Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang hampir sama, seolah tidak ada satu pun yang berubah dari luar. Seraphina tetap memainkan perannya dengan rapi, bangun pagi dengan tenang, turun ke ruang makan dengan langkah terukur, lalu duduk bersama mereka seperti biasa. Ia berbicara dengan nada lembut, menjaga ekspresi agar tetap sesuai dengan apa yang mereka kenal selama ini.
Tidak ada yang mencurigakan dari luar.
Namun di balik itu, ada sesuatu yang terus bergerak. Pikirannya tidak pernah benar-benar diam, setiap interaksi dianalisis ulang, setiap detail kecil diperhatikan dengan cara yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia tidak lagi sekadar menjalani hari, melainkan mengamati setiap langkah yang terjadi di sekitarnya.
Pengamatan.
Perhitungan.
Dan kali ini, fokusnya beralih pada satu orang.
Darius.
Seraphina berdiri di depan jendela kamar, memandang halaman depan yang mulai ramai oleh aktivitas pagi. Mobil keluar masuk dengan ritme yang teratur, pelayan bergerak cepat tanpa banyak suara, semua berjalan seperti sistem yang sudah terbentuk lama.
Seperti Darius.
Di mata orang lain, pria itu adalah sosok yang sempurna. Tenang, cerdas, penuh kendali, dan tahu bagaimana menempatkan dirinya di setiap situasi. Ia bisa bersikap lembut ketika dibutuhkan, tegas saat diperlukan, dan diam ketika situasi menuntutnya.
Seraphina dulu percaya itu tanpa ragu. Ia menganggap semua itu sebagai bentuk kedewasaan dan kestabilan yang jarang dimiliki orang lain.
Sekarang, ia melihatnya dengan cara berbeda.
Ia melihat celah.
Hal-hal kecil yang dulu ia abaikan kini muncul lebih jelas, seperti potongan yang akhirnya tersusun menjadi sesuatu yang utuh.
Pagi itu, seperti biasa, Darius duduk di ruang makan dengan tablet di tangannya. Ia membaca sesuatu dengan ekspresi santai, sesekali mengangguk kecil seperti menyetujui apa yang ia lihat.
Seraphina duduk di hadapannya, secangkir teh hangat berada di tangannya. Ia tidak langsung berbicara, hanya memperhatikan dengan tenang tanpa terburu-buru.
Darius meletakkan tabletnya, lalu menatapnya dengan senyum tipis. “Kamu terlihat lebih tenang hari ini.”
Seraphina membalas senyum itu tanpa ragu. “Mungkin aku sudah cukup istirahat.”
Darius mengangguk, tampak puas dengan jawaban itu. Percakapan ringan pun mengalir seperti biasa, tidak ada yang terasa janggal di permukaan.
Namun di tengah itu, sesuatu terjadi.
Suara getar pelan terdengar dari ponsel Darius yang terletak di sampingnya. Suaranya sangat halus, hampir tidak terdengar oleh orang lain, tetapi cukup bagi Seraphina yang sudah fokus sejak awal.
Darius berhenti berbicara sejenak, matanya melirik ke arah ponsel itu. Gerakan itu cepat, tetapi jelas dilakukan dengan kesadaran untuk tidak menarik perhatian.
Seraphina tidak bergerak.
Ia tidak mengalihkan pandangan.
Ia ingin melihat lebih jauh.
Darius mengambil ponselnya dengan santai, seolah itu hal yang biasa terjadi. Ia menatap layar beberapa detik, lalu ekspresinya berubah sedikit.
Hanya sedikit.
Namun cukup untuk membedakannya.
Sudut bibirnya terangkat lebih dalam, matanya melembut dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bukan senyum yang ia berikan saat berbicara dengan keluarga, bukan ekspresi yang ia tampilkan di depan orang lain.
Ini berbeda.
