"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Pagi yang hangat di Mansion Valerio perlahan bergeser menuju siang yang tenang. Matthew sudah dibawa oleh Florence dan Katie ke taman belakang untuk melihat kolam ikan koi, meninggalkan Azeant dan Veronica di dalam kamar utama yang luas.
Pintu jati besar itu tertutup rapat, meredam sisa-menerus tawa keluarga di lantai bawah.
Azeant berdiri di balkon, membelakangi ranjang, sementara Veronica masih merapikan rambutnya di depan cermin rias. Suasana mendadak menjadi sangat intim, sebuah keintiman yang berbeda dari setahun kebersamaan mereka di apartemen Tribeca dulu.
Azeant berbalik, menatap bayangan istrinya di cermin. "Dulu kita tidak pernah punya waktu untuk sekadar duduk dan tertawa seperti tadi, bukan?"
Veronica menghentikan gerakannya. Pertanyaan itu membawa pikirannya melesat kembali ke masa lalu. Sebuah alur yang berputar, mundur ke belakang, ke sebuah apartemen mewah dengan lampu temaram yang menjadi saksi bisu hubungan mereka yang gila.
Tiga Tahun Lalu – Apartemen Tribeca
Dulu, komunikasi mereka bukanlah kata-kata. Komunikasi mereka adalah deru napas dan gesekan kulit. Saat itu, begitu pintu apartemen tertutup, tidak ada pertanyaan tentang "bagaimana harimu?" atau "apa yang kau pikirkan?".
Azeant akan menarik Veronica ke dalam pelukannya, menciumnya dengan rasa lapar yang seolah tak pernah terpuaskan.
Mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam di atas ranjang, di atas meja marmer dapur, atau bahkan di lantai ruang tamu yang dingin. Mereka adalah dua orang asing yang terikat oleh nafsu yang membara, menggunakan tubuh masing-masing untuk melarikan diri dari kenyataan dunia.
"Kau terlalu banyak bicara, Vea," bisik Azeant dulu, saat Veronica mencoba menceritakan tentang kesulitan tugas kuliahnya. Ia akan membungkam bibir Veronica dengan ciuman panas, memaksa wanita itu untuk fokus hanya pada sensasi yang ia berikan.
Waktu bermanja adalah kemewahan yang tidak mereka miliki. Mengobrol adalah hal yang tabu. Mereka takut jika mereka terlalu banyak bicara, perasaan akan ikut campur, dan tembok yang mereka bangun akan runtuh.
Cinta saat itu adalah sebuah kata yang terlarang, digantikan oleh ledakan gairah yang melelahkan namun mencandu.
Masa Sekarang – Mansion Valerio
Azeant melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Veronica. Ia meletakkan tangannya di bahu wanita itu, meremasnya lembut.
"Aku menyesali banyak hal, Vea," gumam Azeant. "Aku menyesal karena dulu aku terlalu pengecut untuk sekadar memegang tanganmu di bawah sinar matahari dan mengatakan betapa aku mengagumimu. Aku lebih memilih menyembunyikanmu dalam kegelapan ranjangku, karena aku takut jika aku membiarkanmu keluar, dunia akan mengambilmu dariku."
Veronica berbalik, menatap mata suaminya yang kini penuh dengan kejujuran. "Kita berdua sama-sama bersalah, Azeant. Aku menggunakan Ranjang sebagai cara untuk tidak mencintaimu, dan kau menggunakannya sebagai cara untuk memilikiku tanpa harus bertanya."
Azeant menarik Veronica ke dalam pelukannya, namun kali ini gerakannya sangat lembut. Ia menyandarkan keningnya di kening Veronica.
"Dengarkan aku," bisik Azeant, suaranya sarat akan emosi. "Cinta itu bukan tentang seberapa banyak kita menyatu dalam gairah, tapi tentang seberapa kuat kita bertahan saat badai mencoba memisahkan kita. Selama tiga tahun ini, aku menyadari bahwa tubuhmu mungkin bisa digantikan, tapi jiwamu adalah satu-satunya tempat di mana aku ingin pulang."
