PERINGATAN!! HANYA UNTUK DEWASA.
Mina terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk dan lembut, perlahan Mina pun menyadari jika dirinya telah menjalani transmigrasi seutuhnya pada tubuh seorang wanita yang menjadi ibu tiri jahat.
Mina yang memiliki hati selembut Hello Kitty mana berani melakukan kekerasan pada anak kecil, apalagi pada anak lucu yang menjadi anak tirinya, Mina pun mengambil keputusan jika dirinya akan menjadi ibu tiri yang baik untuk mengambil hati anak tirinya, nyatanya bukan hanya anak tirinya yang terpikat. Bahkan suami dari pemilik tubuh ini malah terpikat padanya, Mina yang maniak pria tampan jadi bingung dengan posisinya saat ini.
Apa yang harus Mina lakukan? Tanpa sadar suaminya telah terpikat pada Mina, padahal tujuan Mina hanyalah mengambil hati anak tirinya bukan suaminya itu? Ikuti kisah selanjutnya, selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepertinya Saya Tertarik Padamu?
Di dalam kamar tidur Gino yang bernuansa biru lembut, Mina tampak berjalan mondar-mandir dengan wajah kalut. Langkah kakinya yang gelisah mondar-mandir di atas karpet bulu tebal, mencerminkan isi kepalanya yang mendadak kusut.
“Aduh, mampus! Gue baru aja melakukan hal yang fatal banget ke ibu mertua Alicia!” rutuk Mina di dalam hati, menggigit ujung kuku ibu jarinya dengan cemas.
Dia baru sadar kalau tindakannya menyiram kepala Diana tadi benar-benar nekat. Tapi ya, lagipula itu bukan kesalahan Mina sepenuhnya, kan? Diana yang memulai duluan dengan datang ke penthouse tanpa izin, memaki, bahkan menamparnya tanpa alasan yang logis. Jiwa Mina yang mandiri dan terbiasa membela diri jelas menolak untuk diam saja ditindas begitu.
Mina menghentikan langkahnya di pinggir tempat tidur, melirik ke arah Gino. Bocah itu masih tertidur pulas setelah sempat terbangun sebentar karena suara bising di luar tadi, lalu dengan cepat kembali terlelap setelah Mina menepuk-nepuk punggungnya pelan.
“Sepertinya ini anak juga malas banget ketemu sama nenek lampir itu,” batin Mina mengira-ngira.
Biasanya Gino sudah bangun pagi-pagi sekali dengan cerewet, tapi hari ini dia malah tertidur pulas di balik selimut. Itu hanya perkiraan sembrono Mina saja, sih.
Bzzzz... Bzzzz...
Ponsel di dalam saku kardigan Mina kembali bergetar hebat. Mina tersentak kaget, buru-buru mengeluarkan benda pipih itu. Begitu melihat layarnya, matanya membelalak sempurna mendapati nama Arsenio tertera di sana. Sialnya lagi, kali ini pria itu bukan melakukan panggilan suara biasa, melainkan panggilan video!
"Aduh, tamat riwayat gue! Pasti Mak Lampir itu udah mengadu yang enggak-enggak ke anaknya," bisik Mina waswas, meraba dadanya yang berdegup kencang.
Setelah mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya dan merapikan rambutnya sekilas, Mina akhirnya menggeser tombol hijau. Panggilan video pun terhubung.
Wush!
Layar ponselnya langsung menampilkan wajah Arsenio. Namun, alih-alih berfokus pada wajah tampan nan dingin milik suaminya, mata Mina justru terbelalak dan langsung terkunci pada pemandangan di bawah wajah pria itu, sebuah dada bidang yang bidang, kokoh, dan berotot tanpa sehelai benang pun yang menutupinya! Sepertinya di negara tempat Arsenio berada sekarang masih siang atau mungkin malam hari, mengingat perbedaan waktu yang cukup jauh dengan saat ini, dan pria itu tampaknya baru selesai mandi atau sedang bersantai di kamar hotelnya.
Arsenio yang menyadari arah pandang istrinya langsung menyipitkan mata abu-abunya yang dingin. Sudut bibirnya mendadak terangkat, membentuk sebuah senyuman geli yang sangat tipis. Sengaja ingin menjebak pikiran mesum istrinya, Arsenio perlahan-lahan menurunkan posisi kamera ponselnya, memperlihatkan perut sixpack miliknya yang terpahat sempurna seperti patung Yunani.
Mina melotot sempurna, menahan napas di tempatnya berdiri. Pikiran kotornya langsung traveling ke mana-mana. Mau bagaimanapun, di kehidupan sebelumnya maupun sekarang, Mina adalah pencinta cogan nomor satu di dunia! Jadi, saat ada kesempatan emas melihat cowok tampan dengan tubuh spek bidadara terpampang nyata di depan mata, jiwa sembrono Mina jelas tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Matanya memandang tanpa berkedip selama beberapa detik.
Ehem!
Arsenio berdehem cukup keras di seberang sana, mengembalikan kamera ke posisi wajahnya yang kini tampak menatap Mina penuh arti.
