NovelToon NovelToon
Sistem Saldo Eksekutor

Sistem Saldo Eksekutor

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Thriller / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]

Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.

Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.

Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Investasi dan jalan-jalan

​Malam harinya, Luis berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar yang gelap. Ponselnya menyala, menampilkan antarmuka aplikasi keuangan yang ia akses melalui jaringan sistem.

Dengan saldo Rp 15,4 Miliar, Luis sadar ia tidak bisa membiarkan uang itu diam saja di rekening bank yang rawan dilacak oleh otoritas.

​"Sistem, bantu aku melakukan strategi investasi. Gunakan identitas anonim agar tidak terdeteksi," perintah Luis dalam hati.

​Layar sistem berkedip. [Memproses... Mengalihkan dana ke perusahaan cangkang di yurisdiksi bebas pajak. Membeli saham blue chip dan properti komersial melalui perantara otomatis.]

​Dalam sekejap, uangnya tersebar ke berbagai instrumen keuangan global. Luis tidak serakah, ia hanya ingin memastikan bahwa jika suatu saat ia harus menghilang dari kota ini, ia memiliki cadangan kekayaan yang tidak bisa disentuh siapa pun.

​"Selesai," gumamnya puas.

​Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan tidak sabar. Tok! Tok! Tok!

​"Kak Luis! Keluar! Kita janji hari ini mau jalan-jalan ke mall! Kakak sudah janji waktu itu, jangan pura-pura lupa!" suara Luna terdengar nyaring dari balik pintu.

​Luis memijat keningnya. Ia benar-benar tidak mood untuk jalan-jalan ke tempat ramai, apalagi dengan segerombolan remaja perempuan. Tapi ia ingat, ia sudah pernah berjanji pada Luna untuk meluangkan waktu bersamanya.

​"Iya, sebentar," jawab Luis pasrah.

​Ia mengenakan jaket hoodie hitam dan celana jeans yang pas di badannya. Saat keluar kamar, ia melihat Luna sudah rapi dengan pakaian santai yang trendy.

​Setibanya di pusat perbelanjaan, Luis merasa seperti sedang berada di dalam sebuah kurungan yang sangat bising.

Luna tidak hanya mengajak teman-temannya yang kemarin, tapi sekarang ada beberapa orang lagi. Mereka tertawa-tawa, sibuk memotret diri sendiri, dan yang paling menyebalkan, mereka tidak henti-hentinya menempel pada Luis.

​"Kak Luis, menurut Kakak, baju ini bagus nggak buat aku?" tanya seorang teman Luna.

​"Kak, cobain minuman ini deh, enak banget!" tawar teman lainnya.

​Luis hanya bisa merespons dengan gumaman singkat. Ia berjalan dengan tangan dimasukkan ke saku jaket, tatapannya menyapu setiap sudut mall.

Ia tetap waspada, matanya mengamati orang-orang di sekitarnya, mencari tanda-tanda apakah ada orang yang membuntutinya mungkin polisi atau kaki tangan musuh lainnya.

​"Kak, jangan diam saja dong! Ngobrol kek!" protes Luna sambil menarik lengan kakaknya.

​"Aku cuma sedang melihat situasi," jawab Luis dingin.

​"Aduh, Kakak ini. Lagi jalan-jalan santai, bukan mau berperang!"

​Di tengah perjalanan mereka menuju tempat makqn, sekelompok pria remaja, mungkin anak kuliahan yang bergaya sok jagoan datang menghalangi jalan. Pemimpin mereka, seorang pria dengan tato kecil di leher dan tindik di telinga, menatap Luna dengan tatapan yang sangat kurang ajar.

​"Eh, manis. Sendiri aja?" sapa pria itu sambil sengaja menabrak bahu Luna.

​"Apaan sih?! Minggir!" Luna tersinggung dan mencoba menghindar.

​Tapi pria itu justru merangkul bahu Luna dengan paksa. "Jangan sombong gitu lah. Kita kan cuma mau kenalan. Siapa tahu nanti malam bisa nongkrong bareng."

​Luis, yang tadinya berjalan di belakang, tiba-tiba berhenti. Luis melangkah maju, tangannya mencengkeram pergelangan tangan pria itu dengan sangat kuat, memaksa tangannya lepas dari bahu Luna.

