NovelToon NovelToon
Sistem Harem Ku Aktiv

Sistem Harem Ku Aktiv

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Bad Boy
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Karensi

Ketika banyak wanita yang membuangku sistem Harem ku aktiv dan siap untuk membuat mereka yang membuangku menyesal.. !!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karensi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Gue berjalan keluar dari area kantin dengan langkah sangat ringan. Dendam ke Siska dan Dion udah lunas terbayar tuntas. Mahasiswa yang berpapasan sama gue sekarang cuma berani menunduk hormat atau diam diam melirik kagum. Aura Intimidasi Raja yang gue pancarkan beneran bekerja otomatis menyaring sampah sampah kampus yang dulu suka meremehkan gue.

Baru aja gue mau melangkah ke arah gerbang depan buat pulang ke apartemen Bella tiba tiba ponsel di kantong celana gue bergetar panjang. Gue merogoh kantong dan melihat layar ponsel. Ada pesan singkat masuk dari ketua tingkat kelas gue.

"Raka lu di mana. Hari ini ada kelas Bu Diana jam sepuluh pagi. Lu jangan sampai telat lagi kalau nggak mau nilai lu hancur lebur dikasih nilai E sama dosen galak itu."

Gue langsung menepuk jidat lumayan keras. Gue hampir lupa total kalau hari ini ada jadwal kuliah wajib sama Bu Diana. Dosen wanita paling cantik tapi juga paling ditakuti seantero kampus. Umurnya baru dua puluh enam tahun masih muda banget buat ukuran dosen pembimbing. Pintar lulusan luar negeri dan punya wajah secantik supermodel papan atas.

Tapi di balik kecantikannya itu Bu Diana terkenal punya sifat dingin yang mengerikan banget. Tatapan matanya tajam setajam es rasanya kayak lagi ditatap langsung sama naga air dari cerita mitologi kuno yang siap menelan lu bulat bulat hidup hidup. Nggak ada satu pun mahasiswa cowok atau dosen pria yang berani mendekati dia apalagi sampai nekat menggoda. Sekali lu berani macam macam sama dia kelar udah masa depan lu di kampus ini.

Gue melirik jam tangan murah gue. Jam sepuluh lewat lima belas menit. Gue udah telat lima belas menit masuk kelasnya. Kalau dulu gue pasti udah gemetar ketakutan dan milih bolos sekalian daripada kena semprot amukan Bu Diana di depan puluhan mahasiswa lain. Tapi sekarang beda cerita. Gue punya sistem harem dan gue baru aja dapat hadiah Keahlian Manipulasi Pikiran Level Satu. Ini adalah momen paling sempurna dan emas buat mengetes langsung kekuatan keahlian itu.

Gue melangkah santai menuju gedung fakultas blok B tempat kelas Bu Diana berada. Sesampainya di depan pintu kelas yang tertutup rapat gue sama sekali tidak merasa ragu. Gue langsung memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka lebar. Suara derit pintu langsung memecah keheningan suasana kelas yang lagi tegang tegangnya.

Semua pasang mata mahasiswa di dalam ruang kelas langsung menoleh serempak ke arah gue. Suasana kelas yang tadinya hening langsung terasa makin mencekam. Di depan papan tulis berdiri sosok Bu Diana yang cantiknya beneran bikin napas berhenti sejenak.

Gaya pakaiannya gila bener elegan banget. Dia pakai blazer emas terang berpotongan rapi yang entah kenapa bikin gue langsung teringat sama zirah pelindung emas Gemini Cloth dari serial anime lawas kesukaan gue. Memancarkan aura kemewahan tapi sekaligus menebarkan bahaya ganda dari kepribadiannya yang sangat ketat. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih tanpa noda.

Mata indah tapi dingin milik Bu Diana langsung menatap tajam menembus bola mata gue. Wajah cantiknya mengeras menahan amarah melihat kedatangan gue yang sangat terlambat ini.

"Raka. Kamu tahu ini jam berapa sekarang," suara dingin Bu Diana menggema keras di seluruh sudut ruang kelas. Nadanya datar tapi efeknya bikin merinding semua mahasiswa yang duduk di bangku.

"Jam sepuluh lewat dua puluh menit Bu Diana," jawab gue sangat santai tanpa ada beban sedikit pun. Gue melangkah masuk lebih dalam dan berdiri tepat di tengah ruangan menghadap lurus ke arahnya.

Mahasiswa lain mulai saling pandang kebingungan melihat tingkat kepercayaan diri gue yang mendadak meluap luap di luar batas normal.

"Kamu sudah terlambat dua puluh menit Raka. Kamu pikir ruang kelas ini punya nenek moyang kamu seenaknya masuk tanpa rasa bersalah. Keluar dari kelas saya sekarang juga. Saya tidak butuh mahasiswa pemalas dan tidak disiplin di mata kuliah saya," usir Bu Diana dengan suara yang jauh lebih lantang dan telunjuk tangan kanan mengarah lurus ke pintu keluar.

