Protagonis wanita secara tidak sengaja berada di tempat yang seharusnya tidak dia kunjungi, dan akhirnya diberi obat tanpa sepengetahuannya. Setelah terbangun, dia menyadari dirinya berada di sebuah kamar mewah, mengenakan gaun pengantin, dengan seorang pria yang sedang menatapnya. Dia menyadari bahwa dia telah menikah dengan seorang pria yang sangat berkuasa, namun dingin dan sombong. Meski begitu, sifat uniknya akan sepenuhnya mengubah dunianya, membangkitkan perasaan di lubuk hati terdalam pria itu serta godaan yang sulit ditolak…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatiana Márquez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
“Apa yang akan kau lakukan?”
Suara berat itu membuat Karol tersentak. Ia berbalik cepat. Pria itu bangkit dari sofa, meletakkan gelas kosong di atas meja, lalu menatapnya dengan sorot mata dingin dan angkuh—tatapan yang samar ia kenali dari ingatannya yang kabur. Jantung Karol berdegup kencang.
Ia mengamati pria di depannya. Setelan hitam rapi, kulit cokelat, tubuh berotot penuh tato, jauh lebih tinggi darinya—dan… sangat tampan. Terlalu tampan. Tipe idealnya. Tapi ia tahu, siapa pun pria ini, ia tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
“Siapa kau, sialan?” tanya Karol tajam, masih menggenggam ponsel di tangannya. Tatapannya lurus, tanpa rasa takut sedikit pun.
Black hanya menatapnya, dingin.
“Jaga mulutmu.” suaranya datar, namun penuh tekanan. “Sekarang kau milikku. Jadi jaga sopan santunmu di hadapanku.”
Karol justru tertawa kecil. Ia melempar ponselnya ke atas ranjang, lalu melangkah mendekat. Tatapannya menantang.
“Dengar, Black. Pertama, aku akan bicara sesuka hatiku. Kedua, kaulah yang membuatku dibius—jadi jelaskan ini.” Ia mengangkat tangannya, menunjukkan cincin di jarinya.
“Ketiga… aku bukan benda. Aku bukan milik siapa pun, hanya milik Tuhan. Bukan milik pria sialan sepertimu yang bahkan tak bisa menaklukkan wanita tanpa obat. Jadi… apa tujuanmu?”
Nada suaranya tegas, sedikit arogan. Ia bahkan tidak peduli dirinya hanya mengenakan lingerie dan korset.
Rahang Black mengeras.
Dalam satu gerakan cepat, ia mencengkeram leher Karol.
“Aku sudah bilang jaga mulut kotormu itu.” suaranya rendah, berbahaya. “Sekarang kau istriku. Milikku. Dan aku akan mengajarimu bagaimana menghormatiku.”
Cengkeramannya semakin kuat.
“Aku Enzo Black. Aku berkuasa. Kalau kau menghargai hidupmu… patuhi aku. Kalau tidak, aku akan menghancurkan semua yang kau cintai. Jangan pernah mencoba kabur… karena aku akan menemukanmu. Dan saat itu… aku akan membuatmu menyesal.”
Karol tercekik, tapi anehnya… ia masih bisa tersenyum tipis.
“Maaf, Black… aku tadi cuma terdistraksi.” suaranya serak namun santai. “Ada ingus di hidungmu.”
Ia bahkan menunjuk ke arah wajahnya.
Black terdiam sesaat, bingung—lalu amarahnya meledak. Ia mendorong Karol hingga jatuh ke atas ranjang.
Karol segera bangkit, masih memainkan perannya. Tapi dalam pikirannya, ia sudah memutuskan: kabur.
“Baiklah… aku mengerti, Black. Jangan marah, nanti cepat tua.” katanya lembut, seolah patuh. “Jadi sekarang aku istrimu… dan aku harus menuruti semua perintahmu, ya?”
Black menyipitkan mata, curiga dengan perubahan sikapnya.
