NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tes Pack yang Mengubah Takdir

​Aula besar Grand-Etheria berkilauan di bawah siraman cahaya lampu gantung kristal yang harganya setara dengan sebuah blok apartemen di distrik bawah. Wangi sampanye mahal bercampur dengan aroma parfum eksklusif para bangsawan Upper-Chrome yang memenuhi ruangan. Prilly Adijaya berdiri di tengah panggung kecil dengan gaun merah menyala yang ekornya menyapu lantai, memamerkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya kepada setiap kamera media yang memburu momen tersebut.

​Bagi Briella, pemandangan ini adalah simulasi neraka yang dibalut dengan kemewahan. Ia berdiri di sudut ruangan yang remang-remang, mengenakan gaun sutra tipis yang sengaja ia pilih untuk membalut tubuhnya yang masih menyimpan bekas lebam samar. Tangannya meremas sebuah benda kecil di balik saku gaunnya—sebuah plastik putih kecil dengan dua garis merah yang baru saja ia lihat sepuluh menit yang lalu di toilet auditorium.

​"Lihatlah dirimu, Briella. Bersembunyi seperti tikus di hari paling bahagia kakakmu," sebuah suara melengking menghampirinya.

​Prilly berjalan mendekat dengan senyum kemenangan yang memuakkan. Ia memegang segelas sampanye seolah-olah itu adalah trofi kemenangannya.

​"Aku terkejut ayah masih membiarkan noda sepertimu masuk ke gedung ini," lanjut Prilly dengan nada menghina.

​Briella membalas tatapan itu dengan ketenangan yang mematikan. "Aku hanya ingin melihat bagaimana rasanya menjadi pusat perhatian sebelum segalanya runtuh, Prilly."

​"Apa maksudmu? Jangan bermimpi. Geovani adalah milikku, dan malam ini seluruh Etheria akan menjadi saksi bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang pantas berdiri di sampingnya," Prilly tertawa kecil, lalu berbalik saat musik waltz mulai mengalun lembut.

​Geovani muncul dari kerumunan, tampak luar biasa tampan dengan tuxedo hitam yang dijahit sempurna. Wajahnya tetap datar, dingin, dan tidak terbaca, namun matanya langsung menemukan keberadaan Briella di sudut ruangan. Ada kilatan predator yang tidak berubah sejak malam di meja bedah itu.

​"Waktunya berdansa, sayang," ucap Prilly seraya mengalungkan tangannya di lengan Geovani.

​Geovani tidak menjawab, namun ia membiarkan Prilly membimbingnya ke tengah lantai dansa. Pasangan itu mulai bergerak mengikuti irama musik, menjadi pusat gravitasi bagi seluruh tamu undangan. Briella memperhatikan dari jauh, merasakan gejolak aneh di dalam perutnya—bukan hanya karena rasa sakit fisik yang tersisa, tapi karena nyawa baru yang kini bersemayam di rahimnya.

​Briella melangkah maju. Ia tidak lagi peduli pada tatapan sinis para tamu. Ia menunggu momen saat tempo musik melambat dan Geovani berputar tepat di dekat posisinya.

​"Boleh aku meminjam tunanganmu sebentar, Kakak?" tanya Briella dengan suara yang cukup keras hingga beberapa orang menoleh.

​Wajah Prilly memerah padam karena malu dan marah. "Beraninya kau mengganggu kami! Pergi dari sini!"

​Namun, Geovani justru melepaskan tangan Prilly dengan gerakan halus. "Hanya satu putaran, Prilly. Kita harus menunjukkan pada media bahwa keluarga Adijaya adalah keluarga yang harmonis, bukan?"

​Prilly terpaksa mundur dengan gigi terkatup, membiarkan Briella masuk ke dalam pelukan Geovani. Saat tangan besar Geovani mendarat di pinggangnya, Briella merasa seolah-olah seluruh tubuhnya tersengat listrik. Tangan pria itu terasa posesif, menekan tubuh Briella agar merapat pada tubuh tegapnya.

​"Kau bermain dengan api, Little One," bisik Geovani tepat di telinga Briella saat mereka mulai berdansa.

​"Aku sudah terbiasa dengan luka bakar, Dokter," sahut Briella. Ia menatap iris mata Geovani yang gelap, mencari sedikit saja tanda kemanusiaan di sana.

​"Gaunmu terlalu tipis untuk malam sedingin ini. Apakah kau sedang mencoba merayuku di depan tunanganku?" Geovani menekan jari-jarinya ke punggung Briella, tepat di atas bekas luka yang masih sensitif.

​Briella memejamkan mata sejenak, menghirup aroma maskulin Geovani yang kini menjadi satu-satunya bau yang membuatnya merasa aman sekaligus terancam. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Geovani, memastikan hanya pria itu yang bisa mendengar suaranya di tengah bisingnya musik.

