NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Misi Terakhir yang 'Mudah'

Pagi itu, cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah-celah tirai otomatis di asrama Tim Aurora, membawa serta aroma kopi segar yang sudah menjadi ritual wajib sebelum memulai hari. Namun, berbeda dari pagi-pagi sebelumnya yang biasanya diwarnai dengan teriakan Bimo karena pancinya meledak atau Kai yang panik karena kode programnya error, suasana hari ini terasa anehnya... damai. Terlalu damai, seolah-olah alam semesta sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang besar terjadi.

Raka bangun lebih awal dari biasanya. Ia sudah duduk di meja makan ruang komando, menyeruput kopinya sambil menatap layar hologram utama yang menampilkan peta sektor kota. Wajahnya tampak segar, meski jika diperhatikan dengan saksama, ada kelelahan halus yang tersamar di balik senyum tipisnya. Ia telah menghabiskan semalam untuk memastikan semua sistem pertahanan markas berjalan optimal, sebuah tindakan pencegahan diam-diam yang ia lakukan agar teman-temannya merasa aman saat ia nanti "pergi".

"Selamat pagi, pemimpin tidur!" suara ceria memecah keheningan. Bimo masuk ke ruangan dengan membawa nampan berisi roti bakar berbentuk hati—bentuk yang agak gosong di salah satu sudutnya—dan segelas jus jeruk berwarna neon yang mencurigakan. "Aku buat sarapan spesial! Roti cinta ala Chef Bimo dan Jus Vitamin C Ekstrem!"

Kai mengikuti di belakangnya, masih menguap lebar sambil membetulkan kacamata augmented reality-nya yang melorot. "Bim, aku yakin 'Vitamin C Ekstrem' itu cuma kode kamu untuk asam sitrat murni. Aku takut lidahku meleleh."

Elara masuk terakhir, rambutnya masih sedikit basah usai mandi. Dia tersenyum melihat kekacauan pagi itu, matanya langsung mencari sosok Raka. Saat pandangan mereka bertemu, ada kilatan hangat yang saling bertukar, sebuah komunikasi tanpa kata yang hanya mereka pahami. Raka mengangkat cangkir kopinya sebagai salam, dan Elara membalasnya dengan anggukan kecil, pipinya merona merah samar.

"Misi hari ini apa, Ka?" tanya Elara sambil mengambil sepotong roti Bimo, berhati-hati menghindari bagian yang gosong.

Raka menekan tombol di meja, memunculkan laporan misi di udara. Sebuah ikon hijau berkedip-kedip, menandakan tingkat ancaman yang sangat rendah. "Laporan dari Sektor 9, area pinggiran dekat Hutan Data Lama. Ada anomali sinyal minor. Kemungkinan besar hanya gangguan cuaca elektromagnetik atau hacker iseng yang mencoba menjebol firewall publik. Tugas kita: cek lokasi, reset node sinyal, dan pulang. Estimasi waktu: dua jam maksimal."

"Sektor 9?" Kai mengerutkan kening, lalu tersenyum lega. "Itu kan daerah taman lama? Katanya di sana ada padang rumput digital yang masih pakai tekstur resolusi tinggi dari era pra-perang. Jarang banget kita ke sana."

"Berarti..." Bimo matanya berbinar. "Kita bisa bawa bekal? Piknik? Setelah selesai misi, tentu saja!"

Raka tertawa, tawa yang renyah dan ringan, menyembunyikan getaran nyeri kecil di dadanya. "Boleh. Anggap saja ini jalan-jalan santai. Kita butuh istirahat setelah ketegangan di Kota Terapung kemarin. Siapkan tas kalian, tapi jangan bawa senjata berat. Cukup pistol standar dan alat perbaikan. Kita pergi dalam satu jam."

Suasana di transportasi tim, sebuah kapal terbang kecil bernama Aurora Wing, jauh lebih mirip bus sekolah daripada kendaraan tempur. Tidak ada briefing serius, tidak ada pemeriksaan amunisi yang tegang. Sebaliknya, musik pop retro diputar keras-keras oleh Kai melalui sistem audio kapal. Bimo sibuk menyusun kotak bento raksasa di kokpit, sementara Elara dan Raka duduk di bangku belakang, menikmati pemandangan awan yang berlalu cepat di luar jendela.

"Kau tahu," kata Elara tiba-tiba, kepalanya bersandar di bahu Raka. Matanya menatap langit biru yang tak berawan. "Aku jarang merasakan momen seperti ini. Biasanya, setiap kali kita naik kapal, ada alarm bahaya atau musuh yang mengejar."

Raka mengalungkan lengannya di pundak Elara, menarik gadis itu lebih dekat. Aroma rambut Elara yang harum seperti bunga lavender menenangkannya sesaat dari rasa sakit yang mulai muncul di ujung jarinya. "Dunia sudah berubah, El. Kita sudah menang. Sekarang adalah waktunya untuk menikmati hasil perjuangan kita. Nikmati setiap detiknya."

