NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 30

Aroma kuah sup ayam yang gurih perlahan memenuhi seluruh sudut ruko lantai dua A.R Design. Di dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah, Mbak Lastri sibuk mengaduk panci sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar utama.

Di dalam kamar itu, suasana begitu tenang. Sinar matahari sore menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan bayangan hangat di atas tempat tidur.

Kirana sedang bersandar pada tumpukan bantal, sibuk mewarnai buku gambar dengan krayon di tangannya. Kakinya yang dibalut perban diganjal bantal kecil agar terasa lebih nyaman.

Di sampingnya, Arumi duduk dengan tenang. Jemarinya yang biasa bergerak lincah memotong pola kain, kini dengan penuh kelembutan mengupas buah apel merah, memotongnya menjadi bentuk kelinci kecil yang lucu.

"Ini, Sayang. Makan buahnya dulu supaya cepat sehat," ucap Arumi dengan senyum lembut yang tulus. Rasa lelah yang mendera sejak semalam seolah menguap setiap kali ia menatap wajah polos putrinya.

"Makasih, Ibu," Kirana menerima potongan apel itu dengan riang, langsung menggigitnya hingga menimbulkan bunyi renyah. "Ibu nggak kerja? Nanti dicariin sama Eyang Ling, lho."

Arumi terkekeh pelan, mengacak rambut Kirana dengan sayang. "Hari ini Ibu kerjanya di samping Kirana dulu. Eyang Ling sudah tahu kok, katanya Kirana harus ditemani sampai benar-benar sembuh."

Melihat tawa kecil Kirana, sebagian beban berat di dada Arumi luruh. Di sinilah dunianya yang sebenarnya.

Arumi sadar, untuk bangkit dari keterpurukan, ia tidak boleh membiarkan kebencian mendikte hidupnya. Ia bangkit demi masa depan Kirana, bukan sekadar untuk membalas dendam.

~~

Pukul empat sore, ketukan pelan terdengar di pintu bawah ruko. Mbak Lastri yang baru saja selesai merapikan dapur segera turun untuk membuka pintu. Tidak lama kemudian, langkah kaki yang mantap terdengar menaiki tangga kayu ruko tersebut.

Arumi yang sedang merapikan selimut Kirana menoleh saat pintu kamar yang sedikit terbuka diketuk dari luar. Sosok Bram berdiri di sana, mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu terang dengan membawa sebuah kantong kertas berlogo toko mainan edukasi.

"Selamat sore," sapa Bram dengan suara rendah yang menenangkan, seolah tahu bahwa ada anak kecil yang sedang beristirahat di dalam.

"Om Bram!" seru Kirana gembira, langsung meletakkan krayonnya.

"Hai, jagoan kecil," Bram berjalan mendekat dengan senyum hangat. Ia membungkuk sedikit, memberikan kantong kertas itu kepada Kirana. "Om punya sesuatu supaya Kirana nggak bosan selama harus tiduran di kasur. Ini lego balok, nanti bisa disusun jadi rumah-rumahan atau istana."

"Wah, mau! Makasih banyak, Om!" Mata Kirana berbinar-binar, langsung membuka hadiah itu dengan antusias.

Arumi berdiri, merasa sedikit tidak enak sekaligus tersentuh dengan perhatian pria itu. "Bram, kamu repot-repot sekali. Kemarin sudah antar kami dari rumah sakit, kemarin kirim bunga, sekarang malah bawakan mainan lagi."

"Sama sekali tidak repot, Arumi. Kebetulan saya ada janji temu dengan Madam Ling di bawah untuk memeriksa sampel kain serat pisang terbaru. Jadi, sekalian mampir untuk menengok kondisi Kirana," jawab Bram santai, mengalihkan agar Arumi tidak merasa sungkan.

Bram kemudian menatap Arumi lekat-lekat. Di bawah cahaya sore yang temaram, ia bisa melihat gurat-gurat halus kelelahan di sekitar mata Arumi.

Meskipun wanita itu mencoba tersenyum dan bersikap tegap seperti biasa, Bram yang terbiasa mengamati detail terkecil pada serat kain, bisa merasakan ada sebuah luka mendalam yang sedang disembunyikan Arumi rapat-rapat.

Bram tahu sedikit banyak tentang masa lalu Arumi dari desas-desus pasar, tentang bagaimana ia diceraikan, diusir, dan direndahkan oleh keluarga besarnya.

Melihat Arumi yang sekarang begitu protektif dan lembut terhadap anaknya, di tengah badai bisnis yang sedang ia hadapi, menumbuhkan rasa kagum yang luar biasa di hati Bram.

Ada ketulusan murni di diri wanita ini, sebuah keindahan yang tidak dibuat-buat, yang justru terpancar saat ia sedang berada di titik paling rapuhnya sebagai seorang ibu.

"Bram, kalau mau bicara soal sampel kain, kita bisa bicara di ruang tengah saja biar Kirana bisa bermain dengan tenang," ajak Arumi pelan.

"Tentu," Bram mengangguk, lalu berpamitan kecil pada Kirana. "Om keluar dulu ya, Kirana. Mainnya hati-hati, jangan banyak gerak dulu kakinya."

