NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Malam Tanpa Sentuhan

​Suara desisan statis dari kisi-kisi ventilasi di langit-langit bunker terdengar seperti nyanyian ribuan ular berbisa. Di dalam ruangan beton kedap suara yang luasnya tak lebih dari tiga kali empat meter ini, kematian tidak lagi datang secara diam-diam; ia merayap masuk dengan arogan, menantang kami untuk menatap wajahnya secara langsung.

​Ghazali masih menghantamkan bahunya ke pintu baja hidrolik itu berulang kali. Suara benturan tulang dan otot manusia melawan logam padat bergema memekakkan telinga.

​"Buka! Buka pintunya, bajingan!" raung Ghazali. Jas abunya sudah robek di bagian jahitan bahu, kemejanya basah oleh keringat dingin, dan buku-buku jarinya mulai mengeluarkan darah segar. Namun pintu itu bahkan tidak bergetar satu milimeter pun.

​Aku berdiri mematung di dekat bak seng tempat sisa-sisa tulang kakek mertuaku terendam dalam lumpur adipocere. Mataku terpejam rapat. Aku memaksa otakku mematikan sistem limbik yang mengatur kepanikan, dan mengalihkan seluruh aliran darah ke korteks prefrontal. Aku adalah seorang dokter spesialis forensik; jika aku harus mati hari ini, aku tidak akan mati dalam keadaan buta huruf terhadap penyebab kematianku sendiri.

​Aku menarik napas dangkal melalui hidung, menganalisis partikel udara yang mulai menginvasi ruangan.

​Di balik aroma Cadaverine yang busuk menyengat, terdapat jejak aroma manis yang sangat khas. Ethereal, sedikit memualkan, dan berat di tenggorokan.

​"Sevoflurane," bisikku. Mataku seketika terbuka lebar. "Ini bukan sekadar gas air mata atau karbon monoksida, Ghazali! Maia menggunakan Sevoflurane dosis tinggi yang diuapkan!"

​Ghazali menghentikan hantamannya pada pintu, menoleh padaku dengan napas memburu. Dada bidangnya naik-turun dengan agresif. "Apa artinya itu, Keana?!"

​"Itu adalah agen anestesi inhalasi yang sangat kuat yang biasanya digunakan di ruang operasi!" teriakku, melangkah mundur saat merasakan hawa dingin mulai menjalar di pergelangan kakiku. "Sifat molekul gas ini jauh lebih padat dan lebih berat daripada udara biasa. Gas ini akan turun dan mengendap di lantai terlebih dahulu, lalu perlahan-lahan naik menenggelamkan kita dari bawah ke atas!"

​Aku menunjuk ke arah lantai beton. Kabut tipis yang tak kasatmata namun terasa membius mulai menyelimuti sepatu kami.

​"Naik, Mas! Kita harus mencari pijakan tertinggi di ruangan ini! Udara yang belum terkontaminasi hanya tersisa di dekat langit-langit!"

​Ghazali menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Tidak ada meja, tidak ada kursi. Satu-satunya objek yang memiliki ketinggian di atas lantai hanyalah bak seng yang berisi tulang-belulang kakeknya dan dua jeriken asam hidrofluorik.

​Ghazali menelan ludah, raut wajahnya diliputi kengerian dan rasa hormat yang tercabik. "Di atas bak itu? Tapi... Kakek..."

​"Kakekmu sudah mati, Ghazali! Dan dia tidak memesan gaun pengantin itu agar kau ikut mati menyusulnya malam ini!" bentakku, mencengkeram lengan kemejanya dengan keras. "Naik sekarang, atau kita berdua akan mengalami henti napas dalam empat menit!"

​Tanpa menunggu persetujuannya, aku mengangkat tubuhku dan memijakkan kaki di tepi pinggiran bak seng yang tebal. Sepatuku nyaris tergelincir oleh lumpur dan cairan dari dasar bak, namun aku berhasil menyeimbangkan diri. Jarak kepalaku kini hanya tersisa setengah meter dari langit-langit beton. Udara di sini terasa sedikit lebih bersih, meski paru-paruku sudah mulai memprotes.

