Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Angin malam merayap di sela-sela gedung SMA Nusa Nangsa, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di tengah keramaian festival Lentera Cakrawala, Arga Baskara berdiri mematung di dekat barisan stan makanan yang mulai sepi. Matanya tidak pernah benar-benar lepas dari satu titik, yaitu sosok Nala Anindita yang sedang berdiri di dekat panggung utama.
Nala tampak sedikit menggigil. Ia berulang kali mengusap lengan atasnya, berusaha menghalau udara malam yang semakin tidak bersahabat. Arga menyadari itu. Delapan tahun mengenal Nala membuatnya paham betul bahwa gadis itu sangat rentan terhadap suhu rendah.
Arga menunduk, menatap kemeja flanel kotak-kotak yang tersampir di pundaknya. Ia sudah melepaskan kemeja itu sejak tadi, menyisakan kaus hitam polos di tubuhnya. Ada keraguan yang bergejolak di dadanya. Apakah ia harus mendekat? Apakah kehadirannya akan merusak suasana hati Nala yang tampak sedang menikmati musik?
Satu tarikan napas panjang diambilnya. Arga memutuskan untuk mencoba sekali saja. Ia ingin menjadi orang yang memberikan kehangatan itu, persis seperti janji-janji kecil yang pernah mereka tukar saat masih kanak-kanak. Ia mulai melangkah, jemarinya meremas kain flanel itu dengan erat.
Namun, langkah kaki Arga mendadak terkunci di aspal lapangan.
Hanya terpaut beberapa meter darinya, Satria Dirgantara bergerak lebih cepat. Dengan gerakan yang tampak begitu alami dan penuh percaya diri, Satria melepas jaket varsity miliknya. Ia tidak bertanya, melainkan langsung menyampirkan jaket tebal itu ke bahu Nala.
"Pakai ini, Nal. Kamu sudah mulai pucat karena kedinginan," ujar Satria dengan suara bariton yang terdengar jelas di telinga Arga.
Nala sempat terkejut, namun sedetik kemudian sebuah senyuman tipis terukir di wajahnya. Ia menarik kerah jaket itu agar lebih rapat membungkus tubuhnya yang mungil.
"Terima kasih, Sat. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Nala dengan nada khawatir yang tulus.
Satria terkekeh ringan, tangannya sempat mengusap puncak kepala Nala dengan santai.
"Aku atlet basket, Nal. Udara seperti ini tidak ada apa-apanya dibanding latihan pagi di lapangan terbuka," jawab Satria yang disusul oleh tawa kecil dari Nala.
Arga menyaksikan pemandangan itu dari balik bayangan pilar gedung kesenian. Kemeja flanel di tangannya terasa tiba-tiba menjadi sangat berat dan tidak berarti. Kemeja itu tipis, jauh berbeda dengan jaket milik Satria yang terlihat begitu hangat dan kokoh.
Ia melihat betapa serasinya mereka berdua di bawah sorotan lampu taman yang temaram. Satria adalah matahari yang terang, sementara Nala adalah bunga yang sedang mekar di bawah sinarnya. Sedangkan Arga hanyalah sisa-sisa kenangan yang enggan beranjak dari kegelapan.
Rara Kinanti yang kebetulan lewat di dekat sana sempat menangkap keberadaan Arga. Ia menghentikan langkahnya, menatap Arga dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa iba yang memancar dari mata sahabat Nala itu. Rara hendak menghampiri, namun Arga dengan cepat membuang muka.
Arga mundur satu langkah, lalu dua langkah. Ia membalikkan badan dengan cepat sebelum Nala menyadari kehadirannya. Kemeja flanel yang semula hendak ia berikan, kini ia remas kuat-kuat dan ia sampirkan kembali ke pundaknya dengan kasar.
"Ayo pergi, Ga. Jangan jadi orang bodoh lagi," bisik Arga pada dirinya sendiri.
Suara musik dari panggung utama terdengar semakin menjauh seiring langkah kakinya yang membawa dia menuju gerbang belakang sekolah. Arga tidak lagi menoleh. Ia membiarkan suara tawa Nala dan Satria tertinggal di belakang, terkubur bersama dinginnya malam yang gagal ia taklukkan.
Lampu-lampu festival di SMA Cakrawala masih berpendar indah, namun bagi Arga, semuanya telah redup. Ia berjalan menyusuri trotoar yang sepi, menyadari bahwa beberapa kesempatan memang tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya, tidak peduli seberapa kuat ia mengingat masa lalu.
Di bawah lampu jalan yang berkedip, Arga berhenti sejenak. Ia melihat bayangannya sendiri yang memanjang di atas semen. Bayangan itu tampak kesepian, persis seperti dirinya yang selalu memilih untuk menjadi pengamat dalam hidup orang yang paling ia cintai.
Ia menarik napas dalam, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya hingga terasa sesak. Malam ini adalah pembuktian yang pahit bahwa dunia Nala sudah memiliki pelindung baru, dan pelindung itu bukan lagi anak laki-laki yang membawa robot mainan delapan tahun lalu. Arga kembali melangkah, menghilang di balik tikungan jalan yang gelap.