti kawin lari dan mempermalukan nama saya di media."
Langit mengepalkan tangannya di bawah meja, namun wajahnya tetap sedatar papan tulis. "Saya berterima kasih atas kesempatan yang Bapak berikan. Saya akan membuktikan bahwa pilihan Aurora tidak salah."
"Buktikan dengan hasil, bukan dengan kata-kata," ucap Anggara dingin. "Dan satu lagi. Jangan pikir karena kamu sudah jadi menantu, kamu bisa bersantai. Justru saya akan menuntut standar yang lebih tinggi darimu. Kalau kamu gagal menjaga protokol atau melakukan kesalahan sekecil apa pun dalam pekerjaan, saya tidak akan segan memecatmu dan memisahkan kalian."
Perjalanan Pulang: Bisikan Hati sang Ajudan
Dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, Anggara tertidur di kursi belakang. Pak Bambang yang menyetir sesekali melirik ke arah Langit yang tampak melamun menatap ke luar jendela.
"Sabar ya, Ngit. Bapak memang begitu orangnya," bisik Pak Bambang pelan agar tidak membangunkan Anggara. "Dia itu sebenarnya sayang sama Aurora, makanya dia keras sama kamu. Dia cuma mau memastikan putrinya nggak salah pilih pelindung."
Langit tersenyum tipis, senyum yang sangat jarang ia tunjukkan. "Saya tahu, Pak Bambang. Saya tidak marah. Saya justru berterima kasih karena Bapak Anggara terus menekan saya. Itu membuat saya tidak boleh lemah sedikit pun."
Tiba-tiba ponsel Langit bergetar. Sebuah pesan masuk dari Aurora.
Aurora: "Mas, aku udah selesai pemotretan. Capek banget... kakiku pegel. Cepet pulang ya, aku mau pijet pakai tangan kamu, bukan tangan Kak May. Love you, My Stiff Guard!"
Langit membaca pesan itu dan tanpa sadar ibu jarinya mengusap layar ponsel. Rasa lelahnya setelah seharian dihantam kata-kata pedas sang mertua seketika menguap. Ia melirik ke spion tengah, menatap Anggara yang masih terlelap.
Apapun yang Bapak katakan, saya tidak akan menyerah, batin Langit. Saya akan membangun istana untuk Aurora, meski harus dimulai dari satu bata setiap harinya.
Langit mematikan layar ponselnya, kembali memasang wajah kaku dan siaga. Perjalanan menuju Jakarta masih jauh, namun semangat sang ajudan untuk kembali ke pelukan istrinya sudah melesat mendahului laju mobil yang ia tumpangi. Bagi Langit, dihina oleh seluruh dunia pun tidak masalah, asalkan saat ia pulang nanti, ada Aurora yang menyambutnya dengan senyuman nakal yang selalu berhasil meruntuhkan dinding kekakuannya.
***
Malam semakin larut di kediaman Widjaja. Udara dingin Jakarta yang mulai menusuk tak cukup untuk membuat Aurora masuk ke dalam rumah. Ia berjalan mondar-mandir di teras marmer yang luas, cardigan rajutnya sesekali ia rapatkan untuk menghalau angin.
Di sudut teras, Bintang berdiri dengan posisi siaga, meskipun matanya berkali-kali melirik jam tangan elektroniknya. Ia adalah junior kesayangan Langit, namun menghadapi nyonya mudanya yang sedang dalam mode "istri merindu" ternyata jauh lebih melelahkan daripada latihan fisik di barak.
"Bintang, suami aku masih lama ya? Katanya bentar lagi, kok sampai sekarang belum balik?" Aurora berhenti melangkah, menatap jalanan aspal menuju gerbang utama dengan gelisah.
Bintang berdehem kecil, berusaha tetap sopan. "Sepertinya macet, Non. Jalur dari kawasan industri memang biasanya padat di jam-jam segini. Mohon bersabar sebentar lagi."
"Sabar, sabar... dari tadi bilangnya sabar! Ini sudah lewat satu jam dari jadwal seharusnya, Bintang! Jangan-jangan Papa mampir ke kantor lagi?" Aurora mulai menduga-duga dengan wajah cemberut.
Pintu kaca besar di belakang mereka terbuka. Haura muncul dengan piyama motif beruang, memegang sebuah apel di tangannya. Ia bersandar di kusen pintu sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan kakaknya.
"Kakak ngapain sih? Mondar-mandir kayak setrikaan gitu. Mas Langit itu pergi kerja sama Papa, bukan diculik alien," celetuk Haura sebelum menggigit apelnya dengan bunyi krak yang renyah.
"Kamu tuh nggak tahu rasanya, Hau! Kamu masih kecil, belum punya suami!" balas Aurora sengit.
"Dih, beda cuma dua tahun dibilang kecil. Lagian lebay banget, cuma ditinggal sehari. Kamar Kakak nggak bakal pindah kok, Mas Langit juga pasti pulang," goda Haura lagi, sengaja memancing emosi kakaknya.
"Bodo amat! Bintang, coba telepon Mas Langit lagi!" perintah Aurora.
"Sudah tiga kali saya telepon, Non. Terakhir bilang sudah masuk area Menteng," jawab Bintang pasrah.
Tepat saat Aurora hendak membalas ucapan Haura, cahaya lampu mobil memecah kegelapan dari arah gerbang. Sebuah sedan hitam mewah melaju perlahan dan berhenti tepat di depan teras. Aurora seketika melompat turun dari teras, berdiri tepat di tengah jalan akses mobil.
Bintang dan Pak Bambang segera bersiap membuka pintu. Anggara Widjaja turun lebih dulu dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Begitu ia membuka pintu, hal pertama yang ia lihat adalah putrinya yang berdiri menghalangi jalan dengan piyama.