"Siap, Om Bram!" sahut Kirana dengan tangan memberi hormat kecil, membuat kedua orang dewasa itu tersenyum.

Di ruang tengah lantai dua yang merangkap sebagai ruang tamu darurat, Arumi menyajikan secangkir teh herbal hangat untuk Bram.

Mereka duduk berhadapan di sofa kain berwujud minimalis. Di atas meja jati di antara mereka, beberapa lembar sketsa gaun untuk koleksi Sustainable Silk pesanan Nusantara Galeria tampak berserakan.

Bram mengambil salah satu sketsa tersebut atas izin Arumi. Ia memperhatikan detail potongan gaun yang tampak anggun namun memiliki struktur yang sangat kuat pada bagian bahu.

"Desain yang luar biasa," puji Bram tulus. "Ini bukan sekadar pakaian. Dari goresan penamu, aku bisa merasakan ada pesan tentang kebebasan dan kekuatan seorang wanita yang ingin kamu sampaikan."

Arumi tersenyum tipis, menyesap tehnya perlahan. Hawa hangat dari cangkir meresap ke telapak tangannya.

"Mungkin karena egoku sebagai desainer sedang mendominasi, Bram. Aku ingin setiap wanita yang memakai baju ini merasa bahwa mereka berharga, bahwa mereka tidak bisa didefinisikan hanya oleh kata-kata orang lain atau kegagalan di masa lalu."

Bram meletakkan kembali sketsa itu, lalu menatap langsung ke dalam manik mata Arumi. "Kamu tahu, Arumi? Banyak orang di luar sana yang mengira kamu melakukan semua ini, mempercepat produksi, mengambil kontrak Nusantara Galeria, hanya karena ingin menjatuhkan perusahaan lain."

Arumi menegang sejenak. Sorot matanya berubah agak waspada. "Lalu, apakah kamu juga berpikir demikian?"

"Tidak," jawab Bram cepat dan tegas, tanpa keraguan sedikit pun. Suaranya melembut, dipenuhi getaran ketulusan yang membuat pertahanan Arumi perlahan mengendur. "Aku melihat mata seorang ibu yang sedang membangun benteng tinggi untuk anaknya. Kamu tidak sedang menghancurkan siapa pun, Arumi. Kamu hanya sedang mengambil kembali hak dan harga dirimu yang pernah dirampas. Dan bagiku, itu adalah hal paling terhormat yang bisa dilakukan oleh seorang manusia."

Mendengar kata-kata itu, tenggorokan Arumi terasa tercekat. Selama ini, semua orang yang mendukungnya selalu membakar semangatnya dengan narasi 'perlawanan' dan 'balas dendam'.

Mereka ingin melihat Arumi menang agar bisa menginjak balik orang-orang yang dulu menindasnya. Namun Bram berbeda. Pria itu justru melihat melampaui amarahnya. Bram melihat rasa sakitnya, ketulusannya, dan perjuangannya sebagai seorang ibu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arumi merasa benar-benar dimengerti. Bukan sebagai Direktur A.R Design yang ambisius, melainkan sebagai Arumi yang utuh.

"Terima kasih, Bram," bisik Arumi. Suaranya agak serak, menahan haru yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. "Kata-katamu... sangat berarti untukku saat ini."

Bram tersenyum hangat, hatinya berdesir melihat binar rapuh namun indah di mata Arumi. Ia menahan diri untuk tidak egois dengan menyatakan perasaannya yang kian mendalam secara terang-terangan.

Bagi Bram, menyukai Arumi dalam diam, menjadi sandaran yang kokoh di saat wanita itu membutuhkan, dan memastikan langkah kaki Arumi tidak lagi menginjak duri tajam, sudah lebih dari cukup untuk saat ini.

Sementara itu, di lantai bawah, workshop A.R Design tampak sibuk namun penuh dengan canda tawa yang hangat. Pasukan Jarum, sedang sibuk menjahit keliman batch pertama gaun sutra organik.

Tidak ada raut wajah tegang atau ketakutan di antara mereka, meskipun mereka semua tahu ruko ini sedang menjadi pusat perhatian nasional.

"Eh, Jeng Lastri," bisik Shinta sambil memasukkan benang ke lubang jarum mesin jahitnya. "Itu Den Bram di atas awet banget ya ngobrolnya sama Ibu Arumi. Menurutmu, Den Bram itu ada rasa nggak sih sama bos kita?"

Mbak Lastri langsung menjewer pelan telinga Shinta sambil tertawa. "Kamu itu ya, kerjaan belum kelar sudah mau bergosip. Tapi... kalau dipikir-pikir, Den Bram itu cocok banget sama Bu Arumi. Ganteng, sopan, mapan, dan yang paling penting, sayang banget sama Kirana. Nggak kayak si Reza itu, ganteng-ganteng serigala!"

"Iya, betul!" sahut pekerja lain di sudut ruangan.

Madam Ling yang baru saja turun dari ruang pola menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah para pekerjanya. Namun, senyum simpul tidak bisa disembunyikan dari wajah wanitanya yang sudah berumur itu.