​"Aku punya hadiah kecil untuk pesta pertunanganmu ini, Dokter," bisik Briella.

​"Oh ya? Apa itu? Sebuah pengakuan dosa?" tanya Geovani dengan nada mengejek.

​Briella menarik napas panjang, lalu membisikkan kalimat yang akan mengubah takdir mereka selamanya. "Aku mengandung benihmu, Dokter. Darah dagingmu ada di rahimku sekarang."

​Langkah dansa Geovani terhenti seketika. Tubuhnya menegang seperti batu. Tatapannya yang tadi penuh ejekan kini berubah menjadi sangat tajam dan berbahaya, seolah-olah ia sedang membedah isi kepala Briella untuk mencari kebohongan.

​"Ulangi lagi," perintah Geovani dengan suara yang sangat rendah.

​"Kau tidak salah dengar. Hasilnya positif. Anak haram ini sedang membawa calon pewarismu," ucap Briella dengan senyum tipis yang penuh kemenangan.

​Pada saat yang tepat itu, musik berhenti. Prilly, yang sudah tidak tahan melihat kedekatan mereka, berteriak kencang hingga seluruh perhatian tertuju pada mereka.

​"Cukup! Briella, keluar dari sini sekarang!" pekik Prilly. Ia memberi isyarat kepada lima pengawal pribadinya yang bertubuh raksasa.

​Dalam hitungan detik, para pengawal itu mengepung Briella dan Geovani di tengah lantai dansa. Mereka mencabut senjata api dan menyarungkan pedang listrik yang berkilat-kilat. Para tamu undangan menjerit ketakutan, mundur ke pinggir ruangan, sementara para wartawan justru semakin gencar mengambil foto.

​"Bawa jalang ini ke gudang belakang! Dia sudah berani menghina tunanganku!" perintah Prilly dengan wajah yang sudah tidak lagi menunjukkan kecantikan, melainkan kegilaan murni.

​Briella berdiri diam, ia tidak mencoba lari. Ia justru menatap Geovani, menantang pria itu untuk mengambil keputusan. Senjata-senjata itu kini tertuju tepat ke arah dada dan kepala Briella. Salah satu pengawal maju untuk mencengkeram lengan Briella dengan kasar.

​"Lepaskan dia," suara Geovani terdengar sangat tenang, namun memiliki daya ledak yang luar biasa.

​"Geovani, apa yang kau lakukan? Dia pengganggu! Dia harus dilenyapkan!" protes Prilly dengan histeris.

​Geovani tidak melihat ke arah Prilly. Ia tetap menatap Briella, seolah-olah dunia di sekitar mereka telah menghilang. Tekanan di ruangan itu meningkat drastis. Para pengawal ragu-ragu, mereka menatap Prilly lalu beralih ke Geovani yang merupakan sosok paling berpengaruh di Upper-Chrome.

​"Aku bilang... lepaskan tanganmu darinya," ulang Geovani dengan nada yang lebih dingin, membuat pengawal yang memegang Briella gemetar dan perlahan menarik tangannya kembali.

​Briella merasa jantungnya hampir melompat keluar dari dada. Inilah titik penentu. Di hadapan moncong senjata yang siap memuntahkan peluru, ia hanya bisa bersandar pada kebenaran yang baru saja ia sampaikan. Ia adalah pembawa benih sang predator, dan ia tahu Geovani tidak akan membiarkan "objek penelitiannya" dihancurkan begitu saja.

​Prilly melangkah maju, wajahnya dipenuhi air mata kemarahan. "Geovani! Kenapa kau membelanya? Dia hanya anak haram! Dia sampah!"

​Geovani perlahan melepaskan pegangannya dari pinggang Briella, namun ia tidak menjauh. Ia justru berdiri selangkah di depan Briella, membelakangi gadis itu seolah-olah ia adalah perisai baja yang tidak bisa ditembus oleh peluru mana pun.

​"Prilly, diamlah," ucap Geovani tanpa nada. "Kau tidak tahu apa yang baru saja kau coba hancurkan."

​"Apa maksudmu? Aku tunanganmu!" teriak Prilly.

​Geovani menarik napas dalam, membetulkan letak kacamata frameless-nya yang tidak bergeser sedikit pun. Ia menoleh sedikit ke arah Briella yang berdiri di belakangnya, lalu kembali menatap ke arah kerumunan media dan Prilly yang sedang hancur.

​"Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi Etheria-Metropolis," gumam Geovani pelan.

​Suasana di aula Grand-Etheria mencekam. Para pengawal masih dalam posisi siaga, senjata mereka masih terhunus. Briella bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari punggung Geovani. Di balik kemewahan ini, sebuah rahasia besar telah meledak, dan tidak ada lagi jalan untuk kembali ke kehidupan yang lama. Briella tahu, mulai detik ini, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan milik pria yang berdiri di depannya—sang predator yang baru saja ia beri umpan paling berharga di dunia.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!