Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
POV Aruna
Begitu pintu lift berganti angka dari lantai direksi menuju ke bawah, aku langsung mengembuskan napas lega yang tertahan sejak tadi. Rasanya seperti baru saja lolos dari kurungan bawah tanah.
Ting!
Pintu lift berdenting dan terbuka di lantai 5. Di sana, sudah berdiri Fika, Mbak Dian, dan beberapa anak divisi keuangan lainnya yang juga bersiap-siap mau turun untuk istirahat makan siang.
"Aruna!" seru Mbak Dian langsung heboh begitu melihatku ada di dalam lift.
"Ya ampun, Na, akhirnya lo turun juga! Gue pikir lo udah jadi pajangan di ruangan atas," canda Fika sambil buru-buru masuk dan langsung mengambil posisi berdiri di sebelahku. Aku cuma bisa tertawa lebar, merasa sangat senang karena akhirnya bisa berkumpul lagi dengan sekutu gosipku.
Sampai di kantin bawah, suasana sudah sangat ramai. Aku langsung memesan soto ayam, lalu kami bertiga berjalan menuju meja pojok yang biasa kami tempati sejak satu bulan lalu. Setelah mangkuk soto dan es teh manis kami tersaji di meja, barulah obrolan yang sesungguhnya dimulai.
Fika mencondongkan badannya ke depan dengan raut wajah misterius. "Mbak Dian, lo harus tahu. Tadi pas gue naik ke ruangan Pak Adrian buat nganterin dokumen mingguan, ada kejadian aneh yang belum pernah terjadi di Aurora Corporation."
Mbak Dian yang baru saja mau menyuap baksonya langsung meletakkan sendok. Jiwa keponya seketika meronta-ronta. "Hah? Apaan, Fik? Jangan bikin penasaran deh! Kejadian aneh apa?"
"Tadi... si Aruna ini, kerjanya bukan di meja sekretaris yang di luar," bisik Fika dramatis, matanya melirik ke kanan dan ke kiri. "Dia kerja di dalam ruangan Pak Adrian. Duduk di sofanya, dikelilingi map-map gitu!"
"Hah?! Serius lo, Fik?!" Mbak Dian memekik tertahan, matanya membelalak sempurna menatapku dan Fika bergantian. "Na, lo beneran kerja di dalem? Di ruangan pribadi Pak Adrian?"
Aku yang sedang mengunyah bihun soto hampir saja tersedak. Aku menelan makananku buru-buru lalu mengibas-ngibaskan tangan. "Aduh, Mbak, jangan lebay deh. Iya, emang di dalem. Tapi itu karena aku banyak gak ngertinya. Daripada aku bolak-balik ngetok pintu tiap lima menit cuma buat nanya istilah ribet kan, jadi Pak Adrian nyuruh aku duduk di sofa aja biar gampang."
"Masalahnya bukan itu, Aruna sayang!" Mbak Dian gemas sendiri sampai menepuk meja. "Gimana gak gempar coba? Lo tuh gak tahu ya, selama perusahaan ini berdiri, sesibuk apapun kerjaan kantor dan sebanyak apapun dokumen yang harus dikoreksi, gak pernah ada SATUPUN sekretaris yang dibolehin kerja di dalam ruangan pribadi dia barengan! Mantan sekretarisnya dulu yang pernah kerja bertahun-tahun aja gak berani, aturan Pak Adrian tuh ketat banget soal privasi ruangannya."
Aku tercengang, sendok sotoku menggantung di udara. "Masa, sih, Mbak?"
"Iya, Na! Beneran!" sahut Fika mengompori. "Makanya tadi gue syok banget pas masuk. Kirain Lo kemana karena gak ada di meja lo, taunya lagi di dalem.”
Ingatanku langsung terlempar ke momen sebelum istirahat tadi. Benar juga. Pak Gavin tadi sempat mematung di pintu, ekspresinya heran, lalu dia tersenyum aneh ke arahku. Aku pikir Pak Gavin cuma heran melihat anak baru yang payah, tapi ternyata karena ada aturan mutlak itu?
Mbak Dian bersedekap, bersandar di kursinya sambil menatapku dengan senyuman penuh selidik yang membuat bulu kudukku agak merinding.
"Na, coba lo pikir-pikir deh," ujar Mbak Dian, nadanya mendadak berubah seperti detektif ulung. "Selama sebulan ini, dari sekian banyak anak baru atau anak magang, kenapa cuma lo yang sering dicari-cari kesalahannya sama Pak Adrian? Terus pas hari pertama lo malah dikira sekertaris barunya dan narik lo ikut rapat penting, bukannya langsung mecat lo di tempat pas tahu lo bukan sekertarisnya? Dan sekarang, dalam waktu singkat lo ditarik jadi asisten pribadinya, bahkan ditaruh di dalam ruangannya sendiri?"
"Ya... karena catatan fisik aku rapi?" jawabku, mulai merasa tidak enak dengan arah pembicaraan ini.
"Duh, Na, polos banget sih!" Mbak Dian menggeleng-gelengkan kepalanya gemas. "Gue dukung teori gue seratus persen. Selama ini si Bos Sableng itu sering ngerjain lo, nyari gara-gara sama lo, itu karena dia tertarik sama lo! Atau bisa aja dia sebenernya suka, tapi pakai cara lain yang menyebalkan biar gak kentara! Cowok gengsian kayak dia mah mana mau kelihatan menye-menye."
Uhuk!
Kali ini aku beneran tersedak kuah soto. Wajahku mendadak terasa panas, entah karena pedasnya sambal soto atau karena ucapan Mbak Dian yang terlalu frontal.
