Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.
Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: SEMBILU DI BALIK SENYUM LUGU
SEMBILU DI BALIK SENYUM LUGU
Pagi di kediaman Pratama selalu dimulai dengan ritual yang sama: kesempurnaan yang dipaksakan.
Amira berdiri di depan kompor gas tanam merk Italia yang mengkilap, tangannya sibuk membolak-balik dadar gulung isi sayuran. Aroma minyak wijen dan gurihnya bawang putih memenuhi dapur berkonsep open space yang didominasi warna marmer putih itu. Amira tampak anggun meski hanya mengenakan kemeja katun oversized dan celana kain. Rambut hitamnya dicepol asal, menyisakan beberapa anak rambut yang leher jenjangnya.
Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar. Di ruang makan yang hanya dibatasi kitchen island, suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi ketenangan Amira.
"Nasinya terlalu lembek, Amira. Sudah berapa kali Ibu bilang, Aris itu sukanya nasi yang sedikit pera. Kamu ini sudah tiga tahun jadi istrinya, masa hal sepele begini saja tidak hafal-hafal?"
Suara itu milik Ibu Ratna. Mertua Amira yang duduk dengan punggung tegak, mengenakan setelan daster satin premium. Matanya yang tajam di balik kacamata progresifnya menyapu meja makan seperti detektif mencari kesalahan.
Amira menarik napas panjang, menelan bulat-bulat rasa sesak yang mulai naik ke tenggorokan. "Maaf, Bu. Tadi Amira coba pakai beras baru kiriman Ibu kemarin, mungkin takaran airnya harus dikurangi sedikit lagi."
"Alasan saja! Berasnya yang salah, atau memang kamu yang tidak fokus?" Ibu Ratna meletakkan sendoknya dengan suara thud yang keras. "Bagaimana mau fokus mengurus anak nanti kalau mengurus nasi saja tidak becus? Eh, lupa... anak saja belum punya, ya?"
Kalimat terakhir itu seperti sembilu yang menyayat tepat di ulu hati Amira. Pernikahan tiga tahun tanpa tangisan bayi adalah lubang hitam dalam hidupnya, dan mertuanya tak pernah absen menaburkan garam di atas luka itu.
"Ibu, sudahlah. Masih pagi," suara berat Aris akhirnya terdengar. Aris duduk di kursi utama, matanya terpaku pada layar tablet yang menampilkan grafik saham. Wajahnya tampan, namun dingin. Tidak ada sentuhan di tangan Amira saat sang istri meletakkan piring, tidak ada kecupan di kening sebagai sapaan pagi.
"Aris, Ibu ini bicara demi kebaikan kamu! Istri itu cermin suami. Kalau di rumah saja dia loyo begini, bagaimana dia bisa mendukung karier kamu?" Ibu Ratna beralih menatap anaknya, nadanya berubah menjadi penuh drama. "Lihat sepupunya Amira, si Lista itu. Kemarin dia datang ke rumah Ibu, sopan sekali. Katanya dia baru lulus sarjana administrasi dengan nilai terbaik. Anak itu kelihatan sangat cekatan, tidak seperti Amira yang gerakannya lambat."
Tepat saat nama itu disebut, bel pintu depan berbunyi.
"Nah, panjang umur! Itu pasti dia," seru Ibu Ratna dengan wajah yang mendadak cerah, kontras dengan wajah muramnya saat menatap Amira tadi.
Amira bergegas menuju pintu. Saat daun pintu jati itu terbuka, berdiri seorang gadis dengan wajah yang tampak sangat polos. Lista mengenakan kemeja putih dengan kerah bulat yang dikancing rapat hingga ke leher, dipadukan dengan rok plisket berwarna pastel. Rambutnya hitam lurus sebahu, matanya yang besar tampak jernih di balik kacamata bulat.
"Mbak Amira..." Lista langsung meraih tangan Amira dan menciumnya dengan takzim. "Maaf ya, Lista pagi-pagi sudah mengganggu. Kata Bude Ratna, Lista disuruh ke sini hari ini."
