NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 Motor Tua

Tak terasa, hari bergulir begitu cepat seperti batu yang menggelinding turun dari puncak gunung. Pasca festival, aku dan Raka (entah mengapa) menjadi semakin akrab.

Dia kini semakin intens menjemputku, menggunakan motor tuanya yang tidak jarang mogok ketika di kendarai.

Sesekali aku hanya bisa tertawa kencang, meledek Raka yang mondar-mandir memilih alat untuk mengakali mesin motornya yang enggan hidup di tengah perjalanan.

Motor tua itu kini kembali tersendat di tengah jalan, suaranya batuk-batuk sebelum akhirnya mati total.

Raka menghela napas panjang, "Aduh, Mir... ngambek lagi nih dia,” katanya sambil jongkok, mengutak-atik kabel di bawah jok.

Aku tertawa kencang, menutup mulut dengan tangan. "Rak, kalau motornya mogok terus, aku jalan kaki aja deh. Pasti lebih cepet sampe."

Raka menoleh, wajahnya memerah, tapi senyum tipis muncul. "Kalau kamu jalan kaki, aku ikut jalan sambil dorong motor."

Aku terkekeh, lalu duduk di pagar besi pembatas jalan, menatap senja yang menggantung di atas sawah. Angin membawa aroma dedaunan, membuat suasana jadi lebih tenang.

Raka masih sibuk dengan motornya, tapi sesekali melirik ke arahku. "Tau nggak, Mir. Aku sebenernya seneng kalo motornya mogok."

Aku mengangkat alis, pura-pura heran. "Seneng? Dasar cowok aneh." aku tertawa semakin lepas.

Raka tersenyum, matanya jernih. "Soalnya kalau mogok, aku bisa berhenti sebentar. Bisa ngobrol sama kamu lebih lama."

Aku terdiam, senyumku perlahan melembut. "Rak, kenapa sih motor ini nggak kamu jual aja? Kan tiap hari mogok terus."

Raka berhenti mengutak-atik kabel, lalu duduk di sampingku di pagar besi. Senja di belakangnya membuat wajahnya tampak lebih teduh.

Ia menarik napas panjang, menatap motor tuanya sebentar sebelum menoleh padaku. "Motor ini… peninggalan ayah," katanya pelan.

"Dulu pas ayah pertama kali ngajarin aku naik motor, dia titip pesan buat banyak-banyak bantu bunda." Aku terdiam, menatap motor tua itu dengan cara berbeda.

Raka melanjutkan, suaranya agak bergetar tapi tetap tenang. “Setiap kali mogok, aku ingat ayah. Ingat, tangannya kotor kena oli, tapi wajahnya tetap senyum."

"Kalau aku jual..." Aku menoleh padanya, menunggu kalimat itu selesai. Raka menghela napas, matanya tetap menatap motor tua yang diam di jalan.

"Kalau aku jual… rasanya kayak aku ikut ninggalin ayah," ucapnya akhirnya, suaranya rendah tapi jelas.

"Motor ini bukan cuma besi tua. Dia saksi semua perjalanan kami. Dari aku kecil, dari ayah antar aku ke sekolah, sampai malam-malam ayah pulang kerja dengan badan capek tapi masih sempat benerin mesin ini."

Aku terdiam, dadaku ikut hangat sekaligus berat. Senja di atas sawah perlahan berganti gelap, suara jangkrik mulai terdengar.

Raka tersenyum samar, meski matanya berkaca. "Aku tahu, Mir… motor ini bikin repot. Tapi setiap kali mogok, aku merasa ayah masih ada di sampingku. Kayak dia lagi di sini, tangannya yang belang karena matahari, senyumnya nggak pernah hilang."

Raka akhirnya berdiri, menepuk-nepuk tangannya yang kotor oleh oli. Senyumnya samar, tapi ada keteguhan di matanya. "Kayaknya dia nggak mau hidup malam ini," katanya pelan, menatap motor tuanya yang diam.

"Kita jalan kaki aja ya, Mir."

Aku bangkit dari pagar besi, merapikan rambut yang tertiup angin. "Yaudah, Rak. Jalan kaki juga nggak apa-apa. Yang penting… aku nggak sendirian."

Langkah kami mulai beriringan, motor tua itu didorong pelan di samping Raka.

Jalan desa yang sepi terbentang di depan, hanya diterangi cahaya bulan yang menetes di atas sawah.

Suara jangkrik bersahut-sahutan, sementara angin malam membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang baru jatuh.

Sesekali roda motor tersangkut di bebatuan kecil, membuat Raka tertawa kecil sambil menghela napas.

"Dia emang keras kepala," katanya, menepuk setang motor seakan berbicara dengan teman lama.

Aku menoleh, senyumku melembut. "Tapi kamu tetap sayang, ya."

Raka mengangguk, matanya jernih. "Iya."

Langkah kami terus berlanjut. Di atas sawah, bulan memantulkan cahaya ke permukaan air, seakan ikut menemani perjalanan kecil kami.

Dan di antara suara jangkrik, gemerisik angin, dan roda motor yang berderak pelan, ada rasa nyaman di tengah letih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!