Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seorang putri
Waktu seolah berputar dengan ritme yang lebih lembut setelah badai morning sickness yang hebat itu mereda. Memasuki trimester kedua, wajah Alana kembali memancarkan rona kehidupan. Rasa mual yang dulunya menyiksa kini berganti menjadi energi yang meluap-luap. Brixton pun, yang sempat ikut-ikutan merasakan mual karena ikatan batin mereka, kini tampak lebih bugar, meski ia tetap tidak melepaskan kebiasaan barunya: memanjakan Alana layaknya seorang ratu setiap detiknya.
Sesuai janji Brixton untuk menjadikan kehamilan ini sebagai perayaan kebahagiaan yang tak terputus, ia memutuskan untuk mengadakan sebuah pesta gender reveal yang megah di halaman belakang mansion Vance. Brixton ingin seluruh dunia—atau setidaknya keluarga besar dan sahabat terdekat mereka—menjadi saksi betapa berharganya nyawa kecil yang sedang tumbuh di dalam rahim Alana.
Sore itu, taman mansion Vance disulap menjadi sebuah negeri ajaib yang didominasi oleh warna-warna netral yang elegan; putih, emas, dan krem. Ratusan balon udara berukuran kecil tampak mengambang di permukaan kolam renang, dan sebuah tenda transparan berdiri megah di bawah pohon-pohon besar yang dihiasi lampu kristal.
Alana tampil memukau dengan gaun panjang berbahan sutra berwarna champagne yang memeluk lekuk tubuhnya yang mulai terlihat membuncit dengan cantik. Di sampingnya, Brixton tampak sangat gagah dengan kemeja putih yang dibuka kancing atasnya, lengannya digulung hingga siku, memberikan kesan santai namun tetap berwibawa.
"Kau siap mengetahui siapa yang ada di dalam sana?" bisik Brixton sambil merangkul pinggang Alana saat mereka menyambut tamu-tamu.
"Siapa pun dia, laki-laki atau perempuan, aku sudah sangat mencintainya," jawab Alana sambil mengusap perutnya. "Tapi aku penasaran, apakah Leo akan memiliki teman bermain bola atau adik perempuan yang cantik."
Leo, yang kini sudah sangat lancar berjalan dan bahkan mulai bisa berlari kecil, tampak menggemaskan dengan setelan celana pendek dan suspender. Ia berlarian di antara kaki tamu-tamu, sesekali berteriak "Papa!" atau "Mama!" yang memancing tawa haru dari para undangan.
Acara puncak pun tiba. Di tengah taman, terdapat sebuah kotak raksasa berwarna putih bersih dengan pita emas besar di puncaknya. Di dalam kotak itulah rahasia jenis kelamin bayi mereka tersimpan. Brixton telah mengatur agar hanya dokter kandungan mereka yang mengetahui hasilnya dan menyiapkannya di dalam kotak tersebut.
"Hadirin sekalian," Brixton mengambil mikrofon, suaranya terdengar jernih dan penuh emosi. "Setahun yang lalu, saya mungkin tidak akan percaya jika seseorang mengatakan bahwa saya akan berdiri di sini, dikelilingi oleh cinta, menanti anak kedua. Kehidupan telah memberikan saya pelajaran berharga melalui istri saya yang luar biasa. Dan hari ini, kami ingin berbagi kebahagiaan ini dengan kalian semua."
Brixton kemudian menunduk, mengulurkan tangannya pada Leo. "Leo, jagoan Papa, kemari. Bantu Papa dan Mama membuka hadiah untukmu."
Leo mendekat dengan langkah-langkah kecilnya yang mantap. Brixton menggendong Leo, sementara Alana memegang ujung pita yang lain. Para tamu mulai melakukan hitung mundur.
"Tiga... Dua... Satu!"
Pita ditarik, dan penutup kotak itu terbuka. Dari dalamnya, ratusan balon kecil berwarna merah jambu dan taburan konfeti berwarna rose-gold terbang ke angkasa. Bersamaan dengan itu, kembang api siang hari meledak di langit, meninggalkan jejak asap berwarna pink yang indah.
