Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. PWB
...~•Happy Reading•~...
Rasa panas di telapak tangan Ceska makin meningkat. Bahkan lebih panas dari pada saat pertama kali potongan tiket dalam tangannya terurai jadi serbuk berwarna-warni, bagaikan pelangi.
Bersamaan dengan meningkatnya rasa panas pada kedua telapak tangannya, Ceska merasa tubuhnya ringan bagaikan kapas yang melayang, lalu hilang kesadarannya.
Tiba-tiba dia merasa kepalanya sangat sakit, karena rambut ditarik ke belakang dengan sentakan yang kuat. Sontak dia menggerakan kedua sikut ke belakang. "Uuuuuhhhkkk..." Terdengar erangan suara pria di belakangnya.
"Kurang ajar...... Lu berani lawan Gue?" Suara bentakan pria di belakang disertai dengan dorongan kuat pada kepalanya, hingga Ceska terdorong ke depan.
Refleks Ceska menekan kaki ke lantai dan mengangkat kedua tangan ke depan untuk menahan dan mencegah, agar dahinya tidak membentur cermin wastafel. Namun efek dari dorongan tangannya membuat cermin jadi retak.
Seketika tidak terdengar suara atau gerakan di sekitarnya, sangat sunyi. Semua menahan nafas melihat retakan cermin lokal, hanya pada bekas telapak tangannya.
Ceska pun jadi tercengang melihat ke arah cermin yang retak. Dia segera menarik kedua tangan, untuk melihat kedua telapak tangannya.
Ketika melihat telapak tangannya aman dan tidak terluka, dia menghembuskan nafas lega. Namun saat menatap cermin, dia makin tercengang melihat gadis yang ada di dalam cermin di antara retakan. Seorang siswi SMA dengan rambut awut-awutan sedang melihat cermin dengan mata bulat membesar, panik dan takut.
Ceska terdiam mengetahui dia berada dalam toilet dan ada tiga siswa sedang berdiri di belakangnya. "Siapa Luu..." Terdengar suara dari belakangnya. Ceska segera berbalik dan melihat tiga siswa yang menatap marah dan mata melotot padanya.
Ceska sangat marah. "Siapa Gue? Lu buta atau amnesia? Nih, baca nama Gue. Kalau ngga bisa baca, Gue bacain. Hernita." Ceska berkata lantang, tidak mundur. Malah balik menantang, karena kepalanya masih sakit.
Hernita terkejut mengetahui ada suara membentak, seakan dia. Padahal dia sangat takut kepada tiga siswa yang sedang mengurungnya.
Jantungnya berdegup kuat, hingga dia mengepalkan tangan untuk mengurangi rasa takut. Agar dia tidak menutup mulut, karena suara bentakannya sendiri.
"Hernita? Ngga mungkin Luu...." Ke tiga siswa makin memelototi dia. Mereka tidak percaya, Hernita yang selalu ketakutan dan menghindari mereka bisa membentak dengan suara lantang.
Apa lagi mereka melihat telapak tangan Hernita tidak mengeluarkan darah atau terluka. Padahal cermin wastafel retak, parah. Ketiga pria itu menatap dia dari atas ke bawah dan sebaliknya, berulang kali untuk memastikan.
"Terserah Luu. Mau percaya, mau ngga, bukan urusan Gue." Ceska mau melangkah, tapi kedua siswa mendekat setelah mendapat kode dari yang ada di depan Hernita untuk menghalangi.
"Enak aja... Udah ampir patahin rusuk Gue, mau bebas keluar dari sini? Mana itu. Pegang dia..." Perintah siswa yang bertubuh lebih tinggi di depan Hernita sambil mengulurkan tangan ke temannya.
Hernita mengerut. "Kalian mau ngapain?" Hernita bertanya, karena melihat salah satu siswa mengeluarkan benda tajam dari saku celana.
Hernita bergerak mundur, tetapi Ceska menahan langkahnya. "Minggiiirrrr..." Ceska membentak sambil mendorong kedua siswa di kiri kanan dengan kedua telapak tangannya.
Kedua siswa terdorong dengan kuat ke belakang dan memegang dada sambil meringis. Kemudian Ceska mendorong siswa di depannya yang sedang melongo dengan sekuat tenaga. Sehingga terlempar ke tembok sambil memegang dada dan meringis kesakitan.
