Chaterine berdiri diam, mengamati suaminya mencium kekasih SMA-nya, Moana, di pesta ulang tahun pernikahan mereka yang ke-2. Meskipun sudah diyakinkan, Chaterine tak bisa menghilangkan perasaan bahwa kehadiran Moana mengancam pernikahannya. Terjebak dan tercekik, Catherine mendambakan kebebasan, bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Namun Tuhan ternyata punya rencana lain untuk Chaterine. Takdir ikut turun tangan ketika ia bertemu dengan Christian, mafia terkuat di Negara Rusia. Christian menawarkan balas dendam kepada Moana dan suaminya dengan imbalan menjadi simpanannya selama setahun. Saat Chaterine bergulat dengan tawaran berbahaya ini, ia tertarik pada Christian yang misterius. Akankah ia menyetujui kontrak tersebut, dan apa yang akan terjadi seiring ketertarikannya pada Christian semakin kuat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon omen_getih72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Ace sudah tiba di sana dalam semenit. "Kawal Asisten Yasher kembali ke mobilnya dan buang semua bunga ini!"
Keringat mengalir deras dari wajah Catherine.
Apakah Christian mengambil langkah yang sangat drastis?
Apakah dia merencanakan perang dengan Dominic?
"Tapi Tuan Christian..." ia ingin menyadarkannya. Namun, Christian terlihat sangat marah.
Pria itu melotot padanya dan membuatnya menutup mulut.
Dalam hati, Catherine senang Christian meminta Ace untuk membuang bunga-bunga itu, karena ia yakin Dominic telah mengirimkannya atas perintah Moana.
Perilaku wanita itu semakin membingungkan dari hari ke hari.
Ace mengantar Yasher yang ketakutan keluar dari rumah.
Yasher masuk ke dalam mobil dan melesat pergi seperti kelelawar yang berlari keluar dari neraka.
Para pelayan yang bekerja di rumah itu mengambil bunga-bunga itu dan membawanya keluar.
Christian menoleh ke arah Catherine dan berkata dengan suara yang sangat lembut, "Kamu pasti lelah. Istirahatlah. Kita akan bertemu untuk makan malam."
Catherine mengangguk pelan. Tepat saat ia hendak pergi, Christian menarik wanita itu ke dadanya dan melingkarkan lengannya di tubuh ramping itu, memeluknya dengan hangat.
Catherine bersandar di leher dan menghirup aroma tubuh, yang membuatnya bingung karena ia bisa merasakan tubuh Christian yang tegang menjadi tenang.
Saat Christian melangkah mundur, ia tampak rileks. Dan bagian yang mengejutkan adalah bahkan Catherine merasa lebih baik.
Apa yang terjadi padanya?
Kate, Arnold, dan Francis bergabung dengan Catherine untuk makan malam, tetapi Christian tidak ada di sana.
Kate memberi tahunya bahwa ia bekerja hingga larut malam.
"Di mana kamu saat Yasher datang?" tanya Catherine pada Arnold.
Arnold menggelengkan kepalanya. "Aku mendengar apa yang dilakukan Tuan Dominic. Aku bertemu Yasher di aula utama dan terkejut. Jadi, Francis dan aku keluar untuk berbicara dengan beberapa orang dari keluarga Archer. Mereka mengatakan bahwa Tuan Dominic telah memesan bunga-bunga ini untuk Moana, tetapi dia menolak untuk menerimanya. Sebaliknya, dia menyarankan agar bunga-bunga itu dikirimkan kepadamu dan Yasher yang harus mengirimnya."
Catherine berhenti makan sambil menatap Arnold dengan tak percaya.
"Itu bunga yang ditolak Moana? Dia bilang di telepon bahwa itu permintaan maafnya." batin Catherine. Itu lebih menyakitkan dari apapun.
Tiba-tiba, ia kehilangan selera makan. Sambil menyeka mulutnya, Catherine kembali bertanya, "Tapi apa alasan dia mengirimnya ke sini bersama Yasher?"
Francis menggelengkan kepalanya.
"Para anak buahku mencoba memahami rencananya. Mereka mengawasinya. Namun satu hal yang pasti, Tuan Dominic benar-benar terikat pada jari kelingkingnya. Sebagai seorang pemimpin, dia seharusnya tidak bersikap tidak hormat padamu seperti ini."
Catherine menahan air matanya, lalu berdiri, berjalan pelan menuju kamarnya, sambil mengucapkan selamat malam.
Kate yang merasa khawatir mengikuti langkah wanita itu dan hendak menghiburnya.
"Kumohon Kate, aku ingin sendiri," bentaknya mencengah.
Dominic selalu menemukan cara baru untuk menyakiti Catherine setiap hari. Ikatan apa pun yang tersisa di hatinya berhasil membuatnya sengsara.
Kate menghentikan langkah Catherine di pintu. "Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu."
Catherine menyentakkan tangannya dan bergegas ke tempat tidur. Sambil berteriak keras, ia merebahkan tubuhnya di sana.
