NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI PERPISAHAN

Ada yang bilang kalau kebahagian itu diciptakan, bukan dicari. Sekarang aku mulai mengerti dengan kalimat tersebut. Setiap momen memiliki makna, setiap makna tidak selalu berarti kebaikan. Banyak kejadian yang mengantarkan kita pada hal buruk. Meski begitu, kebahagiaan masih bisa tercipta dari hal – hal yang kita anggap buruk. Tidak selamanya sesuatu yang kita anggap buruk, membawa pada kesedihan. Tidak semua hal yang kita anggap buruk, mengantarkan kita pada keterpurukan. Terkadang, kita harus melihat dari sudut pandang lain. Terkadang, kita memang harus mengalami kejadian buruk agar tau arti kebahagiaan. Justru, dibalik hal – hal yang kita anggap buruk, kebahagiaan bisa tercipta.

Percakapanku dengan Ayah diruang makan akan selalu kuingat. Hari dimana kami kembali membuka pintu yang selama ini terkunci. Hari dimana aku dan Ayah yang selama ini tersesat, kembali menemukan arah. Perjalanan kami untuk membangun ulang keluarga belum selesai. Masih banyak hal perlu kami persiapkan. Masih banyak hal yang perlu kami raih. Meski jalan yang akan kami lalui tidak akan semulus yang diharapkan, kami tetap akan berlayar. Kami akan mencapai sesuatu yang selalu kami harapkan. Kehidupan harmonis pasti akan menjadi akhir yang indah.

Setelah percakapan kami ditutup oleh rasa terimakasih. Kami berdua memutuskan untuk beristirahat. Meski masih sangat banyak hal yang ingin kami bicarakan, meski rasa rindu untuk bercerita begitu kuat, kami tetap harus istirahat. Ayah sudah memaksakan diri untuk bicara denganku. Rasa egois hanya akan menghancurkan apa yang mau kami bangun.

Sepanjang malam, aku selalu tidur dalam keadaan tidak nyaman. Selalu ada hal yang kupikirkan, terjebak dalam kemungkinan – kemungkinan buruk. Pada malam itu, untuk pertamakalinya aku merasa tenang. Untuk pertamakalinya aku merasa benar – benar bisa beristirahat. Aku merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua akan baik – baik saja. Aku yang tidak memikirkan apapun, bisa tidur dengan nyenyak.

Aku terbangun agak siang dari biasanya. Meski bukan hal baik, aku berusaha tidak memikirkannya dan tetap melanjutkan aktivitas. Ayah sudah menunggu diruang makan, terdapat dua piring dengan lauk ikan dimasing – masing piringnya. Sesuai yang sudah kuduga, rasanya tidak enak saat dicicipi. “Ayah gak ada perkembangan,” kataku bercanda. Tidak seperti Ayah, aku dulu sering bantu – bantu Mama waktu masak, membuatku sedikit lebih ahli dalam hal memasak. Ayah hanya tersenyum malu saat kuejek. Ekspresinya membuatku teringat saat Mama juga mengejek Ayah dulu. Raut wajahnya sama persis dengan sekarang.

Soal makanan, daripada memakan sesuatu yang akan membuat kami sakit perut, kami memutuskan untuk masak bersama. Tentu saja aku yang memimpin karena Ayah kurang mengerti. Disela – sela itu, kami meneruskan percakapan yang sebelumnya tertunda. Masing – masing dari kami mengisahkan cerita soal apa yang terjadi beberapa hari kebelakang. Aku dengan kisah penculikan yang menegangkan, dan Ayah dengan cerita membosankan soal perkantoran. Meski kegiatannya membosankan, entah kenapa cerita Ayah terlihat menarik. Mungkin karena Ayah memang hebat dalam bercerita. Aku mendengarkannya sampai tidak terasa hari sudah siang.

