NovelToon NovelToon
Suamiku (Bukan) Orang Gila

Suamiku (Bukan) Orang Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta setelah menikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TWENTY SEVEN

Usai menyelesaikan sarapan pagi yang sunyi bersama Tuan Besar Jerry, Della mengantarkan Aksa hingga ke depan lobi mansion. Ia berdiri di sisi pintu mobil SUV hitam yang telah terbuka. Setelah Aksa masuk ke dalam kabin, Della memberikan lambaian tangan hangat seiring dengan mobil yang mulai bergerak maju.

​Namun, begitu siluet mobil hitam itu menghilang di balik ujung gerbang besi raksasa mansion, senyum di wajah Della seketika lenyap. Jantungnya mendadak berdegup dengan sangat kencang, berdetak tidak beraturan. Hatinya semakin didera kegelisahan yang teramat pekat. Tangannya meremas dada kirinya sendiri dengan cemas. Tuhan, tolong lindungi Aksa... Aku berharap perasaan tidak enak ini bukan pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi padanya hari ini, batin Della berdoa dengan tubuh yang sedikit gemetar.

​Sementara itu, perjalanan menuju kantor pusat berlangsung tanpa hambatan. Mobil Aksa akhirnya sampai di pelataran lobi utama gedung pencakar langit Herlos Grup. Begitu pintu mobil dibuka oleh petugas keamanan, atmosfer di lobi langsung berubah tegang. Beberapa ratus karyawan dari berbagai divisi telah berbaris rapi di sisi kiri dan kanan koridor masuk, menundukkan kepala dengan takzim untuk menyambut kedatangan sang Direktur Utama.

​Dalam tiga hari terakhir, sosok Aksa memang sukses bertransformasi menjadi seorang CEO yang sangat dingin, kejam dalam analisis data, dan tidak tersentuh. Langkah sepatunya terdengar tegas saat ia berjalan melewati barisan karyawan tersebut, didampingi oleh Zacky dan Anastasya yang membawa berkas final.

​Begitu Aksa duduk di kursi kebesarannya di ruang rapat pleno utama, acara yang dinanti-nantikan pun resmi dibuka. Agenda pemaparan presentasi rancangan kerja dan pengembangan jangka panjang perusahaan Herlos dimulai. Seluruh dewan komisaris, pemegang saham mayoritas, dan perwakilan investor asing telah duduk rapi di tempat duduk masing-masing, menciptakan atmosfer kompetisi yang sangat ketat.

​Sebagai penantang, Emily Herlos mendapatkan kesempatan pertama. Dengan langkah yang penuh keangkuhan dan senyum kemenangan yang sudah mengembang di wajahnya, Emily maju ke depan podium utama. Ia menyalakan layar proyektor raksasa, menampilkan draf strategi makro yang telah disusunnya bersama tim ahli bentukan Fabio.

​"Selamat pagi kepada jajaran komisaris yang saya hormati, dan para pemegang saham sekalian," buka Emily, suaranya terdengar sangat lantang dan penuh percaya diri melalui mikrofon. "Hari ini, saya membawa sebuah rancangan kerja konkrit yang akan membawa Herlos Grup menuju stabilitas finansial mutlak dalam lima tahun ke depan. Fokus utama strategi saya adalah melakukan akselerasi dan pengembangan masif pada sektor unggulan yang selama ini menjadi tulang punggung kita, yaitu industri furniture premium dan sektor otomotif global."

​Emily menekan tombol remote di tangannya, mengubah tampilan slide presentasi menjadi grafik proyeksi keuntungan yang sangat menggiurkan. "Dua sektor ini adalah bidang yang selalu memiliki pasar tersendiri, stabil, dan terus membuka banyak peluang investasi baru di Asia Tenggara. Namun, untuk memaksimalkan margin keuntungan, rencana kerja saya juga mencakup langkah tegas, kita akan menutup beberapa cabang operasional di daerah yang dinilai kurang prospektif. Mengapa? Karena selama tiga tahun ini, cabang-cabang kecil tersebut hanya menjadi beban finansial bagi perusahaan pusat dalam hal biaya operasional yang tidak sebanding dengan pemasukan!"

​Mendengar pemaparan Emily yang terdengar sangat logis, taktis, dan menguntungkan dari sisi efisiensi anggaran, beberapa dewan komisaris senior, termasuk Cakra Scott, tampak mengangguk-angguk setuju. Mereka berbisik satu sama lain, menunjukkan ketertarikan yang sangat besar terhadap rencana yang dibawa oleh Manajer Operasional tersebut. Fabio Herlos yang duduk di sudut ruangan tersenyum sinis, menatap ke arah Aksa yang masih duduk diam di kursinya.

​Namun, di tengah-tengah berjalannya presentasi Emily yang semakin berapi-api, sesuatu yang mengerikan mulai terjadi di dalam kepala Dayaksa.

​Aksa mendadak kehilangan fokusnya pada angka-angka di layar proyektor. Suara Emily yang menggema melalui pengeras suara lambat laun terdengar berdenging aneh di telinganya, berubah menjadi suara yang cempreng dan bergaung berisik. Aksa mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menjernihkan pandangannya, namun dunia di sekitarnya seolah-olah mulai berjalan dengan sangat lambat... Slo-mo.

