Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Pertengkaran Besar
#
Dua hari setelah Pak Harto datang, Zahra udah nggak tahan lagi. Amarahnya—yang dia pendam dua hari—udah sampe di ubun-ubun.
Dia kirim pesan ke Arkan:
*"Mas, kita harus ketemu. Sekarang. Di taman dekat masjid. Zahra tunggu."*
Kirim.
Beberapa menit kemudian, Arkan bales:
*"Oke. Aku kesana sekarang."*
Zahra duduk di bangku taman yang cat nya udah ngelupas. Tangan mengepal di pangkuan. Napas nggak teratur. Hatinya... marah. Campur aduk sama kecewa, sakit, bingung.
"Kenapa... kenapa dia harus kayak gini? Kenapa dia... kenapa dia nggak ngerti?"
Sepuluh menit kemudian, Arkan datang. Pake kaos putih, celana hitam, sepatu kets. Wajahnya khawatir. Langkahnya cepet.
"Zahra... kamu... kamu udah sehat?"
Zahra nggak jawab. Cuma natap Arkan dingin.
Arkan duduk di sebelah Zahra. Jarak... mungkin setengah meter.
"Zahra... ada apa? Kamu... kamu mau ngomong apa?"
"Mas tau kan... tau kan kenapa Zahra panggil Mas kesini?"
"...soal hutang?"
"Bukan cuma soal hutang!" Zahra naikkan suara. "Soal semuanya! Soal Mas yang... yang terlalu ikut campur hidup Zahra! Soal Mas yang... yang nggak ngerti batasan!"
Arkan diem. Bingung. "Zahra... aku... aku cuma bantuin—"
"Bantuin?!" Zahra berdiri. "Mas pikir itu bantuin?! Mas pikir dengan bayarin hutang Zahra... dengan mukul Pak Harto... dengan ikut campur masalah Zahra... itu bantuin?!"
"Iya! Aku bantuin karena aku sayang sama kamu!"
"Tapi Zahra nggak minta!" Zahra teriak. Beberapa orang di taman ngeliatin. Tapi Zahra nggak peduli. "Zahra nggak pernah minta Mas bayarin apa-apa! Zahra nggak pernah minta Mas selesain masalah Zahra! Kenapa Mas... kenapa Mas maksa?!"
"Aku nggak maksa! Aku cuma... aku cuma nggak bisa liat kamu susah!"
"Terus?! Terus Mas pikir dengan bayarin hutang Zahra... Zahra bakal jadi terhutang budi sama Mas?! Zahra bakal ngerasa... ngerasa harus balas kebaikan Mas dengan... dengan apa? Terima Mas?!"
Arkan berdiri juga. "Apa maksud kamu?!"
"Maksud Zahra... Mas... Mas kayak lagi beli hati Zahra! Kayak lagi... lagi ngasih uang biar Zahra mau sama Mas! Kayak... kayak Zahra ini barang yang bisa dibeli!" Zahra nangis. "Zahra... Zahra bukan kayak gitu! Zahra punya harga diri! Zahra nggak mau... nggak mau jadi cewek yang... yang dapet cowok karena uang!"
"ZAHRA!" Arkan teriak. Keras. "Aku nggak beli kamu! Aku nggak pernah pikir kamu barang! Aku... aku cuma pengen kamu nggak susah! Itu aja!"
"Tapi dengan Mas lakuin itu... Zahra ngerasa... ngerasa kayak nggak berguna! Kayak... kayak Zahra cuma jadi beban! Cuma jadi... jadi cewek miskin yang butuh belas kasihan cowok kaya!"
"Kamu bukan beban! Kamu nggak pernah jadi beban buat aku!"
"Tapi Zahra ngerasanya kayak gitu!" Zahra jalan deket. Natap mata Arkan yang juga berkaca-kaca. "Mas... Mas nggak ngerti gimana rasanya jadi orang kayak Zahra. Orang yang... yang setiap hari berjuang cari uang. Berjuang hidup. Berjuang jaga harga diri di tengah kemiskinan. Dan tiba-tiba... tiba-tiba ada cowok kaya yang dateng... bayarin ini-itu... seolah-olah Zahra nggak bisa ngapa-ngapain sendiri!"
"Aku nggak seolah-olah kamu nggak bisa! Aku tau kamu kuat! Tapi... tapi kenapa kamu nggak mau terima bantuan?! Kenapa kamu... kenapa kamu keras kepala banget?!"
"Karena itu harga diri Zahra!" Zahra teriak. "Harga diri yang... yang mungkin Mas nggak ngerti! Karena Mas... Mas dari kecil punya segalanya! Mas nggak pernah ngerasain susah! Nggak pernah ngerasain... ngerasain diremehkan orang karena miskin! Nggak pernah ngerasain... ngerasain dihina karena nggak punya uang! Jadi Mas... Mas nggak akan ngerti kenapa Zahra nggak mau terima uang Mas!"
Arkan diem. Napasnya ngos-ngosan. Tangannya mengepal.
