No Plagiat 🚫
NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau
“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”
Yi Ling adalah anomali.
Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.
Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.
Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.
Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.
Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.
Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.
Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Debu dan Penjaga Ingatan
Fajar di Lembah Tabib Langit tidak membawa kehangatan yang biasa. Matahari terbit dengan warna merah tembaga, seolah-olah langit sendiri sedang ikut berduka atau mungkin sedang memberikan peringatan akan darah yang akan tertumpah. Yi Ling berdiri di puncak bukit, seruling gioknya terselip rapi di pinggang, sementara Xiān Yǔ yang berada di dalam sukmanya terus mengirimkan getaran waspada.
"Jarak dari sini menuju perbatasan Makam Kaisar Langit akan melewati Hutan Ratapan," Zhi Yue muncul di sampingnya, sudah mengenakan zirah tempur lengkap yang berkilau tertimpa cahaya pagi. "Tempat itu bukan hanya penuh dengan binatang buas, tapi juga penuh dengan ilusi yang memakan kewarasan. Kau sudah siap, Yi Ling?"
Yi Ling tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk singkat, lalu melesat turun dengan kecepatan yang bahkan sulit diikuti oleh mata manusia biasa. Zhi Yue menyusul di belakangnya, pedang panjangnya bergetar di dalam sarungnya, seolah-olah senjata itu sendiri merasakan haus akan pertarungan yang akan datang.
Hutan Ratapan menyambut mereka dengan kabut abu-abu yang tebal. Di sini, pohon-pohon memiliki bentuk yang aneh, dahan-dahannya meliuk seperti tangan manusia yang sedang memohon ampun. Suara angin yang melewati celah pepohonan terdengar seperti tangisan ribuan jiwa, sesuai dengan namanya.
"Tuan Muda... waspadalah," suara Zhui Hai bergema pelan dari dalam seruling. "Energi Yin di tempat ini sangat tidak stabil. Sesuatu sedang mengamati kita dari balik kabut."
Yi Ling menghentikan langkahnya mendadak. Ia merasakan hawa dingin yang tidak wajar menusuk tengkuknya. Di depannya, kabut perlahan menyibak, memperlihatkan sebuah gerbang tua yang terbuat dari tulang belulang raksasa yang sudah memfosil. Di tengah gerbang itu, duduk seorang pria tua dengan pakaian compang-camping yang sedang asyik memahat sebuah patung kayu yang tidak berbentuk.
"Siapa kau?" suara Yi Ling terdengar rendah, tangannya sudah bersiap di atas seruling gioknya.
Pria tua itu tidak mendongak. "Aku? Aku hanyalah penjaga ingatan. Banyak yang datang ke sini mencari Tanah Penciptaan, mencari cara untuk menghidupkan kembali apa yang sudah mati. Tapi pertanyaanku adalah... sanggupkah kau membayar harganya?"
Zhi Yue melangkah maju, pedangnya terhunus setengah. "Kami tidak datang untuk berteka-teki, Orang Tua. Minggir atau pedangku yang akan membukakan jalan."
Pria tua itu terkekeh, suara tawanya kering seperti daun yang terinjak. "Jenderal wanita yang gagah. Tapi pedangmu tidak bisa membunuh bayangan. Untuk melewati gerbang ini, kalian harus melewati Ruang Penyesalan. Di sana, kalian tidak akan bertarung melawan musuh, melainkan melawan diri kalian sendiri."
Tiba-tiba, kabut di sekeliling mereka meledak menjadi pusaran hitam. Yi Ling merasakan dunianya berputar. Ia mencoba meraih tangan Zhi Yue, namun tangannya hanya menangkap udara hampa. Dalam sekejap, ia berada di sebuah tempat yang sangat ia kenal: Puncak Lembah Sunyi, seribu tahun yang lalu.
Di depannya, berdiri raga asli Zhui Hai dan wujud nyata Xiān Yǔ yang sedang tertawa. Mereka terlihat sangat hidup, sangat utuh.
"Tuan Muda, kenapa kau terlihat begitu sedih?" Zhui Hai bertanya dengan senyumnya yang tulus. "Lihat, raga kami tidak hancur. Kita masih bersama."
Yi Ling terpaku. Jantungnya berdenyut kencang. Secara logika, ia tahu ini adalah ilusi, namun secara emosional, pemandangan ini adalah obat bagi jiwanya yang hancur. Ia melangkah maju, ingin menyentuh bahu Zhui Hai, namun tiba-tiba pemandangan itu berubah.
