Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 My elite lover
Saga menatap Rizky dengan tatapan yang tetap tenang namun penuh kekuatan. Bibirnya sedikit mengerut, menunjukkan bahwa dia benar-benar prihatin dengan apa yang terjadi, namun bukan berarti ia akan menyerah begitu saja.
"Kamu bisa mencobanya jika kamu mampu!" ucap Saga dengan suara rendah namun sangat jelas, setiap kata yang keluar dari mulutnya membawa bobot yang tak bisa disepelekan. "Tapi jangan salahkan aku jika kamu semakin hancur nantinya, Rizky. Aku tidak akan menahan diri jika kamu berani menyentuh orang-orang yang ada dibawah perlindunganku!"
Rizky hanya tertawa sinis, wajahnya penuh dengan kebencian yang sudah tidak bisa ia sembunyikan. "Hancur? Aku sudah hancur semenjak kamu mengambil semua yang seharusnya punyaku! Sekarang giliran aku yang akan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan!"
Di layar, Bram mendekat ke sisi Rizky dan menyeringai dengan penuh kemenangan. "Kau lihat kan Saga? Sekarang kamu punya dua musuh yang akan menghancurkanmu! Kami sudah merencanakan segalanya dengan sangat matang. Mulai dari Renata wanita yang selama ini diam-diam kamu cintai, hingga seluruh organisasi yang kamu bangun dengan susah payah, semuanya akan hancur berkeping-keping!"
Saga menghela napas perlahan, lalu menatap layar dengan wajah yang semakin serius. "Kamu bisa mencoba apa saja, Bram. Tapi ingat aku sudah menangkapmu sekali, dan aku bisa melakukannya lagi. Sedangkan untukmu Rizky ..." dia terdiam sejenak, mata nya menunjukkan rasa prihatin yang masih tersisa. "Aku masih berharap kamu bisa kembali ke jalan yang benar sebelum terlambat."
"Terlambat? Sudah terlalu lama untuk itu, Komandan Saga yang terhormat!" teriak Rizky dengan emosi yang meledak. "Kita akan mulai dengan orang yang paling berarti dalam hidupmu, Renata! Kamu pasti tidak bisa melindunginya setiap detik kan? Apalagi dia bekerja di rumah sakit yang ramai, sangat mudah untuk menjadikannya target!"
Mendengar nama kekasihnya di bawa-bawa mata Saga langsung menyala dengan amarah yang terkendali. Namun dia tetap menjaga diri agar tidak terbawa emosi.
"Kalau kamu berani menyentuhnya, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua kalinya. Bahkan jika kamu adalah teman masa kecilku sekalipun."
Bram tertawa semakin keras dan menekan satu tombol di meja di depannya. Di layar muncul gambar rumah Rena yang sedang terang benderang, bahkan bisa dilihat bayangan Rena yang sedang berjalan di dalam rumah. "Ha ha! Lihatlah ini Saga! Kami sudah memasang kamera tersembunyi di sekitar rumah pujaan hatimu. Setiap gerakannya kini dalam pantauan kami. Kamu tidak bisa melindunginya selamanya!"
Saga melihat gambar itu dengan wajah yang tidak menunjukkan sedikit pun ketakutan, namun di dalam hatinya otaknya sudah bekerja dengan cepat menyusun langkah selanjutnya. "Kalau itu semua yang kalian punya, maka kalian sudah kalah dari awal, Bram! Trik busuk kalian begitu mudah mudah di tebak!"
"Hahaha! Kami selangkah didepan kalian!" sahut Kevin dengan seringai penuh kemenangan.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar, Saga mengangkat tangan kanannya perlahan dan memberikan kode khusus, ibu jari dan jari tengahnya menyilang sebentar sebelum kembali ke posisi semula. Leo yang sudah berdiri siap di belakang langsung mengangguk dengan wajah yang penuh ketegasan, matanya fokus pada layar komputer di depannya. Jari-jari tangannya segera melesat di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa, bunyi klik-kliknya terdengar jelas seperti detak jantung yang cepat. Tak lebih dari lima detik, gambar rumah Rena yang tadinya terang benderang di layar tiba-tiba bergeser, menggambarkan markas "Klan Kalajengking" yang terpantau dari kamera, bahkan bisa dilihat beberapa sosok yang sedang bergerak di sekitar gudang besar itu dengan bayangan lampu sorot yang menerangi area sekitarnya.