Aku tidak tau bagaimana cerita awal sehingga kami bisa berakhir disini. Hanya saja, sore hari setelah kami makan bersama, kami memutuskan untuk pergi mengunjungi makam Mama. Hal yang tidak pernah kami lakukan bersama sebelum percakapan. Aku selalu mengunjungi makam Mama sendiri sebelumnya. Aku tidak tau dengan Ayah, sepertinya juga sama sepertiku. Dimakam, kami membersihkan rumput – rumput liar yang tumbuh. Kami juga menyapu daun – daun mati yang berguguran. Kami menyiram tanah dengan air, memperbaiki apa yang rusak, dan mendoakan Mama secukupnya. Hari ditutup dengan aku dan Ayah yang pergi makan bersama di restoran keluarga.

29/6/24.

Hari perpisahan sekolah diadakan. Hari dimana aku mengalami sesuatu yang tidak terduga. Hari dimana aku mendapatkan kesempatan untuk mengulang waktu. Akhirnya aku kembali ke hari perpisahan. Setelah begitu banyak hal yang kulalui beberapa hari kebelakang, aku sekali lagi harus berpisah dengan teman – teman sekolah. Tidak seperti sebelum pengulangan, aku merasa sedih harus berpisah kali ini. Ikatan yang kulalui dengan teman – teman sekelas jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Aku merasa tidak ingin berpisah, aku ingin terus bersama, tapi mau bagaimanapun, kehidupan akan terus berjalan. Masing – masing dari kami memiliki tujuan yang ingin dicapai. Meminta mereka untuk bertahan sama saja dengan menyuruh mereka membuang harapan tersebut. Sebagai mana pertemuan yang indah, perpisahan pun seharusnya berakhir dengan indah.

Gedung serbaguna. Jika dalam keadaan normal, ruangan akan digunakan untuk tempat olahraga. Khusus dalam acara – acara besar, gedung serbaguna dijadikan tempat berkumpul untuk para murid, seperti perpisahan sekarang. Layout ruangan disusun layaknya bioskop, penonton dihadapkan pada layar yang diganti podium. Dekorasi membuat gedung serbaguna terlihat lebih menarik daripada biasanya, membuat acara yang diadakan menjadi lebih hidup.

“Perpisahan bukan hanya soal akhir, melainkan awal dari pertemuan yang baru. Hidup tidak akan berakhir meski kelulusan tiba. Masih banyak hal yang perlu dilewati. Masih banyak hal yang perlu diperjuangkan. Tapi, jika kalian merasa perpisahan hanyalah hal yang menyedihkan. Percayalah, bahwa ada makna dibaliknya. Terkadang, kita harus berlari untuk mengejar mimpi. Terkadang, kita harus terjatuh untuk tau caranya melompat. Terkadang, perpisahan harus terjadi agar kita tau betapa indahnya sebuah pertemuan. Maka dari itu, janganlah menangis karena ini sudah berakhir, tapi tersenyumlah karena semuanya sudah terjadi.”

Pidato yang disampaikan Bu Mika sebagai penutup acara benar – benar mengena dalam hatiku. Tepuk tangan memenuhi gedung serbaguna. Berbagai ekspresi dintujukkan oleh berbagai macam orang. Ada yang menghadapinya dengan tawa, ada juga yang menangis dan berpelukan. Masing – masing orang memiliki cara tersendiri untuk menghadapi situasi perpisahan. Sebenarnya masih ada perpisahan non-formal yang akan diadakan beberapa hari lagi. Hal yang tidak perlu dipikirkan untuk sekarang. Aku hanya perlu menikmati setiap momen yang terjadi saat ini.

“Awan. Kamu gak foto bareng Clarissa?” Awan duduk disebelahku. Dia kaget sekaligus malu ketika aku bertanya. Dia tidak menjawabku. Dia hanya memberi tatapan seolah – olah berkata, “apa maksudmu?” Aku tersenyum ketika dia menatapku begitu. “Tuh! Ada orangnya!” Dia langsung menengok kearah yang kutunjuk. Tidak ada siapapun diarah tersebut. Aku hanya sedang berusaha menggodanya. Reaksi yang Awan berikan sangat lucu.

