Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Prahara di Gerbang Wisma
Livia berdiri membeku di depan Rangga, matanya terkunci pada layar ponsel yang Rangga pegang.
Berita utama dari salah satu portal nasional besar muncul dengan huruf tebal yang menyakitkan: “Isu Indisipliner: Paspor Atlet Andalan Dibekukan demi Penyelidikan Internal.”
Foto dirinya dari konferensi pers kemarin—senyum paksa, mata lelah—terpampang besar di sana.
"Dibekukan?" suaranya keluar pelan dulu, hampir tak percaya. Lalu amarah meledak.
"Are you kidding me?!" Suaranya meninggi.
Kakinya mondar-mandir di lantai kayu balkon, napasnya memburu seperti setelah set ketiga yang panjang. "Ini gila, Rangga! Ibumu itu sudah mulai mengusik karirku. "
Rangga tetap duduk, tapi bahunya menegang. "Livia, tolong dengerin dulu. Melawan Ibu di saat posisinya lagi di atas angin begini cuma bakal bikin dia makin nekat. Dia punya koneksi, Liv. Lebih dari yang kamu bayangkan."
"Dengerin apa lagi?!" Livia memotong, suaranya naik satu oktaf. Ia tak peduli lagi kalau penjaga di halaman bawah mendengar.
"Ranking aku itu nyawa aku di lapangan, Rangga! This is my dream, Ngga. Buat kamu, bulutangkis cuma pelarian tapi buat aku ... bulutangkis adalah segalanya! Aku sudah bertarung seumur hidup untuk ini, latihan pagi buta, cedera yang aku pendam sendiri, tekanan dari Mami yang selalu bilang 'jangan malu-maluin keluarga Liang'." Dia menarik nafasnya, tenaganya sudah habis.
"Aku tahu!" Rangga akhirnya berdiri. Tangannya mencoba menyentuh bahu Livia, tapi ia langsung menepisnya dengan keras.
"Jangan sentuh aku!" bentak Livia, matanya berkilat. "Kalau kamu memang di pihak aku, jangan cuma bilang 'nggak bisa'. Tunjukin kalau janji kamu tadi malam itu bukan cuma omong kosong biar aku mau tidur sama kamu."
Rangga menarik napas dalam-dalam. Sesaat, wajahnya menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat: amarah yang terkendali, tapi siap meledak. "Kamu bisa diam dan dengar sebentar, nggak?!" Suaranya rendah, tapi menggelegar seperti petir di malam hening. Itu mematikan semua kebisingan di sekitar balkon.
Livia tersentak. Ini bukan Rangga yang biasanya mengalah, yang selalu bicara lembut dan penuh sopan santun.
"Aku tahu karier kamu itu segalanya," lanjut Rangga, suaranya lebih menekan. Ia melangkah maju hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
"Tapi kamu pikir dengan lompat pagar dan lari ke jalanan sendirian, masalah kamu selesai? Kamu akan jadi buronan media, sponsor akan kabur, dan PBSI akan buang kamu lebih cepat dari yang kamu bayangkan. Aku lagi pasang badan buat kamu, Liv. Pahami posisi aku!"
Tangannya mencengkeram rahang Livia dengan lembut namun tegas, mengunci pergerakannya. "Jangan pernah ragukan janji aku soal semalam. Kalau aku bilang aku bakal bawa kamu keluar, aku bakal lakuin. Tapi sekarang, simpan amarah kamu buat di lapangan nanti, dan nurut sama aku. Can you do that?"
Livia mendongak, matanya masih berkilat penuh kemarahan. "Aku nggak pernah percaya sama kata-kata kamu, Rangga. Kamu sama saja sama pria-pria lain di hidupku yang cuma mau manfaatin aku. Dan stop nyuruh aku—"
Kalimatnya terputus seketika.
Rangga tidak memberi celah. Ia membungkam bibir Livia dengan ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh dominasi.
Bibirnya keras, tapi ada kelembutan di baliknya, seperti ia ingin menghukum sekaligus melindungi.
Livia tersentak, matanya melebar karena kaget. Tangannya sempat mengepal di dada Rangga, berniat mendorongnya menjauh, tapi Rangga justru mempererat dekapan di pinggangnya, menarik tubuh Livia hingga menempel sempurna padanya.
