NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Takdir yang Bersembunyi

Cahaya fajar menyusup melalui celah jendela kaca, membawa helaian sinar keemasan yang menari di atas lantai kayu penginapan.

Senja mengerjap, perlahan membuka matanya yang masih terasa berat. Ia mengucek matanya pelan sembari menguap kecil, merasakan sisa-sisa kantuk yang perlahan menguap bersama dinginnya pagi.

"Selamat pagi, dunia," gumamnya pelan. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur.

Ia menoleh ke samping, namun hanya mendapati ranjang yang sudah rapi dan kosong.

Kamar itu memang luas, kamar terbesar di seluruh penginapan yang sengaja disediakan untuk tamu penting atau keluarga besar dengan dua ranjang ukuran besar yang tampak empuk.

Ayahnya sudah tidak ada di sana.

"Apakah Ayah sudah pergi duluan?" Senja bergumam dalam hati. Ia segera bangkit, merapikan diri dengan cekatan.

Suara gemericik air di kamar mandi mengiringi ritual paginya. Ia menyikat gigi, mencuci mukanya hingga segar, dan mulai memilih pakaian.

Hari ini ia ingin tampil rapi. Ia mengenakan celana hitam yang pas dan kemeja berwarna biru cerah yang disetrika licin.

Setelah menyemprotkan parfum yang memberikan aroma segar namun mewah, ia berdiri di depan cermin. Sosok pria tampan dengan tatapan teduh terpantul di sana.

Senja melangkah keluar kamar, menapaki koridor kayu yang masih menebarkan aroma kayu pinus dan embun pagi.

Matanya berkeliling, menikmati arsitektur penginapan yang tenang ini, hingga pandangannya tertuju pada halaman samping yang luas.

Di sana, di bawah naungan pohon agathis yang menjulang tinggi dengan dahan-dahannya yang kokoh, seorang wanita sedang duduk membelakangi arahnya.

Wanita itu sedang merajut. Gerakannya tenang, seirama dengan ayunan daun yang ditiup angin pagi yang sejuk.

Senja terpana sesaat. "Itu pasti Ika," pikirnya. Ada dorongan di dadanya yang memaksa kakinya untuk melangkah mendekat.

Ia berjalan perlahan di atas rumput yang masih basah, menjaga agar langkahnya tidak mengejutkan wanita itu.

"Aku boleh duduk di sini?" tanya Senja lembut saat sudah berada di dekatnya.

Arunika tidak menoleh sedikit pun. Jemarinya terus memainkan jarum rajut dengan lihai, seolah keberadaan Senja hanyalah angin lalu yang tidak berarti.

Senja tidak keberatan dengan keheningan itu; ia justru duduk di bangku kayu yang sama, memberi jarak yang sopan namun cukup dekat.

"Kamu suka merajut ya?" Senja mencoba lagi, matanya memperhatikan pola rajutan yang mulai terbentuk.

Hening. Hanya suara gesekan jarum dan desir angin yang menjawabnya.

"Kamu merajut udah sejak kapan?" tanya Senja lagi, tetap berusaha ramah meski diabaikan.

Arunika menghentikan gerakannya sejenak, matanya tetap tertuju pada rajutannya. "Sejak masih kecil," jawabnya singkat, nyaris seperti bisikan yang dingin.

Senja tersenyum kecil, merasa ada sedikit kemajuan. "Sejak masih kecilnya... itu sejak umur berapa? Siapa yang ngajarin?"

Kali ini Arunika menoleh sedikit, menatap Senja dengan tatapan datar yang menusuk. "Apa urusanmu?"

Bukannya tersinggung, Senja justru tertawa kecil. Senyumnya mengembang manis, membuat matanya menyipit ramah.

"Kok kamu dingin banget sih? Ada masalah ya? Cerita-cerita dong kalau ada masalah, siapa tahu aku bisa bantu atau minimal jadi pendengar yang baik."

Arunika meletakkan rajutannya di pangkuan. Ia berdiri, menatap Senja dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Ayahmu nungguin kamu tuh di balkon. Dia udah nungguin daritadi," ucapnya dingin sebelum berbalik dan meninggalkan Senja tanpa menunggu jawaban.

Senja memperhatikan punggung Arunika yang menjauh dengan langkah anggun namun tegas. Ia menghela napas, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu.

"Gemes banget sih... jangan cuek-cuek dong, aku kan cuma pengin temenan," gumamnya pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Senja menyusul ke balkon utama penginapan, tempat ayahnya dan kakek Arunika sedang duduk bercengkrama sambil menikmati udara pagi.

Tawa renyah sesekali terdengar dari sana.

Di sudut lain, Arunika terlihat sedang membawa nampan berisi teko teh dan piring kecil berisi snack untuk dibawa kembali ke dapur.

Saat mereka berpapasan di pintu balkon, tatapan Senja dan Arunika bertemu.