“Apaan dah!”

Aku mulai mengerti perasaan Awan yang selalu ingin melihat reaksi orang - orang. Dia selalu berusaha agar orang lain menunjukkan ekspresi tertentu. Ternyata mencoba meniru perilakunya dan melihat secara langsung berbagai reaksi orang merupakan hal yang menyenangkan. “Canda.”

“Tapi, kamu tau darimana?”

“Lah? Emang ada apa?” Awan terlihat panik. Dia mencoba mengalihkan perhatian, tetapi tidak mendapatkan ide. Gelagapnya seperti foto meme yang sering kulihat disosmed. Tawa tidak bisa lagi kutahan. “Aman kok.” Bukannya ceria, Awan malah melihatku ragu. Itu membuatku merasa jahat. Apa aku terlihat begitu tidak bisa dipercaya? Sebenarnya memang tidak sih, tapi meski aku cerita, tidak ada orang yang akan mendengarkanku. Tidak ada orang lain yang akan menyimak setiap kata – kataku seserius Awan. Dia tidak akan tergantikan. “Ngomong – ngomong, kamu ngapain setelah lulus?” Aku lupa menanyakan hal penting.

“Aku mau kuliah diluar.”

“Kenapa gak disini aja?”

“Aku mau liat dunia luar. Aku mau ketemu sama berbagai macam orang. Aku mau belajar dari yang terbaik. Aku mau tau sejauh mana aku bisa melangkah. Aku mau buktikan ke orang tua kalau aku bisa diandalkan. Yah …, intinya aku mau manfaatin privilege. Hehe.” Aku pikir saat Awan bilang diluar, artinya diluar Kalimantan. Ternyata dia melihat lebih jauh dari yang kupikirkan. Dia memiliki tujuan yang lebih besar. Meski terlihat berusaha menutupi niat utamanya, tapi aku yakin kalau dia punya tujuan mulia yang ingin dicapai. Itu cocok untuk orang seperti Awan. Aku yakin kalau tujuannya tidak akan mudah untuk diraih, tapi aku tau kalau dia pasti bisa mewujudkan keinganannya. Aku yakin karena aku mengenalnya. Dia bukan orang yang mudah menyerah pada sesuatu. “Jadi maaf ya! Kita harus pisah. Tapi, kalau ada waktu, aku mampir kok.”

“Gak perlu pikirin itu.”

 “My hero!” Orang tidak diundang datang. Dia berteriak sambil berjalan mendekat kearah kami. Aku tidak tau kenapa dia memanggil dengan julukan seperti itu. Aku juga tidak bisa membedakan apakah itu sebuah kata pujian atau semacam ejekan. Aku tidak mau mengkonfirmasinya. Itu tidak penting. “Kalian lagi bicarain apa?”

“Kebetulan ada Clarissa. Awan mau foto bareng katanya.”

Reaksi yang Clarissa tunjukkan diluar dari ekspektasiku. Pandangan melirik kearah kiri – kanan, badan yang tidak bisa diam, kaki yang dinaik – turunkan, serta pipi yang memerah. Dia terlihat malu – malu. Itu membuatku sedikit syok. Maksudku, hah? Eh? Sebenarnya hubungan mereka seperti apa? Apa mereka saling suka? Aku pikir hanya ketertarikan sepihak dari Awan. Aku pikir Awan sedang memperjuangkan cintanya. Jangan – jangan mereka sudah jadian? Reaksi yang mereka tunjukkan membuatku berpikir begitu. Sekarang aku terjebak dalam situasi rumit yang kuciptakan sendiri. Aku tidak tau kalau mereka sudah sampai pada tahap menyatakan perasaan masing – masing. Aku kehabisan kata.

