NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Karena Honeymoon

Pesawat mendarat di Soekarno-Hatta dengan mulus, namun Livia dan Rangga langsung disambut seolah-olah mereka adalah pasangan paling dicari di Indonesia.

"Livia! Kabur sebulan ke Bali itu murni pemberontakan adat atau memang honeymoon level sultan?!"

"Apa ini akhir dari era 'Pangeran Santun' karena sekarang sudah jadi suami rebel?"

Rangga langsung masuk ke mode proteksi penuh. Ia menarik Livia ke belakang tubuhnya, membuka jalan sambil terus menggumamkan "No comment" dengan ekspresi wajah datar yang justru membuat para wartawan makin gila mengejar.

Di balik bahu suaminya, Livia hanya bisa menyeringai jail. Baginya, ini baru upacara pembukaan. Wait for the main event, guys.

Begitu masuk ke dalam mobil, Livia langsung menyalakan ponsel. Seketika, tsunami notifikasi membanjiri layarnya. Tagar #LiviaRanggaKabur sudah bertengger di posisi satu di semua platform. Netizen Indonesia rupanya sedang dalam mode full gas, mencampuradukkan antara pujian romantis dan komentar yang sangat savage.

Para penggemar yang sedang mode on: “Couple goals banget! Kabur honeymoon sebulan tanpa pamit. Mau juga punya suami kayak Rangga—rapi tapi nekat!”

Sementara kaum nyinyir level dewa tidak mau kalah: “Chindo rebel akhirnya ketemu batunya. Mami Ratna pasti kasih hukuman jadi 'tradwife' versi hard. Prediksi saya: minggu depan Livia bakal nangis minta raketnya balik.”

“Kasihan Rangga, dari pangeran priyayi jadi suami istri yang super hiperaktif. Skandal Mateo saja belum kering, sudah bikin skandal kabur lagi. Chaos queen confirmed!”

Livia tertawa lepas saat membaca satu komentar yang sangat epik: “Livia lagi kena bootcamp Mami Ratna. Dari yang biasanya smash kok, sekarang jadi smash bawang di dapur. Siap-siap dapet menu gudeg gosong!”

Rangga melirik layar ponsel istrinya. "Netizen kita benar-benar punya standar ganda. Kalau saya yang mengajak kabur, saya disebut alpha romantic. Begitu kamu ikut, kamu langsung dicap tidak tahu sopan santun."

"Sudah biasa," Livia mengangkat bahu sambil terus menggulir layar dengan santai. "Saya sudah jadi pro player kalau soal dihujat, apalagi sejak skandal Mateo itu. Yang penting kita senang—dan harus diakui, bebek betutu di Bali kemarin itu memang legendaris."

***

Wisma Adiwinata, Solo — Dua Hari Kemudian

Livia berdiri di tengah pendopo utama, merasa seolah-olah sedang berhadapan dengan pelatih yang sangat galak. Bedanya, pelatih kali ini adalah Mami Ratna yang sedang memegang map tebal bertajuk: “Jadwal Pendidikan Menantu Livia Adiwinata – 30 Hari Versi... Super Intensif.”

Mami Ratna tersenyum tipis, namun tatapan matanya seolah berkata, “Selamat datang di dunia nyata, Nduk.”

"Ini bukan hukuman, ya. Ini... pembentukan karakter premium," ucap Mami Ratna tenang. "Kamu mungkin juara dunia di lapangan, tapi jadi menantu keluarga Adiwinata itu butuh keahlian yang tidak pernah diajarkan di Pelatnas."

Livia menerima map itu seperti menerima tumpukan tugas kuliah di semester akhir. Ia membukanya, dan seketika ingin tertawa di dalam hati sambil tetap memasang wajah seserius mungkin. Isinya benar-benar di luar nalar:

Catatan Spesial: Ponsel disita total (kecuali darurat seperti kebakaran wisma). Raket bulu tangkis? Menjadi buah terlarang. Latihan fisik? Nol kalori. Fokus utamanya adalah menjadi istri Adiwinata yang baik

"Nduk, tolong panggil saya Ibu di sini. Kita sedang di Solo, bukan di mal Jakarta," ucapnya dengan nada tenang yang justru lebih mengerikan daripada teriakan.