Veronica merasakan air mata menggenang di pelupuk matanya. Kata-kata itu jauh lebih berharga daripada semua malam panas yang pernah mereka lalui.
"Kau adalah puisi yang lupa aku tuliskan, Vea. Kau adalah melodi yang terus berdenting di kepalaku bahkan saat dunia dalam keheningan. Aku mencintaimu, bukan hanya karena keindahanmu, tapi karena kau adalah wanita yang melahirkan takdirku."
Azeant jug teringat saat ia berada di Swiss, mencoba melupakan Veronica dengan botol-botol minuman mahal. Ia pernah mencoba menyentuh wanita lain, seorang model cantik yang ia temui di sebuah bar. Namun, saat wanita itu mulai mendekat, Azeant merasa mual.
Setiap inci kulit wanita itu terasa asing. Setiap desahannya terdengar seperti kebisingan yang tidak berarti. Azeant menyadari bahwa ia tidak merindukan ini. Ia merindukan Veronica. Ia merindukan cara Veronica menggigit bibir bawahnya saat merasa malu, ia merindukan aroma lavender yang selalu tertinggal di bantalnya, dan ia merindukan bagaimana hanya Veronica yang bisa membuatnya merasa hidup sekaligus hancur di saat yang bersamaan.
Ia terduduk di balkon hotel yang dingin, menatap pegunungan Alpen yang tertutup salju, dan berbisik pada angin malam:
"Aku membencimu karena kau membuatku tidak bisa menyentuh siapa pun selain dirimu, Veronica Brooklyn."
Azeant mengangkat wajah Veronica, menghapus air mata yang jatuh dengan ibu jarinya.
"Dulu kita mencuri waktu untuk bercinta. Sekarang, aku ingin kita mencuri waktu untuk saling mencintai," ucap Azeant.
Ia mencium bibir Veronica, sebuah ciuman yang lambat, manis, dan penuh rasa hormat. Tidak ada ketergesaan. Tidak ada kekasaran. Hanya ada dua jiwa yang akhirnya menemukan satu sama lain setelah tersesat dalam labirin gairah yang gelap.
Veronica membalas pelukan suaminya, menyurukkan kepalanya di dada bidang Azeant. "Terima kasih sudah kembali untukku, Azeant. Terima kasih sudah mencintai Matthew."
Azeant mengecup puncak kepala istrinya. "Mencintai Matthew adalah hal termudah yang pernah kulakukan, karena di setiap helai rambutnya dan di setiap binar matanya, aku melihat diriku dan dirimu yang dulu sangat aku cintai dalam diam."
Malam yang dulu penuh dengan pergulatan gairah yang melelahkan, kini berganti menjadi kedamaian yang mendalam. Mereka tetap akan bercinta, tetap akan menyatu dalam panasnya hasrat, namun kali ini, setiap sentuhan akan disertai dengan kata-kata cinta yang dulu tak pernah terucap.
Azeant membimbing Veronica menuju ranjang, namun ia tidak langsung menanggalkan pakaiannya. Ia hanya membaringkan Veronica, ikut berbaring di sampingnya, dan menarik wanita itu ke dalam dekapannya. Mereka hanya diam, mendengarkan detak jantung masing-masing, menikmati waktu bermanja yang dulu mereka anggap sebagai tanda kelemahan.
"Vea..."
"Hmm?"
"Aku berjanji, mulai hari ini, tidak akan ada lagi malam di mana kita hanya menjadi teman ranjang. Setiap malam adalah tentang kita, tentang keluarga kita, dan tentang janji bahwa aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."
Veronica tersenyum, menutup matanya dengan rasa aman yang luar biasa.
Gema masa lalu yang penuh nafsu kini telah diredam oleh nyanyian cinta yang tulus. Dan di dalam mansion mewah itu, sejarah baru sedang dituliskan—sejarah tentang dua manusia yang belajar bahwa gairah mungkin bisa menyatukan tubuh, tapi hanya cinta yang bisa menyatukan takdir.
jd teh celup ka dia disana.... 😂