NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lawan pertama

Hari keempat di kamp pelatihan pegunungan. Matahari baru saja muncul di ufuk timur saat para peserta sudah berkumpul di lapangan. Udara dingin masih menyengat, tapi semangat latihan tak pernah surut.

Hari ini adalah hari yang ditunggu sebuah latihan bela diri.

Seorang pria bertubuh kekar dengan wajah garang berdiri di depan barisan. Ia mengenakan seragam latihan hitam, lengan digulung memperlihatkan otot-otot padat. Bekas luka di lengannya menandakan pengalaman pertempuran yang tak sedikit.

"Nama saya Pelatih Wu," suaranya berat, dalam. "Kalian akan belajar kung fu militer. Bukan untuk pamer, tapi untuk bertahan hidup. Di medan perang, tidak ada aturan. Yang ada hanya menang atau mati."

Para remaja tegang. Jinyu, di barisan belakang, mengamati dengan saksama.

Pelatih Wu memulai dengan gerakan dasar. Kuda-kuda, pukulan, tendangan, tangkisan. Satu per satu peserta mempraktikkan. Jinyu mengikuti dengan mudah, gerakan-gerakan ini sudah ia kenal ribuan tahun lalu, hanya versi lebih sederhana.

["Membosan,"] sistem berkomentar. ["Gerakan dasar begini, kau sudah pasti hafal di luar kepala."]

Diam. Aku harus pura-pura belajar.

Setelah satu jam latihan dasar, Pelatih Wu mengumpulkan mereka. "Sekarang, sparing ringan. Kalian akan berpasangan dengan lawan seusia. Tujuan: mempraktikkan yang sudah dipelajari. Tidak boleh mencederai lawan. Pahami?"

Semua mengangguk.

Tapi masalah muncul. Jinyu tidak punya lawan seusia. Semua peserta minimal 10 tahun, sementara ia 4 tahun. Pelatih Wu mengernyit, berpikir.

"Su Jinyu, kau—"

"Saya lawan dia."

Semua menoleh. Xia Feng melangkah maju dari barisan depan. Remaja 15 tahun dengan postur atletis itu menatap Jinyu dengan tatapan penasaran sekaligus menantang.

Pelatih Wu mengerutkan dahi. "Xia Feng, dia 4 tahun. Kau 15 tahun."

"Aku tahu, Pelatih. Tapi selama empat hari ini, dia selalu unggul di semua latihan. Aku ingin lihat sejauh mana kemampuannya di bela diri."

Pelatih Wu menatap Jinyu. "Kau keberatan?"

Jinyu menggeleng. "Tidak, Pelatih."

"Baik. Tapi aturan tetap berlaku. Tidak boleh mencederai. Ini sparing, bukan pertarungan."

Xia Feng tersenyum tipis. "Tentu, Pelatih."

Lapangan dikosongkan. Semua peserta duduk melingkar, menyisakan arena di tengah. Jinyu dan Xia Feng berdiri berhadapan. Kontras: Xia Feng tinggi tegap, Jinyu hanya setinggi dadanya.

Xiaoming, teman Xia Feng, berseru dari pinggir, "Xia Feng, jangan kasar, dia masih kecil!"

Lin Yue yang duduk di dekatnya menimpali, "Iya, kalau sampai cedera, kau yang bertanggung jawab!"

Xia Feng mengabaikan. Ia fokus pada Jinyu. Matanya menyipit. "Aku tidak akan menahan diri. Tunjukkan kemampuanmu."

Jinyu diam. Kuda-kuda ringan, tangan di depan.

Pelatih Wu memberi aba-aba. "Mulai!"

Xia Feng langsung menyerang. Pukulan lurus ke arah wajah Jinyu cepat, bertenaga. Tapi Jinyu dengan lincah menunduk, menghindar. Xia Feng berputar, tendangan rendah menyapu kaki Jinyu. Jinyu melompat kecil, menghindar lagi.

"Hadapi, jangan lari!" Xia Feng berseru kesal.

Jinyu tidak menjawab. Ia terus menghindar, bergerak seperti bayangan. Setiap serangan Xia Feng selalu meleset. Penonton mulai bersorak.

"Wah, dia lincah sekali!"

"Xia Feng, kau kalah cepat!"

Xia Feng semakin kesal. Ia mengerahkan kecepatan lebih. Pukulan kombinasi kiri, kanan, tendangan semua dihindari Jinyu dengan mudah. Tubuh mungilnya berputar, meliuk, menghindar dengan presisi.

"CUKUP!" Xia Feng berteriak, mundur beberapa langkah. Napasnya mulai berat. "Kau pengecut! Hanya bisa menghindar!"

Jinyu diam.

Pelatih Wu mengangkat tangan, menghentikan sparing sementara. "Xia Feng, kendalikan emosi."

Xia Feng menunjuk Jinyu. "Dia tidak pernah menyerang! Hanya lari! Sparing macam apa ini?"