Senja memberikan senyum terbaiknya, senyum yang tulus dan meneduhkan, namun Arunika hanya membalasnya dengan wajah cuek, seolah-olah Senja adalah benda mati yang menghalangi jalannya.

"Eh, nak Adit sudah bangun? Sini duduk," sapa Kakek Arunika ramah saat melihat Senja mendekat. "Mau minum teh? Ika, tawarin minum dong ke nak Adit."

Arunika berhenti melangkah, menunggu dengan sikap formal yang kaku. Namun, sebelum ia sempat berucap, Senja sudah mendahuluinya.

"Gausah Kek, terima kasih banyak," kata Senja sambil melirik ayahnya. "Ayah dan saya harus segera berangkat. Ada janji ketemu orang untuk urusan bisnis pagi ini."

"Oh, begitu ya? Sayang sekali, padahal teh buatan Ika ini paling enak," ujar Kakek sambil tertawa kecil.

Ayah Senja berdiri, merapikan jasnya yang gagah. "Iya, kami harus pamit sebentar. Mungkin nanti sore kami sudah kembali ke penginapan."

Saat mereka berpamitan, sekali lagi mata Senja mencari sosok Arunika.

Ia tersenyum lagi, sebuah salam perpisahan kecil, namun Arunika justru memberikan tatapan sinis sebelum akhirnya melengos masuk ke arah dapur.

Setelah mobil tamu mereka menghilang di balik gerbang penginapan, Kakek memanggil Arunika. "Ika, ikut Kakek ke belakang sebentar."

Di ruang tengah yang hangat, Nenek sudah menunggu. Mereka duduk melingkar, menciptakan suasana diskusi keluarga yang serius namun penuh kasih.

"Kamu ada masalah apa sih, Nduk?" tanya Kakek lembut.

Arunika menunduk, memainkan jemarinya sendiri. "Gaada masalah apa-apa kok, Kek."

"Biasanya kamu gak kaya gini lho. Kamu selalu ramah sama tamu, siapa pun mereka," lanjut Kakek dengan suara yang dalam.

"Baik-baik dong sama nak Adit. Dia itu kan tamu kita, sama kaya tamu-tamu yang lain. Jangan terlalu ketus begitu."

Arunika terdiam. Ia merasakan kegelisahan yang aneh setiap kali berada di dekat pemuda itu.

Baginya, gelagat Adit—atau Senja—terasa terlalu "friendly", tipikal pria kota yang pandai memainkan kata-kata untuk memikat hati wanita.

Ada perasaan aneh yang datang dari dasar ingatannya, sebuah rasa yang seolah-olah pernah hadir di masa lalu, namun ia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

Ia hanya merasa harus menjaga jarak, seolah-olah mendekat pada pemuda itu adalah sebuah ancaman bagi kedamaian hidupnya yang sunyi.

"Betul lho itu, Nduk," timpal Nenek sambil mengusap bahu Arunika. "Nenek perhatikan kamu agak gak suka sama nak Adit. Padahal anaknya sopan."

"Biasa aja kok, Nek," jawab Arunika singkat, tetap pada pendiriannya.

"Ya sudah, Kakek dan Nenek cuma berpesan, tolong jaga sikap ya. Biar bagaimanapun, mereka itu orang penting bagi usaha kita.

Bersikaplah ramah, setidaknya sebagai tuan rumah yang baik," kata Kakek menutup pembicaraan.

Arunika hanya tersenyum tipis, sebuah senyum formal untuk menenangkan hati kakek neneknya. Ia pun melanjutkan aktivitasnya, membersihkan meja dan mengatur beberapa hiasan bunga.

Tanpa sepengetahuan Arunika, Senja yang sekarang bukanlah Senja yang dulu ia kenal sebagai anak nakal di masa kecil.

Waktu telah menempa Senja menjadi pria yang luar biasa setia dan berhati tulus. Perubahannya bukan sekadar fisik yang menjadi lebih gagah dan tampan, melainkan juga karakternya yang mendalam.

Di balik kemewahan dan kesuksesan ayahnya, Senja adalah pria yang sangat menghargai sebuah ikatan.

Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan, Senja menatap keluar jendela. Bayangan Arunika di bawah pohon agathis tadi terus terngiang di kepalanya.

Sifat dingin gadis itu justru memantik api kecil di hatinya, sesuatu yang membuatnya ingin terus mencoba mengetuk pintu hati yang terkunci rapat itu.

Angin berhembus melalui jendela mobil yang dibuka sedikit, membawa aroma tanah dan daun basah.

Di kejauhan, hutan damar berdiri dengan kokoh, menjadi saksi bisu bagi dua jiwa yang kembali dipertemukan oleh takdir, meski yang satu masih terbelenggu dalam prasangka, dan yang lain sedang berjuang dengan rasa yang mulai tumbuh mekar.

"Ika... kamu benar-benar membuatku penasaran," batin Senja, sementara bibirnya tak henti menyunggingkan senyum manis yang tertuju pada bayangan di pikirannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!