NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: HADIAH YANG TERTUKAR

Bab 13: Hadiah Yang Tertukar

Atmosfer di dalam rumah setelah pekan ujian berakhir masih terasa canggung dan kaku. Revan semakin membatasi diri dari interaksi apa pun di rumah. Jika tidak terpaksa karena harus makan atau mandi, ia akan mengunci diri di kamar atau langsung pergi menghilang ke luar rumah menggunakan motornya sebelum orang tuanya sempat mengajaknya bicara. Kamar di sebelah kamarnya pun masih sering terkunci rapat, menyisakan keheningan yang menurut Revan adalah bentuk aksi bungkam yang kekanak-kanakan dari seorang Arkael Dirgantara.

Hari Sabtu sore itu, hujan gerimis mengguyur kompleks perumahan mereka, membawa hawa dingin yang perlahan menerobos masuk lewat celah-celah ventilasi udara. Revan baru saja turun dari lantai dua untuk mengambil segelas air putih di dapur ketika ia melihat Ayah baru saja melangkah masuk melewati pintu depan dengan menenteng sebuah kantung belanja bertuliskan logo salah satu merek pakaian kasual yang cukup terkenal dan mahal di pusat perbelanjaan.

Wajah Ayah yang biasanya tampak lelah sepulang kerja sore itu terlihat sedikit lebih cerah. Beliau menaruh tas kerjanya di atas sofa ruang tamu, lalu memanggil Ibu dan Arka yang kebetulan sedang berada di ruang tengah.

"Arka, sini, Nak. Ayah ada sesuatu buat kamu," panggil Ayah dengan nada suara yang hangat, menyiratkan kasih sayang yang kental seorang kepala keluarga kepada anak yang selalu ia banggakan.

Arka melangkah perlahan dari arah koridor tengah. Langkah kakinya masih tampak agak terseret, dan kemeja flanel yang ia kenakan hari itu terlihat semakin longgar membungkus tubuhnya yang kian menyusut. Di belakangnya, Ibu menyusul dengan senyuman tipis yang terulas di wajah kuyunya.

Revan yang sedang memegang gelas di ambang pintu dapur menghentikan langkahnya. Ia memilih untuk berdiri di sana, mengamati pemandangan tersebut dari kejauhan dengan sepasang mata yang menatap dingin dan sinis. Hadiah lagi, batin Revan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hambar yang sarat akan rasa iri yang ia sangkal sendiri. Kemarin piala, hari ini jaket mahal. Semesta emang cuma berputar buat lo, Bang.

Ayah merogoh ke dalam kantung belanjaan tersebut dan mengeluarkan sebuah jaket bomber berwarna hitam dengan bahan kain yang tebal dan berkualitas tinggi. "Nih, Ayah belikan ini pas lewat mal tadi. Ayah ingat jaket kamu yang lama sudah agak usang. Kebetulan ini model terbaru, bahannya tebal, bagus buat kamu pakai kalau cuaca lagi dingin begini supaya fisik kamu gak gampang drop," ucap Ayah penuh perhatian.

"Wah, bagus banget ini, Yah. Bahannya halus sekali," puji Ibu, mengusap permukaan kain jaket tersebut dengan mata yang berbinar hangat. "Ayo, Arka, dicoba dulu jaketnya. Biar Ibu lihat pas atau tidak di badan kamu."

Arka menerima jaket tersebut dengan kedua tangannya yang tampak agak kurus dan sedikit gemetar. "Makasih banyak ya, Yah... Sebenarnya Ayah gak perlu repot-repot belikan Arka baju baru lagi," tutur Arka dengan suara parau yang khas. Ia perlahan memasukkan kedua lengannya ke dalam lengan jaket, lalu mencoba menarik ritsletingnya ke atas.