"...jadi... jadi kamu pikir aku... aku ngeremehkan kamu? Gitu?"
"Iya!" Zahra nangis makin keras. "Mas ngeremehkan Zahra! Mas pikir Zahra lemah! Pikir Zahra nggak bisa hidup tanpa Mas! Pikir Zahra... pikir Zahra butuh diselamatin kayak putri di dongeng! Tapi Zahra bukan putri! Zahra cuma... cuma cewek biasa yang... yang mau hidup dengan usaha sendiri! Nggak mau... nggak mau jadi tanggungan orang!"
"Aku nggak pernah pikir kamu lemah!" Arkan balas teriak. "Aku tau kamu kuat! Kamu... kamu cewek paling kuat yang pernah aku kenal! Tapi... tapi kenapa kamu nggak mau terima bantuan?! Kenapa kamu... kenapa kamu harus tanggung semuanya sendiri?!"
"Karena itu pilihan Zahra!" Zahra mundur. "Dan Mas... Mas nggak berhak ikut campur! Mas... Mas bukan siapa-siapa Zahra! Mas bukan pacar Zahra! Mas bukan suami Zahra! Mas cuma... cuma orang yang... yang ngaku sayang tapi nggak ngerti batasan!"
Arkan diam. Kayak ditampar.
"...jadi... jadi kamu pikir aku nggak berhak peduli sama kamu? Gitu?"
"Iya!" Zahra tegas. "Mas nggak berhak! Karena kita... kita nggak ada hubungan apa-apa! Kita cuma... cuma dua orang yang saling suka tapi nggak bisa bersama! Dan Mas... Mas harusnya ngerti itu! Harusnya... harusnya jaga jarak! Bukan malah... malah ikut campur hidup Zahra seenaknya!"
"Seenaknya?!" Arkan jalan deket. "Aku ikut campur karena aku peduli! Karena aku... aku nggak bisa diem aja ngeliat kamu pingsan! Ngeliat kamu kerja sampe mati! Ngeliat kamu... ngeliat kamu diancam rentenir! Aku... aku harus lakuin sesuatu! Dan aku nggak nyesel! Meskipun kamu marah! Meskipun kamu... kamu benci aku!"
"Zahra nggak benci Mas!" Zahra teriak. "Tapi Zahra... Zahra kecewa! Kecewa karena Mas... Mas nggak ngerti! Nggak ngerti kenapa Zahra nggak mau terima uang Mas! Kenapa Zahra... kenapa Zahra lebih milih susah sendiri daripada... daripada ngerasa jadi beban orang!"
"Kamu bukan beban!"
"TAPI ZAHRA NGERASANYA KAYAK GITU!" Zahra nangis sejadi-jadinya. "Mas... Mas nggak ngerti... nggak akan pernah ngerti... karena Mas dan Zahra... Mas dan Zahra beda dunia... Mas dari dunia yang punya segalanya... Zahra dari dunia yang... yang nggak punya apa-apa... dan perbedaan itu... perbedaan itu nggak akan pernah hilang... meskipun kita... meskipun kita saling cinta..."
Arkan diem. Air mata jatuh. Pertama kalinya... Zahra liat Arkan nangis di depan dia.
"...jadi... jadi kamu mau putus sama aku? Gitu?"
Zahra diem. Tenggorokannya kayak dicekek.
"...Zahra nggak bilang putus. Zahra cuma... cuma minta Mas... minta Mas jaga jarak. Jangan... jangan ikut campur hidup Zahra lagi. Jangan... jangan bayarin apa-apa lagi. Jangan... jangan peduli lagi. Karena... karena itu cuma bikin Zahra makin... makin ngerasa nggak berguna..."
"Aku nggak bisa." Arkan geleng kepala. "Aku nggak bisa nggak peduli sama kamu. Aku nggak bisa... nggak bisa liat kamu susah dan diem aja. Aku... aku nggak bisa, Zahra."
"Mas harus coba."
"Kenapa?! Kenapa aku harus diem aja ngeliat orang yang aku cinta susah?! Kenapa aku... kenapa aku nggak boleh bantuin?!"
"Karena itu bukan tugas Mas!" Zahra teriak. "Mas... Mas bukan suami Zahra! Mas bukan keluarga Zahra! Mas cuma... cuma orang luar yang... yang kebetulan cinta sama Zahra! Dan cinta itu... cinta itu nggak ngasih Mas hak buat... buat ngatur hidup Zahra!"
Arkan mundur. Kayak kehilangan tenaga.
"...oke. Aku ngerti sekarang."
"Mas—"
"Aku ngerti kamu nggak butuh aku. Aku ngerti... aku ngerti aku cuma... cuma orang luar. Orang yang... yang nggak berhak peduli. Orang yang... yang nggak penting buat kamu."
"Bukan gitu—"
"Terus apa?!" Arkan balas teriak. "Kamu bilang aku nggak berhak! Kamu bilang aku ikut campur! Kamu bilang aku... aku ngeremehkan kamu! Terus aku apa dong?! Aku... aku cuma cowok bodoh yang jatuh cinta sama cewek yang... yang nggak mau terima cinta aku?!"
