" Gue suka sama lo...lo harus jadi pacar gue!!" Suara berat seorang pria membuatnya cukup gugup.
"Maaf, tapi gue suka nya sama orang lain." Mirra dengan penuh keberanian menolak pria tinggi tegap yang berada di hadapannya.
"Nggak bisa, lo harus jadi pacar gue, titik!!!" Tegas pria itu sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Mirra.
Mirra Afessya, gadis belia yang baru saja duduk di bangku kelas satu SMA itu harus dihadapkan dengan pria yang ternyata diam-diam dan pura-pura mengagguminya.
Akankah Mirra menerima pengakuan paksa itu? Ataukah Mirra akan menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Kylla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATRIA
Zraasssssshhhhhhhhh.....
Wussshhhhhhh.....
Suara hujan angin terdengar begitu lebat, seorang gadis belia mencoba untuk membuka paksa payung yang di genggamnya.
"Duh, susah banget sih...." Klakkkk...dan payung pun berhasil di buka. " Akhirnya, hari pertama masuk sekolah, abis kemaren seminggu full ngikutin ospek dari kakak kelas, eh malah ujan, apes banget gue." Keluh Mirra Afessya.
Mirra Afessya, gadis belia berusia 16 tahun yang begitu ceria dan bar-bar. Mirra adalah putri tunggal dari seorang janda kembang di kompleks perumahannya. Mirra dan mama nya terkenal dengan kecantikan keduanya, sama-sama memiliki lesung pipi di kedua pipinya dan juga bulu mata yang lentik menjadi kelebihan antara ibu dan anak tersebut.
Walaupun mama nya adalah janda yang berpenghasilan karena memimiliki sebuah kedai makanan. Mirra sudah dilatih hidup dengan mandiri, dia selalu mengerjakan semua nya sendiri, termasuk mengurus keperluan sekolahnya.
Dengan rambut ikal panjang yang selalu di ikatnya ke belakang, Mirra mulai berjalan menyusuri kompleks perumahannya. Dan begitu dia sampai di sebuah halte bus, Mirra pun dengan segera menutup payung nya dan mulai duduk menunggu busway yang akan berhenti di pemberhentian halte bus tersebut.
" Untung masih jam setengah tujuh..." Gumam nya lagi sambil melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dan begitu busway tiba, Mirra pun langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam busway. "Duh penuh...terpaksa bediri gue." Keluhnya karena bus yang ditaikinya memang sudah penuh dengan penumpang dan tidak ada kursi yang kosong.
Mirra berdiri tepat di samping seorang pria yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya, lalu dengan percaya dirinya Mirra menyapa pria tersebut.
"Anak Guna Bangsa ya? " Tanya Mirra dan pria itu langsung menoleh ke arahnya.
"Iya...lo juga? Anak baru ya? " Jawabnya lalu kembali bertanya.
"Iya...sorry, apa lo kakak kelas gue? " Mirra sedikit mengerutkan keningnya.
Pria itu sedikit tersenyum dengan sudut bibir yang sudah sedikit terangkat. " Gue Satria, anak 11 IPA 2, lo kelas mana?" Satria pun mengulurkan tangannya berharap Mirra segera menjabat uluran tangannya itu.
"Ah, gue Mirra...kelas 10 IPA 1 ka...k..." Mirra menjabat tangan Satria dengan sedikit malu karena Mirra mengira jika mungkin Satria adalah satu angkatan dengannya.
"Santai aja, gue nggak galak, nggak gigit juga..." Ucap Satria yang paham raut wajah tidak enak yang sudah dipancarkan oleh Mirra kepadanya.
Mirra pun sedikit tersenyum paksa karena malu sambil melihat ke arah luar kaca bus.
Satria Mahesa, 17 tahun...dia lebih tua satu tahun dari Mirra. Satria memiliki postur tubuh yang tidak terlalu tinggi dan bisa di bilang hampir sebaya dengan Mirra. Satria pria yang ramah dan baik hati, wajahnya kecil dan terlihat tampan namun bisa di bilang cukup imut. Satria adalah pria pertama yang bertemu dengan Mirra sebelum Mirra melewati hari-harinya di SMA Guna Bangsa.
Dan setelah memakan waktu selama kurang lebih dua puluh menit, bus pun sampai di pemberhentian depan gerbang sekolah mereka, Mirra dan Satria turun dari bus dengan bergantian.