Namun, begitu jaket itu terpasang sempurna di tubuh Arka, ada pemandangan yang janggal. Jaket bomber berukuran Medium (M) itu terlihat terlalu sempit di bagian bahu dan dadanya, membuat ruang gerak Arka menjadi sangat terbatas. Potongan kainnya tampak tertarik ketat di bagian lingkar dada, meskipun di bagian perutnya terlihat longgar karena berat badannya yang turun drastis. Ayah rupanya membelikan jaket itu berdasarkan perkiraan ukuran tubuh Arka beberapa bulan yang lalu, sebelum penyakit gagal ginjal stadium akhir menggerogoti dan menyusutkan massa otot serta bobot tubuh cowok itu secara drastis.

Arka meringis kecil ketika mencoba menggerakkan kedua pundaknya ke belakang. "Ehm... Yah, kayaknya jaketnya agak kekecilan di bagian bahu Arka. Arka agak susah buat gerakin tangan."

Ayah sedikit tertegun, mengerutkan dahi sembari memeriksa potongan bahu jaket yang memang tampak terlalu ketat di tubuh anak sulungnya. "Lho? Kekecilan ya? Padahal Ayah rasa ukuran M ini biasanya pas buat kamu. Kok sekarang kelihatan agak sempit di atas ya?"

Ibu ikut memeriksa, wajahnya tampak agak kecewa. "Iya, Yah. Potongan bahunya terlalu naik. Kasihan Arka nanti malah sesak kalau dipaksain pakai jaket yang terlalu ketat begini."

Tepat di saat suasana ruang tamu itu diliputi rasa bimbang, pandangan mata Ayah tidak sengaja bergeser ke arah ambang pintu dapur dan menangkap sosok Revan yang sedang berdiri sembari memegang gelas kosong. Ayah menatap Revan sejenak, lalu melirik kembali ke arah jaket bomber hitam di tangan Arka.

Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepala Ayah. "Oh, iya. Revan, sini kamu sebentar," panggil Ayah, nada suaranya berubah menjadi lebih datar dan tegas, sangat berbeda dengan nada hangat saat berbicara kepada Arka tadi.

Revan tidak bergerak dari tempatnya selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia melangkah maju dengan enggan, menaruh gelasnya di atas meja kecil dekat sofa. "Apa, Yah?"

Ayah mengambil jaket tersebut dari tangan Arka, lalu menyodorkannya ke arah dada Revan. "Nih, kamu ambil aja jaket ini. Daripada gak terpakai dan mubazir karena kekecilan di badan Abangmu. Ukuran badan kamu kan sedikit lebih kecil dari Arka, harusnya jaket ukuran M ini pas dan muat di badan kamu."

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ayah, seluruh darah di dalam tubuh Revan seolah-olah mendidih seketika hingga ke ubun-ubun. Rasa panas yang teramat sangat menjalar di balik dadanya, memicu letupan amarah yang luar biasa hebat.

Ambil aja daripada mubazir karena kekecilan di badan Abangmu.

Kata-kata itu bergaung kencang di kepala Revan, menggoreskan luka baru yang sangat dalam pada harga dirinya yang sudah hancur lebur. Di mata Ayah, dirinya benar-benar tidak lebih dari sebuah tempat penampungan barang sisa. Dia hanya berhak mendapatkan sesuatu setelah barang itu dipastikan tidak bisa digunakan atau tidak diinginkan lagi oleh sang anak emas. Revan tidak pernah dibelikan barang baru atas namanya sendiri; dia hanya mendapatkan "buangan" dari kesempurnaan Arkael.

Revan menatap jaket bomber hitam di tangan Ayah dengan pandangan yang sarat akan racun kebencian dan rasa muak yang teramat pekat.

"Revan, kok malah diam? Ayo diambil jaketnya, bilang terima kasih sama Ayah," tegur Ibu, menyenggol pelan lengan Revan karena melihat anak bungsunya hanya mematung dengan wajah mengeras.

Arka yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah adiknya langsung merasa panik. Sepasang matanya yang sayu bergerak gelisah. "Van... lo ambil aja, ya? Jaketnya bagus kok, bahannya juga anget banget kalau lo pakai pas naik motor malam-malam..." ucap Arka terbata-bata, mencoba membujuk dengan nada suara yang memohon, berharap adiknya tidak salah paham.