Pak Adrian suka sama aku? Bos diktator, perfeksionis, dan bermulut tajam itu tertarik pada staf junior lulusan SMA sepertiku?
"Nggak mungkin, Mbak! Ngaco ah!" bantahku cepat sambil buru-buru minum es teh manisku sampai tandas setengah. Namun, entah kenapa, dadaku mendadak berdegup sedikit lebih kencang, dan bayangan wajah Adrian yang berantakan dengan kemeja terbuka satu kancing pagi tadi mendadak melintas di kepalaku. Sial, kenapa aku jadi mendadak kepikiran begini?!
"Aduh, udah jam satu kurang!" seruku panik setelah melirik jam tangan.
Aku langsung meletakkan sendok, buru-buru meneguk sisa es teh manisku sampai habis. Ucapan gila Mbak Dian sukses membuat makan siangku tidak tenang, tapi ketakutanku pada ancaman Adrian jauh lebih besar. Bos Sableng itu kan sudah memperingatkan agar aku tidak telat karena ada rapat jam satu nanti.
"Aku duluan ya, Mbak, Fik! Bisa digantung aku kalau telat," pamitku sambil menyambar tote bag kecilku.
Aku setengah berlari meninggalkan kantin menuju deretan lift. Beruntung, salah satu lift baru saja berdenting terbuka. Aku langsung melangkah maju dengan terburu-buru, namun langkahku seketika mendadak kaku di ambang pintu lift.
Di dalam lift yang luas itu, sudah ada Adrian dan Gavin. Mereka tampaknya baru kembali dari luar kantor.
Melihat dua bos besar itu ada di dalam, refleks tubuhku mendadak ciut. Aku malah berdiri diam membeku di depan pintu lift seperti orang bodoh, ragu apakah harus masuk atau menunggu lift berikutnya saja demi keselamatan jantungku.
Adrian yang berdiri di tengah lift menatapku datar. "Masuk, Aruna. Jangan membuang waktu menghalangi pintu."
"E-eh, iya, Pak."
Aku buru-buru melangkah masuk dengan kepala menunduk canggung. Karena posisi di dalam lift hanya ada kami bertiga, aku sengaja mengambil posisi berdiri di belakang punggung Adrian, mencari tempat aman agar tidak perlu berkontak mata langsung dengannya. Dari posisi ini, aku bisa mencium samar aroma parfum maskulinnya yang berkelas, bercampur dengan aroma kopi hitam yang tipis.
Pintu lift menutup, bergerak pelan naik ke atas. Keheningan sempat merayap beberapa detik sebelum akhirnya Gavin yang berdiri di sebelah Adrian tiba-tiba berbalik menghadapku.
"Aruna," panggil Gavin santai, memecah kesunyian. "Gue penasaran deh. Lo... sekarang sudah punya pacar belum, sih?"
Deg.
Aku mendadak tersentak. Pandanganku refleks tertuju pada tengkuk Adrian yang berada tepat di depanku. Punggung kokoh itu tampak sedikit menegang mendengar pertanyaan Gavin, tapi Adrian tidak berbalik.
Aku berdehem canggung, mencoba menetralkan suaraku yang mendadak serak. "Emm... emang kenapa ya, Pak Gavin?"
Belum sempat Gavin menjawab, suara berat dan dingin milik Adrian tiba-tiba menimpali, memotong jalur pembicaraan kami dengan ketegasan mutlak.
"Gavin, jangan menanyakan hal pribadi yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan," ujar Adrian tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Nadanya datar, tapi terdengar sangat mengintimidasi. "Lagipula, kamu sudah punya istri, jadi jangan coba-coba menggoda perempuan lain."
Uhuk! Aku hampir tersedak ludah sendiri.
Suasana di dalam lift seketika berubah menjadi luar biasa canggung dan tegang. Aku melirik Gavin lewat sudut mata, dan Manajer Operasional itu langsung bungkam dengan wajah yang campur aduk antara kaget dan salah tingkah karena baru saja disemprot di depan staf junior.
Aku sendiri mendadak merasa sangat kikuk. Di satu sisi, aku baru tahu kalau Pak Gavin yang ramah ini ternyata sudah punya istri, tapi sangat wajar gak sih kalau dilihat dari segi karir mana mungkin belum menikah kan?
Di sisi lain, aura dingin yang dipancarkan Adrian dari punggungnya benar-benar membuatku merinding. Kenapa juga Pak Adrian harus sewot sampai membawa-bawa istri Gavin hanya karena pertanyaan sekasual itu? Apa dia memang sekaku itu kalau menyangkut profesionalitas kerja, atau... ah, ingatan tentang ucapan Mbak Dian di kantin tadi mendadak berputar lagi di kepalaku, membuat pipiku terasa agak panas.
Ting!
Beruntung, penderitaanku berakhir saat pintu lift berdenting terbuka di lantai direksi.
Adrian melangkah keluar terlebih dahulu dengan gaya angkuhnya yang biasa. Namun, tepat sebelum langkahnya menjauh, dia menghentikan kakinya sejenak dan menoleh sedikit ke arahku dengan tatapan tajam.
"Aruna, segera siapkan semua dokumen untuk rapat operasional nanti, dan pastikan jangan ada satupun berkas yang tertinggal sebelum kita ke ruang rapat," perintahnya tegas, langsung mengembalikan atmosfer ke mode kerja rodi.
"B-baik, Pak," jawabku buru-buru, langsung melesat menuju mejaku demi menghindari ketegangan sisa di antara mereka berdua. Hidupku rasanya benar-benar makin rumit sejak jadi sekretaris pria itu.