​Melihatku bertaruh nyawa, Ghazali membuang keraguannya. Ia melompat naik dan memijakkan kakinya di sisi bak yang berlawanan denganku. Kini, kami berdua berdiri menyeimbangkan diri di tepi bak, mengangkangi sisa-sisa jenazah pria yang menjadi akar dari seluruh tragedi keluarga ini.

​"Bernapaslah dangkal," ujarku, mencoba menahan rasa pusing yang mulai berputar di kepalaku. "Semakin kau panik, semakin cepat oksigen di otakmu tergantikan oleh anestesi."

​Ghazali menatapku dari seberang bak. Di bawah cahaya neon yang mulai berkedip redup, wajah pualamnya yang angkuh telah runtuh seutuhnya. Tidak ada lagi Jaksa Penuntut Umum yang dingin. Yang ada di depanku hanyalah seorang pria yang dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam.

​"Aku membawamu ke sini," bisiknya parau. Tangan kanannya terulur melintasi bak, memegang lenganku erat-erat untuk menjaga keseimbangan kami berdua. "Aku berjanji untuk melindungimu, tapi aku malah menyeretmu langsung ke dalam peti matimu sendiri. Maafkan aku, Keana. Maafkan aku."

​Mendengar suaranya yang pecah, dinding pertahanan emosiku ikut retak. "Berhentilah meminta maaf, Ghazali. Aku datang ke sini atas kemauanku sendiri."

​"Tapi kau tidak seharusnya berada di sini!" Ghazali mencengkeram lenganku semakin kuat, matanya berkaca-kaca. "Kau seharusnya berada di apartemen itu, membalas dendam padaku di pengadilan besok! Aku menandatangani surat cerai itu agar kau bisa hidup bebas, bukan agar kau mati keracunan di ruang bawah tanah bersamaku!"

​"Surat cerai itu palsu, Mas," balasku dengan senyum getir yang dipaksakan. Air mata yang hangat mengalir turun menyusuri pipiku yang dingin. "Aku membaca catatan kecilmu di balik map Visum et Repertum tadi siang. Tinta Montblanc pudar itu... aku tahu kau tidak pernah benar-benar berniat membuangku."

​Mata Ghazali melebar. Tubuhnya tersentak pelan hingga kami nyaris kehilangan keseimbangan. "Kau... kau membacanya? Lalu kenapa kau berakting sebegitu marahnya di ruang mediasi tadi?"

​"Karena kau yang memintaku untuk melawamu agar kita bisa menang," jawabku lirih, menatap lurus ke dalam lautan penyesalan di matanya. "Dan karena jauh di dalam hatiku, sebagian dari diriku memang marah padamu. Marah karena kau selalu menanggung semuanya sendirian. Marah karena kau mengira kau harus menjadi penjahat agar aku bisa selamat."

​Ghazali memejamkan matanya rapat-rapat. Sebulir air mata akhirnya lolos dari pertahanan sang jaksa, jatuh bercampur dengan lumpur di dasar bak seng.

​"Kau tidak mengerti, Keana," suaranya berupa bisikan yang sangat menyayat hati. "Selama tiga puluh tahun, duniaku adalah tentang reputasi, citra yang sempurna, dan kebohongan yang elegan. Saat kakek memaksaku menikahimu, aku sangat marah. Kau datang dengan bau formalinmu, dengan pandanganmu yang selalu mencari kebenaran yang telanjang. Kau adalah ancaman terbesar bagi dunia palsu yang kubangun."

​Ia membuka matanya, menatapku dengan kerentanan absolut. "Tapi malam itu, di bawah satu selimut di apartemen Sudirman... aku menyadari bahwa aku tidak lagi peduli pada duniaku. Aku hanya ingin berada di duniamu. Dunia di mana kebenaran tidak pernah disembunyikan. Aku mencintaimu, Keana. Aku mencintaimu dengan cara yang paling pengecut dan menyedihkan yang bisa dilakukan oleh seorang pria."

​Pengakuan itu menghantam dadaku lebih keras daripada hantaman pintu baja hidrolik tadi. Napasku tercekat. Kata-kata cinta yang selama ini kurindukan—kata-kata yang selalu kupikir salah alamat—kini diucapkan di tempat yang paling tidak romantis di muka bumi: berdiri di atas bak berisi mayat, di bawah ancaman gas beracun yang mulai mencekik leher kami.