Sialan, batin Livia mengumpat. Tubuhnya mulai mengkhianati logikanya.
Gelombang panas menjalar dari bibirnya ke seluruh saraf, membuat lututnya lemas. Aroma tubuh suaminya menyergap indranya.
Ia merasakan detak jantung Rangga yang sama kencangnya dengan miliknya.
Cengkeraman Livia di kemeja Rangga perlahan melunak. Tangannya berubah menjadi pegangan erat, seolah meminta lebih.
Tepat saat Livia sudah benar-benar pasrah, tenggelam dalam gelombang itu, Rangga tiba-tiba menarik diri.
Livia terdiam, tatapannya kosong, pipi merona hebat.
Kenapa dia harus merasa se-terangsang ini di tengah situasi yang kacau seperti ini? Di mana harga dirinya?
"Aku... aku mau pergi sebentar," ucapnya buru-buru, suaranya serak, meninggalkan Livia bingung dengan apa saya yang baru terjadi.
***
Rangga mengumpat pelan di bawah napasnya. "Sialan..." Tangannya mengepal, mencoba menenangkan detak jantung yang masih tak karuan.
Livia benar-benar sulit dikendalikan. Gadis itu seperti kembang api: indah, liar, tapi bisa meledak kapan saja dan membakar segalanya di sekitarnya.
Ia baru saja mau mengejar langkah istrinya ketika sebuah suara berat menghentikan gerakannya di selasar menuju ruang utama.
"Cari istrimu?"
Rangga berhenti. Ayahnya berdiri di sana, siluetnya tinggi dan tegap di bawah cahaya lampu temaram. Cerutu yang belum dinyalakan tergenggam di tangan kanannya, tapi auranya sebagai mantan penasihat negara masih terasa sangat dominan.
"Papa harap kamu sadar, Rangga," ucap ayahnya tanpa basa-basi. "Drama ini sudah cukup jauh."
Beliau melangkah mendekat, langkahnya terukur. "Kalau urusan administrasi dan citra keluarga ini sudah selesai, kamu harus mulai berpikir logis. Kamu butuh istri yang paham tata krama, yang bisa berdiri di sampingmu saat kamu naik ke panggung politik. Bukan atlet yang setiap hari bikin berita utama karena skandal."
Rangga mengepalkan tangan di samping tubuhnya. "Livia itu istriku, Pa. Aku sudah menerima semua kekurangannya.”
Ayahnya menggeleng pelan. "Rangga, pernikahan ini... anggap saja bentuk tanggung jawab sesaat. Setelah semuanya tenang, kita bicarakan solusinya."
Rangga tertawa hambar, tatapannya lurus ke mata ayahnya. "Papa lupa? Kita ini Katolik. Di keluarga ini, tidak ada kata 'selesai' untuk sebuah pernikahan kecuali maut. Papa sendiri yang selalu bilang kalau janji di depan altar itu sakral."
Ayahnya terdiam sejenak, sorot matanya menajam. "Memang sakral. Tapi kamu menikahi wanita Liang itu untuk sekadar kontrak ini. Setelah..."
"Maaf, Pa," potong Rangga dengan nada yang sangat tenang tapi mematikan. "Kalau Papa menginginkan aku hanya memperlakukan Livia sebagai istri sementara, aku nggak bisa, Pa."
"Apa kamu bilang?" Suara ayahnya meninggi, bergema di sepanjang lorong marmer yang sunyi. "Kamu menantang Papa demi wanita yang belum sebulan kamu nikahi itu? Kamu mau mengacaukan rencana besar keluarga ini cuma karena kamu terobsesi sama dia?"
Rangga tidak bergeming.
Matanya menatap tajam pria di depannya, ia tidak mundur. "Gimana pun juga dia tetap istriku, Pa. Bukannya ini yang Papa inginkan? Papa minta aku mendekati Livia dan aku sudah lakuin. Sekarang aku memilih untuk mempertahankannya."
"Lancang ya kamu..." Ayahnya terdiam, tangannya tiba-tiba mengelus dada. Wajahnya meringis kesakitan, napasnya tersengal. Ia berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Papa!!!" Rangga serta merta melompat maju, menangkap tubuh ayahnya sebelum ia ambruk ke lantai marmer yang dingin.