“Kalian tetap seperti itu!” Suara yang kukenal. Tidak lama setelah bersuara, aku mendegar suara lain berupa jepretan. Kami semua menengok kearah yang sama, orang yang menyuruh kami untuk diam. Dia adalah Bang Nanang. Pantes aku merasa pernah melihat dia sebelum kenal. Ternyata dia menjadi forografer yang disewa sekolah untuk acara perpisahan. Terlepas dari itu, dia datang diwaktu yang tepat. Aku hampir saja membuat suasana menjadi buruk. Kedatangannya yang tidak terduga merupakan berkah. “Liat nih! Cakep, kan?” Bang Nanang menunjukkan hasil jepretannya dengan penuh rasa bangga.

“Keren Bang!” Aku tidak mau mengganggu lebih lama. Tidak seharusnya aku berada dalam sebuah tempat yang tidak ada aku didalamnya. “Fotoin lagi dong!” Aku harus segera menjauh. Kuberikan senyuman pada Awan dan Clarissa sebagai pengganti kata perpisahan. “Eh! Tapi aku mau datengin orang tua dulu. Nanti gantian aja!” Awan dan Clarissa harus berterimakasih padaku. Sudah kuberikan waktu untuk mereka berdua. Sekarang mereka bisa membuat kenangan tanpa harus dicurigai. Meski aku masih tidak begitu yakin dengan hubungan mereka, meski aku tidak tau kenapa mereka harus menyumbunyikannya, aku bakal tetap support. Mereka adalah dua orang yang berjasa untukku.

“Oke.” Kata yang diucapkan Bang Nanang adalah penanda perpisahanku dengan mereka bertiga. Dari kejauhan, aku melihat Awan dan Clarissa yang awalnya malu – malu, mulai berani berpose. Aku pikir pilihanku untuk menjauh merupakan pilihan yang tepat.

Awan dan Clarissa terlihat serasi. Hubungan mereka diluar dugaanku. Memang tidak ada yang tau bagaimana takdir akan berjalan. Melihat mereka bersama, menimbulkan sedikit rasa kekecewaan didalam hatiku. Bukan karena cemburu, tapi seperti rasa tertinggal. Melihat mereka tersenyum dan tertawa tanpa adanya aku, membuatku merasa sedih. Padahal selama ini, mereka selalu seperti itu tanpa ada aku. Malahan, aku yang baru saja bergabung dalam dunia mereka. Ternyata memang benar kalau kedekatan akan membawa pada rasa kekecewaan. Aku tau kalau itu pikiran yang buruk. Hanya saja, aku tidak bisa membohongi perasaanku.

Aku menemui Ayah sesuai yang kubilang. Meski terdengar seperti alasan yang dibuat – buat untuk kabur, aku memang ingin berjumpa dengan Ayah. Aku melihatnya dari kejauhan. Aku sempat berpikir kalau Ayah tidak akan datang. Soalnya diperpisahanku sebelum pengulangan, aku tidak melihat Ayah. Mungkin dia tidak tau karena tidak kuberi tau, mungkin juga Ayah datang sebentar dan aku tidak melihat. Tidak ada yang tau. Bertanya pada Ayah sekalipun juga hal mustahil. Itu adalah dua realita yang berbeda.

“Selamat ya!” Ucapan Ayah dibarengi dengan memberikanku sebuah hadiah. Sebuah kotak yang lumayan besar. Aku sempat terpikir kalau hadiahnya merupakan benda kecil, seperti kotak didalam kotak, lalu didalamnya kotak lagi, terus kotak, sampai benda terakhir yang ternyata zonk. Mungkin aku terlalu banyak melihat video prank. Kuhapus pikiran aneh yang terlintas begitu saja dalam otak. Aku pikir Ayah tidak akan melakukan hal seperti itu – Atau, mungkin? Seingatku, waktu kecil Ayah pernah memberiku kotak besar. Saat dibuka, tidak ada isinya. Kotak besar itulah hadiahnya. Sebenarnya salahku juga terlalu berharap, saat itu bukanlah hari special seperti ulang tahun atau semacamnya. Hari itu hanya hari biasa dimana Ayah membeli kulkas baru. “Kenapa tidak dibuka?”

