NovelToon NovelToon
Kembali 2.000 Tahun Ke Masa Lalu

Kembali 2.000 Tahun Ke Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Trauma masa lalu / Action / Time Travel / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Adam Erlangga

Di masa depan, ketika perang telah membakar Bumi hingga tak tersisa lagi kehidupan, Rudy adalah seorang jenderal perang, pemegang kendali tertinggi kecerdasan buatan dan armada pemusnah umat manusia. Ia menang dalam perang terakhir, namun kehilangan segalanya.

Sebuah insiden ruang-waktu menyeret Rudy ribuan tahun ke masa lalu, ke era ketika dunia belum mengenal teknologi dan keadilan, ia membawa kekuatan yang cukup untuk menaklukkan segalanya, namun ia memilih jalan lain.

Tanpa merebut tahta, Rudy menantang tirani, melindungi yang lemah, dan membentuk dunia agar tak mengulangi kehancuran yang pernah ia lihat. Di tengah konflik dan kekuasaan, ia menemukan cinta, hidup sebagai manusia, lalu menghilang bersama waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adam Erlangga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Rachel masih kebingungan dengan teknologi modern yang menempel di tubuhnya.

"Oke, aku akan belajar menggunakannya."

"Kau akan terbiasa. Oh ya, kalau kau dalam keadaan darurat, beberapa kode perintah sudah aku kunci, kau harus minta ijin ku dulu sebelum melakukan penyerangan brutal."

"Ah apa maksudnya.? penyerangan brutal.?"

"Contoh seperti kata musnah, perang, dll. Tapi Axiom masih bisa membunuh. Aku sarankan, lebih baik melumpuhkan dari pada membunuh."

Rachel pun mendekat, lalu melihat Rudy dengan serius.

"Ada apa.?" sahut Rudy

"Lihat aku, apa aku seperti seorang pembunuh?"

"Bukan itu maksudku, aku hanya memberi tahu batasan-batasan perintah Axiom, aku takut kalau kau memberikan perintah, tapi Axiom tidak bergerak."

"Hmm, aku tau Rudy, kau tidak perlu khawatir. Meskipun banyak orang yang mengincar nyawaku, aku masih bisa mengontrol emosiku."

"Baiklah, aku percaya padamu. Cobalah membiasakan diri untuk mengendalikan Axiom." kata Rudy

Rachel pun menghela nafas.

"Sepertinya aku tidak cocok menggunakan Axiom, aku pun tidak terlalu mengerti dengan batasan-batasan atau kode perintah yang kau jelaskan."

"Aku tau ini sulit untuk kau pahami, tapi kau perlu membiasakan nya dulu, setelah kau menemukan feeling nya, kau akan dengan mudah mengendalikannya."

"Baiklah, apa gelang ini hanya berfungsi untuk mengendalikan Axiom.?"

"Tentu tidak, gelang ini bisa mengeluarkan perisai plasma otomatis. Contohnya kalau kau sedang tidur, atau sedang pingsan tiba-tiba. Selain Axiom yang bisa menghilangkan perisai otomatis itu adalah aku."

"Perisai.?"

"Aku beri contoh sederhana." kata Rudy yang melangkah mundur.

Lalu ia mengangkat tangannya kearah Rachel. Lock target ke Rachel.

"Ap, apa yang kau lakukan.?" sahut Rachel curiga.

"Lihatlah."

Soot. sebuah peluru melesat ke arah Rachel, dan Klang. Peluru itu tiba-tiba berhenti di depan Rachel, sebuah perisai plasma kecil terlihat untuk menghalau peluru itu.

Sensor pendeteksi Axiom pun di Terima, dalam sekejap saja,

"Apa yang terjadi.?" sahut Rachel dengan terkejut

"Itu adalah perisai otomatis yang mendeteksi benturan. Perisai itu akan keluar kalau sesuatu sedang mengarah padamu dalam kecepatan tertentu. Seperti sebuah panah melesat ke arahmu, atau sebuah pedang yang mencoba menebasmu. Perisai itu juga akan keluar kalau tubuhmu terluka, termasuk luka dalam."

Rachel hanya menelan ludah saat mendengar nya.

"Hebat sekali."

"Kau tidak akan tersentuh oleh senjata apapun, kecuali senjata khusus modern yang aku miliki."

"Ini terlalu hebat Rudy, tapi kebanyakan aku di serang dengan racun, bukan pedang atau panah."

"Kau bisa menggunakan sistem lock pada makanan atau minuman yang akan kau makan. Matamu itu bisa mendeteksi kandungan yang ada di dalam makanan. Termasuk nilai gizi, kadar gula, lemak dll. Kalau ada zat berbahaya bagi tubuh manusia, matamu akan memberikan peringatan. Aku sudah memasukkan data kandungan zat berbahaya, jadi kau tidak perlu khawatir lagi."

"Benarkah? hanya melihat saja bisa mengetahui kandungan sebanyak itu.?"

"Lebih tepatnya, matamu akan mengeluarkan cahaya sensor untuk menyentuh objek yang kau targetkan."

"Wah, bahkan mataku bisa bercahaya.?"

"Itu namanya scan sensor, hmm sulit dijelaskan, intinya kau tinggal mempelajari caranya saja."

"Oke, aku belajar sekarang."

Rachel pun mulai belajar mengendalikan Axiom, memberikan perintah lock pada beberapa batu dan menghancurkannya. ia juga mencoba di beberapa pohon dan bahkan seekor burung yang sedang terbang.

Pysuu.