"Perempuan!" seru Alana dengan suara tercekat karena haru. "Brixton, kita akan punya anak perempuan!"
Alana menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagia mengalir deras di pipinya. Ia membayangkan seorang gadis kecil dengan rambut merah jambu sepertinya, yang akan ia dandani dengan gaun-gaun cantik.
Brixton menurunkan Leo sejenak, lalu ia memeluk Alana dengan sangat erat. Tubuh tegapnya bergetar. "Seorang putri... aku akan memiliki seorang putri yang cantik sepertimu, Istriku."
Ibu Alana dan orang tua Brixton segera menghambur memeluk mereka. Suasana menjadi sangat emosional. Perselisihan masa lalu, kekhawatiran tentang kesehatan, semuanya seolah menguap di bawah hujan konfeti pink tersebut.
Pesta berlanjut dengan kemeriahan yang luar biasa. Namun, Brixton belum selesai dengan kejutannya. Setelah acara pengumuman jenis kelamin, ia mengajak Alana menuju ke area taman yang lebih privat, diikuti oleh para tamu dari kejauhan.
Di sana, sudah tersedia sebuah layar proyektor besar. Lampu taman dipadamkan sejenak. Sebuah video mulai diputar—bukan video dokumenter biasa, melainkan rekaman-rekaman tersembunyi yang diambil Brixton selama masa morning sickness Alana.
Video itu menunjukkan Brixton yang sedang belajar memasak di dapur sambil sesekali muntah karena mual, Brixton yang sedang menciumi perut Alana saat istrinya tertidur, dan momen-momen saat Brixton diam-diam menatap Alana dengan tatapan penuh pemujaan. Di akhir video, muncul tulisan: “Untuk Alana, Istriku tercinta. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menjadi pria yang layak bagimu. Aku tidak hanya mencintaimu, aku menghormatimu lebih dari apa pun.”
Alana menangis tersedu-sedu melihat betapa besarnya usaha Brixton untuk berubah. Namun, kejutan belum berakhir.
Brixton menjentikkan jarinya, dan tiba-tiba, sebuah tirai besar di ujung taman terbuka, menyingkap sebuah bangunan kaca indah yang baru saja selesai dibangun. Itu adalah rumah kaca yang berisi ribuan bunga dari seluruh dunia—persis seperti yang pernah dijanjikan Brixton saat ulang tahun pernikahan mereka.
"Ini adalah The Alana Conservatory," ucap Brixton sambil menggandeng tangan Alana masuk ke dalamnya. "Tempat di mana kau bisa menanam mimpi-mimpimu, tempat di mana putri kita nanti bisa bermain di antara bunga-bunga. Ini milikmu, Istriku."
Alana tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia berbalik dan memeluk leher Brixton, menangis bahagia di dada suaminya. "Kau melakukan semua ini... kau terlalu baik, Suamiku."
Mendengar kata "Suamiku" keluar dari bibir Alana dengan nada yang begitu tulus, pertahanan Brixton runtuh. Pria yang dikenal sebagai penguasa yang keras kepala itu ikut menangis. Air mata kebahagiaan membasahi pipinya. Ia merasa sangat rendah hati di hadapan cinta istrinya.
Brixton menangkup wajah Alana dengan kedua tangannya, menghapus air mata di pipi Alana dengan ibu jarinya, sementara air matanya sendiri masih mengalir. "Aku bukan pria yang sempurna, Istriku. Tapi aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk memastikan kau adalah wanita paling bahagia di dunia."
Di bawah cahaya lampu kristal dan dikelilingi oleh wangi bunga yang merebak, Brixton menundukkan kepalanya dan mencium bibir Alana. Itu adalah ciuman yang sangat lama, sangat dalam, dan penuh dengan janji setia. Bukan ciuman gairah semata, melainkan penyatuan dua jiwa yang telah melewati neraka untuk mencapai surga kecil mereka sendiri. Para tamu di kejauhan bersorak dan bertepuk tangan, namun bagi Brixton dan Alana, dunia seolah hanya milik mereka berdua.
