NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 — Seseorang Sedang Mengawasiku

Kalimat Arsen terus terngiang di kepala Nadira.

“Orang itu mungkin sedang mengincarmu sekarang.”

Sejak pagi, tubuhnya terasa dingin meski matahari di luar bersinar terang.

Ia duduk di sofa ruang VIP sambil memandangi pintu kamar seperti orang ketakutan.

Dan memang iya.

Ia takut.

Bukan takut ketahuan menjadi Nayla.

Tapi takut kalau benar ada seseorang yang sedang mengawasinya.

Mengincarnya.

Pintu kamar terbuka pelan.

Nadira langsung refleks berdiri.

Namun ternyata hanya Arsen yang masuk sambil membawa dua gelas kopi.

“Kamu tegang banget,” katanya santai.

“Kalau jadi aku juga bakal tegang.”

Arsen menyerahkan satu gelas kopi padanya.

“Minum.”

“Aku nggak suka kopi pahit.”

“Ini caramel latte.”

Nadira sedikit kaget.

“Kamu tahu?”

Arsen duduk di sofa seberangnya.

“Kamu selalu beli itu di café rumah sakit.”

“Oh…”

Nadira menggenggam gelas hangat itu pelan.

Hal kecil seperti ini seharusnya biasa saja.

Tapi entah kenapa dadanya terasa aneh.

Karena selama hidupnya, nyaris tak ada orang yang memperhatikan kebiasaannya.

“Kamu dari tadi belum jawab pertanyaanku,” kata Nadira akhirnya.

“Yang mana?”

“Kenapa bilang targetnya mungkin aku?”

Arsen mengembuskan napas pelan.

“Karena kecelakaan itu terlalu rapi.”

“Maksudnya?”

“Rem mobil Nayla dirusak dua jam sebelum dia pergi.”

Nadira langsung menegang.

“Dan yang tahu jadwal Nayla malam itu cuma orang-orang dekat.”

“Papa Mama?”

“Aku nggak nuduh siapa-siapa.”

“Tapi kamu curiga.”

Arsen diam.

Itu sudah cukup jadi jawaban.

Ruangan mendadak terasa lebih sempit.

Nadira menatap tirai pembatas tempat Nayla terbaring tak sadarkan diri.

“Kalau benar ada orang yang sengaja nyakitin Nayla…” suaranya melemah, “kenapa?”

“Di dunia keluarga kaya, alasan orang membunuh biasanya cuma tiga.”

Nadira menatapnya.

“Uang.”

Arsen mengangkat satu jari.

“Kekuasaan.”

Jari kedua.

“Dan dendam.”

Jari ketiga.

Nadira menelan ludah.

Ia tidak pernah suka dunia seperti ini.

Penuh topeng.

Penuh senyum palsu.

Dan sekarang… penuh bahaya.

“Aku pengen berhenti,” katanya tiba-tiba.

Arsen menatapnya lurus.

“Berhenti jadi Nayla.”

“Kamu yakin?”

“Aku nggak kuat.”

“Kalau kamu berhenti sekarang, keluarga kamu hancur.”

Nadira menggigit bibir.

Ia tahu.

Itulah masalahnya.

Ia selalu tahu.

Siang harinya, papanya datang membawa kabar baru.

“Malam ini ada makan malam keluarga di rumah Wijaya.”

Nadira langsung mengangkat kepala.

“Hah?”

“Kamu harus ikut.”

“Aku nggak bisa terus-terusan muncul sebagai Nayla!”

Papanya langsung kesal.

“Suaramu kecil!”

“Pa, aku capek!”

“Kamu pikir Papa nggak capek?!”

Nadira berdiri cepat.

“Aku hampir ketahuan berkali-kali!”

“Tapi belum ketahuan.”

Jawaban itu membuat Nadira terdiam.

Papanya berjalan mendekat.

Untuk pertama kalinya pria itu terlihat benar-benar tertekan.

“Kita tinggal selangkah lagi dapat investasi dari keluarga Wijaya.”

“Terus setelah itu?”

Papanya diam.

Dan diamnya itu membuat hati Nadira makin tidak nyaman.

“Pa…”

“Kamu cuma perlu bertahan sampai pertunangan resmi selesai.”

Cuma.

Selalu terdengar mudah saat orang lain yang bicara.

Malamnya, Nadira berdiri di depan rumah keluarga Wijaya dengan gugup.

Rumah itu lebih mirip istana modern daripada rumah biasa.

Lampu-lampu taman menyala hangat.

Mobil mahal berjajar di halaman depan.

Dan di tengah semua kemewahan itu…

Nadira merasa dirinya salah tempat.

Arsen menyambutnya di pintu masuk.