"Kau berpikir kalian saja yang bisa memasang kamera tersembunyi?" ucap Saga dengan senyuman iblisnya, sudut bibirnya sedikit mengangkat dengan keyakinan yang tak terbantahkan.
"Kami sudah mengetahui lokasi markasmu jauh sebelum kalian mengirim pesan ini! Bahkan kami juga sudah mengetahui siapa yang ada di belakang kalian! Seseorang yang juga pernah kami incar!"
Wajah Bram dan Rizky langsung berubah pucat. Mereka tidak menyangka bahwa semua rencana mereka sudah diketahui oleh Saga dan timnya.
"Kamu tidak mungkin bisa mengetahuinya!" teriak Bram dengan panik.
"Sangat mungkin jika kamu bekerja sama dengan orang yang tidak bisa dipercaya," jawab Saga dengan tenang.
Rizky masih berdiri dengan wajah yang penuh kemarahan, namun kini ada sedikit keraguan yang muncul di matanya. Dia tahu betapa cerdas dan handal Saga, dan jika sudah sampai pada tahap ini, berarti rencana mereka memang sudah terbongkar.
"Tidak perlu banyak omong Saga!" teriak Rizky dengan suara yang sudah mulai goyah. "Kita akan bertemu di medan perang nanti! Dan kali ini, aku akan memenangkan pertarungan ini!"
Sebelum Saga bisa menjawab, pesan video langsung terputus dengan suara klik yang keras. Ruang rapat menjadi sunyi sejenak sebelum Kevin membuka suara.
"Komandan, apakah kita harus segera melakukan serangan? Atau kita tunggu mereka datang lebih dulu?"
Saga menoleh ke seluruh anggota tim yang sudah siap siaga dengan wajah siap tempur. Dia mengambil napas dalam-dalam lalu berbicara dengan suara yang jelas dan tegas.
"Tidak usah terburu-buru kita akan bertindak di waktu yang tepat! Aku ingin melihat sejauh mana usaha mereka untuk menjatuhkan kita!"
"Siap, Komandan!" jawab seluruh anggota tim dengan serentak.
Saga kemudian mendekat ke jendela markas yang menghadap ke arah kota yang sedang bersinar dengan lampu-lampu malam. Dia mengambil ponselnya dan menelpon nomor Rena. Tak lama kemudian, suara lembut Rena terdengar dari ujung sambungan.
"Halo Kak Saga? Ada apa nih? Sudah sampai rumah?" tanya Rena dengan suara yang penuh perhatian.
Saga menghela napas dengan lega mendengar suaranya. "Aku sudah sampai, sayang. Kamu kenapa belum istirahat?"
"Bentar lagi Kak! Rena lagi bantu Mama memasang bunga di taman belakang. Apa ada sesuatu yang tidak beres Kak?" tanya Rena dengan cepat, dia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang terjadi dari nada suara Saga.
Saga tersenyum lembut meskipun Rena tidak bisa melihatnya. "Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Cukup istirahat dengan baik ya. Besok aku akan menjemputmu."
"Oke Kak! Kakak juga jaga kesehatan!" ucap Rena dengan penuh kasih sayang.
Setelah mengakhiri panggilan, Saga menatap jauh ke arah langit malam yang penuh bintang. Dia tahu bahwa pertempuran yang akan datang tidak akan mudah, terutama karena salah satu lawannya adalah teman masa kecilnya sendiri. Namun dia juga siap melakukan apa saja untuk melindungi orang-orang yang dicintainya.
"Siapapun yang berada di balik semua ini," bisik Saga dengan penuh tekad. "Aku akan memastikan orang itu mendapatkan hukuman yang setimpal!"
Bersambung ....