Anggara mendengus kesal, merapikan jasnya yang sedikit kusut. "Ngapain kamu berdiri di tengah jalan? Mau ditabrak?!"
Aurora tidak bergeming, ia justru berkacak pinggang. "Dih, galak banget baru juga sampai! Bukannya tanya kabar anaknya, malah nanya mau ditabrak apa enggak!"
Langit turun dari pintu depan, berdiri tepat di belakang Anggara. Wajah kaku sang ajudan itu seketika melunak saat matanya bertemu dengan mata Aurora. Ada binar kelegaan yang ia simpan rapat-rapat di balik seragam hitamnya.
"Papa nggak marahin suami aku kan tadi di jalan?" selidik Aurora sambil menunjuk ayahnya dengan jari telunjuk. "Awas saja kalau sampai Papa tadi marahin atau ngerjain dia di luar kota. Aku doain biar Papa bisulan besok pagi!"
"Aurora!" Anggara berteriak dengan suara baritonnya yang menggelegar. "Jaga bicaramu! Siapa yang mengajarkan kamu mendoakan orang tua seperti itu?!"
"Habisnya Papa kaku banget! Mas Langit itu menantu Papa sekarang, bukan cuma ajudan! Masa diajak pergi sehari mukanya ditekuk terus," keluh Aurora. Ia langsung menerobos melewati Anggara dan menghambur ke arah Langit.
Aurora menarik lengan Langit, memeriksa tubuh suaminya dari atas sampai bawah seolah sedang mencari luka lecet. "Mas, kamu nggak apa-apa kan? Papa nggak kasih tugas yang aneh-aneh kan? Atau Papa suruh kamu lari di belakang mobil?"
Langit berdehem, melirik Anggara yang wajahnya sudah memerah padam karena menahan emosi. "Aku nggak apa-apa, Ra. Bapak cuma kasih tugas seperti biasa. Jangan begitu sama Papa."
"Tuh, denger! Suamimu saja tahu sopan santun, kenapa kamu tidak?!" Anggara menunjuk Langit sebagai contoh. "Langit, bawa masuk istrimu ini. Papa mau istirahat. Melihat mukanya saja tensi Papa langsung naik."
"Iya, Papa istirahat sana! Biar bisulnya nggak jadi tumbuh!" teriak Aurora saat Anggara melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah kasar, diikuti oleh Pak Bambang yang hanya bisa menunduk menahan tawa.
Kini di teras tinggal Aurora, Langit, Bintang, dan Haura yang masih asyik menonton dari ambang pintu.
"Puas, Kak? Papa marah beneran tuh," goda Haura. "Mas Langit, selamat ya, punya istri titisan toa masjid."
"Haura, masuk nggak?!" ancam Aurora. Haura hanya tertawa dan masuk ke dalam rumah.
Langit menatap Bintang yang masih berdiri di posisinya. "Bintang, kamu bisa istirahat. Tugas hari ini selesai."
"Siap, Mas. Permisi, Mas, Non," Bintang memberi hormat lalu segera menghilang menuju paviliun ajudan.
Kini hanya ada mereka berdua. Langit menghela napas panjang, melepaskan ketegangan yang ia tahan seharian di depan Anggara. Ia memegang kedua bahu Aurora, menatap wajah istrinya yang masih tampak kesal.
"Kamu kenapa harus ribut sama Papa lagi, Ra? Aku nggak apa-apa, beneran. Bapak cuma kaku karena memang begitu sifat beliau," bisik Langit.
"Aku tuh nggak tahan kalau lihat dia mandang kamu rendah, Mas. Aku tahu tadi di sana pasti kamu disuruh-suruh yang nggak jelas kan?" Aurora memegang tangan Langit, merasakan telapak tangan suaminya yang agak kasar namun hangat.
"Itu sudah bagian dari kerjaan aku, Sayang. Jangan dipikirin. Yang penting sekarang aku sudah di sini kan?" Langit menarik Aurora ke dalam pelukannya. Aroma parfum mawar istrinya seolah mencuci bersih semua rasa lelah setelah dihantam kata-kata pedas Anggara seharian.
"Kamu wangi asap rokok Papa... kotor semua bajunya," keluh Aurora di dada Langit, namun ia justru makin mengeratkan pelukannya.
"Aku mandi dulu ya? Habis itu aku ceritain semuanya di dalam," ucap Langit sambil mengecup puncak kepala Aurora.
"Pijetin kaki aku juga ya? Tadi habis pemotretan outdoor, pegal banget."
Langit tersenyum tipis, hampir tak terlihat namun terasa sangat tulus. "Iya, aku pijetin. Ayo masuk, di luar dingin. Kamu cuma pakai piyama tipis begini, nanti kalau sakit aku yang bingung."
Aurora mendongak, menatap wajah kaku suaminya yang selalu terlihat tampan di matanya. "Janji ya, jangan pernah biarin Papa bikin kamu ngerasa kecil. Kamu itu segalanya buat aku, Mas."
"Janji, Ra. Ayo."
Mereka berjalan masuk ke dalam mansion yang megah namun penuh drama itu. Di balik pintu yang tertutup, Langit kembali menjadi pelindung pribadi bagi hati Aurora, sementara di luar sana, ia tetaplah sang ajudan kaku yang siap menghadapi badai apa pun demi sang istri. Ternyata, meski harus berdebat dengan mertua setiap hari, pulang ke pelukan Aurora adalah gaji paling besar yang pernah Langit terima seumur hidupnya.
***
Selamat malam 😍 adakah yang masih melek