Aku terlalu banyak berhayal. Kubuka kertas kado yang menguliti kotak hadiah. Begitu terlepas, aku langsung tau hadiah apa yang diberikan tanpa membuka kotak tersebut. Terlihat jelas logo brand dikotak tersebut. Brand yang biasa memproduksi perlengkapan olahraga. Kubuka kotak tersebut dan melihatnya secara langsung. Terdapat barang idaman yang selalu kumau. “Ayah liat sepatu kamu mulai rusak.”

Aku ingin memeluk Ayah, tapi terhenti karena tersadar kalau kami berada ditempat umum. Bukan karena alasan aneh, aku hanya malu. Lagipula, tindakan itu biasanya terjadi secara spontan, bukan sesuatu yang direncakan. “Makasih, Yah.” Aku memilih menyaliminya.

“Selamat udah lulus!” Ayah tidak datang sendiri. Dia bersama orang lain yang dari tadi berdiri disebelahnya. Seorang wanita dewasa yang mungkin seumuran dengan Bang Nanang. Seorang wanita yang akan menjadi pengganti Mama. Jujur aku sedikit merasa sedih ketika tau, tapi dibalik itu aku juga merasa senang. Aku sadar kalau kehadiranku saja tidak cukup untuk membangun keluarga. Terlebih, tidak banyak waktu yang bisa kuberikan pada Ayah. Aku pikir harus ada orang lain yang benar – benar selalu bersamanya. Wanita itulah yang mengisi kekosongan tersebut. Aku menyetujui kehadirannya.

Wanita itu tidak tiba – tiba hadir begitu saja dalam keluargaku. Setelah pulang dari makam Mama, Ayah memberitauku. Ayah tidak langsung mengatakannya begitu saja, tapi dicicil sedikit demi sedikit, seperti membayar tagihan pay later. Dihari pertama, Ayah membahas tentang pegawai baru yang menarik dikantornya. Hari kedua, Ayah menanyakan soal kisah romansaku. Hari berikutnya Ayah berandai – andai misalkan dirumah lebih banyak orang. Saat itulah aku sadar kalau semua cerita Ayah berkaitan. Aku langsung menembak untuk diperkenalkan. Ayah sedikit kaget ketika hal itu kulakukan, tapi tetap mengiyakan. Hari berikutnya dia datang kerumah, aku mengenalnya dan mereka pun sepakat.

Wanita pilihan Ayah. Begitu melihatnya pertamakali, aku langsung teringat dengan Mama. Aku mengerti kenapa Ayah bisa memilihnya. Wanita yang lembut sama seperti suaranya. Dia sedikit takut waktu bertemu denganku. Mungkin dia merasa tidak enak, padahal aku tidak memperdulikannya.

Aku bicara dengan orang tuaku untuk sesaat – Kedua orang tuaku? Mereka belum resmi, tapi sebentar lagi pasti akan terjadi. Intinya aku mengobrol beberapa saat dengan mereka berdua. Padahal aku ingin mencoba terlebih dahulu sepatu yang Ayah berikan, tapi aku mendapat notifikasi. Waktu yang ditunggu tiba. Ketua kelas menyuruh kami berkumpul dikelas untuk foto bersama melalui grup chat. Setelah hampir setahun bersama, aku baru saja diundang ke dalam grup kelas beberapa hari yang lalu. Aku tidak akan berkomentar soal itu. Aku hanya memberikan sebuah informasi. “Aku pergi dulu. Sekali lagi makasih hadiahnya. Makasih juga udah datang.” Perpisahan kami ditutup dengan senyuman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!