Ia segera menurunkan ponselnya dan melanjutkan percakapan, seolah tidak ada yang terjadi. Namun Seraphina sudah melihat cukup untuk memahami bahwa ada sesuatu yang tidak ia ketahui sebelumnya.
Ia tidak bertanya.
Tidak menunjukkan reaksi.
Hanya mencatat dalam diam.
Siang hari datang dengan perlahan, suasana rumah sedikit lebih sepi dibanding pagi. Seraphina berjalan melewati koridor lantai dua dengan langkah pelan, tidak terburu-buru menuju tujuan tertentu.
Dari kejauhan, ia melihat pintu ruang kerja Darius sedikit terbuka. Hal itu bukan sesuatu yang aneh, tetapi kali ini ada sesuatu yang membuatnya berhenti.
Ia mendengar suara.
Suara Darius.
Rendah.
Tertahan.
Berbeda dari nada yang biasa ia gunakan.
Seraphina mendekat beberapa langkah, cukup untuk menangkap sebagian percakapan tanpa terlihat mencurigakan. Ia tidak berdiri terlalu dekat, tetapi cukup untuk mendengar potongan kata yang terucap.
“Tidak sekarang,” ucap Darius pelan. “Aku sudah bilang, tunggu.”
Ada jeda.
Seolah ia sedang mendengarkan jawaban dari seseorang di seberang.
Lalu suaranya kembali terdengar, kali ini lebih halus.
“Aku akan mengurusnya.”
Nada itu tidak dingin, tidak formal, melainkan lebih pribadi. Ada sesuatu dalam cara ia berbicara yang tidak pernah ia tunjukkan di depan keluarga.
Seraphina berdiri diam, menahan napasnya agar tidak terdengar. Ia tidak ingin kehilangan satu pun detail dari momen itu.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar mendekat dari dalam ruangan. Ia segera berbalik dan melanjutkan langkahnya, seolah hanya melewati koridor tanpa tujuan tertentu.
Pintu itu terbuka sepenuhnya.
Darius keluar.
“Seraphina?” panggilnya.
Ia berhenti dan menoleh dengan ekspresi tenang. “Aku hanya lewat.”
Darius menatapnya beberapa saat, seolah memastikan sesuatu sebelum akhirnya tersenyum seperti biasa. “Aku harus keluar sebentar.”
Seraphina mengangguk pelan. “Ada urusan?”
“Pekerjaan,” jawabnya singkat.
Jawaban yang sama seperti sebelumnya, jawaban yang dulu tidak pernah ia pertanyakan. Sekarang, ia hanya tersenyum tipis tanpa memberi reaksi lebih.
“Jangan terlalu lelah,” ucapnya.
Darius mengangguk lalu berjalan melewatinya tanpa menambahkan apa pun. Langkahnya tetap tenang, tidak menunjukkan tanda bahwa ia menyembunyikan sesuatu.
Seraphina tidak langsung bergerak. Ia berdiri di tempatnya, menatap punggung pria itu yang perlahan menjauh.
Ada sesuatu yang berbeda.
Dan kali ini, ia tidak akan mengabaikannya.
Sore itu, Seraphina duduk di ruang kerjanya dengan suasana yang tenang. Di hadapannya, buku catatan terbuka dengan beberapa halaman yang sudah terisi rapi.
Tentang Lysandra.
Tentang Kael.
Kini, giliran Darius.
Ia memutar pena di antara jemarinya, mengingat setiap detail yang ia kumpulkan selama beberapa hari terakhir. Semua potongan kecil yang awalnya terasa terpisah kini mulai menunjukkan pola yang jelas.
Telepon yang datang diam-diam.
Percakapan dengan nada yang berbeda.
Jadwal yang berubah tanpa penjelasan yang masuk akal.
Semua itu bukan kebetulan.
Seraphina menunduk sedikit, lalu mulai menulis dengan perlahan.
Darius.
Sering menerima panggilan pribadi.
Menghindari pembicaraan terbuka.