Kate menghampirinya, membelai rambut dan punggungnya dengan lembut.
Tiba-tiba, ketukan di pintu mengejutkan Catherine. Ketika Kate membukanya, ia melihat seorang pelayan dengan sebuket besar bunga mawar merah.
"Siapa yang mengirim ini?" tanya Kate dengan khawatir.
"Ini dari Tuan Christian, Nona." jawab si pelayan.
Catherine yang duduk di sana, benar-benar terpana, saat menatap buket bunga yang menakjubkan itu, mulutnya menganga.
Disusun dalam pola melingkar, buket bunga itu begitu indah hingga membuatnya terkesima.
Kate terkikik saat melihat Catherine menyeka air matanya.
"Tuan Christian?" gumamnya. Ia seketika terkejut. "Berikan padaku," ucapnya, menyadari bahwa ia menyeringai diam-diam.
Pelayan menyerahkan buket bunga itu kepada Catherine dan wanita itu hampir terjatuh karena beratnya, tetapi ia memeluknya erat-erat sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bunga-bunga ini sangat indah!" ucapnya sambil menghirup wanginya.
Begitu pelayan itu pergi, Kate menghampiri Catherine dan berkata, "Sepertinya Kakakku tergila-gila padamu." Ia menyeringai dan mengusap kelopak mawar.
Catherine menempelkan wajahnya ke bunga mawar, merasakan kelopak bunga yang lembut di kulitnya.
"Kate, aku takut. Dia memintaku untuk menjadi istrinya selama setahun. Apa yang akan terjadi jika dia menemukan belahan jiwanya? Aku tidak akan sanggup menahan patah hati yang kedua, dan itulah sebabnya aku dengan hati-hati menapaki jalan ini."
Kate duduk di tepi tempat tidur dan berkata, "Christian sudah berusia tiga puluh tahun! Aku rasa dia tidak akan menemukan jodohnya dengan cepat, tapi bersamamu dia akan membungkam semua Tetua. Jadi, menurutku, manfaatkan dia sebanyak yang kamu bisa dan tetaplah hidup."
Catherine terkesiap. "Begitukah caramu berbicara tentang saudaramu?" ia memukul tangan wanita itu.
Kate terkekeh. "Bersenang-senang saja, oke? Sudah lama aku tidak melihat Kakakku sebahagia ini. Bersamamu, dia berbeda dan ada binar di matanya."
Hati Catherine membuncah senang. "Bukankah dia punya kekasih sebelumnya yang ingin membunuhku?" tanyanya ragu, merasakan sedikit kecemburuan di hatinya.
"Mungkin ada beberapa, tapi ada satu yang sampai saat ini masih mengejarnya. Marion. Dia masih sering tebar pesona saat bertemu dengan Kakakku."
Catherine terkejut dengan keinginan tiba-tiba untuk menyerbu ke rumah Marion dan menghadapinya.
"Begitu," jawabnya singkat.
Kate dan Catherine membicarakan Christian dan mantan pacarnya.
Meskipun topik itu membuat Catherine merasa ingin membunuh, ia mendengarkan setiap detailnya dengan saksama.
Siapa tahu saja ia mungkin akan membunuh mereka suatu hari nanti?
Kate pergi setelah satu jam berada di sana dan Catherine tertidur, memeluk bunga mawar.
"Terima kasih, Tuan Christian," gumamnya dan memejamkan mata.
Anehnya, Dominic tidak menghubunginya lagi untuk menerima hinaan yang ia takuti.
**
**
Di pagi hari, saat Catherine bangun, ia mendapati dirinya menatap mata cokelat yang paling indah.
Si pemilik mata itu menyeringai dan duduk di kursi dengan berkas di hadapannya.
Catherine tersentak dan bangkit dengan cepat. Kelopak mawar beterbangan di udara, mendarat lembut di tubuhnya dan tempat tidur.
"Tuan Christian?"
Christian bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Catherine.
Sambil mencondongkan tubuhnya, ia menyingkirkan kelopak mawar dari pipi Catherine dan berkata, "Jika kamu tidak segera bersiap, aku mungkin akan melompat ke tempat tidur dan menidurimu sampai tak sadarkan diri, tapi sekarang kita harus pergi ke suatu tempat." Setelah mengatakan itu, Christian mencium bibir Catherine, tidak memberinya kesempatan untuk menanggapi.
Catherine mengerang karena malu saat kesemutan menjalar di sekujur tubuhnya.
Christian mendekap tengkuk wanita itu dan memperdalam ciumannya.
Jari-jari kaki Catherine melengkung, dan mendapati dirinya mencondongkan tubuhnya ke dalam ciuman dan menginginkan lebih.
Dengan tangannya yang bebas, Christian mendorong Catherine ke tempat tidur dan menekan tubuh itu dengan tangannya, tanpa pernah melepaskan ciuman itu.
Mereka berdua jatuh di atas kelopak bunga yang sebelumnya berguguran.
**********
**********