Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Teratai Di Atas Abu
Bab 19 — Serigala Bulan Merah
Saat Lian Hua kembali ke dalam hutan, suasana sudah berubah drastis. Kabut yang tadinya tenang kini berputar kacau, bercampur dengan aroma darah yang tajam dan amis. Dari kejauhan terdengar teriakan-teriakan panik, bercampur dengan raungan mengerikan yang mengguncang pepohonan. Tanpa ragu, Lian Hua mempercepat langkahnya, menggunakan Langkah Bayangan Teratai yang baru saja ia kuasai. Tubuhnya melayang senyap di antara batang pohon, seolah melebur dengan bayangan, menembus semak belukar tanpa menyisakan jejak sedikit pun.
Sesampainya di tempat terbuka di tengah hutan, pemandangan mengerikan menyambut matanya. Puluhan murid luar berlarian ketakutan, ada yang tergeletak terluka berdarah-darah, ada yang berusaha bertahan namun tubuhnya terlempar ringan bagai jerami. Di tengah keributan itu, berdiri sesosok makhluk raksasa: seekor serigala berwarna abu-abu tua, bulunya tebal dan tajam seperti jarum besi, matanya menyala merah terang persis seperti bara api, dan di dahinya tumbuh satu tanduk kecil yang berkilau gelap.
Itulah Serigala Bulan Merah, binatang spiritual tingkat tinggi yang legendaris, penghuni asli bagian terdalam hutan ini. Kekuatannya setara dengan pendekar tingkat lanjut, kulitnya kebal senjata biasa, gerakannya secepat kilat, dan taringnya mampu meracuni siapa saja yang terluka sedikit saja. Tak seharusnya makhluk ini muncul di bagian luar, namun entah kenapa hari ini ia mengamuk dan menyerang siapa saja yang ada di jalurnya.
Dua penguji yang memimpin rombongan itu kini terdesak hebat. Salah satunya sudah terkapar tak berdaya dengan luka parah di bahu, sementara yang lain berusaha mati-matian menahan serangan makhluk itu, namun setiap benturan membuatnya mundur terhuyung dan memuntahkan darah. Murid-murid lain sudah tak berdaya lagi, hanya bisa lari atau bersembunyi, tak ada yang berani mendekat.
Namun hal yang paling membuat darah Lian Hua mendidih adalah pemandangan di sisi kiri.
Di bawah sebatang pohon besar, Gu Qing Cheng terjepit di antara akar pohon yang menjulang. Kakinya terluka parah, darah terus mengalir membasahi tanah, dan wajahnya pucat pasi karena rasa sakit dan ketakutan. Di hadapannya, Serigala Bulan Merah baru saja menghempaskan penguji terakhir, lalu perlahan berbalik, matanya yang merah menyala tertuju tepat ke arah gadis itu. Ia melangkah mendekat perlahan, raungannya rendah dan mengancam, air liur beracun menetes dari taringnya yang panjang dan tajam.
"Jangan..." Gu Qing Cheng mundur sejauh mungkin, punggungnya menempel keras ke batang pohon, matanya menatap makhluk raksasa itu dengan putus asa. Ia tahu, tak ada yang bisa menolongnya sekarang. Semua orang sudah lari atau tak berdaya. Kematiannya tinggal hitungan detik lagi.
Serigala itu mengangkat cakar depannya yang besar dan kuat, berniat menghempaskan satu serangan terakhir yang akan menghancurkan tulang dan daging gadis itu sekaligus.
Di saat itulah, di tengah ketegangan yang mencekik itu, terdengar suara langkah halus namun cepat, membelah udara kacau itu.
"Menyingkir!"
Teriakan lantang dan berat itu bergema, bersamaan dengan sosok yang melesat bagai kilat hitam putih. Lian Hua muncul tepat di depan Gu Qing Cheng, menegakkan tubuhnya bagai dinding kokoh. Ia tak punya senjata selain pedang kayu biasa di punggungnya, dan kekuatannya baru separuh jalan. Melawan makhluk sekuat ini sama saja dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri, memasukkan kepalanya langsung ke dalam mulut kematian.