"Zahra terima cinta Mas! Tapi... tapi bukan dengan cara kayak gini! Bukan dengan... dengan uang! Bukan dengan... dengan belas kasihan!"
"Aku nggak kasihani kamu!"
"Tapi Zahra ngerasanya kayak gitu!" Zahra jalan deket. "Mas... Mas mau tau kenapa Zahra marah? Karena... karena Zahra takut. Takut kalau... kalau suatu hari nanti Mas bilang... 'Zahra, aku udah bantuin kamu banyak. Sekarang gantian kamu yang... yang bales kebaikan aku.' Dan Zahra... Zahra nggak mau kayak gitu. Zahra nggak mau... nggak mau hubungan kita dibangun atas hutang budi. Atas... atas rasa terhutang."
Arkan diem. Lama. Natap Zahra sedih.
"...kamu... kamu beneran pikir aku bakal bilang kayak gitu?"
"Zahra nggak tau. Tapi... tapi Zahra takut."
"Zahra..." Arkan jalan deket. Pegang kedua bahu Zahra. "Aku... aku nggak akan pernah bilang kayak gitu. Aku... aku bantuin kamu karena aku cinta kamu. Bukan karena aku ngarepin balasan. Bukan karena... karena aku mau kamu terhutang budi. Aku... aku cuma mau kamu bahagia. Itu aja."
"Tapi dengan Mas lakuin itu... Zahra nggak bahagia..." Zahra nangis. "Zahra... Zahra ngerasa jadi beban... ngerasa... ngerasa nggak berguna... dan itu... itu nyakitin..."
Arkan lepas tangannya. Mundur.
"...oke. Kalau itu yang kamu mau. Aku... aku nggak akan ikut campur lagi. Aku... aku nggak akan peduli lagi. Aku... aku akan jaga jarak. Seperti yang kamu mau."
"Mas..."
"Tapi Zahra... aku mau kamu tau satu hal." Arkan natap Zahra terakhir kali. "Aku nggak nyesel bantuin kamu. Aku nggak nyesel bayarin hutang kamu. Karena... karena aku nggak bisa liat orang yang aku cinta susah. Dan kalau... kalau itu bikin kamu marah... kalau itu bikin kamu... bikin kamu benci aku... aku... aku terima. Tapi aku... aku nggak akan minta maaf. Karena aku... aku lakuin itu dari hati."
Dan dia berbalik. Jalan pergi. Punggungnya tegak meskipun langkahnya berat.
"MAS! MAS TUNGGU!" Zahra teriak.
Arkan berhenti. Nggak nengok.
"...Zahra... Zahra nggak benci Mas... Zahra cuma... cuma kecewa... Zahra..."
"Aku tau." Arkan lanjut jalan. "Dan aku... aku ngerti kenapa kamu kecewa. Maaf kalau aku... kalau aku nggak ngerti kamu. Maaf kalau aku... kalau aku terlalu ikut campur. Maaf... maaf aku nggak bisa jadi cowok yang kamu mau."
"MAS!" Zahra lari. Tapi kakinya lemas. Dia jatuh. Terduduk di tanah.
Arkan nggak nengok. Terus jalan. Masuk mobil. Nyalain mesin. Pergi.
Ninggalin Zahra sendirian di taman itu. Nangis. Sendirian.
"Ya Allah... kenapa... kenapa Zahra bilang kayak gitu? Kenapa Zahra... kenapa Zahra nyakitin dia?"
Tapi di hatinya... dia tau.
Dia tau dia nggak salah. Dia cuma... cuma jaga harga dirinya. Cuma... cuma nggak mau jadi beban.
Tapi kenapa... kenapa rasanya kayak dia kehilangan sesuatu yang... yang nggak akan pernah balik lagi?
---
Di mobil, Arkan nangis sambil nyetir. Air mata nggak berhenti. Napas sesak.
"Kenapa... kenapa dia nggak ngerti? Aku... aku cuma mau bantuin... aku cuma... cuma mau dia bahagia..."
Tapi kata-kata Zahra terus terngiang.
"Mas nggak berhak peduli sama Zahra!"
"Mas cuma orang luar!"
"Mas ngeremehkan Zahra!"
"Kenapa... kenapa dia pikir aku ngeremehkan dia? Aku... aku nggak pernah... nggak pernah pikir kayak gitu..."
Dia berhenti di pinggir jalan. Pukul setir.
BRAK! BRAK! BRAK!
"SIAL! KENAPA AKU NGGAK NGERTI DIA?! KENAPA AKU... KENAPA AKU SELALU SALAH?!"
Dia nangis sejadi-jadinya. Di dalam mobil yang gelap. Sendirian.
"Zahra... maafin aku... maafin aku nggak ngerti kamu... aku... aku cuma... aku cuma pengen kamu bahagia... tapi kenapa... kenapa aku malah bikin kamu sakit?"
---
**BERSAMBUNG KE BAB 24...**