"Sudah puas pemandangan gratisnya, Alicia? Mau saya turunkan lagi kameranya?" sindir Arsenio dengan nada suara yang sedikit formal namun terdengar sangat santai dan penuh kemenangan.
Wajah Mina seketika memerah padam seperti kepiting rebus. Dia langsung membuang muka ke arah samping, berpura-pura batuk kecil untuk menutupi rasa malunya yang sudah mentok ke ubun-ubun.
"I-Ikh... apaan sih! Siapa juga yang mau lihat! Kurang kerjaan banget!" gerutu Mina dengan nada santainya yang ketus.
"Udah ah, cepetan! Ada angin apa Mas Kulkas tiba-tiba video call aku? Mau pamer otot doang?"
Ekspresi Arsenio kembali berubah menjadi datar dan cuek, meskipun binar geli di matanya belum sepenuhnya hilang.
"Ibu menelepon saya sambil menangis histeris tadi," ucap Arsenio to the point.
"Dia bilang, kamu berani menamparnya semalam, dan siang ini kamu menyiram kepalanya dengan air di ruang makan. Apa itu benar?"
Mina mendengus, memutar bola matanya malas. Dengan wajah kesalnya yang kentara, dia menatap layar ponsel kembali.
"Iya! Bener banget! Malah kalau bisa, tadi mau aku siram pakai kuah sup sekalian!" jawab Mina blak-blakan tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Lagian ibu kamu itu dateng-dateng langsung main tangan ya, Mas! Dia nampar aku duluan semalam tanpa sebab, terus siang ini mau nyiram aku pakai air. Ya aku balas lah! Emangnya aku keset kaki yang bisa diinjak-injak sesuka hati?"
Mina sudah bersiap-siap menarik napas dalam-dalam, bersiap menerima amukan badai atau makian dingin dari Arsenio yang membela ibunya sendiri. Namun, alih-alih mendapatkan omelan atau ancaman cerai yang mengerikan, Arsenio justru mengembuskan napas pendek di seberang sana.
"Abaikan saja dia," ucap Arsenio singkat dan tenang.
Mina melongo, kedipan matanya mendadak melambat karena kebingungan yang amat sangat.
"Hah? Apa, Mas? Coba ulangin?" tanya Mina memastikan, telinganya mendadak merasa salah dengar.
"Saya bilang, abaikan saja ucapan Ibu. Tidak perlu kamu masukkan ke dalam hati," ulang Arsenio dengan nada santai, seolah-olah tindakan menantang ibunya bukanlah sebuah masalah besar yang harus didebatkan.
Mina benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi di dalam otak suaminya saat ini. Kenapa reaksi pria ini di luar dugaannya? Kemungkinan besar, Arsenio hanya malas dan tidak ingin memperpanjang masalah keluarga yang rumit ini selama dia berada di luar negeri. Atau... jangan-jangan si kulkas berjalan ini sengaja bersikap tenang sekarang, tapi sebenarnya sedang merencanakan sanksi atau hukuman yang jauh lebih kejam untuk Mina begitu dia pulang nanti? Memikirkan kemungkinan kedua membuat bulu kuduk Mina agak meremang.
Mina terdiam, termenung dalam lamunannya sendiri yang mulai bercabang-cabang memikirkan nasib tubuh Alicia ke depan. Saking asyiknya melamun, Mina sama sekali tidak menyadari jika sejak tadi Arsenio di seberang sana sedang menatap layarnya dengan tatapan aneh yang tidak biasa. Pria itu tidak lagi bicara, tetapi matanya sama sekali tidak berpaling dari wajah kesal dan bingung milik Mina. Ada binar ketertarikan yang asing yang perlahan tumbuh di dalam sorot mata abu-abu dingin itu saat melihat ekspresi-ekspresi hidup dari istrinya yang sekarang.
"Mas? Kok diem? Ya udah kalau gak ada yang mau diomongin lagi, aku tutup ya. Mau lanjut rebahan," ucap Mina santai, bersiap menekan tombol merah.
"Alicia..."
Suara Arsenio terdengar sangat lirih, hampir seperti bisikan samar tepat sebelum sambungan video itu terputus. Di telinga Mina, dia merasa seperti mendengar sesuatu yang aneh dari mulut Arsenio, seolah pria itu baru saja mengatakan kalimat, "Sepertinya saya mulai tertarik padamu."
Mina berkedip, menatap layar ponselnya yang kini sudah kembali ke menu utama. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba mengusir pikiran konyol itu dari otaknya.
"Ah, gak mungkin. Pasti kuping gue yang eror karena keseringan denger omelan Mak Lampir tadi," gumam Mina santai pada dirinya sendiri. Buktinya, selama panggilan tadi, pria itu tetap terlihat sedingin dan secuek biasanya, kan? Mina mendengus geli, lalu melempar ponselnya ke atas kasur dan memilih ikut merebahkan diri di samping Gino, melupakan sejenak bisikan misterius suaminya.
Bersambung....
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.🫛
semngat update lagi ya kak