"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EMPAT TAHUN RUANG HAMPA
Sementara Alana sibuk membangun benteng perlindungan di dunia kecilnya, di belahan kota yang berbeda—di dalam sebuah gedung pencakar langit yang mewah—seorang pria sedang menatap kosong ke luar jendela kaca besar.
Samudera. Nama itu merepresentasikan kekuasaan, kekayaan, dan pengaruhnya yang begitu luas di dunia bisnis. Namun, di balik semua kemewahan yang ia miliki, ada satu ruang hampa di hatinya yang tidak pernah bisa terisi selama empat tahun terakhir.
Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni mahal, terletak sebuah map te berkas tipis yang selalu ia buka setiap hari. Di dalamnya hanya ada satu petunjuk: selembar salinan rekaman CCTV buram dari sebuah club malam eksklusif, bertanggal tepat empat tahun sepuluh bulan yang lalu. Rekaman itu menunjukkan siluet seorang wanita yang tergesa-gesa meninggalkan kamar hotelnya di pagi buta.
Malam itu adalah malam di mana Samudera melanggar prinsip hidupnya sendiri. Di bawah pengaruh alkohol dan rasa frustrasi akibat tekanan bisnis, ia menyerahkan dirinya pada pesona seorang wanita asing. Wanita yang awalnya ia kira hanya mencari keuntungan materi, namun ternyata pergi begitu saja tanpa menyentuh sepeser pun uang atau barang mewah yang ditinggalkannya di atas meja.
Ketika Samudera terbangun pagi itu dan menyadari wanita itu telah pergi, ada rasa kehilangan yang aneh. Nomor telepon yang ia tinggalkan di secarik kertas ternyata sengaja ia matikan beberapa minggu kemudian karena kecerobohannya yang kehilangan ponsel lama. Dan saat ia mencoba melacaknya kembali, wanita itu seolah menguap ditelan bumi.
"Bagaimana hasilnya?" suara Samudera terdengar berat dan dingin saat asisten pribadinya, Rendy, masuk ke dalam ruangan.
Rendy menunduk hormat, wajahnya tampak tegang. "Mohon maaf, Pak Samudera. Tim detektif swasta yang kita sewa masih belum menemukan titik terang. Wanita di rekaman CCTV itu tidak menggunakan nama asli saat masuk ke club, dan sistem manifes hotel malam itu sempat mengalami error data."
Samudera mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Empat tahun, Rendy! Saya membayar kalian bukan untuk mendengar kata 'tidak tahu'. Cari ke seluruh pelosok kota! Periksa setiap sudut perumahan, rumah sakit, data sipil, apa saja! Saya tahu dia masih ada di kota ini!"
"Baik, Pak. Kami akan memperluas pencarian ke sektor-sektor informal dan kawasan perumahan baru," jawab Rendy cepat, tidak berani membantah aura intimidasi dari bosnya.
Setelah Rendy keluar, Samudera kembali menatap foto buram wanita itu. Ada rasa bersalah, penasaran, dan kerinduan yang tidak masuk akal yang terus menghantuinya. Samudera tidak pernah tahu bahwa wanita yang dicarinya kini telah menjelma menjadi sosok ibu tunggal yang tangguh. Ia juga sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana, ada seorang anak laki-laki berusia empat tahun bernama Arkana yang memiliki sepasang mata dan garis rahang yang persis sama dengannya.
Takdir tampaknya sedang bermain petak umpet, menunggu momen yang paling tepat untuk mempertemukan sang samudra dengan arus yang selama ini dicarinya.
Hari berganti hari, hingga takdir mulai menenun benang-benang yang akan mempertemukan dua dunia yang terpisah itu.
Kompleks perumahan elit tempat Alana dan Arkana tinggal ternyata adalah salah satu proyek properti mewah yang baru saja diakuisisi oleh perusahaan raksasa milik Samudera. Sore itu, Samudera memutuskan untuk melakukan inspeksi mendadak ke area clubhouse dan fasilitas umum kompleks tersebut untuk memastikan kualitas pembangunan sebelum peluncuran fase kedua.