Pelatih Wu menatap Jinyu. "Su Jinyu, kenapa kau hanya menghindar?"

Jinyu menjawab datar, "Saya belum tahu cara menyerang, Pelatih. Saya hanya belajar dari Ayah di rumah, itu pun hanya dasar."

Pelatih Wu mengangguk. "Kau bisa menyerang sekarang. Cobalah."

Jinyu mengangguk, tapi tidak berkata apa-apa.

Sparing dimulai lagi. Jinyu masih menghindar. Xia Feng semakin terprovokasi. Ia menyerang lebih agresif, lebih keras. Tapi Jinyu tetap seperti belut—licin, tak tertangkap.

"KAU LEMAH!" Xia Feng berteriak di tengah serangan. "TAKUT LAWAN, YA? PANTAS SAJA CAI!" (Cai \= pengecut dalam bahasa slang)

Jinyu menghentikan langkah.

Mata keemasannya berubah. Bukan marah besar, tapi ada kilatan dingin di sana. Xia Feng merasakannya—sesuatu yang aneh, seperti suhu udara turun beberapa derajat.

"Kau bilang apa?"

Xia Feng tertegun sejenak, tapi egonya tak mau kalah. "Aku bilang kau pengecut! Lemah! Cuma bisa lari!"

Jinyu tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat.

"Baik. Aku akan lawan."

Xia Feng menyerang lagi, tapi kali ini Jinyu tidak menghindar. Tubuh kecilnya bergerak maju, masuk ke dalam jangkauan Xia Feng. Pukulan Xia Feng meleset—Jinyu sudah memutar di sampingnya. Sikut Jinyu menghantam rusuk Xia Feng.

Bruk!

Xia Feng terhuyung. Matanya membelalak. "Apa?"

Jinyu tidak memberi waktu. Tendangan rendah menyapu kaki Xia Feng, ia hampir jatuh, tapi bertahan. Pukulan Jinyu berikutnya mengenai lengannya. Tidak keras, tapi cepat, akurat, menyakitkan.

Xia Feng mundur, mengatur napas. "Kau... tadi bilang tidak bisa menyerang?"

Jinyu menatapnya datar. "Saya bilang belum tahu cara menyerang. Sekarang saya tahu."

Xia Feng menggeram. Ia mengerahkan semua kemampuannya. Serangan bertubi-tubi, kombinasi cepat. Tapi Jinyu kini bukan hanya menghindar, ia membalas setiap serangan dengan counter presisi. Pukulan Xia Feng ditangkis, tendangannya diblok, serangannya dipatahkan.

Penonton terpaku. Mulut mereka menganga.

"Itu... anak 4 tahun?"

"Dia menghajar Xia Feng!"

"Xia Feng kewalahan!"

Pelatih Wu mengamati dengan mata tajam. Gerakan Jinyu terlalu mulus, terlalu presisi. Itu bukan gerakan anak yang baru belajar beberapa bulan. Itu gerakan petarung berpengalaman.

Di dalam, Yoyo berbisik.

Shshsss~ "Jinyu, kendalikan diri. Jangan terlalu mencolok."

Jinyu mendengar, tapi adrenalin sudah mulai. Xia Feng menyerang lagi, dan Jinyu merespons dengan kecepatan lebih tinggi. Tubuhnya bergerak otomatis, refleks ribuan tahun pertempuran.

["Jinyu! 20%! Batasi 20%!"] sistem berteriak.

Jinyu tersadar. Ia mengurangi kekuatan, memperlambat sedikit. Tapi 20% dari kekuatan mantan ratu iblis masih terlalu berat bagi remaja 15 tahun.

Xia Feng mulai kehabisan napas. Keringat membasahi seluruh tubuh. Matanya menunjukkan kelelahan dan... ketakutan? Ia tidak mengerti. Anak ini seperti monster.

"Kau... kau apa?" bisiknya.

Jinyu tidak menjawab. Ia mulai bosan. Kekuatan Xia Feng terlalu rendah, terlalu lemah. Tidak ada tantangan. Ia ingin mengakhiri.

Satu gerakan.

Tendangan cepat—lebih cepat dari sebelumnya—meluncur tepat ke dada Xia Feng.

BUK!

Xia Feng terpental. Tubuhnya melayang beberapa meter sebelum jatuh berguling di tanah. Debu beterbangan. Semua penonton terdiam.

Sunyi.

Xia Feng tergeletak, tangannya memegang dada. Napasnya tersengal. Matanya menatap langit dengan ekspresi tidak percaya.

Jinyu berdiri di tempatnya, wajah datar. Hanya sedikit keringat di kening. Napasnya normal.

Pelatih Wu melangkah maju, memeriksa Xia Feng. Setelah memastikan tidak cedera serius, ia berdiri dan menatap Jinyu dengan tatapan baru campuran kagum, heran, dan curiga.

"Su Jinyu... kau yakin baru belajar bela diri?"