"Sudah, sudah. Jangan digoda dulu bos kalian. Biarkan prosesnya berjalan alami. Yang penting sekarang, selesaikan jahitan ini. Kita harus buktikan pada Nusantara Galeria bahwa pilihan mereka tidak salah."

"Siap, Eyang Ling!" seru seluruh wanita di dalam workshop itu dengan penuh semangat.

Di tempat ini, kerja keras bukan lagi menjadi beban, melainkan sebuah jembatan menuju kemandirian ekonomi dan pemulihan harga diri yang sempat terampas oleh kerasnya status sosial sebagai janda di masyarakat.

~~

Malam pun tiba. Setelah Bram pamit pulang dengan janji akan mengawal sendiri pengiriman bahan baku esok hari, Arumi kembali berdiri di ruang kerjanya. Suasana ruko sudah sepi karena para pekerja sudah pulang ke rumah masing-masing, menyisakan Mbak Lastri yang menemani Kirana tidur di kamar atas.

Arumi berjalan mendekati manekin yang mengenakan gaun utama untuk koleksi Sustainable Silk.

Gaun itu berwarna putih gading, terbuat dari perpaduan sutra alami dan serat pisang pilihan dari perusahaan Bram. Potongannya sangat sederhana, namun jatuh dengan begitu anggun, memancarkan kemewahan yang bersahaja namun berkelas tinggi.

Ia menyentuh permukaan kain yang lembut itu. Besok pagi, seluruh gerai utama Nusantara Galeria di Jakarta, Surabaya, dan Medan akan memajang gaun ini di etalase depan mereka. Di saat yang sama, surat kabar bisnis akan merilis artikel tentang peralihan kontrak eksklusif dari PT. Tekstil Sejahtera ke A.R Design.

Arumi tahu, Reza pasti sedang memikirkan seribu satu cara hukum untuk menjatuhkannya melalui tuduhan spionase industri seperti yang sempat ia ancamkan. Namun, Arumi tidak lagi merasa takut.

Ia tidak melakukan kecurangan. Kemenangan ini murni karena kualitas, ketekunan, dan tangan-tangan terampil para wanita yang senasib dengannya.

Ia mengambil ponselnya yang sejak sore sengaja ia matikan. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi masuk. Salah satunya adalah pesan singkat dari nomor yang sangat ia kenal - Reza.

Reza - "Arumi, jangan pikir kamu sudah menang hanya karena Nusantara Galeria memilihmu. Kontrak itu bisa dibatalkan kapan saja jika aku membongkar siapa kamu sebenarnya ke media. Kita lihat seberapa bertahan ruko kecilmu itu minggu depan."

Arumi membaca pesan itu tanpa ada sedikit pun riak amarah di wajahnya. Ia tidak membalas. Dengan gerakan jempol yang santai, ia langsung memblokir nomor tersebut secara permanen. Ancaman Reza kini terasa seperti angin lalu yang tidak lagi mampu menggoyahkan fondasi hidupnya.

Arumi berjalan ke jendela, menatap ke arah langit malam yang cerah bertabur bintang. Di sudut ruangan, buket bunga matahari dari Bram masih berdiri dengan anggun di dalam vas, memancarkan aura optimisme yang kuat.

Arumi memejamkan mata sejenak, menghirup udara malam yang sejuk dengan dada yang lapang.

Ia tahu, jalan di depannya mungkin masih akan panjang dan berliku. Namun malam ini, sambil mendengarkan deru napas teratur Kirana dari kamar sebelah, dan mengingat sorot mata hangat nan tulus dari Bram, Arumi tahu satu hal pasti.

Ia adalah Arumi yang baru - seorang ibu, seorang desainer, dan seorang wanita yang telah berhasil menyusun kembali pecahan kacanya menjadi sebuah mahkota yang tak tertahankan indahnya.

Dan kali ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa merebut mahkota itu darinya.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Patrish
Reza licik...menyerang anaknya sendiri
Yunita Asep
sudah tamatkah., ?
Yunita Asep
lanjuttkaaannn...
Yunita Asep
lanjuutt...
Yunita Asep
siiaaapp...
Yunita Asep
lanjuutt...
Yunita Asep
hebat euy.. Arumi... semangaatt..!!
Yunita Asep
woww kerreenn.. Arumi... lanjuutt...
Yunita Asep
thorr.. punya dendam ap y DindaRini kok julid amat gitu.. am Arum...
Yunita Asep
ah gk sanggup terus bcnya... thorr... tapi penasaran....
Yunita Asep
ya Allah sedihnya...
Yunita Asep
kasian Arumi thorr...
Yunita Asep
kasiannya Arumi thorr... nyesek sy bcnya...
Patrish
👍🏻❤👍🏻❤👍🏻❤👍🏻❤👍🏻❤👍🏻❤
Patrish
ayoookkkk...lanjut Arumi...
Yunita Asep
mampir y thorr...
Enny Suhartini
terimakasih double update nya
Patrish
mantab
Patrish
aayyoookkkk
Patrish
makin semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!