Tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun termasuk ibu kandungnya, Cinderella Anesya seorang gadis yang biasa di sapa Ella itu berharap ada setitik cinta dari tunangannya.
Sayangnya pria yang menjadi tunangannya itu tak pernah menganggapnya ada dan lebih cenderung pada adik tirinya yang selama ini selalu di sayang oleh keluarganya.
Merasa ketulusannya di khianati, Ella akhirnya menerima pinangan pria yang selama ini diam-diam mencintainya..
Akankah hidupnya berubah setelah bersama pria itu? Atau justru sebaliknya??
•••••
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." Cinderella Anesya
"Aku akan selalu mencintaimu, Baik sekarang, Nanti dan selamanya.." Davin Anggara Sanjaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari H
Apa yang telah di nanti-nanti oleh Ella akhirnya tiba juga. Di tepat dimana hari ini adalah hari pernikahannya dengan seorang pria yang sama sekali tak pernah ada dalam bayangannya.
Harusnya hari ini adalah pernikahannya dengan Araka, Tapi pada kenyataannya bukan Araka lah pria itu melainkan seorang Davin Anggara Sanjaya. Seorang putra sulung konglomerat yang namanya di kenal sejagat raya.
Dan pada pagi ini, Ella duduk dengan tenang di dampingi oleh seorang MUA yang tengah merias wajahnya. Tak ada yang menemaninya selama sesi make up di lakukan. Ella hanya di temani oleh MUA nya saja.
"Sekarang udah selesai.. Wah, Mbak Ella cantik sekali.. Sudah persis seperti namanya yaitu Cinderella.." Ucap MUA itu. Ella hanya tersenyum, Di puji begitu saja dia sudah sangat merasa senang sekali.
"Sekarang kita pakai pakaiannya dulu.. Eh, Untuk akad ini pakai yang mana? Ada dua kebaya disini.." Kata Mua tadi, Di atas meja, Ada dua kebaya dengan warna yang sama.
"Sebentar..
Ella beranjak dari duduknya, Dia meraih salah satu kebaya mewah yang dimana kebaya itu adalah dari Davin. Sementara kebaya yang satunya adalah dari Araka.
Tentu saja kalau di lihat dari penampilan masih lebih mewah dari Davin. Seperti biasanya, Araka akan membelikan kebaya yang terbilang biasa saja. Dan sudah jelas kalau milik Lentera lah yang paling mewah.
"Aku pakai yang ini saja.. Ini yang lebih mewah.. "
"Di pakai dulu ya.." Ella pun mengangguk. Dia mulai memakai kebaya dari Davin tersebut karena hari ini dia akan menikah dengan Davin bukan dengan Araka.
Setelahnya, Ella kembali di rias. Wanita itu menatap wajahnya di hadapan cermin, Ternyata dia juga cantik. Lebih cantik dari Lentera malah..
"Kamu itu udah cantik loh mbak.. Di tambah make up jadi semakin cantik deh.." Lagi-lagi dia puji. Sayangnya tak ada satu orang pun yang mendampinginya. Bukankah seharusnya Mamanya berada di kamar ini menemaninya saat ini.
Ella tersenyum miris, Dia lupa kalau hari ini bukan hanya dia yang akan menikah tapi Lentera juga.
"Sekarang sudah selesai... " Ella tersadar dari lamunannya, Dia tersenyum melihat pantulan wajahnya dari cermin dimana sekarang dia harus menunggu pengantin pria nya datang.
Ella keluar dari kamarnya bersamaan dengan itu, Lentera juga sama-sama keluar dari kamarnya. Gadis itu mengenakan kebaya berwarna gold, Tak lupa wajahnya juga di make up. Untuk rambut, Lentera lebih di sanggul biasa tidak seperti Ella yang lengkap dengan hiasannya.
Ella mengerti, Lentera berpenampilan seperti itu karena dia juga akan menjadi pengantin. Namun untuk hiasannya sengaja di sederhanakan agar tidak ada orang yang curiga. Tapi Ella sudah tahu, Percuma sepertinya..
"Aneh ya.. Yang mau menikah aku tapi yang di dampingi adalah Lentera.. Aku salut sama Mama, Mama adalah ibu yang paling terbaik di dunia.." Ucap Ella dengan nada sindiran. Lentera hendak membuka mulutnya akan tetapi Ella sudah berlalu lebih dulu.
"Jangan senang dulu Ella... Hari ini akulah yang akan jadi peran utamanya.. Sementara kau hanya seorang peran pendukung disini..." Batin Lentera yang lagi dan lagi merasa di atas awan dan merasa menang dari Ella.
Ella melangkahkan kakinya dengan anggun, Begitupun dengan Lentera yang tak mau kalah sama sekali di belakang sang Kakak.
Hingga sebuah mobil pengantin datang. Semuanya para tamu yang hadir menyambut sang pengantin pria.
Araka turun dari kendaraan roda empatnya bersama keluarga yang lain. Dengan pakaian kemeja putih dan tuxedo dengan warna yang senada dengan kebaya yang di pakai oleh Lentera, Bukan dengan yang di pakai oleh Ella.
Para tamu yang hadir untuk menjadi saksi berbisik, Membicarakan pakaian Araka yang ternyata tidak sama dengan sang pengantin wanita melainkan sama dengan yang lain. Tak di sangka mereka sematang ini menyusun rencana.