Namun ia tak ragu sedetik pun.
Di dalam benaknya melintas wajah gadis itu — satu-satunya orang yang tak pernah memandangnya rendah, yang diam-diam memperhatikannya, yang mengobati lukanya saat ia terluka, yang masih percaya padanya saat semua orang menuduhnya pencuri. Orang yang memberinya sedikit kehangatan di dunia yang dingin dan kejam ini.
Nyawaku ini disimpan untuk membalas dendam klan... tapi jika aku membiarkan orang yang baik ini mati di depanku, lalu apa gunanya kekuatan yang kucari?
Serigala Bulan Merah terkejut sejenak melihat manusia kecil yang berani menghadangnya. Ia mengaum keras, suara yang membuat tanah bergetar, lalu mengayunkan cakarnya yang berat ke arah Lian Hua dengan kekuatan penuh.
Bukannya menghindar, Lian Hua malah melangkah maju. Ia menjalankan Seni Teratai Langit hingga puncaknya, seluruh tenaga dalam berkumpul di kedua tangannya, kulitnya memancarkan cahaya hijau samar, pola teratai di dadanya bersinar terang. Ia menerima hantaman itu dengan kedua telapak tangan terbuka, menggunakan prinsip teratai: menahan kekuatan besar, menyerapnya, lalu membalikkannya kembali.
BUM!
Suara benturan dahsyat terdengar, membuat seluruh hutan bergema. Lian Hua terlempar mundur belasan meter, menggesek tanah hingga membentuk parit panjang, dan menabrak keras ke batang pohon besar. Darah segar menyembur dari mulutnya, seluruh tulang di tubuhnya terasa mau remuk, pandangannya sempat kabur sekejap. Namun ia tetap berdiri tegak. Ia menopang dirinya dengan satu tangan, mengangkat kepala, dan menatap makhluk itu dengan mata yang masih tajam dan berapi.
Di belakangnya, Gu Qing Cheng menatap punggung pemuda itu dengan air mata menetes. Ia tahu persis, serangan tadi cukup untuk meremukkan batu karang sebesar rumah. Lian Hua menerimanya demi menyelamatkan dirinya.
"Kenapa... kenapa kau lakukan ini?" bisik Gu Qing Cheng dengan suara gemetar. "Ini terlalu berbahaya... kau bisa mati..."
Lian Hua menyeka darah di bibirnya, tersenyum tipis namun tegas, tanpa menoleh ke belakang, matanya tetap terkunci pada musuh di depan.
"Dulu saat aku jatuh dan terluka, kau ada di sana menolongku. Kau satu-satunya yang melihat aku sebagai manusia, bukan sampah. Hari ini... nyawaku boleh saja hilang, tapi selama aku masih berdiri, aku takkan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Serigala Bulan Merah makin marah karena serangannya tertahan oleh makhluk kecil yang dianggapnya remeh. Ia mengerahkan seluruh kekuatan, hawa merah beracun menyelimuti tubuhnya, lalu ia melompat tinggi ke udara, menjatuhkan diri ke bawah dengan kecepatan dan kekuatan yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Kali ini, ia berniat menghancurkan pemuda itu beserta pohon di belakangnya menjadi debu sekaligus.
Lian Hua merasakan tekanan yang mematikan itu menekan sekujur tubuhnya. Ia tahu, jika ia bertahan lagi, tulang-tulangnya pasti hancur sepenuhnya, dan nyawanya pasti melayang. Namun ia tak mundur selangkah pun. Ia mengerahkan sisa tenaga yang ada, memadatkannya di kedua telapak tangan, dan bersiap menerima serangan terakhir itu, mempertaruhkan segalanya — kekuatan, masa depan, dan nyawanya sendiri — demi melindungi orang di belakangnya.
Di matanya, tak ada rasa takut, hanya tekad baja yang tak tergoyahkan.
"Datanglah..." gumamnya pelan. "Bahkan jika aku harus mati hari ini... aku akan memastikan kau aman, Gu Qing Cheng."