"Eh, Lista. Masuk, Lis. Kebetulan lagi sarapan," Amira menyambutnya dengan senyum tulus. Bagi Amira, Lista adalah adik sekaligus sahabat. Mereka tumbuh besar bersama sebelum keluarga Lista pindah ke luar kota.
Lista melangkah masuk, gerakannya tampak malu-malu dan sedikit canggung—atau setidaknya, begitulah kelihatannya. Namun, saat matanya menangkap sosok Aris yang sedang duduk di meja makan, ada kilatan tipis yang tertutup oleh tundukan kepalanya yang sopan.
"Pagi, Bude. Pagi, Mas Aris," sapa Lista dengan suara lembut yang terdengar sangat merdu, seperti denting kecapi.
"Sini, Lis! Duduk di sebelah Aris," perintah Ibu Ratna sambil menepuk kursi kosong di samping anaknya. "Amira, ambilkan piring untuk Lista! Jangan bengong saja!"
Amira segera berbalik ke dapur. Dari posisi di depan wastafel, Amira bisa melihat pemandangan di ruang makan. Lista tampak duduk dengan sangat sopan, lututnya merapat, tangannya terlipat di atas paha.
"Aris," Ibu Ratna memulai misinya. "Lista ini lagi cari kerja. Dia pintar, teliti, dan yang paling penting... dia keluarga sendiri. Daripada kamu pakai sekretaris orang lain yang belum tentu jujur, kenapa tidak Lista saja? Dia bisa bantu urusan administrasi kamu, sekaligus lapor ke Ibu kalau kamu telat makan di kantor."
Aris mendongak dari tabletnya, menatap Lista yang kini sedang menunduk malu-malu dengan pipi yang sengaja dibuat bersemu merah. "Kamu sarjana administrasi, Lis?"
"I-iya, Mas. Tapi Lista masih butuh banyak belajar. Lista takut nanti malah merepotkan Mas Aris," jawab Lista dengan nada bicara yang sangat rendah, seolah dia adalah makhluk paling rendah hati di dunia.
"Tidak ada yang repot kalau diajari," potong Ibu Ratna cepat. "Amira, kamu setuju kan kalau Lista jadi sekretaris Aris? Kamu kan sering mengeluh Aris pulangnya malam terus karena kerjaan kantor berantakan. Nah, ada Lista yang bisa bantu."
Amira kembali ke meja membawa piring dan sendok. Ia menatap suaminya, lalu menatap Lista yang kini menatapnya dengan pandangan memohon—pandangan "adik" yang butuh pertolongan.
"Tentu saja, Mas. Kalau memang Lista bisa bantu dan Mas Aris tidak keberatan, Amira malah senang. Lista ini anak yang rajin sejak kecil," ujar Amira tulus, tanpa tahu bahwa ia baru saja membuka pintu gerbang untuk penghancur hidupnya.
Aris tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk kecil. "Besok datang ke kantor jam delapan. Saya akan minta HRD siapkan kontraknya."
Mata Lista berbinar. "Terima kasih, Mas Aris! Terima kasih, Mbak Amira! Lista janji tidak akan mengecewakan kalian."
Ibu Ratna tersenyum kemenangan. "Gitu dong. Nah, kalau Lista sudah di kantor, kamu Amira... fokuslah ke urusan perut. Urus itu jamu-jamu supaya cepat hamil. Malu sama tetangga kalau rumah sebesar ini tapi sepi seperti kuburan."
Amira tertunduk, tangannya tanpa sadar meremas celemeknya di bawah meja. Di sisi lain, tanpa ada yang menyadari, Lista menyesap teh hangatnya dengan senyum yang sangat tipis. Matanya melirik ke arah jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan Aris, lalu beralih ke dekorasi rumah mewah itu.
Rumah ini terlalu indah untuk ditempati wanita yang cuma bisa masak nasi lembek, batin Lista.
Di pagi yang terlihat baik-baik saja itu, Amira tidak menyadari bahwa aroma wijen di dapurnya mulai tertutup oleh bau busuk sebuah rencana. Lista bukan datang untuk mencari pekerjaan; dia datang untuk mengambil alih posisi yang menurutnya salah alamat.