Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Empat Tahun yang Lalu...
Di ruang tunggu rumah sakit yang dipenuhi aroma antiseptik, Intan duduk gelisah. Pikirannya tak henti-henti mengembara ke adiknya, Sonya, yang sedang menjalani operasi sesar. Waktu terasa berjalan lambat. Detik demi detik berlalu hingga suara tangisan bayi yang tadi sempat terdengar mendadak terhenti. Intan merasakan dadanya sesak, cemas akan kemungkinan terburuk.
Pintu ruang operasi terbuka, dan seorang dokter keluar dengan langkah mantap. Intan segera berdiri, matanya menatap penuh harap. "Dok, bagaimana kondisi bayi adik saya?" tanyanya dengan suara gemetar, tangannya mengepal di sisi tubuh.
Dokter itu, pria paruh baya dengan wajah tegas, berhenti sejenak sebelum menjawab, "Anak kembar adik Anda lahir dalam kondisi sehat, satu laki-laki dan satu perempuan." Namun, suaranya berubah serius. "Tapi karena berat badan mereka rendah, mereka harus dirawat di inkubator. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menjaga mereka."
Mendengar kabar itu, Intan menghela napas lega. "Terima kasih, Dok. Mohon bantuannya untuk mereka," ujarnya lirih, meski kekhawatiran tetap menggelayut di hatinya.
Beberapa jam kemudian, Sonya dipindahkan ke ruang perawatan. Intan duduk di samping ranjangnya, mengamati wajah pucat adiknya yang perlahan membuka mata.
"Bayiku... bagaimana, Kak?" Sonya bertanya dengan suara lemah, matanya basah oleh air mata. "Mereka sehat, kan?"
Intan meraih tangan Sonya dan mengusap kepala adiknya dengan lembut. "Mereka sehat, Dek. Tapi karena berat badan mereka kurang, mereka harus dirawat dulu di inkubator." Ia mencoba tersenyum, meski ada kesedihan di matanya. "Kamu sudah melakukan yang terbaik."
Sonya mulai menangis terisak. "Tapi Kak... biayanya pasti mahal. Aku melahirkan sesar, belum lagi perawatan mereka..."
Intan memegang tangan Sonya lebih erat. "Jangan khawatir soal itu. Kakak akan urus semuanya. Kamu fokus saja untuk sembuh."
Meski Intan mencoba meyakinkan, Sonya tetap merasa bersalah. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, mereka sudah bekerja keras—Intan di warung makan, dan Sonya bahkan sempat memulung saat hamil demi menambah penghasilan. Kini, beban terasa semakin berat.
Beberapa hari berlalu. Malam itu, Intan baru saja pulang dari bekerja dan memutuskan untuk melihat bayi-bayi kembar di ruang perawatan sebelum menemui Sonya. Namun, langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara jeritan Sonya. Dengan panik, Intan berlari ke sana.
Ia menemukan Sonya bersimpuh di lantai, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya penuh air mata. "Dek! Apa yang terjadi?!" serunya sambil mengguncang tubuh adiknya.
Sonya hanya bisa menunjuk kosong ke arah inkubator bayi di sudut ruangan. Satu inkubator kecil yang seharusnya ada di sana kini kosong. "Anakku... Kak... anakku diambil..." bisiknya parau sebelum akhirnya jatuh pingsan di pelukan Intan.
Dada Intan terasa seperti dihantam palu. Semua orang di ruangan hanya berdiri terpaku, berbisik-bisik tanpa ada yang membantu. Dengan tergesa-gesa, Intan menghubungi pihak keamanan rumah sakit dan polisi, namun usaha mereka sia-sia. Tak ada jejak bayi-bayi itu.
Kehilangan salah satu ankanya menghancurkan jiwa Sonya. Ia terpuruk dalam depresi berat, sering melamun dan menangis. Namun, seiring waktu, sesuatu yang lebih buruk terjadi. Sonya mulai kehilangan ingatannya, terutama tentang kehamilan dan anaknya yang hilang.
"Anakku hanya Yasya, Kak. Apa yang kamu bicarakan?" katanya suatu hari, dengan tatapan kosong yang menusuk hati Intan.
Intan menelan kepahitan itu sendirian. Ia membuang semua bukti dan hasil pemeriksaan kehamilan Sonya, memilih untuk berbohong demi menyelamatkan kesehatan mental adiknya. "Iya, Dek. Anakmu Yasya saja," bisiknya, menahan air mata.
Intan terjaga dari lamunannya, tadi pikirannya berputar kembali ke masa lalu yang terus menghantuinya. Pertemuannya dengan Arya, anak yang kini diakui oleh Yudha sebagai putranya membuat hatinya kacau. Sebuah pertanyaan besar mengendap di benaknya, Apakah Arya adalah salah satu dari anak kembar Sonya yang hilang dulu? Apakah ini waktunya untuk memberitahu Sonya dan membuka kembali luka yang selama ini perlahan ia coba sembuhkan?
Keraguan menyerang lebih kuat dari keberaniannya. Intan menggeleng pelan, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Tidak," gumamnya lirih, suara itu hampir tenggelam dalam keheningan. "Aku harus punya bukti yang lebih kuat. Kalau cuma tanda lahir di perut Arya, siapa yang akan percaya?"
Sesaat, Intan menunduk, membiarkan pikirannya mengembara. Matanya beralih pada Sasa, anak kecil yang kini tertidur lelap di ranjang ruang perawatan. Napas yang teratur, wajah polos yang damai, semua itu justru memperbesar kegelisahan di hati Intan.
"Apa ini hanya kebetulan?" bisiknya, suara itu bergetar, hampir terdengar seperti pertanyaan kepada dirinya sendiri. "Apa ada kebetulan yang begitu terarah?"
Tatapan Intan melembut, namun pikirannya terus berputar. Takdir seperti sedang mempermainkan mereka. Pasangan itu yang tak lain Sonya dan Yudha, harus terpisah dan entah bagaimana saling membutuhkan dalam cara yang bahkan mereka sendiri mungkin tak mengerti. Intan menarik napas panjang, berusaha mengusir rasa bersalah yang perlahan menyusup ke dalam hatinya.