Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Ketika mereka sampai di rumah, nenek Keluarga Anggasta masih terjaga.
Baru setelah melihat Clara benar-benar kembali bersama Edward, dia kembali ke kamarnya dan beristirahat dengan tenang.
Setelah naik ke lantai atas, Clara menelepon pamannya dan memberitahunya tentang perkembangan masalah itu.
Setelah menyelesaikan panggilan dengan Bagas, Dylan meneleponnya.
Setengah jam kemudian, setelah menyelesaikan panggilan dan kembali ke kamar, Clara melihat Edward sudah selesai mandi dan kini sedang bersandar di kepala tempat tidur sambil membaca buku.
Melihatnya masuk ke kamar, Edward mengalihkan pandangannya dari buku sejenak, meliriknya, lalu kembali fokus pada buku.
Clara juga menarik pandangannya, lalu pergi mandi dan melakukan perawatan kulitnya.
Setelah melakukan semua itu, hari sudah malam, Clara pun melirik Edward.
Dulu Edward selalu memperlakukannya dengan dingin, dia juga sudah terbiasa, jadi dia nggak ada perasaan nggak nyaman saat berduaan dengannya.
Sekarang setelah dia menolongnya, hubungan di antara mereka memang menjadi relatif lebih baik, tapi dia malah jadi bingung gimana berinteraksi dengannya.
Akan tetapi, apa pun yang terjadi, tidak akan ada perubahan dalam hubungan di antara keduanya.
Memikirkan hal itu, Clara perlahan berbaring dan bersiap untuk tidur.
Begitu dia berbaring, Edward meletakkan buku di tangannya, mematikan lampu dan berbaring juga mematikan lampu dan berbaring juga.
Seolah-olah dia sedang duduk di samping tempat tidur sambil membaca buku hanya untuk menunggunya dan mematikan lampu untuknya.
Clara tertegun.
Sepertinya dia terlalu banyak berpikir.
Jantungnya pun segera tenang kembali dan tertidur.
Keesokan harinya, nenek Keluarga Anggasta lagi-lagi ingin Edward mengantarnya ke kantor.
Tapi Clara menolaknya, "Nek, aku ada janji hari ini dan harus keluar kantor.
Nggak nyaman kalau nggak bawa mobil."
Nenek Keluarga Anggasta pun mengerutkan kening dan menatap Edward.
Dia sebenarnya berharap Edward bisa berinisiatif untuk mengantar Clara ke kantor.
Tetapi Edward malah menghabiskan sarapannya dalam diam, mengabaikan niat tersembunyi neneknya.
Clara yang melihatnya akhirnya menundukkan kepala.
Melihat Edward tidak mau, neneknya juga tidak bisa memaksa.
Clara tentu saja tidak ada acara hari ini.
Dia berkata begitu karena, pertama, dia tidak ingin naik mobil Edward lagi, dan kedua, dia tidak ingin merepotkannya.
Tidak ada kejadian istimewa terjadi hari itu.
Clara hanya bekerja di kantor dan lembur sampai lewat jam sembilan, dan kemudian pulang sendiri.
Ketika sampai di rumah, dia tiba-tiba menemukan bahwa Edward telah kembali.
Sebab walaupun tidak ada yang acara, Sebab walaupun tidak ada yang acara, biasanya dia tetap akan pulang sangat larut.
Saat ini Edward tidak ada di kamar tidur. Clara pun masuk, menyalakan lampu, meletakkan tasnya, dan hendak pergi ke kamar Elsa untuk melihatnya. Tapi pada detik ini, dia melihat sebuah buku merah di meja riasnya.
Clara tertegun.
Meskipun mereka berdua berbagi kamar tidur, pada kenyataannya, sisi kiri tempat tidur adalah milik Edward, dan dia tidak akan melewati batasan itu.
Demikian pula, sisi kanan adalah areanya, dan biasanya tidak dimasuki Edward.
Beberapa barang mereka, seperti dompet, jam tangan, produk perawatan kulit, dan lainnya secara otomatis ditempatkan pada daerahnya masing-masing.
Tidak pernah bercampur.
Oleh karena itu, tidak mungkin Edward menaruh buku di tempat yang salah.
Memikirkan hal ini, Clara berjalan mendekat.
Ketika semakin mendekat, dia baru menyadari bahwa itu adalah sertifikat rumah.
Dia langsung punya tebakan di benaknya dan bergegas membukanya.
Ternyata itu adalah sertifikat hak milik rumah di seberang rumah pamannya.
Selain itu, di atas sertifikat rumah itu tertulis namanya.
Saat sedang melihat sertifikat itu, sebelum Clara bisa bereaksi, Edward kembali ke kamar.
Clara mendengar suara langkah kaki, menoleh dan menatapnya, lalu berkata kepadanya dengan serius, "Aku sudah lihat sertifikatnya, terima kasih."
Sebelum Edward bisa mengatakan apa pun, dia lanjut berkata, "Aku nggak punya banyak uang sekarang. Nanti aku bakal bayar... "