NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penugasan Baru

Fajar baru saja menyingsing, menyisipkan garis-garis cahaya pucat melalui celah gorden di ruang kerja Zefan Ramiro. Ruangan itu masih beraroma kopi basi dan sisa ketegangan semalam. Zefan tidak tidur. Ia masih duduk di kursi kebesarannya, namun keangkuhan sang CEO telah luruh, digantikan oleh gurat kelelahan yang mendalam. Di hadapannya, Denzel berdiri tegak, seolah-olah jam tidur yang terlewatkan sama sekali tidak memengaruhi kedisiplinannya.

"Denzel," Zefan memulai, suaranya parau. Ia tidak menatap asistennya, melainkan menatap ke luar jendela ke arah taman yang mulai terlihat jelas. "Kau tahu posisi kita sekarang. Kita sedang berada di tepi jurang, dan Jeff Chevalier adalah satu-satunya tali yang bisa menahan kita agar tidak jatuh."

Denzel tidak menyahut. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini, dan setiap kata yang akan keluar dari mulut Zefan terasa seperti dentuman palu yang siap menghancurkan sisa-sisa harapannya.

"Mulai hari ini," Zefan berbalik, matanya yang memerah menatap Denzel dengan intensitas yang menyakitkan, "tugasmu bukan lagi sekadar asisten pribadiku. Aku memberikanmu penugasan baru. Jaga Leah dua puluh empat jam penuh. Pastikan dia tidak pernah lepas dari pengawasanmu, baik di kampus, di rumah, maupun di perjalanan."

Denzel mengangguk kecil. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan memastikan keselamatan Nona Leah."

"Bukan hanya keselamatannya, Denzel!" Zefan memotong dengan tajam, suaranya sedikit meninggi karena frustrasi. "Kau harus memastikan dia... kooperatif. Jeff akan lebih sering datang ke sini. Dia akan menjemput Leah di kampus, dia akan membawanya keluar makan malam, dan mungkin dia akan sering berada di dekat Leah lebih dari biasanya. Tugasmu adalah memfasilitasi itu. Jangan biarkan Leah menolak Jeff dengan cara yang kasar. Jangan biarkan Leah memicu emosi Jeff."

Denzel merasakan ulu hatinya seperti diremas. "Tuan, Anda meminta saya untuk membiarkan Tuan Chevalier melakukan apa pun yang dia mau pada Nona Leah?"

Zefan terdiam sejenak, lalu ia mendesah berat, sebuah suara yang sarat akan rasa bersalah. "Jeff berjanji padaku dia tidak akan melewati batas selama Leah bersikap baik. Dia hanya ingin 'mengenal' Leah lebih jauh. Dan dengan kondisi perusahaan yang bergantung pada tanda tangannya di kontrak pendanaan minggu depan, kita tidak punya kemewahan untuk menolak obsesinya."

Zefan melangkah mendekat, meletakkan tangannya di bahu Denzel. "Aku mempercayaimu, Denzel. Hanya kau yang bisa melakukan ini. Kau harus menjadi jembatan antara keinginan Jeff dan kenyamanan Leah. Jika Leah mulai memberontak, tenangkan dia. Jika Jeff mulai terlalu agresif, kau harus ada di sana sebagai penengah, tapi ingat... jangan pernah membuat Jeff merasa kau menghalangi jalannya."

Denzel menelan ludah. Perintah ini adalah definisi dari neraka bagi jiwanya. Ia diminta menjadi pengawal bagi wanita yang ia cintai, sekaligus menjadi fasilitator bagi pria lain yang ingin memilikinya. Ia seperti penjaga gerbang yang dipaksa membukakan pintu untuk serigala, sembari memastikan domba di dalamnya tetap merasa tenang.

"Ini adalah perintah resmi, Denzel," lanjut Zefan, suaranya kembali menjadi dingin dan otoriter. "Stabilitas perusahaan dan masa depan Leah ada di tanganmu sekarang. Kau mengerti?"

"Mengerti, Tuan," jawab Denzel, suaranya datar namun bergetar di ujung kalimat.

Setelah keluar dari ruang kerja Zefan, Denzel berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Ia menatap cermin di kamar mandinya. Wajahnya tetap tenang, sebuah topeng profesionalisme yang telah ia asah selama bertahun-tahun. Namun di balik mata itu, ada badai yang sedang mengamuk. Ia merasa seperti pengkhianat. Ia merasa seperti pengecut yang menjual harga dirinya demi sebuah loyalitas yang kini terasa beracun.

Ia segera bersiap. Jam tujuh pagi. Waktunya menjemput Leah untuk berangkat ke kampus.

Leah sudah menunggu di lobi. Ia mengenakan blus putih sederhana dan rok denim, namun matanya yang biasanya berbinar kini tampak layu. Ia melihat Denzel mendekat, dan untuk pertama kalinya, ada keraguan di wajahnya.

"Kita berangkat sekarang, Leah?" tanya Denzel, berusaha menjaga nada suaranya tetap seperti biasa.

