Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: KEBENARAN DAN HUKUM KASIH SAYANG
Ledakan dahsyat itu masih meninggalkan getaran di seluruh tubuh Raga dan Mbah Joyo. Asap hitam perlahan menipis, memperlihatkan sosok Eyang Sastro yang masih berdiri tegak meski tampak sangat terluka. Darah mengalir dari sudut bibirnya, dan jubah hitamnya koyak di beberapa bagian.
Namun, tatapan matanya tidak pernah sekalipun menunjukkan rasa takut.
"Kau... masih bisa berdiri?!" seru Kanjeng Raden tak percaya. Suaranya yang biasanya dingin dan angkuh kini terdengar sedikit bergetar. "Bahkan pendekar sakti zaman dulu pun hancur kena serangan itu..."
"Karena... aku tidak bertarung untuk kekuasaan, Kanjeng..." jawab Eyang Sastro terengah-engah. "Aku bertarung untuk kebenaran... dan untuk melindungi orang yang tidak bersalah. Itu membuatku punya tenaga lebih dari batas normal."
Sang Raja mendengus kasar. "Manis sekali mulutmu! Tapi lihat temanmu! Mereka sudah hampir kalah!"
Benar saja. Di sisi lain, keadaan Raga dan Mbah Joyo semakin memprihatinkan.
Raga vs Nyi Blorong
Nyi Blorong kini berubah wujud menjadi sosok setengah ular setengah manusia yang sangat besar. Ekornya menghantam tanah berkali-kali, membuat Raga harus terus melompat menghindar. Napas Raga sudah memburu parah. Lengan dan kakinya penuh goresan ringan.
"Kenapa kau tidak membunuhku, Raga?!" teriak Nyi Blorong dengan mata merah. "Tikamlah! Habisi aku! Jangan biarkan aku malu terus!"
"Aku tidak tega, Nyi... Aku tahu di dalam hatimu ada rasa sedih, bukan kebencian..." teriak Raga balik.
"DIAM!!! AKU INI RAKSASA!!! AKU PENGHISAP NYAWA!!!"
Nyi Blorong mengeluarkan api hitam dari mulutnya!
WUSSSSS!!!
Api itu datang sangat cepat! Raga tidak sempat menghindar!
"RAGA!!!" teriak Mbah Joyo.
Tiba-tiba... Raga ingat pesan Eyang Sastro. "Jangan lawan api dengan api. Lawan dengan air ketenangan."
Raga tidak mengangkat keris. Ia justru memeluk dada dan menatap lurus ke mata Nyi Blorong. Ia membaca doa perlindungan terpendek.
"Bismillah... Allahu Akbar..."
JEDERRRR!!!
Api hitam itu menghantam tubuh Raga! Tapi anehnya... api itu tidak membakarnya. Justru saat menyentuh tubuh Raga yang dilindungi keyakinan murni dan gelang akar bahar, api itu memantul dan berubah menjadi cahaya putih yang indah!
Nyi Blorong menjerit! Kali ini bukan jerit marah, tapi jerit kesakitan karena cahaya itu sangat menyakitkan bagi makhluk hitam seperti dirinya.
"AAAAHHH!!! TERLALU TERANG!!!"
Nyi Blorong mundur terhuyung, menutupi matanya. Tubuhnya yang besar dan mengerikan perlahan mengecil kembali menjadi wujud wanita cantik biasa, tapi wajahnya pucat dan lemas.
"Aku... aku tidak kuat..." isaknya pelan. "Kau terlalu suci untuk aku sentuh, Raga... Maafkan aku..."
Ia jatuh terduduk di tanah, menyerah tanpa syarat.
Raga berdiri terpaku, napasnya memburu. Ia menang. Tapi hatinya justru terasa sedih melihat sosok itu menangis.
Mbah Joyo vs Ki Barita
Di sisi lain, Mbah Joyo sudah benar-benar di ujung tanduk. Ki Barita yang buas terus mendesak. Tinju raksasanya menghantam kemana-mana. Mbah Joyo sudah terluka di beberapa bagian, pakaiannya compang-camping.
"MATI KAU ORANG TUA!!!" teriak Ki Barita sambil melompat tinggi siap menimpuk Mbah Joyo dengan kedua tangan terkepal.