"Kamu terdengar seperti filsuf tua," goda Elara, mendongak menatap wajah Raka.

"Mungkin aku memang tua di dalam," jawab Raka setengah bercanda, setengah serius. Dia mengecup kening Elara sekilas, sebuah gestur lembut yang membuat jantung Elara berdebar kencang. "Tapi selama aku bersamamu, aku merasa muda kembali."

Di bagian depan kapal, Bimo dan Kai sedang terlibat perdebatan sengit namun lucu.

"Aku bilang, kalau ada zombie data, aku akan menggoreng mereka!" seru Bimo sambil mengayunkan spatula besarnya.

"Itu tidak masuk akal secara ilmiah, Bim! Zombie data itu virus, bukan daging! Kau tidak bisa menggoreng kode biner!" balas Kai, menggelengkan kepala frustasi sambil tetap mengetik sesuatu di tablet-nya.

"Dasar kutu buku! Imajinasimu kurang bumbu!"

Raka dan Elara tertawa mendengar pertengkaran khas mereka. Suara tawa itu mengisi kabin, menciptakan gelembung kebahagiaan yang terasa nyata dan solid. Raka memejamkan mata sejenak, merekam suara tawa Bimo, ocehan Kai, dan napas lembut Elara di telinganya. Ia ingin menyimpan rekaman ini dalam memorinya, menguncinya rapat-rapat di bagian terdalam hatinya, sebagai bekal untuk perjalanan tunggal yang akan ia tempuh segera.

Klik.

Suara shutter kamera instan terdengar. Raka membuka matanya dan melihat Elara memegang kamera analog tua peninggalan Arc 1 mereka. Gadis itu tersenyum jahil. "Gotcha! Ekspresi kamu tadi sangat... hening. Seperti orang yang sedang merindukan sesuatu."

Raka tersenyum, menerima kamera itu dan melihat foto yang baru saja tercetak. Foto itu menampilkan dirinya dengan mata tertutup, wajah tenang, sementara Elara menatapnya dengan penuh kasih sayang. Latar belakangnya adalah langit biru yang cerah.

"Foto yang bagus," kata Raka pelan. "Simpan baik-baik, El. Ini... ini kenangan penting."

Elara mengernyit sedikit, merasakan nada aneh dalam suara Raka, tapi dia mengabaikannya. "Tentu saja. Aku akan memasukkannya ke album khusus kita. Album 'Hari-Hari Biasa yang Luar Biasa'."

Kapal Aurora Wing mulai menurun, menembus lapisan awan tipis menuju Sektor 9. Di bawah sana, hamparan hijau terbentang luas. Padang rumput digital dengan tekstur rumput yang begitu realistis hingga terlihat setiap helainya bergoyang ditiup angin simulasi. Pohon-pohon dengan daun berwarna emas dan perak berdiri kokoh, menciptakan kontras yang indah dengan langit biru.

"Lihat itu!" seru Kai dari kokpit. "Resolusinya masih sempurna! Tidak ada pixelation sama sekali!"

"Misi dimulai," announced Raka, suaranya kembali profesional namun tetap santai. "Siapkan alat reset. Dan... siapkan pikniknya, Bim. Sepertinya kita akan punya sore yang panjang."

Mereka mendarat dengan mulus di tengah padang rumput. Pintu kapal terbuka, menyambut mereka dengan udara segar yang berbau tanah dan bunga liar sintetis. Tidak ada tanda-tanda bahaya. Tidak ada drone musuh. Tidak ada jebakan. Hanya kedamaian yang absolut.

Raka melangkah keluar pertama kali, kakinya menginjak rumput lunak. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara bersih. Untuk sesaat, ia lupa pada glitch di tangannya. Ia lupa pada hitungan mundur di tubuhnya. Ia hanya menjadi Raka, seorang pemuda yang berada di tempat indah bersama orang-orang yang dicintainya.

"Yuk!" seru Bimo, sudah turun dengan membawa keranjang piknik raksasa. "Tempat terbaik ada di bawah pohon besar itu! Ayo, sebelum makanannya dingin!"

Mereka berjalan bersama, meninggalkan jejak kaki di atas rumput digital. Langit di atas mereka begitu biru, seolah-olah menjanjikan bahwa hari ini akan menjadi hari yang sempurna. Dan bagi Raka, itulah yang membuatnya paling sakit. Karena ia tahu, kesempurnaan ini adalah ilusi terakhir sebelum badai datang menghancurkan semuanya.

Namun, untuk saat ini, ia memilih untuk percaya pada ilusi itu. Ia menggandeng tangan Elara, erat, seolah-olah ia tidak akan pernah melepaskannya lagi.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!