Seorang pria muda, yang menyukai wanita lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Sementara Felix yang sedang mengemudi bersama Gea terus mempelajari setiap tombol dan fungsi di kendaraan milik Arif.
Karena ada beberapa tombol yang tidak dia mengerti, Felix menurunkan kecepatan lalu berbicara. "Gea, lo coba telepon Arif. Tanyain tiga tombol ini buat apa." ucapnya.
"Oke, bentar," jawab Gea. dia mengambil telepon genggam, hingga menyala dia langsung mencari nomor Arif, setelah ketemu dia langsung meneleponnya.
Saat panggilan menyambungkan, Gea terus menatap layar teleponya, namun tiba-tiba Arif menolak panggilan tersebut.
Gea menatap ke Felix, "Arif malah nolak," ucap Gea. dia kembali menelepon Arif. Panggilan kembali menyambungkan.
***
Sementara itu, Arif menatap telepon genggamnya yang berdering. dalam hati merasa tak enak,"Gea kenapa nelpon? Mana lagi sama Sasa. Gimana kalau dia tahu?" Gunamnya dalam hati.
"Kok malah dilihatin aja sih, Sayang?" tanya Sasa menatap Arif.
Arif tersenyum tipis. "Enggak terlalu penting soalnya, Sayang," ucap Arif sambil menolak panggilan itu.
"Tapi udah dua kali, lho. Jangan-jangan lebih penting." Sasa tersenyum sambil mengangkat alisnya.
Tak lama setelah menolak panggilan dari Gea, telepon genggamnya kembali berdering.
"udah sayang, Angkat dulu aja," ucap Sasa menatap Arif sambil tersenyum,
Arif mengangguk, lalu berdiri dan melangkah menjauh dari Sasa. Setelah jaraknya dirasa cukup jauh, Arif mengangkat panggilan dari Gea.
"Ada apa?" bisik Arif, menggerakan telepon genggam itu ke telinganya.
"Rif, kenapa sih di tolak Mulu, lagi sibuk ya," suara gera dari telepon genggam itu, lalu terdengar suara Felix,"arif, tiga tombol di atas buat apa? Gue mau coba, ya?" Suara Felix terdengar pelan, jelas,
"Jangan, woi! Kalau di belokan nanti malah enggak bisa belok. Itu buat meningkatkan kecepatan dua sampai empat kali lipat, kecuali kalau lo di jalur yang lurus," ucap Arif pelan, sesekali menatap ke sekeliling.
"Oke, gue coba. Ini gue masuk ke jalan tol," terdengar suara Felix dari terlepon itu.
"Oke," bisik Arif. dia menjauhkan telepon genggamnya dari telinga dan mematikan panggilan itu.
Arif memasukkan teleponnya ke dalam saku, lalu kembali melangkah menuju meja makan.
Sasa menatap ke arahnya dan langsung bertanya, "udah kah, Sayang?" tanyanya.
"udah, Sayang," jawab Arif sambil duduk dengan wajah sedikit tersenyum.
"Siapa yang telepon? Sepertinya penting banget."
"Felix, teman sekolah aku. Enggak terlalu penting juga sih."
"Memangnya bahas apa?"
"Itu, dia pinjam mobil aku tapi enggak tahu fitur tombolnya. Jadi dia telepon buat bertanya."
"Oh, gitu. Jadi mobil kamu dipinjam teman?"
"Iya." Arif sambil mengangguk, sedikit tersenyum, lalu mengalihkan pembicaraan,"Kamu enggak pesan makanan?" tanya Arif sambil mengambil sendok.
"udah, barusan udah pesan," ucap Sasa sambil menatap Arif.
"Kalau gitu aku makan duluan, ya," ucap Arif. dia menyuapkan makanan, namun sebelum sampai ke mulut, dia mengarahkannya pada Sasa. "Aaa, Sayang." ucapnya.
Sasa membuka mulutnya dan menikmati makanan yang diberikan Arif. dia mengunyah perlahan dengan tatapan yang masih berhadapan.
"Gimana, Sayang? Enak enggak?" tanya Arif menaikkan alisnya.
Sasa mengangguk. Tiba-tiba seorang pelayan datang dan menaruh makanan di atas meja. "Silakan menikmati makanannya," ucap pelayan itu lalu berlalu.
Sasa mengambil sendok dan mulai menyendok makanannya. Sesekali dia menatap Arif, lalu mengarahkan sendoknya agar Arif mencoba makanannya. Arif membuka mulut dan memakannya, sambil mengunyah makanan dia tersenyum.
Tiba-tiba, senyum Arif memudar. Ponselnya kembali berdering. Arif menatap Sasa yang bertanya, "telepon kamu bunyi lagi ya, Sayang?" tanyanya.
"iya, bentar aku angkat dulu teleponnya." Arif berdiri dan melangkah menjauh dari meja.