Setelah emosi yang meluap-luap itu, mereka kembali bergabung dengan para tamu. Namun, ada perubahan yang sangat mencolok dalam cara mereka berkomunikasi. Sebutan "Brixton" dan "Alana" yang biasanya digunakan, kini berganti menjadi "Suamiku" dan "Istriku" dalam setiap percakapan.
"Istriku, kau harus duduk, kakimu pasti lelah," ucap Brixton sambil menarikkan kursi untuk Alana.
"Terima kasih, Suamiku. Bisakah kau ambilkan air mineral untukku?" jawab Alana dengan senyum manis.
Panggilan itu bukan sekadar label, melainkan bentuk pengakuan bahwa mereka telah sepenuhnya menerima peran satu sama lain dengan penuh kebanggaan. Tidak ada lagi rasa malu atau canggung. Mereka adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Sepanjang malam, Brixton bertindak sebagai pelayan pribadi bagi Alana. Ia mengambilkan makanan, memastikan suhu ruangan di sekitar Alana pas, dan bahkan sesekali memijat punggung istrinya secara halus di depan para tamu tanpa rasa malu.
"Lihatlah putra kita, Istriku," bisik Brixton sambil menunjuk ke arah Leo yang sedang disuapi es krim oleh kakeknya. "Dia tampak sangat bahagia."
"Iya, Suamiku. Dan bayangkan beberapa bulan lagi, akan ada seorang gadis kecil yang akan mengejarmu dan memanggilmu 'Papa'," goda Alana.
Brixton tertawa, sebuah tawa yang sangat ringan dan lepas. "Aku akan menjadi ayah yang paling protektif di dunia. Siapa pun yang ingin mendekati putriku nantinya, harus berhadapan dengan suamimu ini dulu."
Malam semakin larut, dan para tamu mulai pulang satu per satu. Mansion Vance kembali tenang, namun kehangatan pesta tadi masih terasa sangat kental. Brixton membawa Alana naik ke lantai atas, menggendongnya seperti biasa karena ia tidak ingin istrinya kelelahan menaiki tangga.
Sesampainya di kamar, Brixton tidak langsung tidur. Ia membantu Alana melepaskan gaunnya yang berat dan menggantinya dengan baju tidur yang lembut.
"Suamiku, kau benar-benar tidak lelah setelah seharian ini?" tanya Alana sambil berbaring di tempat tidur.
Brixton menggeleng, ia naik ke tempat tidur dan menarik Alana ke dalam pelukannya. "Melihatmu tersenyum dan menangis bahagia tadi adalah energi bagiku. Aku merasa seolah aku bisa memindahkan gunung jika kau memintanya."
Ia mencium puncak kepala Alana, lalu turun mencium perut istrinya yang kini menjadi rumah bagi putri kecil mereka. "Terima kasih untuk hari ini, Istriku. Terima kasih untuk putri kecil kita. Aku mencintaimu lebih dari kata-kata yang bisa kuucapkan."
"Aku juga mencintaimu, Suamiku. Tidurlah, kau sudah bekerja sangat keras hari ini," bisik Alana sambil mengelus rambut Brixton.
Malam itu, di bawah rembulan Inggris yang bersinar melalui celah gorden, keluarga Vance tertidur dalam kedamaian yang sempurna. Persimpangan air mata yang dulu sering mereka lalui kini telah berganti menjadi jalan setapak yang penuh dengan kelopak bunga. Sumpah di atas luka itu kini telah terkubur sangat dalam, digantikan oleh ikatan pernikahan yang suci, di mana sebutan "Suamiku" dan "Istriku" menjadi mantra paling indah yang akan mereka ucapkan setiap harinya hingga maut memisahkan.
Cinta mereka bukan lagi sekadar romansa dalam buku, melainkan perjuangan nyata yang dimenangkan oleh ketulusan. Dan di dalam rahim Alana, kehidupan baru yang membawa warna merah jambu sedang bersiap untuk menambah melodi kebahagiaan dalam rumah tangga mereka yang kini telah utuh sepenuhnya.