Hernita tercengang dengan apa yang dia lakukan. Ketika melihat situasi menguntungkan, dia segera berlari keluar dari toilet. Setelah berada di lorong sekolah, dia memegang dada dengan kuat.
'Bagaimana aku bisa mendorong mereka seperti itu?' Hernita membatin sambil mengelus dada. Setelah sedikit lebih tenang, dia merapikan rambut dan seragam, lalu berjalan ke kelas.
Namun tanpa disadari Hernita, ketiga siswa yang sudah mengatasi rasa terkejut dan sakit, segera berlari keluar dari toilet untuk mengejarnya. "Ayo, lekas. Sebelum dia masuk kelas." Ucap Siswa yang lebih tinggi, karena sangat marah dan sakit hati.
Ketika mendekati Hernita dari belakang, siswa itu berjalan makin cepat dan menyenggol, bahkan menyikut Hernita. Sehingga dia terdorong ke tembok dan lengannya mengenai sesuatu yang tajam.
"Lenooox... Sakit, tauuu..." Hernita berteriak saat lengannya terasa sakit dan mengeluarkan darah. Orang yang dipanggil berjalan cuek, tidak merasa bersalah dan menyeringai puas, bisa membuat Hernita terluka.
Sambil menahan tangis, Hernita masuk ke dalam kelas. Siswa siswi yang sudah masuk kelas melihat Hernita dengan berbagai rasa hati, karena mendengar teriakan nama Lenox di lorong. Ada yang prihatin, ada yang tersenyum senang.
Hernita mengambil tissu dari dalam tas untuk menutupi goresan sambil menahan sakit dan tangis. "Nita, dipanggil ke ruang guru." Ucap salah satu siswi yang masuk ke ruang kelas.
"Rasaiiin. Jadi orang jangan belagu. Sanaa, pergi." Ucap salah satu siswi yang duduk di belakang Hernita.
"Neno, napa, Luu... Kalau ngga tau arah, ambil globe. Ngga tau perkara, komen." Siswi yang baru masuk jadi emosi mendengar komentar siswi di belakang Hernita.
"Luu juga, napa ikut campur? Mulut, mulut Gue. Suka suka Gue mau ngomong."
"Udah, Sarah. Jangan ditanggapi." Hernita berdiri, karena melihat Neno menatap sinis padanya.
"Makanya, jangan tau hitung doang. Sanaaa, ikut globe." Neno mengibaskan tangan ke arah Sarah.
"Cepatan Nita, matahari mulai bersinar terik di mulut seseorang." Sarah menarik tangan Hernita untuk keluar dari kelas.
"Cepatan di tunggu Kepsek." Bisik Sarah setelah berada di lorong.
"Iya, ini sudah jalan." Herinta jadi berjalan cepat sambil terus memegang lengannya yang sakit.
"Ada apa, sih, Sarah. Bentar lagi guru masuk kelas, loh."
"Ngga usah pikirin mau belajar. Itu urusin Lenox. Kau apain dia? Gue uda bilang jauhi dia." Sarah jadi kesal pada Hernita.
"Lah, dia yang dekatin Gue." Hernita jadi khawatir, dengar nama Leno yang mengakibatkan dia dipanggil ke ruang guru.
'Apa tadi dia terluka? Ah, mengapa tadi tanganku ngga bisa nurut? Bakalan ada asap di ruang guru.' Hernita membatin ingat Lenox yang sering cari masalah dan merundungnya.
"Udah, ngalah aja. Kalau dimarahin, minta maaf aja. Supaya Luu aman sentosa."
"Apa selama ini, Gue ngga lakukan itu? Padahal Gue di sini cuman mau belajar." Hernita jadi sedih.
"Belajar, belajar aja. Ngga usah terlalu berprestasi. Susaaah...." Sarah menasehati dan khawatir lihat Hernita sedang pegang lengan yang ditutupi tissu.
"Pemikiran apa itu? Gua mau berprestasi, karna kasihan Papah Gue. Ah, susah bicara dengan kalian anak gedongan." Hernita makin sedih.
"Bukan begitu. Sekarang bukan sekedar prestasi, tapi prestise. Kau sedang mengancam mereka dengan prestasimu." Sarah jadi serius.
"Kau tahu status orang tua Lenox di sekolah ini? Mereka akan cari kesalahanmu sedikit saja, untuk menendangmu keluar dari ini."
"Dengan begitu, kau tidak jadi ancaman dan saingan berat anak mereka" Sarah meneruskan, karena prihatin dengan nasib Hernita.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...