Gue tersenyum tipis sangat miring ke arahnya. Ini saatnya pertunjukan utama dimulai. Gue memfokuskan pikiran gue dan mengaktifkan Keahlian Manipulasi Pikiran Level Satu tepat ke arah otak Bu Diana.

Sebuah gelombang energi kasat mata memancar pelan dari tatapan mata gue langsung menembus masuk ke dalam pertahanan pikiran rasional dosen cantik di depan gue ini. Layar sistem berkedip hijau memberikan notifikasi kecil di sudut pandangan mata gue tanda keahlian berhasil menyusup sempurna.

"Ibu yakin mau mengusir saya keluar dari sini begitu saja," tanya gue dengan suara bariton rendah yang sangat tenang tapi memancarkan getaran kharisma tinggi. "Padahal Ibu tahu persis kalau saya adalah satu satunya pria di ruangan ini yang berani menatap langsung ke dalam mata indah Ibu tanpa ada rasa takut sedikit pun."

Seluruh isi kelas langsung terkesiap kaget mendengar ucapan berani gue barusan. Beberapa mahasiswa cowok sampai menutup mulut mereka menahan napas ngeri. Berani beraninya ada mahasiswa kere macam gue menggoda dosen paling menakutkan secara langsung di depan umum.

Bu Diana awalnya terlihat sangat marah besar mendengar godaan gue tapi perlahan lahan ekspresi wajahnya mulai berubah aneh. Keahlian Manipulasi Pikiran gue mulai bekerja merombak paksa struktur emosi di dalam otaknya. Rasa marah dan ego tingginya perlahan melebur hancur digantikan oleh rasa penasaran berlebih dan ketertarikan fisik yang sangat kuat ke arah gue.

"Kamu sungguh berani sekali bicara kurang ajar seperti itu kepada dosen kamu Raka," ucap Bu Diana tapi kali ini nada suaranya tidak lagi membentak keras melainkan agak bergetar dan melembut di ujung kalimat. Pipinya yang mulus putih perlahan mulai memunculkan semburat merah merona.

"Saya tidak sedang kurang ajar Bu Diana. Saya hanya sedang mengatakan fakta kebenaran yang jujur. Ibu terlalu lama memakai topeng dingin itu. Sesekali Ibu harus membiarkan seseorang membongkar pertahanan Ibu," balas gue melangkah perlahan makin maju mendekati meja dosen tempat dia berdiri.

Bu Diana menelan ludah pelan. Tatapan matanya yang tadi setajam naga air sekarang berubah menjadi sangat sayu dan bingung menatap wajah gue lekat lekat. Efek manipulasi ini benar benar luar biasa dahsyat kemampuannya mengendalikan pikiran manusia.

"Tutup mulut kamu Raka. Jangan sembarangan menganalisa diri saya di depan banyak orang," tegur Bu Diana pelan berusaha menjaga sisa sisa wibawanya di depan para mahasiswa lain walau hatinya sudah mulai goyah hebat.

"Kalau begitu Ibu harus menghukum saya secara pribadi. Jangan mengusir saya keluar Bu. Ibu akan sangat merindukan kehadiran saya nanti kalau saya benar benar pergi dari pandangan Ibu hari ini," bisik gue dengan suara yang sangat menggoda tepat saat jarak gue tinggal satu meter di depan meja dosennya.

Bu Diana mematung diam di tempatnya. Napasnya mulai naik turun sedikit lebih cepat dari biasanya. Pandangannya tidak bisa lepas dari mata gue. Tingkat kasih sayang di layar sistem atas kepalanya mendadak muncul dan langsung meloncat cepat dari angka nol menembus angka enam puluh persen dalam hitungan kurang dari lima menit bertatap muka.

Dia memalingkan wajahnya ke arah para mahasiswa yang duduk tegang menonton kejadian langka ini.

"Baiklah semuanya dengarkan saya. Kelas hari ini saya bubarkan lebih awal. Silakan kalian semua keluar dan pulang sekarang juga. Tugas tambahan akan saya kirim melalui grup pesan nanti," perintah Bu Diana dengan suara yang diusahakan setenang mungkin.

Para mahasiswa langsung bersorak pelan kegirangan dan buru buru membereskan buku mereka masuk ke dalam tas. Mereka berbondong bondong keluar kelas tidak mau membuang waktu lama lama. Beberapa teman sekelas menepuk pundak gue pelan memberi isyarat salut dan hormat karena gue berhasil membuat dosen pembunuh ini membubarkan kelas.

Dalam waktu singkat ruang kelas besar itu langsung kosong melompong menyisakan gue dan Bu Diana berdua saja di dalam sana. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan intens luar biasa.

Bu Diana membereskan tumpukan kertas di mejanya dengan tangan yang sedikit bergetar gugup. Dia tidak berani menatap mata gue lagi.

"Raka ikut saya sekarang ke ruang kerja pribadi saya di lantai tiga. Ada urusan sangat penting yang harus kita selesaikan berdua di sana tanpa ada gangguan orang lain," ucap Bu Diana pelan menahan gejolak aneh di dalam dadanya.