“Kamu kelihatan kayak mau kabur.”

“Aku memang pengen kabur.”

Pria itu tertawa kecil.

Dan sialnya, suara tawanya enak didengar.

“Ayo masuk.”

Begitu mereka masuk, beberapa pasang mata langsung tertuju pada Nadira.

Keluarga besar Wijaya ternyata sudah berkumpul.

Ada om, tante, sepupu, hingga relasi bisnis.

Semua tampak elegan dan berkelas.

Sedangkan Nadira cuma merasa seperti penipu.

“Nayla sini!” seorang wanita paruh baya memanggil ramah.

Nadira dipaksa tersenyum lalu duduk di tengah keramaian.

Percakapan berlangsung cepat.

Mereka membahas bisnis, saham, properti, hingga rencana pesta pertunangan super mewah.

Nadira cuma mengangguk-angguk pura-pura paham.

Sampai seseorang tiba-tiba bertanya,

“Nayla, kamu masih suka main piano?”

Mampus.

Nadira membeku.

Ia tidak bisa main piano.

Sedangkan Nayla sejak kecil terkenal berbakat.

“Oh tentu,” jawabnya asal.

“Wah bagus!” pria itu tersenyum lebar. “Mainkan satu lagu dong. Udah lama banget Om nggak dengar kamu main.”

Nadira langsung pucat.

Jantungnya jatuh.

Ruangan terasa berputar.

Ia melirik Arsen panik.

Dan pria sialan itu malah terlihat menikmati situasi.

“Kenapa diam?” tanya salah satu tante.

“Iya Nayla, main dong.”

Nadira ingin menangis.

Kalau ia menolak, semua akan curiga.

Kalau ia main… tamat.

Karena kemampuan pianonya cuma sebatas menekan tuts asal waktu kecil.

“Aku…” Nadira mulai gugup.

Namun tiba-tiba Arsen berdiri.

“Lain kali saja.”

Semua menoleh padanya.

“Nayla masih belum pulih setelah kecelakaan,” lanjutnya santai. “Jangan dipaksa.”

Nadira hampir mau sujud syukur.

“Oh iya juga ya.”

“Kasihan kalau kecapekan.”

Situasi akhirnya mencair lagi.

Nadira mengembuskan napas panjang lega.

Namun beberapa detik

kemudian Arsen berbisik pelan di dekat telinganya,

“Kamu benar-benar nggak bisa piano?”

Nadira melotot kesal.

“Jangan ngeledek.”

“Aku nggak ngeledek.”

“Terus?”

“Aku cuma lagi membayangkan ekspresi keluargaku kalau kamu main pakai satu jari.”

Nadira spontan memukul lengan pria itu pelan.

Dan mereka sama-sama terdiam sesaat.

Karena tanpa sadar…

Interaksi itu terasa terlalu natural.

Terlalu dekat.

Setelah makan malam selesai, Nadira keluar mencari udara segar lagi.

Kebiasaan buruknya muncul setiap gugup.

Kabur.

Ia berjalan ke taman belakang rumah Wijaya yang luas dan tenang.

Kolam renang memantulkan cahaya lampu malam dengan cantik.

Nadira mengembuskan napas panjang.

“Capek?”

Arsen lagi.

“Kenapa sih kamu muncul terus?”

“Ini rumahku.”

“Iya juga.”

Arsen berdiri di sampingnya sambil membuka dasi sedikit longgar.

“Kamu lumayan hebat.”

“Apanya?”

“Belum pingsan sampai sekarang.”

Nadira tertawa kecil.

Lalu tiba-tiba ekspresinya berubah serius.

“Arsen.”

“Hm?”

“Kalau nanti semuanya terbongkar… apa yang bakal kamu lakukan?”

Pria itu diam sebentar.

“Aku nggak tahu.”

“Kamu marah?”

“Harusnya iya.”

“Harusnya?”

“Tapi anehnya aku lebih penasaran sama kamu daripada marah.”

Deg.

Tatapan Arsen terlalu lurus.

Terlalu intens.

Dan Nadira mulai sadar sesuatu yang berbahaya—

Pria ini bisa membuatnya lupa bernapas.

“Aku nggak ngerti kamu,” gumamnya pelan.

Arsen tersenyum tipis.

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Kalau kamu mulai ngerti aku, biasanya itu pertanda buruk.”

“Menakutkan banget ngomongnya.”

“Aku memang menakutkan.”

Nadira menggeleng kecil sambil tertawa.

Namun tawanya perlahan hilang ketika ia melihat sesuatu.

Seseorang berdiri di balkon lantai dua.

Memperhatikan mereka.

Sosok pria.

Tinggi.

Diam.

Wajahnya samar tertutup bayangan.