Mbah Joyo menutup mata. Ia sudah tidak punya tenaga untuk menangkis lagi.
"YA TUHAN... TERIMA HAMBAMU..."
TRANG!!!
Tiba-tiba sebuah cahaya hijau menyambar!
Eyang Sastro, meski sedang lawan sang Raja, dengan sigap melempar sebuah manik sakti ke arah Mbah Joyo! Manik itu meledak tepat di depan Ki Barita!
DORRR!!!
Ki Barita terpental jauh! Ia terlempar hingga menabrak pohon besar dan pingsan tak sadarkan diri!
"JOYO! TEGAR KAU!!!" teriak Eyang Sastro.
"EYANG!!!" Mbah Joyo menangis haru.
Kini tersisa hanya dua orang yang masih berdiri penuh kekuatan.
Eyang Sastro vs Kanjeng Raden Tumenggung.
Sang Raja melihat pasukannya tumbang satu per satu. Nyi Blorong menangis, Ki Barita pingsan. Wajahnya berubah sangat gelap. Aura darah di sekitarnya semakin pekat dan panas.
"JAHANAM!!!" raungnya. "KALIAN SEMUA BERGABUNG MENGKHIANATIKU!!!"
Ia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi ke atas langit.
"JIKA BEGITU... AKU TIDAK AKAN MAIN MAIN LAGI! AKU AKAN HANCURKAN KALIAN SEMUA! BAHKAN SELURUH GUNUNG INI AKU LEDAKKAN SEKALIAN!!!"
Tiba-tiba langit menjadi gelap gulita. Guntur menyambar-nyambar. Awan hitam berputar kencang membentuk corong raksasa. Kiamat kecil benar-benar akan terjadi!
"KANJENG JANGAN!!!" teriak Eyang Sastro. "ITU MELANGGAR HUKUM ALAM! KALAU KANJENG MELAKUKAN ITU, KANJENG AKAN DIBURU OLEH PENGUASA LANGIT!"
"AKU TAK PEDULI!!!"
Sang Raja siap melepaskan serangan pamungkasnya!
Tapi saat itu juga...
"STOP!!!"
Sebuah teriakan lantang memecah ketegangan. Bukan teriakan Eyang Sastro, bukan teriakan Mbah Joyo.
Itu teriakan Raga.
Raga berjalan maju perlahan. Ia meletakkan kerisnya di tanah. Ia melepas maniknya. Ia berjalan dengan tangan kosong mendekati raksasa yang siap meledak itu.
"Raga?! Jangan! Gila kau?!" teriak Mbah Joyo panik.
"Biarkan aku bicara, Kek..." Raga berjalan tenang. Ia berhenti tepat di hadapan ujung tombak yang berdenyut merah menyala itu.
Sang Raja menatap Raga. Matanya membelalak. "Kau... mau bunuh diri?!"
"Tidak, Kanjeng..." jawab Raga pelan tapi tegar. "Aku mau tanya satu hal sama Kanjeng. Sebelum semuanya hancur."
"BICARA! CEPAT!"
"Sebenarnya... Kanjeng marah besar itu karena apa?" tanya Raga berani. "Karena aku menolak Nyi Blorong? Atau karena Kanjeng sebenarnya... takut?"
"HAH?! AKU TAKUT?!"
"Ya. Kanjeng takut kalau-kalau... ikatan itu putus... berarti kekuasaan Kanjeng tidak sekuat yang dikira. Kanjeng takut kalau manusia mulai berani melawan, lama-lama Kanjeng tidak dihormati lagi..."
Raga menarik napas panjang.
"Tapi Kanjeng... Cinta dan Hormat itu tidak bisa dipaksakan. Kalau Kanjeng paksa aku jadi suami Nyi Blorong, aku akan benci Nyi Blorong. Aku akan benci Kanjeng. Selamanya akan ada dendam. Tapi kalau Kanjeng melepaskan aku... aku akan selalu ingat baiknya Kanjeng. Seluruh desa akan berdoa untuk Kanjeng setiap hari. Mana yang lebih berharga, Kanjeng? Dapat budak yang benci... atau dapat teman yang menghormati selamanya?"