​"Waktu untuk menyatakan cinta ini sungguh sangat tidak profesional, Jaksa Mahendra," isakku, memaksakan sebuah tawa di tengah tangisanku. Aku membalas cengkeraman tangannya, menyatukan jari-jari kami di atas udara beracun itu. "Tapi... aku juga mencintaimu. Dan aku menolak untuk membiarkan cerita kita berakhir dengan label 'mati lemas di ruang bawah tanah'."

​Pandanganku mulai berkunang-kunang. Level Sevoflurane terus naik, mencapai batas lutut, lalu pinggang kami. Rasa kantuk yang mematikan mulai menyuntikkan racunnya ke dalam sistem saraf pusatku.

​Aku menunduk menatap lantai, mencari satu-satunya harapan terakhir kami. Mataku tertuju pada panel elektronik kecil yang menempel di dinding sebelah pintu baja. Itu adalah modul kontrol pintu hidrolik magnetik.

​Dan tepat di samping kakiku, tergeletak jeriken biru tua berisi asam mematikan.

​"Mas," panggilku, menahan rasa berat di kelopak mataku. "Pintu baja magnetik di Indonesia didesain dengan sistem Fail-Safe. Jika terjadi korsleting listrik yang ekstrem pada sirkuit utamanya, magnetnya akan kehilangan daya secara otomatis agar orang tidak terjebak saat kebakaran."

​Ghazali mengikuti arah pandanganku. "Kau ingin membuat sirkuit itu korslet? Dengan apa? Kita tidak punya benda logam panjang atau sumber api."

​"Kita punya cairan yang jauh lebih korosif dari api," aku menunjuk ke arah jeriken berlogo tengkorak bersilang itu. "Hydrofluoric Acid (Asam Hidrofluorik) 70 persen. Jika cairan itu dituangkan ke dalam celah panel sirkuit tersebut, sifat korosifnya akan melelehkan kabel tembaga dan plastik dalam hitungan detik, menciptakan korsleting masif."

​"Biar aku yang melakukannya," Ghazali bersiap untuk turun dari bak.

​"Tunggu, Ghazali! Dengarkan aku baik-baik!" aku menahan tangannya dengan seluruh sisa tenaga yang kumiliki. "Asam Hidrofluorik bukanlah asam biasa. Zat ini menembus kulit tanpa langsung menimbulkan rasa perih di permukaan. Ia masuk ke dalam aliran darah dan mengikat ion kalsium serta magnesium dalam tubuhmu."

​Aku menatapnya dengan kepanikan seorang dokter yang sangat memahami fisiologi kematian. "Jika cairan itu mengenai kulitmu walau hanya beberapa tetes, ia akan menyebabkan hipokalsemia akut. Jantungmu bisa berhenti berdetak mendadak. Kau tidak boleh menyentuhnya!"

​Ghazali tersenyum lembut. Senyum seorang pria yang sudah selesai berdamai dengan takdirnya.

​"Kau ingat apa yang kau katakan di ruang mediasi tadi pagi?" tanyanya pelan. "Kau bilang aku membuang berlian demi memungut pecahan kaca beracun. Kau salah, Keana. Malam ini, aku akan mengambil racun itu dengan tanganku sendiri agar berlianku bisa kembali ke permukaan dan bersinar."

​"Tidak, Ghazali! Jangan gila!"

​Ghazali melepaskan genggaman tangan kami. "Simpan tulang Kakek di sakumu, Dokter. Dan bersiaplah untuk mendorong pintu itu."

​Tanpa membiarkanku membantah lagi, Ghazali melompat turun ke lantai beton. Saat tubuhnya masuk ke dalam area gas yang pekat, ia terbatuk hebat. Namun ia mengabaikannya. Ia membuka sabuk kulit dari pinggangnya, melilitkannya ke gagang jeriken biru tua itu agar tangannya tidak bersentuhan langsung dengan plastik yang mungkin telah terkontaminasi tumpahan asam di bagian luarnya.

​Ia menarik napas panjang terakhir dari udara bersih di atas, lalu memutar tutup segel jeriken tersebut menggunakan ujung sepatu pantofelnya.