Namun, bujukan Arka justru terdengar seperti sebuah hinaan yang sangat sarkas di telinga Revan. Revan mengulurkan tangannya, merenggut jaket bomber itu dari cengkeraman tangan Ayah dengan gerakan yang sangat kasar dan cepat.

Tetapi, bukannya memakai jaket tersebut atau membawanya ke kamar, Revan justru melemparkan jaket mahal itu ke atas lantai ubin ruang tamu dengan sentakan yang kuat tepat di depan mata Ayah, Ibu, dan Arka.

PLAK! Jaket bomber hitam itu mendarat mengenaskan di atas lantai, berdebu karena bergesekan dengan ubin.

"REVAN! APA-APAAN KAMU?!" bentak Ayah, suaranya menggelegar penuh amarah, wajahnya memerah padam menyaksikan kelakuan lancang anak bungsunya yang membuang pemberiannya begitu saja.

"Gue gak butuh barang sisa!" teriak Revan lantang, suaranya bergetar hebat karena menahan luapan emosi yang membuat dadanya naik-turun dengan cepat. Ia menatap Ayah dan Ibunya bergantian dengan pandangan yang penuh dengan rasa sakit hati. "Gue punya harga diri, Yah, Bu! Kalau dari awal jaket itu emang dibeli buat si anak emas lo ini, ya udah kasih dia aja! Gak usah sok baik ngasih ke gue cuma karena barang itu gak muat atau gak kepakai sama dia! Gue bukan tempat sampah buat nampung barang-barang buangan dari Arka!"

"REVANZA! Jaga mulut kamu! Ayah ini berniat baik—" bentak Ibu, air matanya mulai menetes karena terkejut dan terluka mendengar kalimat kasar anak bungsunya.

"Niat baik kata Ibu?! Niat baik yang selalu nomor duain gue?!" potong Revan dengan tawa sinis yang sumbang, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah yang memuncak. Ia mengalihkan tatapan matanya yang tajam bak belati lurus ke arah Arka yang berdiri mematung dengan wajah seputih kertas. "Puas lo sekarang, Bang? Bahkan buat urusan baju pun, lo tetep berhasil bikin gue kelihatan kayak sampah di rumah ini! Selamat ya, lo emang pemenang yang paling hebat dalam urusan ngerebut segalanya dari gue!"

"Van... gak gitu, Van... Sumpah, gue gak ada maksud..." Arka mencoba meraih lengan Revan, air matanya ikut luruh melihat betapa hancurnya hati adiknya akibat kesalahpahaman ini. Namun, di saat yang bersamaan, stres emosional yang hebat dan bentakan di ruangan itu memicu rasa perih yang teramat sangat tajam di pinggang belakangnya. Arka tersentak, tubuhnya mendadak lemas dan ia terpaksa berpegangan pada sandaran sofa untuk menjaga agar sepasang kakinya yang kurus tidak ambruk ke lantai.

"Gak usah sentuh gue, bangsat!" ketus Revan, menepis tangan Arka dengan kasar hingga kakaknya itu sedikit terhuyung ke belakang.

Tanpa memedulikan teriakan amarah Ayah yang memanggil namanya, Revan berbalik badan dengan cepat. Ia menyambar kunci motornya dari atas meja, melangkah lebar-lebar keluar menembus dinginnya hujan gerimis di luar, lalu membanting pintu pagar rumah dengan kekuatan penuh hingga menimbulkan bunyi dentuman yang membelah keheningan sore itu. Di dalam ruang tamu yang mendadak sunyi, jaket bomber hitam itu masih tergeletak bisu di atas lantai dingin, menjadi saksi bisu dari lapisan kesalahpahaman yang kini telah mengunci rapat takdir tragis mereka, membawa Revan berjalan semakin jauh menuju hari di mana penyesalan yang teramat besar siap meremukkan seluruh sisa hidupnya seumur hidup.

Bersambung....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!