Bulu kuduk Nadira langsung meremang.

“Arsen…”

“Hm?”

“Itu siapa?”

Arsen mengikuti arah pandangnya.

Namun saat mereka melihat lagi, sosok itu sudah hilang.

“Kamu lihat apa?”

“Ada orang tadi.”

“Mungkin pelayan.”

Nadira menggeleng cepat.

“Bukan.”

Entah kenapa instingnya mengatakan pria itu sedang mengawasinya.

Dan perasaan itu membuat dadanya dingin.

Pukul sebelas malam mereka akhirnya pulang ke rumah sakit.

Namun begitu masuk parkiran basement, sesuatu terjadi.

Lampu tiba-tiba mati.

Gelap total.

Nadira langsung berhenti berjalan.

“Arsen?”

“Aku di sini.”

Suara pria itu terdengar dekat.

Namun suasana basement mendadak terasa menyeramkan.

Hanya ada suara hujan samar dari luar dan bunyi tetesan air.

“Kenapa lampunya mati?”

“Harusnya ada genset.”

Nadira mulai panik.

Entah kenapa jantungnya berdebar sangat keras.

Lalu—

BRAK!

Suara keras terdengar dari belakang mereka.

Nadira spontan menjerit kecil.

Seseorang berlari.

Cepat.

Di tengah gelap.

“Siapa itu?!” bentak Arsen.

Tak ada jawaban.

Namun beberapa detik kemudian terdengar suara benda logam jatuh.

Arsen langsung menarik tangan Nadira.

“Masuk mobil.”

“A-apa yang terjadi?”

“Cepat!”

Mereka buru-buru masuk ke dalam mobil tepat saat lampu basement menyala kembali.

Napas Nadira memburu.

Wajahnya pucat.

Arsen segera keluar sebentar lalu kembali dengan ekspresi dingin.

“Apa?”

Pria itu menunjukkan sesuatu di tangannya.

Sebuah pisau kecil.

Dan menempel di gagangnya…

Foto Nadira.

Bukan Nayla.

Nadira.

Tubuh Nadira langsung lemas.

“Apa ini…”

Di belakang foto itu ada tulisan tangan merah.

AKU TAHU SIAPA KAMU.

Nadira gemetar hebat.

“Arsen…”

Pria itu langsung menyalakan mobil.

Wajahnya berubah sangat dingin.

Berbahaya.

“Mulai malam ini,” katanya pelan, “kamu nggak boleh sendirian.”

Sesampainya di rumah sakit, Arsen tidak langsung pergi.

Ia malah berdiri di depan ruang VIP sambil menelepon seseorang.

“Periksa CCTV basement sekarang.”

Nada suaranya tajam.

Beberapa detik kemudian ia kembali menatap Nadira.

“Kamu ingat pernah punya musuh?”

Nadira tertawa gugup.

“Aku bahkan nggak cukup penting buat punya musuh.”

“Jangan bercanda.”

“Aku serius.”

Arsen memperhatikan wajahnya lama.

Lalu tiba-tiba berkata,

“Mungkin target dari awal memang kamu.”

Nadira membeku.

“Kenapa?”

“Kamu bilang sendiri.”

“Apa?”

“Kamu nggak penting.”

Kalimat itu terdengar kasar.

Namun Arsen melanjutkan pelan,

“Dan orang seperti kamu justru paling mudah disingkirkan tanpa dicurigai.”

Napas Nadira tercekat.

Ia ingin menyangkal.

Tapi tidak bisa.

Karena itu benar.

Kalau Nadira menghilang, mungkin dunia tidak akan terlalu peduli.

Bahkan keluarganya sendiri mungkin tetap memilih Nayla.

Dan itu menyakitkan.

Arsen tampaknya sadar ekspresinya berubah.

“Aku nggak bermaksud—”

“Nggak apa-apa.”

Nadira tersenyum kecil.

Senyum yang terlalu rapuh.

“Aku udah biasa kok.”

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya…

Tatapan Arsen berubah.

Bukan dingin.

Bukan tajam.

Tapi marah.

Bukan marah pada Nadira.

Melainkan pada seseorang lain.

“Atau mungkin,” katanya pelan, “mereka yang buta.”

Deg.

Jantung Nadira kembali kacau.

Dan sebelum ia sempat memahami kenapa dadanya terasa hangat karena kalimat sederhana itu—

Pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka.

Seorang perawat keluar dengan wajah panik.

“Pasiennya sadar!” katanya cepat.

Nadira langsung berdiri.

“Apa?!”

“Saudari Nayla baru sadar beberapa detik lalu!”

Dunia Nadira langsung terasa berhenti.

Karena kalau Nayla sudah bangun…

Maka semuanya akan berubah mulai malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!