Arif mengangkat panggilan dari Gea. "Kenapa lagi?" tanya Arif, sedikit kesal,
"Rif, tombol N2S enggak berfungsi. Ini kenapa?" Suara Felix yang terdengar.
"Duh, iya, Cuy. udah sebulan lebih belum isi nitrogen,"
"Jir, lah! Yaudah kalau gitu gue ke bengkel dulu buat ganti tabungnya."
"Oke, kalau gitu gue lanjut, ya."
"Memangnya lagi ngapain sih?"
"I-ini gue lagi makan. Yaudah, kalau lo udah selesai nanti chat, ya," ucap Arif terburu-buru menutup panggilan itu.
Arif menatap layar telepon genggamnya, dia mamasukan ke dalam saku, lalu kembali menuju ke meja makan.
Sasa yang duduk menanti langsung bertanya, "Ada masalah lagi kah, Sayang?" tanyanya,
"Enggak ada, kok. Enggak terlalu penting juga."
"Eumm, yakin?"
"Iya, Sayang. Yaudah, ayo lanjut makannya."
"Yok"
lalu Mereka berdua melanjutkan menikmati makanan yang berada di atas meja itu,
***
Sementara itu, Laras sedang duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong. Bu Ani yang lewat di depan meja, terhenti dan bertanya, "Mbak, kenapa bengong sendiri?" tanyanya.
Laras berbicara. lLi Bu Ani duduk di samping Laras, tangannya bergrak dan menyentuh bahunya. "Mbak?" ucapnya
"Bibi, ih, ngagetin," ucap Laras mengalihkan tatapannya ke Bu Ani.
"mba laras lagi ada masalah apa sih? Bibi tahu banget, kalau mba sedang ada masalah. Coba cerita, Bibi dengerin, kok."
Laras menghela napas. "Aku enggak tahu, Bi. Hati aku kayak tertusuk..." Laras berhenti bicara karena Bu Ani memotong.
"Pasti gara-gara pacar kamu itu, ya?" ucapnya dengan wajah srius.
"Iya, Bi."
"Sabar ya, Mbak. Pasti ada alasannya."
"Tapi, Bi, dia tiba-tiba bilang kalau dia mau udahan."
"Jadi udah putus? Bibi yakin pasti ada alasannya. Yang sabar ya, jangan berkecil hati. Mungkin hari ini kamu menemukan cowok yang belum sefrekuensi. Bibi yakin suatu hari kamu bisa dapat yang lebih baik."
Laras menganggukkan kepala sambil menghela napas. Senyuman mulai muncul di wajahnya.
"Kalau gitu, Bibi mau ke warung dulu, ya," ucap Bu Ani sambil berdiri.
"Bi, aku titip beliin jeruk, ya,"
"Jeruk masih ada, Mbak, di kulkas. Mbak mau dibikinin jeruk peras?"
"Enggak deh, Bi. Nanti aku bikin sendiri aja." Laras berdiri.
"Kalau gitu Bibi pergi dulu, ya." Bu Ani melangkah menuju pintu depan.
Laras yang berisi sempat menatap Bu Ani, lalu melangkah menuju dapur. Sesampainya di sana, dia membuka kulkas dan mengambil beberapa buah jeruk.
kini dia membawanya ke depan alat pemeras. Laras mengambil gelas, memasukkan gula, lalu membelah jeruk itu menjadi dua bagian,
dia langsung memeras dengan alat peras, Air perasan itu dimasukkan ke dalam gelas. dia mengaduknya perlahan hingga gula larut. Hatinya berantakan, tatapannya sayu. dia membawa gelas itu ke meja makan, duduk, dan mulai meminumnya.
Baru satu tegukan, Laras langsung membelalakkan mata. "Ugh, masamnya!" bisiknya pelan.
"Kenapa sih, kepikiran terus sama tuh orang?" gumamnya menatap gelas tersebut.
Bu Ani yang selesai dari warung, dia melangkah membawa belanjaan menaruh barang-barangnya di atas meja. "Kenapa, Mbak?" tanya Bu Ani.
"Jeruknya masam banget, Bibi," ucap Laras menatapnya.
Bu Ani melangkah mendekat dan melihat bekas perasan buah tersebut. "Gimana mau enggak masam, Mbak? Ini kan jeruk nipis, bukan jeruk peras."
"ish, Pantesan."
"Bibi tahu, mba kepikiran pacar kan, sampai enggak sadar salah ambil. Cuma mau ingetin, kamu jangan mikiran, dia belum tentu kepikiran kamu. Kalau gitu Bibi bikinin lagi, ya," ucap Bu Ani.
Laras terdiam mendengarkan perkataan Bu Ani. Dalam hatinya dia berkata, "bener juga kata Bibi. Aku kepikiran dia terus, dia belum tentu kepikiran. Aku harus melupakan semua ini. Aku enggak bakal dekat lagi dengan dia." Gunamnya dalam hati.