seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. PERTANYAAN YANG MENGGUNCANG IMAN.
"Mas... beneran udah nggak marah kan soal baju tadi?" tanya Ayini sambil mendekat, duduk bersimpuh di lantai dengan jarak yang aman, namun matanya menatap lekat ke arah Alvaro.
Alvaro menoleh pelan. Sisa-sisa rona merah di wajahnya karena malu tadi masih ada.
"Saya sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta, Ayini. Tapi tolong, jangan ada warna pink lagi di lemari saya besok."
Ayini tertawa kecil, suara tawanya yang renyah memenuhi ruangan yang biasanya sunyi itu.
"Janji, Mas! Nanti Ayini minta tolong Umi ajari cara misahin baju yang bener. Ayini cuma mau jadi istri yang berguna, biar Mas nggak nyesel nikah sama bocah bandel kayak Ayini."
Mendengar kalimat terakhir Ayini, Alvaro tertegun. Ia melihat ketulusan di mata istrinya.
Tanpa ia sadari, tangannya bergerak merapikan letak pecinya, dan bibirnya kembali mengukir senyum tipis yang sangat tulus.
Senyum yang membuat wajah kaku itu mendadak terlihat begitu teduh dan tampan.
"Mas! Nah, itu senyum lagi!" seru Ayini girang.
"Tuh kan, kalau senyum gitu, gantengnya nambah seribu persen. Jangan disembunyiin terus dong, Mas. Dunia butuh liat senyum Gus Alvaro."
Alvaro buru-buru memalingkan wajah, merasa tertangkap basah lagi. "Sudah, jangan menggoda saya terus. Sekarang istirahatlah, besok jadwalmu setoran hafalan surah."
Bab 24: Pertanyaan yang Mengguncang Iman
Suasana malam di Barito Utara semakin larut. Suara jangkrik bersahutan di balik pepohonan karet yang mengelilingi pondok.
Ayini sudah berbaring di kasur, sementara Alvaro masih duduk di meja belajarnya, memeriksa beberapa berkas administrasi santri.
Entah karena pengaruh suasana malam yang hening, atau memang urat malu Ayini benar-benar sudah putus, tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di kepalanya.
Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang, menatap punggung tegap suaminya.
"Mas..." panggil Ayini pelan.
"Iya, ada apa?" sahut Alvaro tanpa menoleh, masih fokus pada kertas di depannya.
"Mas Alvaro... Mas sayang nggak sama Ayini?"
Alvaro menghentikan gerakan penanya. Ia menarik napas panjang. Pertanyaan ini jauh lebih sulit dijawab daripada soal fiqih paling rumit sekalipun.
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Ya nanya aja. Kan kita udah nikah. Masa nggak sayang-sayangan," jawab Ayini enteng dengan gaya bar-bar-nya.
Alvaro berbalik, menatap Ayini dengan pandangan datarnya yang mulai melunak.
"Rasa sayang itu dibuktikan dengan tindakan dan penjagaan, Ayini. Bukan sekadar kata-kata. Kamu adalah amanah besar bagi saya."
Ayini manggut-manggut, seolah mengerti. Ia diam sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan pertanyaan "bom atom" yang sudah ada di ujung lidahnya.
"Mas... Gus mau punya bayi nggak?"
Deg!
Suara pena yang dipegang Alvaro jatuh ke lantai. Gus muda itu mematung dengan mata melotot tak percaya.
Seluruh aliran darahnya seolah naik ke wajah dalam sekejap. Syok yang ia rasakan kali ini jauh lebih dahsyat daripada saat ia harus memakai baju pink tadi siang.
"Ayini... kamu... apa yang kamu katakan?" suara Alvaro terdengar sangat gugup dan bergetar.
"Ya bayi, Mas. Anaknya kita. Lucu kan kalau ada bayi kecil mirip Mas Alvaro tapi sifatnya bar-bar kayak Ayini? Pasti seru!"
Ayini bicara dengan wajah tanpa dosa, seolah sedang menanyakan mau makan apa besok pagi.
Alvaro benar-benar kehilangan kata-kata. Jantungnya berdebar sangat kencang, dag-dig-dug yang sangat keras hingga ia yakin Ayini pun bisa mendengarnya.
Ia merasa kepalanya mendadak pening karena serangan kejutan istrinya ini.
"Ayini... kamu masih sekolah. Kamu masih kecil. Dan kita... kita bahkan belum..."
Alvaro menggantung kalimatnya, wajahnya merah padam sampai ke telinga.