Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Mahkota Berduri
Kepergian Clara dari kediaman Adiguna meninggalkan keheningan yang tajam, namun di balik pilar lantai dua, sepasang mata elang telah merekam setiap detik sandiwara hebat yang baru saja usai.
Bramasta melangkah keluar dari bayang-bayang, menghampiri Aluna yang masih berdiri di taman dengan napas yang sedikit terengah—campuran antara adrenalin dan kepuasan.
Tanpa sepatah kata pun, Bram mencengkeram jemari Aluna dan membimbingnya menuju kamar utamanya—wilayah terlarang yang jarang dimasuki siapa pun.
Begitu pintu jati itu tertutup rapat dengan dentuman halus, Bram menyudutkan Aluna ke daun pintu.
"Kau benar-benar luar biasa, Little Bird," desis Bram, suaranya berat oleh gairah dan kekaguman yang gelap.
"Aku melihat semuanya dari balkon. Aku mendengar setiap kata yang kau umpankan padanya. Gadis kecilku... ternyata sudah sangat pintar bersandiwara."
Bram menangkup wajah Aluna, menatap bibir ranum itu dengan rasa lapar yang tak lagi disembunyikan.
Sebelum Aluna sempat membalas, Bram menunduk dan menyatukan bibir mereka dalam pagutan yang sangat dalam dan menuntut.
Ciuman itu tidak mengandung kelembutan; itu adalah ciuman seorang penguasa yang sedang merayakan kemenangan miliknya.
Aluna merasakan tubuhnya melemah sejenak, namun dengan sisa kesadarannya, ia mendorong dada bidang Bram, memutus pagutan itu dengan napas yang memburu.
"Aku belum selesai, Daddy," bisik Aluna dengan binar mata yang kini jauh lebih berani.
"Aku mau hadiah dari Daddy atas kecerdasanku hari ini."
Bram menyeringai, jemarinya mengelus bibir Aluna yang sedikit membengkak.
"Hadiah? Apapun. Kau ingin kehangatan malam ini? Kau ingin Daddy memanjamu di ranjang ini sampai pagi?"
Aluna merajuk, mendorong pelan bahu Bram.
"Daddy!"
Tawa rendah dan maskulin pecah dari bibir Bramasta—suara yang sangat jarang terdengar di rumah ini.
"Hahaha... baiklah, Sayangku. Katakan, apa yang kau inginkan?"
Aluna menatap mata Bram dengan serius, menghilangkan jejak manja sesaat.
"Aku ingin Clara tidak hanya pergi dari rumah ini. Aku ingin dia dipecat secara tidak hormat dari Bramasta Group. Aku ingin dia merasakan hukuman atas kelancangannya menghinaku dan merendahkan Nenek."
Bram mengangguk, matanya berkilat dingin saat memikirkan nama Clara.
"Itu sudah pasti, Aluna. Tanpa kau minta pun, aku akan mematikan kariernya di seluruh negeri ini. Ayahnya tidak akan bisa menyelamatkannya kali ini."
"Lalu apa lagi, Baby?" tanya Bram sambil melingkarkan tangannya di pinggang Aluna, menariknya lebih dekat hingga tak ada jarak di antara mereka.
Aluna tersenyum manis, sebuah senyum yang mengandung racun kemenangan.
"Aku ingin ikut besok ke perusahaan. Aku ingin duduk di samping Daddy dan melihat langsung kehancurannya. Aku ingin melihat wajahnya saat dia sadar bahwa 'bayi' yang dia hina inilah yang menghancurkan dunianya."
Bram tertegun sejenak, lalu ia tertawa bangga. Ia suka perubahan ini. Ia suka melihat Aluna mulai memiliki taring seperti dirinya.
"Permintaan yang sangat menggoda. Baik, besok kau akan menjadi tamuku yang paling terhormat di kantor pusat. Kita akan menonton pertunjukannya bersama-sama."
Pagi harinya, suasana di kantor pusat Bramasta Group terasa mencekam. Clara datang dengan wajah pucat, mencoba mencari simpati dari rekan kerjanya, namun ia justru disambut oleh dua petugas keamanan yang sudah menunggunya di lobi.
Ia diseret menuju ruang rapat utama. Begitu pintu terbuka, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di sana, di kursi kebesaran CEO, duduk Bramasta dengan aura yang mencekam. Dan di sampingnya, duduk Aluna dengan gaun merah yang elegan, menyesap teh dengan ketenangan seorang ratu.
"Pak Bram... saya bisa jelaskan soal kemarin..." suara Clara bergetar.
Bramasta tidak menoleh. Ia hanya menggeser sebuah dokumen pemutusan hubungan kerja di atas meja.
"Kau tidak di sini untuk bicara, Clara. Kau di sini untuk mendengarkan. Seluruh aksesmu ke sistem Bramasta Group sudah diputus. Ayahmu juga sudah setuju untuk menarikmu dari segala urusan bisnis keluarga kita karena perilaku memalukanmu pada Ibu dan Aluna."
Clara menatap Aluna dengan kebencian yang meluap. "Kau... kau menjebakku! Kau sengaja memancingku di depan Nyonya Widya!"
Aluna meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus. Ia berdiri dan berjalan mendekati Clara yang kini tertunduk lemas.
"Aku hanya menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya, Kak Clara," bisik Aluna, cukup keras untuk didengar semua orang di ruangan itu.
"Kau bilang aku pajangan yang membosankan? Mungkin benar. Tapi pajangan ini adalah satu-satunya hal yang tidak boleh kau sentuh. Sekarang, pergilah. Dan pastikan kau tidak meninggalkan jejak parfum mawar murahanmu itu di kantor Daddy-ku."
Bramasta menatap punggung Clara yang diseret keluar dengan kepuasan yang tak terlukiskan. Ia menarik Aluna kembali ke pelukannya setelah ruangan sepi.
"Puas, Sayang?"
Aluna mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Bram. "Sangat puas, Daddy."
Namun di balik senyumnya, Aluna tahu ini hanyalah awal. Ia baru saja membuktikan pada Bram bahwa ia adalah pemain yang hebat. Dan ia tahu, suatu saat nanti, kecerdikan yang sama akan ia gunakan untuk melepaskan diri dari sangkar emas Bramasta sendiri.
keluarga yg dibangun dengan pikiran dangkal dan bodoh..jeluarga terhormat tapi lawan satu aja..kalah..wkwkkwkw
....dewasa😌