Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Baru yang Mulai Tumbuh
Malam di lantai teratas salah satu gedung pencakar langit Jakarta itu biasanya berlalu dengan kesunyian yang angkuh. Namun bagi Lana, malam ini terasa sangat riuh. Bukan oleh suara kendaraan yang menderu jauh di bawah sana, melainkan oleh gema suara-suara di kepalanya yang tak kunjung reda. Ia berbaring telentang di atas tempat tidur king size-nya yang empuk, menatap pendar lampu tidur berwarna kuning temaram yang memantul ke langit-langit kamar yang tinggi.
Lana menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma lavender dari bantalnya, namun pikirannya terus melayang kembali ke ruang makan beberapa jam yang lalu. Ia menyentuh bibirnya dengan ujung jemari yang sedikit gemetar. Di sana, ia masih bisa merasakan sisa kehangatan dari sentuhan jari Bumi. Ia kemudian menyentuh telinganya, tempat di mana bisikan Ezra yang rendah dan serak tadi bersarang, memberikan getaran yang aneh hingga ke tulang belakangnya.
"Apa ini wajar?" bisiknya pada keheningan kamar.
Selama hidupnya di desa, definisi kasih sayang bagi Lana sangatlah sederhana. Kasih sayang adalah saat Ayah membawakannya buah jambu air sepulang dari sawah, atau saat Ibu mengusap keningnya ketika ia terserang demam. Itu adalah kasih sayang yang murni, tanpa pretensi, dan memiliki batasan yang jelas sebagai orang tua dan anak. Ketika ia dibawa ke Jakarta oleh Arka, Lana mengira ia akan mendapatkan hal yang serupa—sebuah perlindungan dari figur kakak laki-laki yang kaku namun mengayomi.
Namun, beberapa hari terakhir ini, garis pembatas itu seolah mengabur, terkikis oleh intensitas perhatian yang meluap-luap dari ketujuh pria tersebut.
Lana mulai menyadari bahwa cara mereka menatapnya telah berubah. Jika dulu Arka menatapnya seperti sebuah tanggung jawab yang harus dijaga, kini Arka menatapnya seolah ia adalah permata yang tak boleh disentuh orang lain. Bumi, sang dokter yang biasanya berbicara dengan logika medis, kini menyentuhnya dengan kelembutan yang jauh melampaui tugas seorang tabib. Lalu ada Jeno, yang rela membuang headphone-nya hanya untuk mendengarkan suaranya, dan Kenzo yang memujinya seolah ia adalah satu-satunya bintang di bawah lampu sorot.
Ada sebuah perasaan baru yang mulai tumbuh di relung hatinya yang paling dalam. Perasaan itu belum memiliki nama dalam kosa kata bahasa Indonesia Lana yang sederhana. Itu bukan sekadar rasa terima kasih, bukan juga sekadar rasa kagum. Itu adalah sesuatu yang lebih liar, sesuatu yang membuat perutnya terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang bergejolak setiap kali salah satu dari mereka melintas di dekatnya.
"Lana... kamu itu cuma adiknya," gumamnya, mencoba mengingatkan dirinya sendiri. Namun, hatinya membantah dengan keras.
Batin Lana bergejolak. Ia merasa seperti seorang gadis kecil yang secara tidak sengaja menemukan pintu masuk ke sebuah taman rahasia yang indah namun berbahaya. Keindahan itu berasal dari perhatian yang ia terima; sebuah perasaan "dilihat" dan "dihargai" yang selama ini ia idamkan. Namun bahayanya terletak pada ketidaktahuannya—ia tidak tahu bagaimana harus bersikap di hadapan pria-pria yang kini menatapnya bukan lagi sebagai bocah desa yang malang, melainkan sebagai seorang wanita dewasa yang mempesona.
Ia teringat pandangan Jeno tadi malam. Jeno, yang biasanya hanya peduli pada piksel di layar monitor, menatapnya dengan binar yang begitu jujur. Ada kekaguman yang murni di sana. Lalu bisikan Ezra... bisikan yang membuat pipinya bersemu merah bukan karena bedak, melainkan karena aliran darah yang terpacu oleh debaran jantung yang tak terkendali.