​KREK!

​Pria itu meringis kesakitan. "Aduh! Lepasin tanganku, sialan!"

​"Jangan sentuh adikku," suara Luis terdengar sangat pelan, tapi penuh ancaman.

​Pria itu menarik tangannya dan memanggil teman-temannya yang berjumlah empat orang. Mereka langsung mengepung Luis. "Wah, sok jagoan ya kau? Mau mati di sini, hah?"

​Teman-teman Luna mulai menjerit ketakutan. "Kak Luis! Jangan! Mereka bawa pisau!" bisik salah satu teman Luna dengan panik, melihat tonjolan tajam di balik jaket pemimpin preman itu.

​Pria bertindik itu menarik pisau lipat dari sakunya dan mengarahkannya ke perut Luis. "Kau cari gara-gara sama orang yang salah, Bocah."

​Luis tidak bergeming. Ia tidak takut sedikit pun. Dibandingkan dengan Baron dan pasukan bayaran, preman mall ini hanyalah anak-anak kecil yang sedang bermain mainan.

​Pria itu menusuk ke arah perut Luis. Dengan gerakan yang sangat efisien dan tenang, Luis menangkis pergelangan tangan pria itu, lalu dengan satu hentakan, ia memutar posisi dan membanting pria itu ke lantai mall yang keras.

​BRAKK!

​Pria itu tersungkur, napasnya sesak karena benturan. Luis tidak membiarkannya bangkit. Ia menginjak tangan pria yang memegang pisau tadi hingga pisau itu terlempar jauh.

​"Siapa lagi yang mau maju?" tanya Luis sambil menatap empat orang teman pria tadi.

​Keempat teman preman itu ragu-ragu. Mereka melihat bagaimana Luis menjatuhkan pemimpin mereka hanya dengan satu gerakan. Rasa angkuh mereka runtuh seketika saat melihat tatapan membunuh di mata Luis.

​"Cabut, woi! Dia jago bela diri!" teriak salah satu teman mereka.

​Mereka pun lari tunggang langgang, meninggalkan pemimpin mereka yang masih merintih kesakitan di lantai. Luis tidak mengejar. Ia menatap pria yang masih terkapar itu sekali lagi, lalu menoleh ke arah Luna.

​"Ayo pulang," ucap Luis datar.

​Luna dan teman-temannya masih membeku. Mereka baru saja melihat sisi lain dari Kakak Luna yang selama ini mereka anggap pemalu dan kuper. Sekarang, mereka tahu bahwa Luis adalah sosok yang sangat berbahaya.

​"Kak... Kakak... sejak kapan..." Luna tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

​"Aku cuma belajar membela diri," jawab Luis tenang, seolah-olah baru saja tidak terjadi apa-apa.

​Mereka pun berjalan keluar dari mall dengan cepat. Sepanjang jalan pulang, tidak ada satu pun dari teman-teman Luna yang berani mengajak Luis bicara lagi. Tatapan mereka sekarang bukan lagi tatapan kagum karena ketampanan, melainkan tatapan takut dan segan yang dalam.

​Luis tidak peduli. Ia hanya ingin kembali ke kamarnya, memeriksa saldo investasinya dan lebih suka menyiksa para penjahat.

1
Maul
duit duit duit 🤑💸💵💴💶💰💳
Aisha Miftah khaira
suhu🥶
Maul: /Frown//Grievance/
total 1 replies
Maul
Bunuh/Speechless/
Maul
pantau dulu
Maul
( ̄へ  ̄ 凸
Äï
loh kok 70? bkn nya hadiahnya 50?
Maul: kan di Bab 7 ada tambahan bonus 50 juta lagi kak. di pakai 30, Sisanya 70🙏🙏 terima kasih koreksinya🙏🙏🙏
total 1 replies
BaekTae Byun
bukannya udh di cash in trs 20 jt kasih rio ya
Maul: Hehe, Udah di revisi. terima kasih sudah membantu👍🙏/Smile/
total 1 replies
Maul
Karya pertama ☝
Maul
duidddddd 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!