Setelah mengetahui fakta tentang penghianatan orang yang paling di cintai, Florin Eldes memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, namun di akhir hayatnya, seseorang yang begitu ia benci dan selalu ia siksa dengan sadis malah menangisi kepergiannya dan berharap ia tidak mati. " Kenapa kamu ingin menolongku? padahal aku sudah menyiksamu selama ini. bukankah kematianku adalah hal yang paling kamu inginkan..." Florin menutup matanya untuk terakhir kali setelah mengucapkan kalimat itu. Tapi di saat ia mengira ia sudah mati, ia Malah kembali ke malam dimana ia bertunangan dengan pria yang ia cintai sekaligus pria yang telah menghancurkan hidupnya. Ia membalaskan dendamnya, namun ia tak pernah menduga akan kembali mengalami kematian dan kehidupan tapi di tubuh orang yang berbeda. penasaran bagaimana alurnya? ikuti terus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
Setelah kepergian Wilson, Florin merasa sedih. Apalagi saat melihat bunga mawar yang Wilson buang ke tempat sampah tepat di hadapannya, pasti Wilson sangat kecewa padanya. "Apa aku sudah keterlaluan?." gumamnya dalam hati.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Surender yang saat ini sedang menatap lekat ke arahnya. " Tuan, apa maksud kedatangan anda kemari?." Florin mencoba untuk berbicara.
" Sebenarnya saya sudah mendengar masalah di perusahaan anda nona, jadi saya ke sini untuk memberikan penawaran menarik agar perusahaan anda tidak bangkrut." Surender menyandarkan punggungnya pada sofa.
" Penawaran... Penawaran apa itu tuan Surender?." tanya Florin penasaran.
" Saya tahu nona, anda sedang lemah saat ini. Jadi saya mau anda menerima tawaran ini. Anda tidak perlu khawatir ini hanya urusan bisnis dan tidak lebih. Jika anda setuju saya akan menjamin perusahaan anda aman." ujar Surender lagi.
Florin menatap ke arah Stefany yang terlihat menunjukkan mimik menolak. Stefany menggeleng pelan ke arahnya.
" Saya tidak bisa langsung menyetujui kerja sama kalau tidak mengetahuinya tuan, jadi saya ingin tahu lebih dulu sebelum menyetujuinya." jelas Florin.
" Ah benar sekali, kita memang tidak boleh menyetujui sesuatu yang belum kita ketahui. Jadi sebenarnya saya sudah berumur tiga puluh tahun, dan saya butuh seorang wanita di samping saya. Saya ingin menikahi nona Florin maka masalah nona akan beres."
Deg
Florin terkejut dengan ucapan Surender yang memintanya untuk menikah dengannya. Florin baru mengenal pria itu dan sekarang ia diminta menikah dengannya. Sementara Stefany terlihat syok dan tidak terima. Ia memberikan isyarat kepada Florin untuk menolaknya.
" Bagaimana nona? Apa anda bersedia?." Terlihat tatapan licik dari Surender.
" Mohon maaf tuan Surender, saya tidak bisa menerima tawaran anda. Saya tahu saat ini saya sedang menghadapi masalah besar di perusahaan. Tapi saya akan berusaha untuk mengatasinya sendiri!." terlihat raut wajah tidak senang dari Florin.
Sementara itu Stefany mulai merasa lega dengan keputusan Florin. Ini adalah keputusan yang tepat.
" Nona, pikirkan lagi baik baik. Anda akan menyesal jika menolak tawaran ini. Apa anda mau melihat perusahaan anda hancur karena anda keras kepala?."
" Tuan Surender! Jaga ucapan anda. Saya tidak bisa menikahi pria asing tanpa mengenalnya terlebih dahulu. Saya tahu saya hanya wanita lemah, tapi saya bisa mempertahankan perusahaan ini tanpa bantuan siapapun!." Florin sangat marah sekarang apalagi saat Surender mengatakan dirinya keras kepala.
" Baiklah kalau nona tidak mau menerima tawaran saya, tapi saya yakin nona akan berubah pikiran. Saya akan meninggalkan kartu nama saya di sini, jika nona mulai mengerti semuanya jangan sungkan untuk menghubungi saya." Surender meletakkan kartu namanya di atas meja kerja Florin.
" Permisi nona Florin... Saya akan menunggu kabar baik dari anda." dengan senyum licik Surender meninggalkan ruangan itu.
Setelah kepergian nya, Florin terlihat menarik nafas panjang. Ia sangat marah dengan ucapan Surender. Stefany langsung duduk di sampingnya.
" Nona, jangan mau menikah dengannya. Dia orang jahat nona. Anda akan dalam bahaya. Sebaiknya kita pikirkan cara lain untuk mengatasi masalah perusahaan." ucap Stefany memperingati.
" Kamu benar Stefany, aku harus memikirkan cara lain." Ujar Florin dengan mantap.
" Baiklah nona, saya akan mencari jalan keluar secepatnya untuk masalah ini. Anda harus yakin nona, kita pasti bisa!." Terlihat Stefany begitu percaya diri.
" Ya Stefany, aku percaya kita pasti bisa mempertahankan perusahaan ini." Ujar Florin.
Kemudian Stefany bangkit dan keluar dari ruangan itu. Stefany akan mencari jalan keluar secepatnya dari masalah yang sedang mereka hadapi.