Beliau melangkah mendekat, aroma melati dari kain jariknya tercium samar namun dominan. "Mengenai SEA Games... kalau kamu memang belum siap mendedikasikan diri sepenuhnya untuk nama Adiwinata, mungkin memang posisimu di keluarga ini perlu ditinjau ulang. Atau mungkin, kariermu di pelatnas yang harus dikalahkah?"

Ratna berhenti tepat di depan Livia, menatap menantunya itu lurus-lurus. "PBSI punya banyak atlet, Nduk. Kamu bukan satu-satunya. Kalau kamu absen sebulan dan mereka butuh pengganti, ya sudah, biarkan saja mereka cari yang lain. Kamu itu sekarang istri Rangga, bukan cuma aset negara."

Livia merasakan rahangnya mengeras. Sebagai seorang atlet yang terbiasa bertarung di lapangan, kata 'diganti' adalah penghinaan terbesar. Rasanya seperti sedang dipaksa melakukan backhand sambil tangan terikat. Ia melirik ke arah rumah utama, mencari sosok Rangga, namun suaminya itu seolah sengaja membiarkan Livia menyelesaikan "set" ini sendirian.

"Jadi," lanjut Ibu Ratna, suaranya kembali selembut sutra tapi sedingin es, "pilihannya sederhana. Fokus jadi menantu yang beradab di sini, atau silakan angkat raketmu, tapi jangan bawa nama keluarga kami di belakang punggungmu. Rangga sudah setuju kalau ini yang terbaik untuk meredam kegaduhan yang kamu buat."

Livia menarik napas panjang, berusaha menjaga emosinya agar tidak meledak di depan sang ibu mertua yang tampak sangat berkuasa ini. Strategi defense sepertinya tidak akan berhasil; ia harus bermain cantik.

"Saya mengerti, Ibu," jawab Livia akhirnya, menekankan kata panggilan baru itu dengan nada yang dipaksakan sopan. "Kalau begitu, saya mulai dari dapur sekarang?"

Ibu Ratna tersenyum puas, sebuah kemenangan telak di gim pertama. "Bagus. Mbok Nah sudah menunggu di belakang. Ingat, jangan ada satu pun piring yang pecah, atau waktumu di sini akan saya perpanjang."

**

“Nduk Livia, ini resep dari Ibu... katanya harus mulai ulek bumbu untuk—”

“Stop, Mbok,” Livia memotong dengan gerakan tangan yang tegas. Ia melepas jam tangan mewahnya, menyampirkan kain serbet ke bahu seperti handuk atlet, dan menatap mereka satu per satu. “Ibu mau saya yang bertanggung jawab untuk makan malam 50 orang, kan? Fine. Tapi di lapangan saya, sayalah kaptennya. Mbok Nah, tolong siapkan bahan utama. Kamu, kupas bawangnya sekarang, jangan sampai ada yang tersisa. Kamu, cuci sayurnya, pastikan bersih sampai ke sela-sela.”

Suaranya tidak melengking, namun ada otoritas alami yang keluar begitu saja—insting seorang juara dunia yang terbiasa memimpin ritme permainan. Para asisten rumah tangga itu saling lirik, gemetar karena bingung. Mereka terbiasa diperintah dengan kelembutan yang manipulatif khas ningrat, bukan instruksi taktis yang cepat dan efisien seperti ini.

Livia mendengus dalam hati. Dia pikir saya bakal menangis di depan ulekan? Please. Ia tahu betul Ratna tidak mungkin mengerjakan semua ini sendirian setiap hari. Manajemen dapur adalah soal kepemimpinan, dan Livia baru saja mengambil alih kendali. Dalam satu jam, dapur yang tadinya lambat berubah menjadi mesin produksi yang bising namun teratur di bawah perintah Livia.

Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah suara tajam memecah suasana.

“Apa-apaan ini?”

Livia menoleh. Di ambang pintu dapur, berdiri wanita bersanggul dengan batik sutra menatap tumpukan bahan makanan dan para pelayan yang bekerja seperti dikejar setan, lalu matanya tertuju tajam pada Livia yang masih berdiri tegak tanpa noda kuah sedikit pun di bajunya.

“Saya dengar Kak Ratna menyuruhmu masak untuk keluarga besar, Livia. Tapi kenapa saya malah melihat kamu berdiri seperti mandor bangunan?” Tante Lastri melangkah maju, sorot matanya penuh penghinaan. “Mengapa bukan kamu yang masak sendiri, Livia? Kamu pikir menjadi menantu Adiwinata itu cukup dengan memerintah orang rendahan?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!