​Ssssshhh.

​Uap asam yang sangat reaktif langsung mengepul saat tutup itu terbuka, bereaksi dengan kelembapan udara. Asap putih keabu-abuan itu sangat korosif.

​"Cepat, Mas! Napasmu!" teriakku dari atas bak, pandanganku semakin buram.

​Ghazali menggunakan ujung sabuk kulitnya yang tebal, mencelupkannya sedikit ke dalam mulut jeriken hingga kulit itu menyerap cairan asam mematikan tersebut. Asap mengepul dari sabuk yang perlahan mulai meleleh.

​Dengan gerakan cepat dan menahan napas, Ghazali berlari ke arah panel pintu. Ia menempelkan ujung sabuk yang basah oleh asam hidrofluorik itu tepat ke celah ventilasi modul elektronik.

​Reaksi kimianya terjadi secara instan dan sangat brutal.

​Cairan mematikan itu melelehkan lapisan plastik panel seketika. Suara mendesis yang mengerikan terdengar, diikuti oleh percikan api berwarna biru kehijauan saat asam tersebut memakan habis sirkuit tembaga di dalamnya.

​BZZZT! KLANG!

​Sistem Fail-Safe terpicu. Suara kunci magnetik yang melepaskan cengkeramannya dari baja seberat dua ratus kilogram itu berbunyi sangat keras. Pintu hidrolik itu sedikit terbuka, membiarkan udara segar dari lorong walk-in closet masuk menggantikan gas beracun.

​"Keana! Keluar!" raung Ghazali. Ia mendorong pintu baja yang berat itu dengan bahunya.

​Aku melompat dari bak seng, nyaris terjatuh karena kakiku sudah mati rasa akibat efek gas. Aku berlari menembus pintu yang terbuka, menghirup udara bersih dengan rakus hingga paru-paruku terasa sakit.

​Ghazali menyusul di belakangku. Kami berdua merangkak keluar dari walk-in closet, terseok-seok menembus kamar pengantin yang gelap, lalu berlari keluar dari kamar utama menuju koridor lantai dua.

​Rumah itu masih sepi, gelap gulita karena listrik yang dipadamkan Nyonya Ratna. Kami menuruni tangga pualam dengan gerakan tak beraturan, bertabrakan dengan dinding, mencoba melarikan diri dari neraka bawah tanah tersebut secepat mungkin.

​Begitu kami menendang pintu depan dan keluar menuju halaman, hujan badai langsung menyambut kami dengan guyuran air sedingin es. Kami berlari menuju jalanan aspal di luar gerbang utama yang tidak terkunci, menjauh sejauh mungkin dari zona kematian Mahendra.

​Setelah merasa cukup jauh, kakiku tak lagi mampu menopang tubuhku. Aku ambruk ke atas aspal yang basah. Napasku tersengal, namun udara segar perlahan mulai membersihkan residu Sevoflurane dari otakku.

​"Kita berhasil," napasku memburu, tawa histeris lolos dari bibirku. Aku merogoh saku blazer-ku. Plastik klip kecil berisi potongan os femur kakek mertuaku masih aman di sana. "Kita punya buktinya, Mas. Besok pagi, Nyonya Ratna dan Maia akan berada di balik jeruji besi."

​Aku menoleh ke arah Ghazali yang berlutut di aspal beberapa langkah dariku.

​Namun, tawa histerisku mati seketika.

​Ghazali tidak sedang merayakan kemenangan kami. Ia berlutut membungkuk, tubuhnya gemetar hebat secara tidak wajar. Ia memegangi dada sebelah kirinya dengan lengan kirinya, sementara tangan kanannya...

​Tangan kanannya disembunyikan di balik tubuhnya.

​"Ghazali?" panggilku, rasa dingin yang jauh lebih mematikan dari hujan merayap di tengkukku. Aku mencoba merangkak mendekatinya. "Ghazali, kau kenapa?"

​Ia mengangkat wajahnya. Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, wajahnya tampak sepucat mayat. Bibirnya membiru. Napasnya pendek-pendek, mengindikasikan aritmia—gangguan irama jantung yang fatal.