“Bagus kalau kau mengerti. Tapi panggil aku ‘Black’ lagi, dan kau akan menyesalinya.”
Karol tersenyum tipis.
“Terserah Anda. Tapi setelah kupikir-pikir… Anda sangat tampan. Tipeku sekali.”
Ia mendekat, tangannya menyentuh punggung pria itu perlahan.
“Dan tadi… Anda memperhatikanku saat aku melepas gaun. Itu berarti Anda menyukainya… aku bisa merasakannya dari cara Anda menatapku.”
Nada suaranya berubah menggoda.
Black menatapnya tajam, mencoba membaca pikirannya.
Saat ia hendak menangkap tangan Karol, gadis itu lebih dulu bergerak. Tangannya yang lain melingkar ke leher Black. Ia berjinjit—dan tanpa peringatan, mencium bibir pria itu.
Black membeku.
Ia tidak menyangka.
Sesaat ia ingin menjauh… tapi godaan itu terlalu kuat. Ia membalas, menarik pinggang Karol, memperdalam ciuman itu.
Karol memanfaatkannya.
Tangannya bergerak cepat ke pinggang Black—mengambil pistolnya.
Dalam hitungan detik—
Buk!
Ia memukul kepala Black dengan gagang senjata.
Pria itu limbung.
Buk!
Pukulan kedua membuatnya jatuh ke lantai.
Tanpa ragu, Karol meraih veil pengantin dan mengikat tangan pria itu. Black mencoba melawan, masih setengah sadar, sedikit darah mengalir dari kepalanya.
Kini posisi berbalik.
Black terikat di lantai.
Dan Karol… menodongkan pistol ke arahnya.
“Kau pikir aku wanita bodoh yang akan tunduk begitu saja?” suaranya dingin. “Kau pikir aku akan jadi boneka dalam permainan gilamu? Salah besar, Black.”
Ia menatapnya tajam.
“Aku tidak peduli siapa kau. Aku akan pergi dari sini… dan setelah itu, kau akan menerima surat cerai dari pengacaraku.”
TOK! TOK!
Pintu diketuk.
Karol tersenyum sinis.
Black menatapnya dengan amarah membara.
“Coba saja kau keluar dari sini. Tempat ini penuh anak buahku. Kau tidak akan berhasil. Dan kalaupun berhasil… aku akan menemukanmu. Aku akan membuatmu membayar untuk ini. Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan.”
TOK! TOK!
Ketukan terdengar lagi.
Karol segera mengambil dasi dan membungkam mulut Black.
“Mmmph—!”
“Bos? Anda baik-baik saja? Saya mendengar suara.” suara pria terdengar dari luar.
Karol menarik napas, menenangkan diri. Ia membuka pintu sedikit, cukup untuk memperlihatkan dirinya.
Pria itu menatapnya dari ujung kaki sampai kepala.
“Di mana Tuan Black?” tanyanya, mencoba mengintip ke dalam.
Karol tersenyum santai.
“Dia di tempat tidur. Kalau Anda dengar suara… itu karena ini malam pertama kami. Suasananya panas.”
Ia membuka pintu sedikit lebih lebar.
“Tapi kalau Anda mau ikut… kita bisa bertiga. Hanya saja, jangan salahkan saya kalau suami saya meledakkan kepala Anda. Silakan masuk… kalau berani.”
Pria itu langsung kaku.
“T-tidak, Nyonya. Saya hanya memastikan semuanya baik-baik saja. Permisi.”
“Bagus. Dan lain kali… jangan ganggu kami. Kami sedang sangat menikmati pernikahan ini.”
“Baik, Nyonya Black.”
Pria itu pergi.
Karol melambaikan tangan manis, lalu menutup pintu.
Begitu terkunci, ia menghela napas panjang.
Lalu menoleh kembali ke pria yang terikat di lantai.
Ia melangkah mendekat, pistol masih di tangannya.
Senyumnya perlahan berubah licik.
“Jadi… apa yang harus kulakukan denganmu, Black-ku yang menyebalkan…?”