​Aksa menolehkan kepalanya sedikit ke arah kiri dan kanan. Efek obat penenang yang ia minum tadi pagi terasa menguap begitu saja di bawah tekanan atmosfer ruangan yang kompetitif. Di dalam penglihatan Aksa yang mulai terdistorsi, wajah beberapa orang komisaris yang duduk di dekatnya terlihat seperti tengah mengejek dirinya. Senyuman tipis di wajah mereka berubah menjadi seringai monster yang mengerikan di mata Aksa. Tatapan mata mereka yang biasa tampak aneh, seolah-olah mereka semua sedang menertawakan ketidakwarasannya di dalam hati mereka.

​"Lihat si gila itu... dia tidak tahu apa-apa..."

"Orang gila seperti dia tidak pantas duduk di sana..."

​Bisikan-bisikan halusinasi itu mulai berdengung kencang di gendang telinga Aksa, berputar-putar seperti kawanan lebah yang kelaparan. Dadanya mendadak terasa sangat sesak, seakan ada sebongkah batu besar yang ditaruh di atas ulu hatinya.

​Aksa mencengkeram tepi meja rapat dengan tangan kanannya hingga urat-urat di punggung tangannya menyembul tegang, memutih tanpa darah. Sementara tangan kirinya bergerak ke bawah meja, meremas paha kirinya sendiri dengan sangat kuat, mencakar dan menancapkan kuku-kukunya menembus kain celana jas mahal miliknya, mengabaikan rasa sakit fisik yang timbul demi mengalihkan distorsi gila yang sedang menyerang otaknya.

​Zacky, yang sejak awal tidak pernah melepaskan pandangannya dari gerak-gerik Aksa, langsung menangkap perubahan radar emosi pada tubuh majikannya. Ia melihat dada Aksa yang mulai naik turun secara tidak teratur. Ruangan rapat yang dilengkapi dengan pendingin suhu sentral tingkat tinggi itu mendadak terasa sangat panas bagi Aksa, bulir-bulir keringat dingin berukuran besar mulai keluar dan mengalir deras di pelipis serta dahi wajah tampannya yang kini memucat.

​Zacky melangkah maju satu langkah, menundukkan tubuhnya mendekati telinga Aksa. "Tuan Muda... Anda tidak apa-apa? Jaga napas Anda, Tuan," bisik Zacky dengan nada suara yang sangat pelan, mulai didera rasa curiga sekaligus cemas yang teramat sangat dengan kondisi psikologis Aksa yang tampak berada di ambang batas runtuh.

​Aksa tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan suara geraman rendah dari tenggorokannya, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kosong namun bergetar hebat karena ketakutan dan amarah yang bercampur menjadi satu.

​Melihat kondisi yang sudah sangat kritis dan berbahaya ini, Zacky tahu ia harus segera bertindak sebelum Aksa meledak di depan para pemegang saham asing yang bisa menghancurkan seluruh rencana mereka. Zacky menegakkan tubuhnya, lalu memberikan kode mata yang sangat tegas kepada Anastasya dan sekretaris pelaksana lainnya di ujung ruangan.

​Zacky menyentuh pundak Aksa perlahan, lalu berbicara dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh pimpinan sidang di sebelah mereka. "Mohon maaf mengganggu jalannya presentasi, Pak Cakra. Tuan Muda Dayaksa tiba-tiba merasakan tidak nyaman pada kondisi fisiknya akibat kelelahan. Beliau izin untuk keluar ruangan rapat selama beberapa menit. Presentasi bisa tetap dilanjutkan di bawah pengawasan dewan komisaris."

1
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
waduh jangan sampai Aksa gak fokus lagi karena hasil presentasi kedua belah pihak akan ditentukan saat ini antara presentasi Aksa dan Emily tolong jangan kambuh Sa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Zacky memang tangan kanan yg bisa dipercaya & diandalkan
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😭😭 di hati Della, Aksa menang Voting
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😒 monyeet satu ini benar2 tidak tahu malu, dr awal memang sdh tidak waras si Ardyan 😏
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
iya Zacky benar bisa jadi Aksa sedang banyak pikiran jadinya ke mode silent
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
malu gak tuh luuu Adryan Juardi gak mungkin Della mau sama kau lagi huuuu bersama Aksa dia diratukan disayangi sedemikian rupa jadi ga butuh pria munafik kek luuu😏🤨
El Zèphyr
Aksa emang gila, tapi dia punya sisi pintar yang gak orang lain ounya
El Zèphyr
Oh astagaa manusia satu ini bucin sekaliehh
El Zèphyr
Aksa Masi bisa mikir kok kalo hal beginian
El Zèphyr
Tatapan yang mengerikan itu muncul guys
El Zèphyr
Aksaa kau jadi bucin + nurut gitu si sama Della.
Lucu deh kalian berdua
El Zèphyr
noh kan noh kannn liattt
El Zèphyr
ihhh bucin aku mau jugak 😽
El Zèphyr
Emang ya, penyesalan selalu datang di akhir
El Zèphyr
ngeri banget kebayang sama aku 😭😭😭
El Zèphyr
Della, sesekali coba bergantung sama orang lain deh.
El Zèphyr
ternyata Aksa cuma salah obat 😭😭😭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
jangan tralu overthinking Della, Yakin deh Aksa cuma menginginkan kamu 😭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
hihihi🤣 nuntut jatah, kasih Della, suamimu sudah tampil kerenn
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Aksa IQnya tinggi, tapi sayang EQnya aja yg jongkok 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!