Jinyu mengangguk. "Hanya dari Ayah, Pelatih."

Pelatih Wu menghela napas. "Baik. Pertandingan selesai. Pemenang... Su Jinyu."

Tidak ada sorakan. Semua masih terpaku. Lin Yue akhirnya bertepuk tangan, diikuti beberapa yang lain. Tepuk tangan itu tidak meriah, tapi cukup untuk memecah keheningan.

Xia Feng dibantu berdiri oleh teman-temannya. Ia menatap Jinyu dengan ekspresi rumit antara malu, kagum, dan sedikit takut.

"Kau... kau hebat," katanya pelan. "Aku kalah."

Jinyu mengangguk sopan. "Kakak juga hebat."

Xia Feng tertawa getir. "Hebat? Dihajar anak 4 tahun?"

Lin Yue menepuk pundaknya. "Sudah, kau memang kalah. Tapi ini pelajaran."

Sore harinya, setelah semua latihan selesai, Jinyu duduk di kamar. Yoyo melingkar di pangkuannya.

Shshsss~ "Kau hampir kelepasan tadi."

Maaf. Refleks.

["20% pun sudah bikin dia kewalahan. Kalau 100%? Bisa hancur sudah."]

Tidak akan. Dia hanya anak kecil.

Shshsss~ "Dia 15 tahun, Jinyu. Lebih tua darimu sekarang."

Jinyu tersenyum tipis. Tubuh ini 4 tahun. Jiwaku ribuan tahun.

Pintu kamar diketuk. Jinyu membuka. Xia Feng berdiri di luar, sendirian. Wajahnya masih sedikit malu, tapi matanya lebih tenang.

"Boleh... ngobrol sebentar?"

Jinyu mengangguk, memberi jalan. Xia Feng masuk, duduk di kursi kayu. Matanya mengamati kamar kecil itu—sederhana, bersih, dengan jendela menghadap hutan.

"Maaf soal tadi," katanya pelan. "Aku... terlalu sombong."

Jinyu duduk di ranjang. "Tidak apa-apa."

Xia Feng menghela napas. "Kau latihan dari ayahmu? Sungguhan?"

"Iya. Setiap pagi. Lari, panjat, kadang bela diri."

"Berapa lama?"

"Beberapa bulan."

Xia Feng menggeleng tak percaya. "Aku latihan 5 tahun. Dari umur 10. Dan kau... dalam beberapa bulan bisa kalahkan aku?"

Jinyu diam. Tidak bisa bilang karena aku mantan ratu iblis. Jadi ia memilih jawaban diplomatis.

"Mungkin karena tubuhku ringan. Dan aku suka gerakan cepat."

Xia Feng tertawa kecil. "Ringan? Itu bukan alasan. Yang tadi... itu skill, bukan hanya ringan." Ia menatap Jinyu serius. "Kau aneh, Jinyu. Tapi... aku respek. Besok kalau latihan lagi, ajarin aku, ya? Gerakan menghindar yang tadi."

Jinyu mengangguk. "Boleh."

Xia Feng tersenyum sebuah senyum tulus pertama kali. "Makasih. Maaf udah ganggu. Selamat tidur."

Ia bangkit, berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh. "Jinyu, kau tahu? Di kamp ini, semua orang takut sama Komandan Lei dan Pelatih Wu. Tapi menurutku... kau yang paling menyeramkan."

Jinyu mengerjapkan mata polos. "Saya?"

Xia Feng tertawa. "Iya. Karena kau tidak pernah takut. Itu yang bikin orang lain takut." Ia melambai, lalu pergi.

Malam semakin larut. Jinyu berbaring, memikirkan kata-kata Xia Feng.

Tidak pernah takut? pikirnya. Aku takut. Tapi bukan pada mereka.

Ia takut kehilangan keluarga barunya. Itu sebabnya ia di sini, berlatih keras, ingin menjadi kuat.

["Mengharukan,"] sistem berkomentar. ["Tapi besok harus ambil herbal. Janji."]

Jinyu memutar mata. Iya, iya.

Shshsss~ "Dasar sistem, ngga ada romantismenya."

["Romantisme tidak bisa upgrade sistem."]

Diam kalian berdua. Aku mau tidur.

Tapi di sudut hatinya, Jinyu tersenyum. Hari ini berat, tapi menyenangkan. Ia punya lawan pertama dan mungkin, calon teman.

1
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Dewiendahsetiowati: Karena biasanya ikut Jinyu kemana2 apalagi Yoyo selalu ada disekitar Jinyu
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
Ellasama
terus up y Thor jangan putus ditengah jalan /Determined/
Marsya
kk udah kirim kopi biar smangat nulis novelnya y!.😉😉😉😉😉
Marsya
ceritanya keren,👍👍👍👍👍👍👍
Ellasama
suka banget, akhirnya yg satu ini si fl punya ruang angkasa/ dimensi, semangat /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!