Suasana hening total. Angin berhenti. Guntur pun diam.
Sang Raja menatap wajah Raga lekat-lekat. Ia melihat tidak ada kebohongan di sana. Tidak ada takut, hanya ketulusan.
Di belakangnya, Nyi Blorong yang masih menangis ikut berbicara pelan.
"Kanjeng... sudahlah... Aku sudah terima dia menolakku... Dia benar... Kita tidak bahagia kalau dipaksakan... Biarkan dia pergi..."
Sang Raja menunduk. Bahunya yang kokoh tampak bergetar.
Untuk pertama kalinya... raja yang ditakuti semua makhluk itu... terlihat sangat lelah dan sendirian.
"Kalian benar-benar membuat aku bingung..." suaranya pelan dan lembut, tidak lagi menggelegar. "Selama ratusan tahun hidupku... semua orang takut padaku... semua orang memohon atau melawan... tapi tidak ada yang pernah bicara seperti ini..."
Ia menurunkan tombaknya perlahan. Aura merah mengerikan itu perlahan menghilang digantikan aura yang lebih tenang dan berat.
"Aku marah... karena aku pikir kalian meremehkan kami..." gumamnya. "Ternyata... kalian hanya ingin hidup layak..."
Sang Raja lalu menatap Eyang Sastro.
"Orang tua... kau berhasil mendidik murid yang luar biasa. Jauh lebih baik dari para pangeran yang pernah kutemui."
Eyang Sastro tersenyum tipis sambil menyeka darah di bibirnya. "Hanya mengembalikan apa yang menjadi hak masing-masing, Kanjeng."
Sang Raja mengangguk. Ia lalu melambaikan tangannya ke arah Raga.
"Baiklah... PERJANJIAN ITU SAH!"
Seketika tubuh Raga terasa ringan sekali! Sesuatu yang berat dan gelap yang selama ini menempel di jiwanya... WUSH! Terbang hilang terbawa angin! Benar-benar hilang selamanya!
"IKATAN SUDAH PUTUS! RAGA, KAU BEBAS! BEBAS SEPENUHNYA!" seru Sang Raja.
"TAPI..." Sang Raja menatap tajam lagi. "Karena aku juga pegang janji... Batu Meteor dan Harimau itu aku terima sebagai tanda persahabatan baru. Dan sebagai gantinya... AKU BERI INI!"
Sang Raja mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna emas berbentuk seperti naga kecil.
"Ini Naga Emas Penolak Bala. Bawa ini. Selama benda ini ada padamu... seluruh makhluk di gunung ini tidak akan berani mengganggumu atau keluargamu selamanya. Justru kami yang akan menjagamu dari jauh."
Raga menerima benda itu dengan gemetar. "Te-terima kasih, Kanjeng..."
"Dan untuk desa..." Sang Raja menengok ke arah lembah. "Aku janji... desa akan aman, panen akan melimpah, dan tidak ada bencana selama aku masih memimpin sini. Asalkan... jangan lupa kirim sesajen dan doa untuk kami sesekali. Itu saja."
Mbah Joyo langsung bersujud syukur. "Siap Kanjeng! Siap! Kami janji tidak akan lupa!"
Malam yang mengerikan itu berakhir dengan damai. Kabut tebal perlahan naik ke langit. Angin berhembus sejuk dan menenangkan.
Sang Raja dan pasukannya bersiap pergi. Sebelum menghilang, Nyi Blorong mendekati Raga sebentar.
"Terima kasih, Raga..." bisiknya lembut. "Kau sudah mengajarkanku arti cinta yang sebenarnya. Semoga kau bahagia dengan hidupmu."
"Terima kasih juga, Nyi... Semoga kau juga tenang..." jawab Raga tulus.
Seketika... WUSSS! Mereka semua menghilang lenyap bersama kabut pagi yang mulai datang.
Matahari pagi mulai menyingsing, memancarkan cahaya emas yang hangat dan indah menyinari puncak gunung.
Mereka bertiga berdiri di sana, compang-camping, berdarah-darah, lelah sekali... tapi wajah mereka bersinar bahagia.
Mereka menang. Mereka selamat. Dan Raga... benar-benar bebas.