​"Jangan... jangan mendekat," suaranya berupa parauan yang tersendat.

​Aku tidak mempedulikan larangannya. Aku berhambur ke arahnya dan menarik lengan kanannya secara paksa.

​"Ya Tuhan!" jeritanku pecah menembus deru hujan.

​Telapak tangan kanan Ghazali telah melepuh mengerikan. Kulitnya memutih pucat dengan pinggiran merah yang meradang, mengelupas di beberapa bagian. Saat ia memegang sabuk yang basah oleh asam hidrofluorik tadi, cairan korosif itu menetes dan meresap menembus kulit tangannya.

​Asam itu tidak membakarnya seperti api, melainkan meresap diam-diam ke dalam aliran darahnya. Dan sebagai dokter forensik, aku tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam tubuh pria yang kucintai ini.

​Ion fluorida dari asam itu sedang bergerak cepat dalam darahnya, mengikat kalsium yang berfungsi memompa otot jantungnya. Ia sedang mengalami hipokalsemia akut. Jantungnya sedang dipaksa untuk berhenti berdetak.

​"Mas... tidak... tidak!" tangisku histeris. Aku segera merobek kemejaku, mencoba mencari sesuatu untuk membalut lukanya, meskipun aku tahu itu percuma. Hidrofluorik tidak bisa dihentikan hanya dengan kain. Ia membutuhkan injeksi Kalsium Glukonat langsung ke dalam pembuluh vena, dan aku tidak memiliki alat medisku di sini!

​Aku mencoba meraih wajahnya, mencoba memeluknya, namun Ghazali menggunakan sisa tenaganya untuk menepis tanganku secara halus. Ia mundur selangkah, menjaga jarak dari sentuhanku.

​"Jangan sentuh aku, Keana..." napasnya semakin putus-putus, matanya mulai kehilangan fokus. "Residu... residu asamnya masih menempel di kulit dan bajuku... jika menyentuhmu... kau bisa ikut keracunan."

​"Aku tidak peduli! Biarkan aku menyentuhmu! Biarkan aku memelukmu!" aku meraung, meronta dalam genangan air hujan, keputusasaan merobek setiap inci kewarasanku.

​Ghazali memaksakan sebuah senyum lemah yang sangat menyayat hati. Bibirnya bergetar hebat. "Malam ini... biarlah menjadi malam tanpa sentuhan, Dokter. Kau bilang... kau benci dengan aroma formalin... karena baunya mengingatkanmu pada kematian."

​Ia terbatuk, darah segar mengalir kecil dari sudut bibirnya—tanda bahwa organ internalnya mulai mengalami syok.

​"Mulai besok... aku harap kau mengingatku bukan dari... bau kematian atau jas mahal," suaranya semakin pelan, tenggelam oleh suara hujan. "Ingatlah aku... sebagai pria yang akhirnya... menemukan alamat yang benar untuk cintanya."

​"Ghazali! Tetap buka matamu! Tolong! Tolong, siapa pun!" teriakku menatap jalanan yang kosong melompong. Aku merogoh ponselku dengan tangan bergetar, namun layarnya mati total karena terendam air hujan.

​"Kertas cerainya... palsu, Keana," bisik Ghazali, matanya perlahan menutup. "Kau... masih milikku..."

​Tubuh tegap itu akhirnya tumbang. Ia ambruk ke aspal dengan bunyi debuman pelan, tak sadarkan diri. Dadanya nyaris tidak bergerak. Irama jantungnya telah melemah hingga batas kritis.

​"GHAZALI!"

​Aku menjerit, sebuah raungan primal yang mencabik pita suaraku. Di tengah badai yang memekakkan telinga ini, aku duduk berlutut di depan tubuh suamiku yang sekarat. Tanganku tertahan di udara, tak mampu menyentuhnya, tak mampu menyelamatkannya.

​Sebagai seorang spesialis forensik, aku bisa membedah kematian dengan presisi absolut. Namun malam ini, melihat pria yang kucintai sekarat di depanku tanpa bisa kusentuh, adalah siksaan paling brutal yang pernah diciptakan oleh alam semesta.

​Malam tanpa sentuhan ini... telah menjadi neraka yang sesungguhnya.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!