Raga Zhui Hai mulai retak dan hancur menjadi abu di depan matanya—persis seperti kejadian di Lembah Tabib Langit. Xiān Yǔ melolong kesakitan saat bulu peraknya tercabut satu per satu oleh kekuatan yang tidak terlihat.
"Ini salahmu, Yi Ling!" suara ribuan bayangan berteriak serempak. "Kau yang menyeret mereka ke dalam takdir berdarah ini! Kau yang gagal menjaga mereka! Berhentilah mencari Tanah Penciptaan, atau kau hanya akan melihat mereka hancur untuk ketiga kalinya!"
Yi Ling jatuh berlutut. Keringat dingin mengucur di dahinya. "Tidak... aku melakukan ini untuk mereka..."
"Kau melakukannya untuk dirimu sendiri!" bayangan itu kembali membentak. "Kau hanya takut sendirian! Kau egois, Yi Ling!"
Di saat Yi Ling hampir kehilangan kewarasannya dalam lingkaran penyesalan itu, sebuah cahaya perak terang meledak dari dalam sukmanya. Itu adalah Xiān Yǔ. Sang Serigala Perak tidak membiarkan tuannya tenggelam. Geraman kemarahan Xiān Yǔ membelah ilusi tersebut, mengingatkan Yi Ling bahwa mereka masih ada di sana, di dalam dirinya.
Lalu, terdengar suara dentuman logam yang keras.
TRANG!
Yi Ling membuka matanya. Ia kembali berada di depan gerbang tulang. Di sampingnya, Zhi Yue sedang berjuang melawan bayangan hitam dengan pedangnya. Wajah Zhi Yue nampak pucat, sepertinya ia juga baru saja melewati "neraka" pribadinya di dalam ilusi tadi.
"Yi Ling! Jangan dengarkan suaranya!" teriak Zhi Yue. "Hancurkan patung kayu itu! Itu adalah pusat energinya!"
Yi Ling bangkit berdiri. Ia tidak lagi menatap pria tua itu dengan kemarahan, melainkan dengan ketenangan yang mematikan. Ia mengambil seruling gioknya dan meniupkan satu nada tinggi yang melengking.
Gema Seruling Lembah Sunyi: Pemecah Tabir!
Gelombang energi hijau zamrud terpancar dari seruling tersebut, menghantam patung kayu yang sedang dipahat si pria tua. Patung itu hancur berkeping-keping, dan seketika itu juga, pria tua tersebut lenyap menjadi debu, diikuti oleh kabut abu-abu yang perlahan menipis.
Gerbang tulang raksasa itu berderit, terbuka perlahan memberikan jalan menuju wilayah yang lebih gelap di baliknya.
Zhi Yue menyarungkan pedangnya, napasnya tersengal. Ia melirik Yi Ling yang masih memegang serulingnya dengan erat. "Apa yang kau lihat di dalam sana?"
Yi Ling terdiam sejenak, menatap telapak tangannya. "Aku melihat kegagalanku. Tapi aku juga melihat bahwa mereka tidak pernah menyerah padaku. Bagaimana denganmu, Jenderal?"
Zhi Yue memalingkan wajahnya sedikit, mencoba menyembunyikan matanya yang kemerahan. "Aku melihat ribuan prajuritku yang gugur menuntut nyawaku. Tapi... aku tahu mereka tidak akan ingin aku berhenti di sini."
Mereka berdua berdiri di ambang gerbang yang menuju ke Makam Kaisar Langit. Di depan mereka, sebuah padang tandus dengan nisan-nisan raksasa membentang luas. Tanah itu berwarna hitam pekat, dan di atasnya, petir merah sesekali menyambar tanpa suara guntur.
"Tanah Penciptaan ada di titik terdalam makam ini," ujar Yi Ling, suaranya kini kembali dingin dan fokus. "Zhui Hai, Xiān Yǔ... bersiaplah. Kita hampir sampai."
"Kami selalu siap, Tuan Muda," jawab Zhui Hai dengan nada yang lebih kuat dari sebelumnya.
Zhi Yue melangkah di samping Yi Ling, bahu mereka bersentuhan sejenak—sebuah dukungan bisu yang lebih kuat dari seribu kata. "Mari kita buat langit berhenti tertawa, Yi Ling. Mari kita tunjukkan bahwa penyesalan tidak akan bisa menghentikan kita."
Mereka pun melangkah masuk ke dalam wilayah Makam Kaisar Langit, meninggalkan Hutan Ratapan yang kini kembali sunyi. Perjalanan berdarah ini baru saja melewati rintangan pertama, namun bagi mereka berdua, tantangan terbesar bukanlah musuh di depan, melainkan bagaimana menjaga hati agar tidak hancur sebelum tujuan tercapai.