"Apakah mereka... menyukai Lana?"
Pertanyaan itu muncul begitu saja, membuat Lana segera menutupi wajahnya dengan bantal karena malu pada pikirannya sendiri. Ia merasa lancang. Siapakah dia? Hanya seorang gadis dari lereng gunung yang tidak punya apa-apa. Bagaimana mungkin pria-pria sehebat mereka memiliki perasaan lebih pada dirinya? Namun, bukti-bukti itu terlalu nyata untuk diabaikan. Gestur-gestur kecil, sentuhan yang tertahan, dan perlindungan yang terlalu protektif itu berbicara lebih keras daripada kata-kata.
Perasaan baru ini mengembang seperti adonan roti yang diberi ragi berlebihan; sesak dan memenuhi ruang di dadanya. Lana merasa identitasnya sebagai "adik angkat" mulai terasa sempit. Ia mulai mendambakan lebih dari sekadar perlindungan. Ia mulai menikmati saat-saat di mana ia dianggap istimewa sebagai seorang perempuan.
Namun, di balik kehangatan itu, ada rasa takut yang menghantui. Lana takut jika perasaan ini terus tumbuh, ia akan kehilangan pegangannya. Ia takut jika ia salah mengartikan perhatian mereka, ia akan merusak harmoni di penthouse ini. Dan yang paling ia takutkan adalah dirinya sendiri—ia takut ia akan jatuh terlalu dalam ke dalam pelukan kemewahan dan kasih sayang ini hingga ia lupa siapa dirinya yang sebenarnya.
Lana membalikkan badannya ke samping, memeluk gulingnya erat-erat. Ia menatap ke luar jendela, ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelok seperti sungai cahaya. Di sana, di luar sana, ia tahu ada ribuan orang yang mungkin membencinya karena keberuntungan ini. Ia tahu ada Sisca dan gengnya yang siap menerkam setiap celah kerapuhannya.
"Tuhan, jaga hati Lana," doanya pelan.
Ia menyadari bahwa perhatian para pria ini adalah baju zirah sekaligus beban baginya. Setiap pujian dari Kenzo, setiap sentuhan dari Bumi, dan setiap bisikan dari Ezra adalah benang-benang sutra yang perlahan mengikatnya, membuatnya semakin sulit untuk melepaskan diri jika suatu saat nanti ia harus pergi.
Malam itu, di dalam kamar yang sunyi namun penuh dengan gejolak rasa, Lana akhirnya menyadari satu hal pahit namun manis: hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia bukan lagi Lana yang polos yang hanya memikirkan nilai kuliah. Ia kini adalah seorang wanita yang sedang berdiri di ambang pintu kedewasaan, ditarik oleh tujuh gravitasi kuat yang bernama cinta dan obsesi.
Perasaan yang belum terdefinisikan itu terus tumbuh dalam tidurnya. Ia bermimpi tentang taman bunga matahari di desanya, namun kali ini bunga-bunganya tidak lagi berwarna kuning, melainkan berwarna-warni seperti lampu-lampu Jakarta. Dan di tengah taman itu, ia berdiri tidak sendirian, melainkan dikelilingi oleh bayangan-bayangan pria yang menjaganya, meskipun ia sendiri tidak tahu apakah mereka adalah pelindung ataukah penjara baginya.
Lana terlelap dengan sisa debaran yang masih terasa di ujung jarinya. Ia tidak tahu bahwa perasaan baru yang mulai tumbuh ini adalah ketenangan terakhir sebelum badai besar melanda hidupnya di kampus besok. Ia tidak tahu bahwa kebahagiaan yang ia rasakan di bawah atap penthouse ini akan segera dibayar mahal dengan air mata di koridor universitas. Untuk saat ini, Lana hanya ingin menikmati kehangatan yang belum memiliki nama itu, sebuah perasaan yang membuatnya merasa lebih hidup dari sebelumnya.