Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan
Udara di dalam Aula Sumber Daya terasa membeku. Puluhan pasang mata menatap ngeri ke arah pemuda berpakaian compang-camping yang kakinya kini berpijak mantap di atas dada Diakon Lin Ba.
Di bawah tekanan aura membunuh yang memancar dari mata Lin Chen, pertahanan mental Lin Ba hancur sepenuhnya. Rasa sakit dari hidungnya yang remuk ditambah ancaman kematian yang begitu nyata membuatnya kencing di celana. Cairan pesing merembes mengotori lantai pualam.
"A-aku berikan! Aku akan berikan semuanya! Tolong, lepaskan aku, Tuan Muda Lin Chen!" ratap Lin Ba dengan suara serak dan bergetar.
Dengan tangan gemetar hebat, pria paruh baya itu merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah kantong kecil berwarna abu-abu—sebuah Kantong Penyimpanan tingkat rendah. Ia menuangkan isinya ke lantai. Kilauan cahaya redup dari batu-batu spiritual dan aroma herbal seketika memenuhi udara.
"Di... di dalam sini ada 120 Batu Spiritual Tingkat Rendah dan 40 Pil Pengumpul Qi," ucap Lin Ba terbata-bata. "Ini adalah seluruh persediaan yang kumiliki saat ini. Tolong, biarkan aku hidup."
Lin Chen menarik kakinya dari dada Lin Ba. Ia membungkuk, mengambil kantong penyimpanan tersebut, lalu memasukkan semua batu dan pil ke dalamnya.
"Kelebihannya akan kuanggap sebagai bunga atas penderitaan pemilik tubuh ini selama tiga tahun," ucap Lin Chen dingin. Ia menepuk pipi Lin Ba yang bengkak dengan punggung tangannya. "Ingat, Lin Ba. Mulai hari ini, setiap awal bulan, kau harus mengantarkan jatahku langsung ke halamanku. Jika kurang satu batu saja, aku akan menagihnya dengan nyawamu."
Tanpa menunggu jawaban dari Diakon yang sudah setengah pingsan karena ketakutan itu, Lin Chen berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
Kerumunan kultivator muda yang sejak tadi memblokir jalan secara otomatis membelah bagai lautan yang terbelah, memberi jalan untuknya. Tidak ada satu pun yang berani bernapas terlalu keras apalagi mencibirnya. Sampah yang selama ini mereka ludahi baru saja menghancurkan empat pengawal bersenjata dan seorang Diakon tingkat 3 hanya dengan sebatang ranting kayu!
Setibanya kembali di gubuk kayunya yang sunyi, Lin Chen mengunci pintu dan duduk bersila di atas ranjang. Ia mengeluarkan isi kantong penyimpanannya dan menjejerkan hasil rampasannya.
"Bahan-bahan ini sangat rendah kualitasnya, penuh dengan kotoran sisa alkimia," gumam Lin Chen sambil mengambil sebutir Pil Pengumpul Qi dan mengamatinya. Di kehidupan sebelumnya, pil sampah semacam ini bahkan tidak layak diberikan kepada hewan peliharaannya. "Namun, untuk tubuh yang haus energi ini, cukuplah."
Lin Chen memasukkan tiga butir Pil Pengumpul Qi sekaligus ke dalam mulutnya—sebuah tindakan bunuh diri bagi kultivator biasa, karena energi yang meledak bisa menghancurkan meridian mereka.
WUSH!
Begitu pil-pil itu lumer di perutnya, ledakan energi spiritual yang liar menyebar ke seluruh tubuhnya bagai kuda liar yang mengamuk. Tubuh Lin Chen memerah, dan suhu di dalam gubuk langsung melonjak.
"Sutra Pedang Kehampaan, telan!"
Lin Chen membentuk segel tangan purba. Energi liar dari pil-pil itu seketika ditarik paksa menuju Dantian-nya. Di sana, sebuah pusaran tak kasat mata berbentuk pedang kecil berputar dengan kecepatan gila, menggiling kotoran pil dan menyerap esensi murninya.
Krak!
Suara ringan terdengar dari dalam tubuhnya. Dalam kurang dari sepuluh tarikan napas, Lin Chen telah menembus Ranah Kondensasi Qi Tingkat 2.
Namun, ia tidak berhenti. Ia mengambil sepuluh Batu Spiritual dan menggenggamnya di kedua tangan. Sutra Pedang Kehampaan kembali bekerja layaknya pusaran air raksasa. Energi dari batu-batu itu mengalir deras ke meridiannya, memperluas dan memperkuat dinding urat nadinya hingga sekuat baja.
Satu jam... dua jam... tiga jam berlalu.
Batu-batu spiritual di sekitarnya berubah menjadi debu kelabu satu per satu setelah energinya terkuras habis. Tepat ketika matahari mulai terbenam, memancarkan cahaya jingga dari celah jendela gubuk, mata Lin Chen terbuka mendadak.
Sebuah gelombang udara meledak dari tubuhnya, meniup debu dan kotoran di dalam gubuk.
Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3!
Dalam satu hari, ia berhasil melompati dua tingkat berturut-turut. Ini adalah kecepatan kultivasi yang sangat menakutkan, cukup untuk membuat para jenius di Benua Langit Biru merasa malu hingga ingin bunuh diri.
Lin Chen mengepalkan tinjunya. Ia bisa merasakan tenaga fisik setara dengan banteng iblis mengalir di otot-ototnya. "Fondasi di tubuh ini masih terlalu lemah. Mulai sekarang, aku tidak hanya perlu melatih Qi, tapi juga memperkuat tubuh fisikku."
Sementara itu, di Halaman Utama Keluarga Lin.
Prang!
Sebuah cangkir keramik mahal hancur berkeping-keping menghantam dinding. Seorang pemuda berusia delapan belas tahun dengan jubah sutra biru menatap tajam ke arah dua antek yang berlutut gemetar di depannya. Di atas ranjang di sebelahnya, Lin Wei terbaring dengan bahu yang dibalut perban tebal, mengerang kesakitan.
Pemuda berjubah biru itu adalah Lin Tian, kakak kandung Lin Wei. Ia adalah salah satu jenius teratas generasi muda Keluarga Lin, yang telah mencapai Ranah Kondensasi Qi Tingkat 5.
"Kalian bilang... si cacat Lin Chen mengalahkan kalian dan mematahkan lengan adikku hanya dengan dua jari?" Suara Lin Tian terdengar dingin dan dipenuhi niat membunuh.
"B-benar, Tuan Muda Tian! B-bahkan Diakon Lin Ba dihajar sampai babak belur olehnya di Aula Sumber Daya siang tadi," lapor salah satu antek dengan suara gemetar.
Lin Tian menyipitkan matanya. "Sepertinya si sampah itu mendapatkan suatu kebetulan yang luar biasa, atau menemukan sisa-sisa warisan tetua. Tapi dia terlalu bodoh. Menyerang sesama anggota keluarga adalah pelanggaran besar."
Lin Tian berjalan ke jendela, menatap ke arah pelataran luar. "Satu bulan lagi adalah Ujian Evaluasi Tahunan Keluarga Lin. Di arena itu, pertarungan antara generasi muda diizinkan, dan senjata tidak memiliki mata."
Senyum kejam mengembang di bibir Lin Tian.
"Biarkan dia menikmati kesombongannya selama sebulan ini. Saat evaluasi nanti, aku sendiri yang akan mencabut meridiannya satu per satu dan mematahkan keempat anggota tubuhnya di depan seluruh tetua keluarga!"