Para rombongan dari pihak pria pun masuk dengan membawa banyak seserahan. Usai meletakkan seserahan di tempat yang semestinya mereka pun duduk di tempat yang telah di sediakan.
"Kita tunggu pak penghulunya dulu..."
Baru saja di bicarakan, Pak penghulu pun akhirnya datang. Pria yang tak lagi muda itu mengeluarkan berkas yang di perlukan untuk acara penting hari ini.
Bina mendekati sang putra, Merapikan pakaian Araka yang sebenarnya sudah rapi itu agar lebih rapi lagi.
"Kamu harus tampil tampan hari ini sayang.." Ucap Wanita paruh baya itu. Matanya melirik sinis ke arah Ella yang diam saja sejak tadi.
"Bisa kita mulai acaranya? "
"Bisa pak.."Jawab Riski ayah Araka, Namun tiba-tiba saja..
"Tunggu dulu pak.. " Semua yang berada di sana menoleh pada Araka yang tiba-tiba saja berdiri. Pria yang hendak menikah itu menoleh ke arah sang Nenek.
"Nek.. Sekarang Araka mau nikah. Nenek tidak lupa kan dengan janji Nenek.." Kata Araka menagih janji Nenek nya yang akan menyerahkan seluruh perusahaannya padanya hari ini.
Tepat hari ini Araka harus bisa mendapatkan perusahaan itu. Bukankah itu adalah janji Nenek. Cahya..
Nenek Cahya tersenyum, Sebuah senyum yang Ella tahu apa maknanya. Wanita tua itu memanggil seseorang..
Seorang pria seumuran Ayah Araka datang. Pria itu adalah pak Raksa, Pengacara kepercayaan Nenek Cahya.
"Mana suratnya.." Pak Raksa pun mengeluarkan sebuah surat penting dari dalam tas keramatnya.
"Ini Nyonya besar.. " Nenek Cahya meraihnya dan menyerahkannya pada Araka.
"Sesuai dengan janji Nenek.. Maka cepat tanda tangani.." Araka tersenyum puas, Dia memegang sebuah pulpen hendak tanda tangan lalu..
"Araka tunggu.." Pergerakan itu terhenti..
"Kau tidak membacanya lebih dulu? Alangkah lebih baik di baca dulu baru tanda tangan.." Ucap Nenek Cahya pada cucunya yang pengkhianat itu. Araka tersenyum dengan bangga..
"Tidak perlu, Lagi pula aku sudah tahu apa isinya.." Tanpa pikir panjang, Araka membubuhkan tanda tangannya di atas materai tersebut. Senyum pria itu tak luntur sama sekali.
"Sudah bisa kita mulai?" Tanya Pak penghulu lagi.
"Tunggu dulu pak penghulu.. Sebelum akad ini di laksanakan, Saya mau menyampaikan sesuatu terlebih dahulu.." Lagi-lagi Araka membuat para tamu yang hadir penasaran. Entah apa lagi yang akan di katakan calon pengantin itu.
Araka menatap Ella yang sejak tadi hanya diam tidak bersuara sama sekali.
"Ella.. Sebelum kita menikah, Ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu lebih dulu.." Kata Araka dengan wajah penuh ejekan.
"Di hadapan semua orang, Aku ingin mengatakan sesuatu atau lebih tepatnya tentang tawaran dan persetujuan.. "
"Katakan saja Araka, Apa yang ingin kau katakan.. Jangan bertele-tele..." Araka terkejut, Kenapa respon Ella seperti itu? Araka melihat Lentera sejenak lalu menghela nafas panjang.
"Di hadapan semua orang yang hadir. Aku hanya ingin mengatakan padamu. Kau tahu sendiri kan, Kalau selama ini aku tidak pernah mencintai mu.. Selama ini aku hanya mencintai adikmu Lentera.." Araka menunjuk Lentera yang tersenyum malu dan penuh kemenangan.
"Haaaah!
Semua orang yang berada di ruangan itu cukup kaget dengan apa yang mereka dengar. Tak terkecuali Pak penghulu dan Risky yang tak di sangka putranya akan mengucapkan itu.
"Lalu?" Tanya Ella dingin. Senyum di wajah Lentera mendadak redup setelah melihat respon Ella yang terbilang biasa saja. Kenapa Ella tidak terkejut atau menangis..
"Aku akan menikahimu tapi sebelum itu, Kau harus izinkan aku untuk menikahi Lentera juga. Aku mencintainya, Tidak mungkin aku hidup dengan wanita yang tidak aku cintai, Akupun juga ingin bahagia.. Tapi, Kalau kau tidak setuju aku menikahi Lentera, Aku juga tidak akan menikahimu namun aku akan tetap menikahi Lentera hari ini juga. Dan semua keputusan ada di tanganmu, Setuju atau tidak.." Begitu mudah Araka menjelaskan, Araka sudah tak peduli lagi akan janjinya dengan sang nenek, Yang penting dia telah tanda tangan dan semua harta sekarang sudah mengatasnamakan dirinya. Itulah yang ada dalam pikiran Araka saat ini.
Bukannya terkejut atau marah dan menangis, Ella justru menyikapinya dengan santai. Ella maju satu langkah, Dia merapikan tuxedo pria itu lalu tersenyum.
"Begitu percaya diri bibirmu mengucapkan semua itu. Apa kau kira pria di dunia ini hanyalah dirimu saja? Siapa bilang aku akan menikah denganmu Araka??
Deg!
•
•
•
TBC
Lanjut nanti lagi ya Guys...🙈🤣