NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

13. TGD.13

Pesawat yang membawa Shelly mendarat di Jakarta saat senja. Udara tropis yang lembap dan hangat langsung menyergap begitu ia keluar dari pintu bandara, terasa sangat kontras dengan hawa dingin Niigata yang baru saja ia tinggalkan. Namun, Shelly tidak lagi merasa asing. Ia menghirup napas dalam-dalam; ini adalah aroma rumah, aroma perjuangan yang sudah ia kenali.

Ia kembali ke asrama di kota tempat kuliahnya sebelum sempat pulang ke desa. Jadwal kuliah semester baru sudah menanti, namun Shelly yang kembali dari Jepang bukanlah Shelly yang sama dengan yang berangkat sebulan lalu.

---

Kehadiran Shelly di kampus menjadi pembicaraan. Mahasiswi beasiswa yang pendiam itu kini pulang dengan sertifikat penghargaan dari salah satu universitas pertanian terbaik di Jepang. Namun, alih-alih tampil dengan gaya hidup baru, Shelly tetaplah Shelly yang sederhana. Ia tetap memakai sepatu sekolah yang ia beli bersama adiknya, namun cara berjalannya kini lebih mantap.

Di hari pertama kuliah, ia langsung menemui dosen pembimbingnya, Prof. Gunawan. Shelly meletakkan tumpukan catatan dan sampel penelitiannya di meja.

"Prof, saya tidak ingin ilmu ini hanya berhenti di laporan magang," ujar Shelly dengan binar mata yang tajam. "Saya ingin membangun plot percontohan di desa saya. Saya ingin membuktikan bahwa teknologi Jepang bisa diadopsi dengan kearifan lokal kita."

Prof. Gunawan tertegun melihat draf yang dibuat Shelly. Itu bukan sekadar tugas kuliah; itu adalah sebuah cetak biru transformasi desa. "Shelly, ini ambisius. Kamu butuh bantuan. Saya akan bantu kamu menghubungkan proyek ini dengan dana pengabdian masyarakat dari universitas."

Selama di kota, Shelly mulai menerapkan disiplin yang ia pelajari dari Tanaka-sensei. Ia tidak lagi sekadar belajar untuk nilai A. Setiap teori yang ia terima di kelas, langsung ia konversikan dalam pikirannya: Bagaimana cara menjelaskan ini pada Bapak? Bagaimana cara alat ini bekerja di sawah kita yang miring?

Ia mulai aktif di laboratorium kampus hingga larut malam. Teman-temannya sering mengajaknya nongkrong di kafe-kafe kekinian di pusat kota, namun Shelly seringkali menolak dengan halus.

"Maaf ya, aku sedang mencoba menguji mikroba untuk pengurai pupuk organik ini," jawabnya sambil tersenyum.

Bagi Shelly, setiap detik di kota adalah investasi. Uang saku beasiswanya yang terbatas ia bagi dengan sangat ketat: sebagian dikirim untuk Bapak di desa agar tidak perlu lagi meminjam uang untuk biaya tanam, sebagian lagi ia tabung untuk membeli beberapa sensor kelembapan tanah yang ingin ia bawa pulang nanti.

Suatu sore di asrama, Shelly menerima telepon dari Abangnya. Suara Abangnya terdengar sangat bersemangat.

"Shel! Kamu kirim buku panduan apa itu ke desa? Bapak sama teman-teman kelompok tani setiap malam kumpul di rumah kayu. Mereka baca foto-foto catatanmu yang kamu kirim lewat pesan singkat!"

Shelly tertawa haru. Ternyata, selama di kota, edukasi yang ia lakukan secara jarak jauh mulai membuahkan hasil. Bapaknya, yang dulu skeptis terhadap hal-hal baru, kini menjadi "dosen" bagi petani lain, menceritakan bagaimana petani di Jepang memperlakukan air seperti emas.

"Bilang sama Bapak, Bang. Tunggu Shelly libur semester pendek nanti. Shelly akan pulang bawa 'hadiah' yang lebih besar dari sekadar kemeja batik."

Namun, hidup di kota tetaplah keras. Ada saatnya Shelly merasa sangat lelah. Tugas kuliah yang menumpuk, penelitian yang gagal di laboratorium, dan tekanan untuk mempertahankan nilai beasiswa terkadang membuatnya ingin menyerah.

Di saat-saat terberatnya, Shelly akan membuka laci mejanya. Ia mengambil amplop kecil berisi tanah dari galengan sawah Bapak. Ia akan mencium aroma tanah itu, lalu menatap syal hijau dari Ibu yang ia gantung di sandaran kursi.

"Jangan menyerah, Shelly. Kamu adalah jembatan. Kalau jembatannya rapuh, harapan orang-orang di desa tidak akan pernah sampai ke seberang," bisiknya pada diri sendiri.

Setelah tiga bulan berjibaku di kota pasca kepulangannya dari Jepang, Shelly akhirnya mendapatkan lampu hijau dari kampus. Proyek "Desa Mandiri Pangan" yang ia susun disetujui untuk menjadi proyek percontohan universitas. Ia diberikan bantuan alat dan tim kecil yang terdiri dari dua orang teman sejawatnya yang tertarik membantu.

Malam sebelum keberangkatannya pulang ke desa untuk memulai proyek tersebut, Shelly mengepak ranselnya. Di dalamnya kini bukan hanya ada oleh-oleh cokelat dari Jepang yang ia simpan rapi, tapi ada perangkat sensor, botol-botol berisi pupuk cair eksperimental, dan semangat yang meluap-luap.

Ia berdiri di balkon asramanya, menatap lampu-lampu kota yang gemerlap. Dulu, lampu-lampu ini membuatnya merasa kecil dan terasing. Sekarang, ia melihat lampu-lampu itu sebagai pengingat bahwa cahaya ilmu yang ia dapatkan di sini harus ia bawa pulang untuk menerangi rumah kayunya di utara.

Shelly siap pulang. Bukan lagi sebagai anak petani yang mencari nasib, tapi sebagai seorang arsitek masa depan bagi desanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!