Leah menatap Denzel lama, seolah sedang mencari kejujuran di wajah pria itu. "Aku mendengar semuanya semalam, Denzel. Aku mendengar pembicaraanmu dengan Kak Zefan di ruang kerja."

Langkah Denzel terhenti sesaat. Ia tidak menyangka Leah akan seberani itu mengakuinya. "Leah, Tuan Zefan hanya ingin yang terbaik untukmu."

"Terbaik untukku atau terbaik untuk perusahaannya?" Leah bertanya dengan nada getir. Ia melangkah mendekat ke arah Denzel, hingga ia bisa mencium aroma sabun dari pria itu. "Dan kau... kau setuju? Kau setuju untuk menjagaku agar aku 'patuh' pada Jeff? Kau akan menjadi pengawas yang memastikan aku tidak menyinggung perasaan monster itu?"

Denzel memejamkan mata sejenak. Setiap kata Leah adalah belati yang menembus jantungnya. "Tugas saya adalah menjalankan perintah, Leah. Dan perintah Tuan Zefan adalah memastikan stabilitas keluarga ini tetap terjaga."

"Kau hanya sebuah mesin, bukan?" Leah tertawa pahit, air mata mulai menggenang di matanya. "Kau tidak punya perasaan. Kau hanya peduli pada tugasmu. Aku pikir... aku pikir kau berbeda dari Jeff. Tapi ternyata kau sama saja. Kalian berdua memperlakukanku seperti barang dagangan yang harus dijaga agar harganya tetap tinggi."

Leah berjalan melewati Denzel dengan kasar menuju mobil. Denzel tetap diam, ia membukakan pintu untuk Leah, namun Leah membanting pintu itu sendiri dari dalam.

Sepanjang perjalanan menuju kampus, tidak ada kata-kata yang terucap. Udara di dalam mobil terasa begitu berat, sarat dengan kekecewaan dan kemarahan yang tertahan. Denzel mencengkeram setir dengan sangat kuat hingga jari-jarinya memutih. Ia ingin berteriak bahwa ia sangat tersiksa, bahwa ia ingin membawa Leah lari dari semua kekacauan ini, tapi ia tahu itu mustahil. Ia tidak punya kekuatan apa pun selain pengabdian ini.

Sesampainya di kampus, Denzel memarkirkan mobil di tempat yang strategis. Ia turun dan membukakan pintu untuk Leah. Namun, saat Leah keluar, Jeff Chevalier sudah berdiri di sana, di dekat pintu masuk gedung fakultas, seolah ia sudah mengetahui jadwal kedatangan mereka dengan presisi detik yang tepat.

Jeff tersenyum puas. Ia melihat Leah, lalu beralih menatap Denzel dengan tatapan penuh kemenangan yang sangat menyakitkan.

"Terima kasih sudah mengantarnya, Denzel," ucap Jeff dengan nada merendahkan yang kental. "Mulai sekarang, kau bisa menunggu di mobil. Aku yang akan menemani Leah ke kelas dan memastikan dia tidak terganggu oleh siapa pun."

Leah menatap Denzel, berharap asisten itu akan berkata sesuatu—mungkin sebuah penolakan atau setidaknya sebuah keberatan. Namun, Denzel hanya membungkuk hormat kepada Jeff.

"Tentu, Tuan Chevalier. Saya akan berada di sekitar sini jika Anda atau Nona Leah membutuhkan sesuatu," ucap Denzel tenang.

Leah merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Ia berbalik dan berjalan menuju Jeff tanpa menoleh lagi pada Denzel. Jeff segera merangkul bahu Leah dengan posesif, sebuah gerakan yang sengaja ia tunjukkan di depan mata Denzel.

Denzel tetap berdiri di sana, mematung di samping mobil, memperhatikan bagaimana Jeff membawa Leah masuk ke dalam gedung. Ia melihat Leah yang sesekali meronta pelan, namun Jeff justru mempererat rangkulannya.

Denzel menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pagi yang terasa seperti debu di paru-parunya. Penugasan baru ini bukan sekadar menjaga Leah dua puluh empat jam penuh. Ini adalah siksaan dua puluh empat jam penuh. Ia berada di antara surga—karena ia bisa terus berada di dekat Leah—dan neraka—karena ia harus menyaksikan pria lain merusak senyuman wanita yang ia puja.

Ia kembali masuk ke dalam mobil, menyandarkan kepalanya pada kemudi. Di dalam kesunyian kendaraan itu, Denzel Shaquille membiarkan setetes air mata jatuh di atas tangannya yang terkepal. Ia akan menjaga Leah, ya. Ia akan memastikan Leah aman. Namun ia juga menyadari bahwa dengan menjalankan tugas ini, ia sedang membangun makam untuk perasaannya sendiri.

Penugasan baru ini adalah awal dari kehancuran Denzel, dan ia menerimanya dengan penuh kesadaran, demi sebuah nama: Leah Ramiro.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!