Dikira hoki dapet kontrakan 500rb. Ternyata isinya kuntilanak nagih utang nyawa.
Bima kuli miskin terpaksa "kawin" sama Sumi demi nyawanya. Kirain lunas?
SEASON 2 DIMULAI: Bakri penghuni baru masuk. Nyawa jadi DP kontrakan.
Berani baca jam 12 malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maulana Alhaeri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipeluk maut
KRAK!
Dunia Bima berhenti. Dingin besi menyayat bahu kanannya. Linggis Pak RT nancep setengahnya. Darah hangat langsung nyembur, nyampur sama air hujan yang makin deras.
“AAARGHH!”
Bima nggak bisa napas. Sakitnya bukan main. Kayak ada truk ngegiles tulang belikatnya. Tenaganya hilang. Pegangan di genteng lepas.
Tubuhnya melorot ke bawah.
Di detik yang sama, Kunti yang tadinya di depan Bima malah nyengir. Tangannya yang bolong nyengkeram kerah baju Bima. Bukan nolong. Tapi narik.
Pak RT di bawah ketawa ngakak. Gila. Matanya merah, ileran. “Mati kau, Bima! Mati! Kontrakan ini punya gue!”
BRUK!
Bima sama Kunti jatoh bareng dari lantai 2. Punggung Bima duluan yang ngehantam tanah becek.
BUGH!
“HAHK!” Semua udara di paru-paru Bima keluar. Penglihatannya gelap. Tulang rusuknya kayak remuk. Linggis di bahunya keteken tanah, masuk makin dalam.
“AKHHH SAKIT!!” Bima meraung. Hujan nusuk-nusuk lukanya. Darah ngalir dari bahu, dari mulut. Asin.
Kunti? Dia jatoh di atas dada Bima. Enteng banget, kayak kapas. Tapi dinginnya tembus sampai ke tulang. Wajah rusak itu nempel pas di depan muka Bima. Bau tanah kuburan sama anyir darah nyampur.
Dia berbisik. Suaranya pelan tapi jelas banget di tengah hujan, “Sakit... kan? Sekarang kamu tau rasanya aku...”
Pak RT jalan mendekat sambil nyeret linggis kedua. “Udah-udah, Kun. Biar Bapak aja yang habisin.”
Bima panik. Dia coba gerak, tapi badan rasanya lumpuh. Linggis di bahunya bikin tangan kanannya mati rasa. Tangan kiri nyoba nyari pegangan. Ngegenggam tanah.
Tiba-tiba dia inget. Fitri. Di dalam kontrakan. Sendirian.
“Fitri...” Bima ngelirih. Suaranya habis.
Denger nama itu, Kunti malah ketawa. Cekikikan. “Fitri? Istri kamu? Dia berikutnya... setelah kamu.”
KALAU GUE MATI, FITRI JUGA BAKAL MATI.
Kalimat itu kayak setrum di otak Bima. Sakitnya masih luar biasa, tapi ada amarah yang lebih panas dari luka di bahunya.
Dengan sisa tenaga, Bima ngangkat tangan kirinya. Bukan buat nonjok. Tapi buat narik rambut Kunti yang gimbal dan basah.
“LEPAS... DARI GUE... SETAN!!”
Bima jambak sekuat tenaga, terus ngebanting kepala Kunti ke tanah.
BUAGH!
Kunti menjerit melengking. Jeritannya bikin gendang telinga sakit. Untuk sedetik, cengkeramannya lepas.
Kesempatan itu yang Bima tunggu. Sambil nahan sakit yang gila di bahu, dia gulingin badannya. Nginjek tanah, nyoba berdiri. Kakinya gemetar. Pandangan kabur.
Pak RT udah di depan muka. Linggis kedua diangkat tinggi-tinggi, mau dihantam ke kepala Bima.
“Mampus kau!”
Bima nutup mata. Dia udah nggak bisa ngelak.
TAPI...
TRANG!
Bunyi besi beradu sama besi.
Bima buka mata. Di depannya, berdiri Fitri. Badannya basah kuyup. Gemetar. Di tangannya ada wajan baja yang tadi sore dia pake buat masak. Wajan itu yang nahan linggis Pak RT.
“JANGAN SENTUH SUAMI GUE!!” teriak Fitri. Suaranya pecah, marah, dan ketakutan jadi satu.
Pak RT kaget. Kunti yang tadi kebanting juga ngesot mundur.
Bima ngeliat Fitri. Istri dia yang biasanya penakut, sekarang pasang badan buat dia. Di tengah hujan, darah, sama dua setan.
Untuk pertama kalinya malam itu, Bima ngerasa anget. Bukan dari luka. Tapi dari hati.
Dia ngeludahin darah dari mulutnya, terus nyengir ke Pak RT. Meskipun sakitnya setengah mati.
“Giliran... gue...” hujan makin deras membasahi tubuh