Nada suara berubah saat berbicara dengan pihak tertentu.
Ia berhenti sejenak, matanya menyipit saat memikirkan satu hal yang belum ia ketahui.
Dengan siapa?
Ujung pena diketuk perlahan ke meja, ritmenya pelan namun teratur. Ia tidak akan terburu-buru mengambil kesimpulan, karena kesalahan kecil bisa membuat semuanya berantakan.
Ia harus memastikan.
Seraphina mengingat satu nama, seseorang yang pernah ia percayai dan masih berada di lingkaran dalam rumah ini. Seseorang yang bisa membantunya tanpa menarik perhatian.
Ia meraih ponselnya, menekan beberapa tombol, lalu mengangkatnya ke telinga.
Beberapa detik berlalu sebelum panggilan itu tersambung.
“Aku butuh bantuanmu,” katanya pelan.
Nada suaranya tenang, tetapi ada ketegasan yang tidak bisa diabaikan. Ia tidak menjelaskan semuanya, hanya cukup untuk membuka langkah pertama.
Hari berikutnya datang dengan suasana yang sama tenangnya. Seraphina duduk di ruang tamu, sebuah majalah terbuka di tangannya sebagai penutup perhatian.
Namun fokusnya tidak ada di sana.
Perhatiannya tertuju pada Darius yang duduk tidak jauh darinya. Pria itu tampak santai seperti biasa, tidak menunjukkan perubahan yang mencolok.
Seraphina memperhatikan dengan lebih teliti.
Setiap gerakan kecil.
Setiap perubahan ekspresi.
Dan kemudian, ponsel itu kembali bergetar.
Darius melirik sekilas sebelum mengambilnya. Gerakannya tetap santai, tidak menunjukkan bahwa hal itu penting.
Seraphina menurunkan pandangannya sedikit, seolah fokus pada majalah. Namun dari sudut matanya, ia melihat semuanya dengan jelas.
Darius membuka pesan itu.
Dan senyum itu muncul lagi.
Lebih jelas.
Lebih nyata.
Bukan senyum sopan yang ia gunakan di depan orang lain. Bukan senyum yang dibuat sebagai bagian dari interaksi sosial.
Ini senyum yang muncul tanpa disadari.
Tulus.
Hidup.
Seraphina merasakan sesuatu bergerak di dalam dirinya, tetapi bukan ledakan emosi yang tidak terkendali. Tidak ada kemarahan yang meluap, tidak ada reaksi yang terlihat dari luar.
Yang ada hanyalah kesadaran.
Ia pernah melihat senyum seperti itu sebelumnya.
Dulu.
Saat Darius menatapnya.
Saat ia percaya bahwa itu adalah cinta.
Sekarang, senyum itu masih ada.
Namun bukan untuknya.
Darius mengetik balasan singkat, lalu mengunci ponselnya dan meletakkannya kembali di meja. Ia tidak menyadari bahwa ia sedang diamati, atau mungkin tidak pernah menganggap bahwa Seraphina akan memperhatikan sampai sejauh ini.
Seraphina mengangkat pandangannya perlahan, menatap pria itu dengan tenang. Dalam benaknya, potongan-potongan yang selama ini terpisah mulai menyatu dengan jelas.
Sebuah kesimpulan terbentuk.
Ada wanita lain.
Bukan sekadar dugaan.
Bukan sekadar kemungkinan.
Ini nyata.
Ia belum tahu siapa.
Namun ia tahu ke mana harus mencari.
Seraphina menutup majalahnya dengan pelan, lalu berdiri tanpa tergesa. Langkahnya tetap tenang saat ia meninggalkan ruangan, tidak ada yang terlihat berbeda dari luar.
Namun pikirannya bergerak cepat.
Setiap detail mulai tersusun.
Setiap celah mulai terlihat.
Dan di dalam hatinya, sebuah kalimat terucap tanpa suara.
Senyum itu… bukan untukku.