"Mirra...gue duluan ya...kalo ada sesuatu yang pengen lo tanya-tanya ke gue, dateng aja ke kelas gue, apa lo mau minta nomor gue aja? " Satria menatap ke arah Mirra dengan senyuman ramah nya.
Mirra kembali merasa sungkan karena dia baru bertemu beberapa menit yang lalu, namun Satria sudah menawarkan nomor ponselnya kepadanya.
"Ah...ha..ha..." Mirra tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal itu." Nanti kalau ada yang mau gue tanyain gue ke kelas kakak aja deh kak. " Jawabnya sedikit ragu-ragu.
Satria mengangguk masih dengan senyuman khas nya yang terlihat imut ketika dia tersenyum. " Oke deh, gue dululan ya..." Dan Satria dengan segera berjalan cepat mendahului Mirra.
Mirra menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan segera. "Duh, hampir aja...gila ya...baru kenal udah nawarin nomor hp. " Decak nya heran.
Mirra pun mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan sambil melihat ke arah beberapa siswa dan siswi yang terlihat sedang asik mengobrol di pinggir lapangan basket dan ada juga yang sedang mengobrol di lorong sekolah nya itu.
Dan saat Mirra hampir sampai di kelasnya, tiba-tiba saja ada bola basket yang menggelinding ke arah nya. Mirra sedikit terkejut sambil menatap ke arah bola basket yang sekarang sudah berada di dekat kakinya.
"Sorry..." Suara seorang pria yang terdengar cukup ceria meraih bola itu dan saat ini dia berdiri tepat di depan Mirra.
" Ah, iya...gak papa.." Jawab Mirra sedikit tersenyum.
"Lo anak kelas 10? " Tanya pria itu sehingga menghentikan langkah kaki Mirra yang baru saja akan mulai melangkah masuk ke kelasnya.
"Iya..." Jawab Mirra.
" Oh...oke..." Lalu Pria itu kembali berlari ke lapangan basket dan meninggalkan Mirra begitu saja dengan jawaban singkatnya itu.
"Aneh banget..." Gumam Mirra kemudian dia pun mulai masuk ke dalam kelasnya.
Wajah Mirra yang cantik dengan kulit putih dan lesung pipi di kedua pipi nya itu memang selalu membuat pria yang bertemu dengan nya mengaguminya. Dan sebenarnya Mirra sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu, namun tetap saja, terkadang Mirra merasa aneh dengan pria-pria yang memperlakukan nya dengan manis hanya karena parasnya yang cantik.
Mirra kini mulai duduk di bangkunya, dia melihat ke arah sekelilingnya dan Mirra mulai mencari teman yang selama seminggu ini sudah bersama dengannya.
"Itu si Raya..."Gumam nya. " Raya!!!" Mirra pun memanggil Raya sehingga Raya yang terlihat sedang asik mengobrol dengan beberapa teman pria nya di kelas tersebut langsung menoleh lalu kemudian menghampiri Mirra.
"Lo baru masuk kelas? " Tanyanya sembari duduk tepat di depan Mirra.
"Iya...lo ngapain? " Tanya Mirra sambil melihat ke arah para pria di kelasnya yang tadi sempat bersenda gurau dengan Raya.
"Gue? " Lalu Raya melihat ke arah para pria di kelasnya itu." Oh itu...gue tadi lagi ngobrol aja sama anak-anak cowok. " Jawabnya dengan senyuman yang mengembang.
"Ngapain? Liat noh, anak-anak cewek jadi pada ngejulid-in lo. "
"Dih, biarin...mereka iri sama gue...orang gue cuma lagi ngeggosipin lo."
"Ngeggosipin gue? Ngapain? Wah lo ya..."
" Tenang-tenang...gue nggak ngejelek-jelekin lo kok, mereka cuma pengen aja gitu deket sama lo. Beruntung sih gue temenan sama lo, mereka yang tertarik sama lo, tapi gue yang di deketin. Ahahahaha..." Raya menjelaskannya dengan tatapan bangganya.
" Ckckck...dasar lo...udah ah, nggak usah gitu-gitu, nanti lo juga yang kena imbasnya kalo mereka nggak bisa deketin gue. "
"Emang lo nggak mau deket sama mereka? Walau cuma temenan gitu? "
" Ya nggak gitu juga, maksud gue dalam artian deket yang lain, gue mau fokus belajar soalnya, nggak mau mikirin cowok dulu. "
"Gaya bener lo, sok cantik emang..." Celoteh Raya sambil memberikan senyuman mencibir.
"Biarin..." Mirra pun membalasnya dengan juluran lidahnya.