"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayi kita
Suasana dalam ruang kerja Jacob tiba-tiba menjadi sunyi setelah Ara membuka mulutnya, terisak sejadi-jadinya. Mata Ara yang biasanya selalu ceria kini sudah memerah dan air mata mulai menetes tak terkendali di pipinya yang sedikit membengkak akibat usia kehamilan yang mulai memasuki minggu keenam.
"Aku... aku takut, Dokter Jacob," ucap Ara dengan suara gemetar, Ara menyeka air mata menggunakan ujung lengan bajunya.
"Bagaimana kalau Dokter Yasmin tidak mengizinkan aku melihat anakku? Aku tidak akan sanggup melihat anakku memanggil wanita lain dengan panggilan Mama." Lanjut Ara dengan suara sesenggukan.
Jacob sedikit terkejut melihat Ara menangis. Dulu Jacob mengenal Ara sebagai wanita kuat dan selalu ceria, wanita yang bisa mengatasi segala masalahnya sendirian. Namun kini, wajah wanita yang tengah mengandung benihnya itu terlihat sangat rapuh.
Tiba-tiba terlintas dalam ingatan Jacob ketika Yasmin sedang mengisi seminar tentang wanita hamil, wanita yang tengah mengandung tidak boleh stress, karena bisa berdampak buruk bagi kesehatan dirinya dan juga janin yang dikandungnya. Tanpa berpikir panjang, Jacob terpaksa mengatakan sesuatu yang bisa menenangkan Ara.
"Ara, dengar baik-baik," ucap Jacob dengan nada lembut, tangan kekarnya menepuk bahu Ara perlahan. Kemudian Jacob membimbing Ara menuju sofa yang ada di ruang kerjanya, mereka duduk bersebelahan, jarak mereka begitu dekat.
"Walaupun nantinya anak dalam kandunganmu akan dikenal sebagai anak dari aku dan Yasmin, tapi kamu tidak perlu khawatir sedikit pun, Ara." Jacob mengambil tangan Ara yang berkeringat dan memegangnya erat.
"Karena kamu dan bayimu tidak akan dipisahkan. Kamu tetap bisa menemui anak itu kapan saja, bahkan kalau kamu mau, kamu bisa tinggal bersama kami sebentar setelah kelahiran, itu juga tidak masalah. Terlebih bayi baru lahir paling tepat berada di dekat ibu kandungnya karena ia masih membutuhkan ASI. Yasmin seorang dokter kandungan, Ia pasti lebih mengerti akan hal itu daripada kita. Kamu bahkan bisa belajar dari Yasmin tentang cara merawat bayi baru lahir." Lanjut pria tampan itu dengan nada antusias.
Ara menatap mata Dokter Jacob dengan tatapan penuh keraguan awalnya, namun perlahan mata itu mulai menunjukkan kilatan harapan.
"Benarkah? Anda dan Dokter Yasmin benar-benar tidak akan memisahkan aku dan anakku kan?" tanya Ara, tangisnya mulai mereda.
"Sudah pasti," jawab Jacob dengan senyum hangat. "Aku tahu ini bukan situasi yang mudah untuk kamu, Ara. Aku tahu kamu telah melalui banyak hal sendirian, jadi aku tidak akan pernah membiarkan kamu merasa terlantar. Anak itu juga bagian dari hidupmu, dan hakmu sebagai ibu tidak akan pernah hilang."
Kata-kata Dokter Jacob seperti obat penenang bagi Ara. Wajahnya perlahan berubah, dari wajah yang penuh dengan kesedihan, kini berubah menjadi lebih tenang. Air matanya masih mengalir meski sedikit, namun kali ini karena lega dan bahagia. Saking senangnya, Ara sampai memeluk pria tampan itu dengan erat, menyandarkan kepalanya di bahu Dokter Jacob.
"Terima kasih, Dokter Jacob. Aku benar-benar berterima kasih. Aku merasa seperti beban berat tiba-tiba hilang dari pundakku." Lirih Ara dengan suara bergetar.
Jacob mengelus pundak Ara dengan lembut, menjaga pelukan itu agar tidak terlalu erat karena kondisi kehamilannya.
"Tenanglah Ara, kamu tidak sendirian dalam menjalani semua ini. Kita bertiga akan membesarkan bayi kita bersama-sama." ucap Jacob dengan maksud untuk menenangkan Ara.
Di sudut kamarnya, bibir Yasmin mencebik mendengar kata-kata manis sang suami untuk Jalangnya.
Sebelum pergi, Yasmin memang sudah memasang CCTV di setiap sudut rumah, untuk mengatisipasi jika hal ini akan terjadi. Namun Yasmin tidak menyangka mereka akan berani bermesraan saat Ia sedang berada di rumah.
Bersambung...