"Sesuai perintah Ibu Dosen yang cantik," jawab gue tersenyum penuh kemenangan mengekor di belakang langkah kakinya yang cepat.

Kami berjalan menyusuri lorong kampus menuju ruangannya di lantai tiga. Begitu kami masuk ke dalam ruangan kerjanya yang wangi dan sejuk Bu Diana langsung mengunci pintu rapat rapat dari dalam dan menutup semua celah tirai kaca jendela. Ruangan itu kini benar benar sangat tertutup dan kedap suara.

Gue duduk santai di sofa panjang warna hitam yang ada di sudut ruangan. Bu Diana berjalan mendekat ke arah gue. Blazer emas elegannya dia lepas pelan menyisakan kemeja putih ketat yang membalut sempurna tubuh indah miliknya. Dia berdiri tepat di depan gue menatap lurus menuntut penjelasan.

"Kamu sebenarnya pakai ilmu sihir apa Raka. Jelaskan sama saya sekarang juga. Kenapa sejak kamu menatap mata saya di kelas tadi jantung saya berdebar tidak karuan dan pikiran saya terus menerus tertuju sama kamu. Padahal saya sangat benci sama pria yang sok percaya diri seperti kamu," cecar Bu Diana memegang kedua bahu gue sangat erat menundukkan wajahnya mendekati wajah gue.

Wanginya sangat harum perpaduan bunga melati dan wangi buku baru. Gue menyandarkan tubuh gue ke belakang sofa tersenyum nakal menatap matanya.

"Saya sama sekali tidak pakai sihir gaib Bu Diana. Ini semua murni cuma pesona alami dari seorang pria sejati saja. Ibu selama ini selalu bersikap terlalu keras dan dingin terhadap semua orang. Ibu membangun tembok besar buat melindungi diri sendiri. Padahal jauh di dalam lubuk hati Ibu yang terdalam Ibu sangat kesepian dan mendambakan kehangatan dari seorang pria yang bisa mengerti dan menaklukkan ego Ibu," ucap gue menggunakan nada suara paling dalam menyentuh langsung sisi emosional otaknya.

Pertahanan pikiran Bu Diana hancur lebur seketika mendengar ucapan gue. Mata indahnya langsung berkaca kaca. Tingkat kasih sayangnya meroket tajam menembus angka delapan puluh lima persen. Dia benar benar menyerah pada perasaannya sendiri.

Bu Diana tiba tiba menjatuhkan tubuhnya duduk di atas pangkuan gue. Kedua tangannya langsung melingkar erat memeluk leher gue. Wajahnya bersandar pasrah di dada gue mendengarkan detak jantung gue yang berdegup tenang.

"Kamu benar Raka. Aku lelah banget harus terus terusan pura pura menjadi wanita kuat dan kejam setiap hari di depan semua orang. Kamu adalah satu satunya pria yang berani menembus tembok pertahanan aku. Jangan tinggalkan aku sendiri Raka. Aku butuh kamu di samping aku mulai sekarang," bisik Bu Diana manja dengan suara yang sangat lembut jauh berbeda seratus delapan puluh derajat dari sifat aslinya di kelas tadi.

Gue mengelus pelan rambut hitam panjangnya merengkuh pinggang rampingnya dengan penuh rasa kepemilikan mutlak. Manipulasi Pikiran Level Satu ini efeknya luar biasa parah mengubah seorang dosen galak nomor satu menjadi wanita super manja dan tunduk patuh di dalam pelukan gue hanya dalam waktu singkat.

"Tentu saja Diana. Mulai sekarang lu jadi milik gue sepenuhnya. Nggak ada lagi yang namanya dosen galak di dalam ruangan ini. Lu cuma wanita cantik kesayangan gue sekarang," bisik gue tepat di telinganya.

Bu Diana mengangkat wajahnya menatap bibir gue dengan tatapan penuh damba dan gairah tinggi. Dia memejamkan mata perlahan mendekatkan wajah cantiknya berniat mencium gue.

Layar sistem hologram mendadak muncul terang tepat di samping wajah kami memberikan notifikasi penyelesaian yang sangat memuaskan.

"Misi Rahasia Tersembunyi Berhasil Diselesaikan. Tuan Rumah berhasil menaklukkan hati Dosen Tergalak menggunakan Keahlian Manipulasi Pikiran. Mendapatkan Hadiah Tambahan Berupa Peningkatan Manipulasi Pikiran menjadi Level Dua dan Saldo Uang Tunai Lima Puluh Juta Rupiah. Poin Sistem bertambah menjadi Tujuh Ratus Poin. Kerajaan Harem Tuan Rumah semakin meluas."

Gue tersenyum lebar membaca notifikasi itu tepat sebelum bibir lembut Bu Diana menyentuh bibir gue dengan sangat penuh perasaan romantis di dalam ruang kerja pribadinya yang sepi. Siang ini menjadi siang paling membahagiakan dalam sejarah hidup gue.

1
ayrhte
mokondoonya/Smile/
Karensi: Terimakasih sudah membaca kak🥰.pantau terus perjalanan kisah ini ya kak🥰🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!