Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
.
Dua minggu berlalu begitu cepat. Hari yang dinanti akhirnya tiba.
Acara pernikahan Dirga Wijaya dan Amanda digelar secara sederhana namun sangat sakral dan penuh khidmat di ruang tamu utama rumah besar itu. Hiasan bunga segar dipasang secukupnya, dan tamu undangan pun hanya dihadiri oleh para pekerja di rumah itu, anak-anak asuh Amanda serta beberapa orang kepercayaan Dirga saja.
Suasana hening dan tenang, hanya terdengar suara bacaan Al-Qur'an dan doa-doa yang dibacakan oleh seorang ustadz yang diundang oleh Dirga.
Namun, saat penghulu datang dan Dirga sedang duduk mempersiapkan diri untuk duduk di depan sebuah dampar kecil tempat akan dilangsungkan nya ijab kabul, pandangannya tiba-tiba tertuju pada satu barisan tamu yang baru saja datang. Wajahnya seketika berubah kaget dan tertegun.
Jameela datang bersama Ega dan Toni. Melihat tangan Jameela yang melingkar di lengan Toni, ada sesuatu yang menusuk di hati Dirga. Namun, Dirga segera menepis nya.
“Tidak boleh! Aku sudah tidak boleh memikirkan dia. Dia memang sudah bukan jodohku. Dan lagi pula, ini demi Putri.”
“Kenapa mereka bisa ada di sini?’' batin Dirga bertanya-tanya. ‘'Tidak apa-apa. Mungkin Putri yang mengundang mereka.”
Dirga pun mencoba tersenyum tipis lalu menyambut kehadiran mereka, meski ada rasa canggung yang tak terelakkan.
“Terima kasih sudah datang,” ucap Dirga yang lebih dulu mengulurkan tangannya pada Toni.
“Sama-sama, Tuan. Selamat atas pernikahan Anda. Semoga bahagia,” jawab Toni menyambut ukuran tangan Dirga.
“Selamat, ya, Mas.” Jameela ikut mengulurkan tangan. Senyum di wajahnya begitu tulus. Dia juga berharap mantan suaminya itu mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga.
Sebagai seorang wanita, dan sebagai seorang mantan istri, Jameela mengacungi jempol pada kesetiaan Dirga. Dulu saat dia masih menjadi istrinya, Dirga tak pernah menoleh ke kiri atau ke kanan. Tak ada wanita yang berani mendekat atau bermimpi untuk menjadi pelakor, karena Dirga tak segan menendang setiap wanita yang mencoba mendekatinya.
Begitupun saat menikah dengan Susi. Bahkan setelah Susi meninggal pun, Dirga tidak pernah mencari pengganti. Tidak seperti kebanyakan pria yang jika sukses sedikit saja, akan memiliki selingkuhan di mana-mana. Dirga tidak seperti itu. Fokus pria itu hanya untuk masa depan dan kebahagiaan Putri.
Kini Jameela berharap, Dirga benar-benar bahagia dan pernikahan dengan Amanda menjadi yang terakhir.
“Terima kasih,” ucap Dirga singkat.
“Daddy sama Mommy minta maaf karena mereka tidak bisa datang. Tapi mereka mengirim doa dan memberikan doa restu,” ucap Jameela.
“Itu sudah cukup. Terima kasih,” balas Dirga.
“Selamat ya, Om.” Ega ikut mengulurkan tangannya.
“Terima kasih.” Dirga menerima ukuran tangan Ega dan sebelah tangannya menepuk pundak pemuda itu. “Lalu… kapan kamu mau melamar Putri?” tanyanya.
“Ega sih kapan aja siap, Om. Tinggal nunggu persetujuan Putri. Ayolah, Om. Bujuk Putri, ya?” pinta Ega dengan wajah memelas. “Emang Om gak kasian sama Ega?”
Dirga berdecih dengan ekor mata yang melirik penuh ejekan. “Muka kamu aja CEO, tapi bujuk cewek gitu aja tak mampu! Dasar kacang!” ujarnya tidak sadar bahwa dia seperti sedang mengatai dirinya sendiri.
Ega menggeram hendak membalas, tapi dari arah tangga menuju lantai atas,, suara tapak kaki menuruni tangga membuat semua orang menoleh.
Amanda dengan kebaya warna putih gading yang membalut tubuhnya tampak begitu anggun, berjalan perlahan menuruni tangga dengan diapit oleh Putri dan Bu Rani.
Mata Dirga tak berkedip menatap ke arah wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri kontraknya.
Ehem…
Hingga suara deheman Toni membuyarkan lamunannya.