Florin menghela nafas, kemudian netranya beralih pada bunga mawar yang kini tergeletak di dalam tempat sampah. Florin bangkit, ia berjalan pelan ke arah bunga itu. Florin mengambil nya dan mencium bunga mawar pemberian Wilson itu. " Wilson, maafkan aku."
Florin merasa ia sudah sangat keterlaluan pada Wilson. Tapi Florin kesal karena Wilson berbohong demi melindunginya. Florin tahu kalau Wilson pernah bekerja di perusahaan Derelick, tapi tak seharusnya ia mengaku sebagai pemilik perusahaan itu.
.
.
Wilson berada di apartemennya. Saat ini hatinya sedang sangat terluka dengan perlakuan Florin. Untuk kedua kalinya Florin mengusir dirinya. Tapi Wilson sama sekali tidak membenci Florin. Wilson mencoba untuk mengerti dengan keadaan Florin, wajar saja dia tidak percaya, karena yang Florin kenal ia hanyalah pria biasa tanpa status. Wilson menghela nafas berat, kemudian memandang langit-langit kamar.
Tiba tiba ponselnya berdering, terpampang nama Antony yang menelpon. Wilson langsung mengangkat telepon itu.
" Ada apa Antony?" tanya Wilson.
" Tuan gawat, anda harus segera kembali ke perusahaan. Ada yang mencoba merusak citra perusahaan. Mereka membuat produk palsu dan memasukkannya ke dalam perusahaan!." terdengar suara panik dari Antony.
Wilson duduk, ia mengepalkan tangannya. " Berani sekali mereka! Aku akan berangkat ke sana malam ini! Pastikan para penghianat itu tidak menyadari kalau mereka sudah ketahuan!." tegas Wilson dengan penuh amarah.
"Baik tuan".
Sambungan telepon terputus. Wilson langsung mempersiapkan diri untuk berangkat ke bandara. Rasanya ia sangat kesal sekarang, dan ia tidak akan mengampuni para penghianat yang mencoba menjatuhkan reputasi nya.
Saat itu juga Wilson langsung berangkat ke bandara internasional, karena sebentar lagi pesawat yang ia tumpangi akan lepas landas.
.
.
Di malam hari Florin termenung di dalam kamarnya, ia menatap bunga mawar pemberian Wilson. " Wilson sangat bersikeras dengan ucapannya. Apa dia memang tidak berbohong ya?." gumam Florin mulai yakin dengan ucapan Wilson. Tapi di sisi lain ia juga meragukannya. Karena selama ini Wilson hidup dengan sangat sederhana, kalau memang dia pemilik perusahaan Derelick, mana mungkin ia mau hidup sederhana seperti itu selama bertahun-tahun.
" Walau bagaimanapun Wilson adalah teman baikku. Dan sebenarnya aku mulai menyukainya. Aku suka sikap baiknya, dia sangat perhatian. Aku sadar aku sudah keterlaluan." gumam Florin.
Florin meraih ponselnya, kemudian mencari nomor Wilson. Setelah menemukannya, tanpa ragu ia menghubungi nomor itu. Tapi setelah beberapa saat Wilson tak kunjung mengangkat teleponnya. Dan sekarang nomornya malah tidak aktif.
Florin semakin merasa bersalah sekarang. Padahal ia sudah berjanji akan memperlakukan Wilson dengan baik di kehidupan kedua ini, tapi kenyataannya ia malah memarahinya.
Kemudian Florin memutuskan untuk meletakkan ponselnya, ia tahu jika Wilson sedang marah padanya, makannya Wilson tidak mau mengangkat teleponnya. Florin menyentuh bunga mawar yang ia masukkan ke dalam pot kaca di kamarnya. " Wilson, rasanya aku ingin sekali bicara denganmu!."
.
.
Pagi hari menjelang, Florin terbangun dengan tubuh lelah. Semalam ia susah tidur karena memikirkan banyak hal. Hari ini ia harus datang ke perusahaan karena sekarang ia sudah menjadi pemimpin baru perusahaan Eldes.
Florin sudah siap dengan dress simpel tapi elegan miliknya. Florin bergegas pergi ke perusahaan. Di luar, Stefany sudah menunggunya. mereka akhirnya berangkat ke perusahaan.
lima belas menit kemudian mereka tiba di perusahaan Eldes. Saat ini mereka sudah berada di dalam ruangan.
" Stefany? Ini sudah hari kedua dan kita belum mendapatkan jalan keluar dari masalah ini. Apa yang harus kita lakukan?." tanya Florin dengan bimbang.
" Nona, saya juga sudah menghubungi beberapa pengusaha di negara ini, tapi mereka tidak mau menjalin kerja sama." Stefany terlihat sangat kecewa.
Florin menarik nafas panjang, rasanya sangat berat menjalani hidup.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu ruangan dari luar, Florin meminta Stefany untuk membuka pintu.
Saat pintu dibuka, terlihat seorang karyawan pria datang dengan wajah tegang.
" Ada apa William?." tanya Stefany penasaran.
" Gawat nona, para investor akan menarik saham mereka hari ini. Mereka bahkan meminta saham mereka dikembalikan menjadi dua kali lipat!."
" Apa?."