"Wah, bahkan seekor burung yang terbang pun bisa terkena dengan tepat."

Rudy pun tersenyum.

"Bagaimana.? apa kau suka.?"

"Ehm, itu sulit di jawab, kalau aku bilang suka, aku seperti seorang penyihir agung. kalau aku bilang tidak suka, itu pun tidak pantas."

Rachel pun merangkul Rudy dari depan.

"Aku hanya ingin bilang, terimakasih." kata Rachel tersenyum.

"Tidak perlu bilang begitu, kau adalah tanggung jawabku, jadi aku bertanggung jawab untuk melindungi mu."

"Kalau begitu, aku akan kembali ke istana dulu."

"Ha.? kau kembali kesana.? tidak seperti dirimu yang dulu."

Rachel pun melepaskan rangkulannya.

"Aku sekarang menjadi seorang dewa, kenapa aku harus takut. Apalagi ada dewa sungguhan di depanku." kata Rachel tersenyum.

"Syukurlah kalau begitu. Jadi kapan kau akan kembali.?"

"Hari ini, aku khawatir orang-orang istana sibuk mencariku lagi. Melihat insiden semalam, mereka pasti mengeluarkan perintah darurat pada prajurit keamanan."

"Baiklah, aku akan kesepian lagi."

Rachel mendekat, lalu memeluknya dengan erat.

"Aku akan sering kesini mengunjungi pacarku tercinta."

"Oke. aku selalu menunggu mu disini."

....

Beberapa saat kemudian,

Rachel pun berjalan menuju kota, sedangkan Rudy melihatnya dari jauh. "Hm, sekarang hanya tinggal menunggu waktu sampai industri pengolahan selesai di rakit"

.....

Istana Kekaisaran Andorra.

Seperti biasa, para prajurit Kekaisaran sedang sibuk mencari Rachel, setiap sudut kota di penuhi oleh prajurit. Bahkan beberapa orang sampai di interogasi dengan paksa.

Di dalam penjara, Davis menginterogasi penyusup dengan siksaan yang brutal, bahkan sampai memotong jari mereka. Tapi Davis tidak mendapatkan jawabannya.

"Kau sudah mendengarnya sendiri kan.? mereka tidak akan membuka mulutnya." kata Davis.

"Bajingan ini, aku ingin membunuhnya." sahut Mona dengan raut wajah penuh dengan kebencian.

"Tenanglah, meskipun kau membunuhnya, belum tentu Yang Mulia bisa di temukan. Biarkan saja mereka mati secara perlahan."

Tiba-tiba seorang prajurit berlari.

"Lapor, Yang Mulia Ratu sudah kembali."

"Apa.?" sahut Mona terkejut.

....

Didalam kamar Rachel, Mona tiba-tiba berlari masuk kedalam sana. Dan begitu terkejutnya, ia melihat Rachel sedang duduk di meja sambil minum teh hangat.

"Yang Mulia." teriak Mona.

"Jangan berteriak-teriak, aku bisa mendengar."

Mona pun langsung berlutut di depan Rachel.

"Maafkan saya Yang Mulia, saya tidak bisa menjaga anda dengan baik. Kami sudah menangkap semua penyusup dan memasukkan nya kedalam penjara. Tapi mereka tidak mengakui siapa yang memerintahkan mereka."

"Biarkan saja, sampai mati pun mereka tidak akan mengakuinya." kata Rachel sambil meminum teh.

"Bagaimana keadaan Anda sekarang Yang Mulia.? semalam anda muntah darah dan kejang-kejang. Aku sangat khawatir, apalagi semalam aku dan Davis di serang tiba-tiba dan pingsan, saat bangun Anda sudah tidak ada di kamar."

Rachel memejamkan matanya sambil menikmati teh panas.

"Aku terkena racun Aconitum yang mematikan."

"Ah? Aco.?" sahut Mona kebingungan.

"Ya intinya aku terkena racun. Apa sebelum nya kau memasukkan sesuatu dalam tubuhku.?"

"Ah, waktu itu dokter bilang kalau anda terkena racun bius, jadi dokter memberikan resep obat untuk memberikan ketahanan tubuh. Obatnya di larutkan oleh seorang pelayan istana, dan setelah itu aku meminumnya pada Anda."

"Setelah itu, apa yang terjadi.?"

"Ehm, Anda muntah darah." kata Mona pelan, lalu beberapa detik kemudian, ia baru menyadarinya.

"Yang Mulia, apa jangan-jangan resep itu racun.?"

Sruup. Rachel menyeruput teh dan tidak merespon Mona sama sekali.

Tentu, Mona pun langsung bersujud didepan Rachel. "Yang Mulia, maafkan aku, maafkan aku. Aku tidak tau obat itu mengandung racun. Tolong hukum aku."

"Tidak ada gunanya menghukummu, sebaiknya kau tangkap pelayan itu, dan tangkap dokter yang memberikanku resep."

"Ah, terimakasih Yang Mulia, terimakasih."

Mona pun langsung berdiri dan keluar dari kamar Rachel. di luar Davis sudah menunggu,

"Bagaimana Mona.?'

"Davis, Yang Mulia di racuni oleh pelayan kemarin. Tangkap dia bersama dengan dokternya."

"Apa.? Racun?" sahut Davis terkejut.

.....

1
anggita
antara 220 sama 2220...gak jauh selisih 2 tok😉
anggita
mampir like👍, iklan👆saja. moga novelnya lancar.
Adam Erlangga: 🙏terimakasih dukungan nya kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!