“Nanti saja dipantengin lagi, Tuan.” Toni menatap Dirga dengan pa dangan mengejek. “Sekarang di-sah-kan dulu,lanjutnya.” Kapan lagi dia punya kesempatan untuk meledek Dirga. Dalam situasi normal jelas tak mungkin. Bukan tidak berani, tapi di kalangan pebisnis, adap sopan santun sangat ia jaga.
“Kenapa aku merasa calon istri mas Dirga agak mirip sama Susi, ya?” gumam Jameela dalam hati. “Apa karena ini, Mas Dirga memutuskan untuk menikahinya?” gumamnya lagi. “Ah, tapi ya sudahlah. Apapun itu semoga mereka bahagia.”
Dirga melangkah menghampiri Amanda dan menuntun wanita itu untuk duduk di hadapan penghulu. “Sayang, ini benar-benar kamu?” gumamnya dalam hati dengan mata tak lepas menatap ke samping, ke arah wajah Amanda, membuat wanita itu menjadi salah tingkah.
“Apakah makeup nya aneh?” bisik Amanda mendekatkan wajahnya ke telinga Dirga.
Dirga sedikit tergeragap, namun segera menguasai diri. “Tidak,” jawabnya. “Tapi jangan lupa, kita harus menunjukkan sikap sebagai pasangan yang saling jatuh cinta. Anggap aja aku sedang terpesona padamu.”
Amanda mengangguk dengan wajah memerah. “Dasar duda gila,” umpatnya dalam hati. “Lihat saja, aku akan membuatmu benar-benar jatuh cinta padaku!”
“Bu Manda cantik kan, Yah?” bisik Putri di telinga ayahnya.
Dirga menoleh dan mengangguk sambil tersenyum manis. “Sangat cantik,” jawabnya membuat Putri benar-benar merasa sangat bahagia. Gadis itu bahkan tertawa lebar.
*
“Tuan Dirga, apa Anda sudah siap?” tanya Pak Penghulu seraya mengulurkan tangannya ke arah Dirga yang sudah duduk tegap di hadapan nya.
“Saya siap,” jaba Dirga tanpa ragu.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Dirga Wijaya dengan Amanda binti Hendra, dengan mas kawin berupa seperangkat alat shalat dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya dengan Amanda binti Hendra, mas kawin tersebut dibayar, tunai," jawab Dirga lantang dalam satubtarikan nafas.
“Bagaimana, para saksi? Sah?” Pak Penghulu berseru kepada para hadirin.
"SAH!!" seru para saksi dan para tamu yang hadir serempak.
Amanda mencium punggung tangan Dirga dengan takzim. “Walaupun hanya sebatas kontrak, sekarang kamu adalah suamiku,” ucapnya dalam hati. “Dan aku akan menjalani kewajiban ini dengan baik. Hingga masanya tiba, kamu kembali melepas ku.”
Begitupun Dirga, pria itu dengan sebelah telapak tangannya yang berada di atas kepala Amanda, mengecup ubun-ubun wanita itu dan mengucapkan doa.
Seketika suasana menjadi haru. Air mata kebahagiaan menetes dari mata Pak Hendra, ketika mereka berdua melakukan sungkeman.
“Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, Nak,” ucap Pak Hendra sambil menghapus air matanya. “Jadilah istri yang baik, yang bisa menjaga martabat suami,, juga marwah seorang istri. Bapak akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian.”
Amanda tak mampu berkata-kata selain mengucapkan terima kasih. Bagai ada sekat di tenggorokannya. Bagaimana jika suatu hari ayahnya tahu pernikahan mereka hanya untuk sementara. Apa yang akan dipikirkan oleh ayahnya saat ia akhirnya diceraikan?
Tapi… suara Dirga terdengar. “Bapak tenang saja, saya pasti akan menjaganya, dan tidak akan membiarkan putri Bapak memiliki sedikitpun keluhan tentang saya.”
Amanda tertegun. Janji itu…
Putri mendekat lalu memeluk Amanda beserta ayahnya sekaligus sebelum Amanda sempat berpikir lebih jauh. “Selamat ya, Ibu, Ayah. Putri sangat bahagia.”
Amanda tersenyum dan membalas pelukan Putri.
Tiba-tiba, Dirga menjentikkan jarinya dan kevin datang mendekat.
Dirga kemudian mengambil sebuah map cokelat tebal dari tangan asistennya, lalu menyerahkannya kepada Amanda.
"Ini untukmu," ucap Dirga sambil tersenyum.
Amanda menatap bingung lalu membuka map itu. Matanya seketika membelalak tak percaya melihat isinya.
"Ini...?"
rasanya manis legit loh pak mandud,,yakin deh pasti nanti ketagihan
maunya lagi dan Lagiii
minta nambah terus malah nantik
.mewek q bacanya sedih dan bahagia ah gk tau lah😂